Minggu Natal 2 | Tahun Baru
Stola Putih
Bacaan 1: Yesaya 63 : 7 – 9
Bacaan 2: Ibrani 2 : 10 – 18
Bacaan 3: Matius 2 : 13 – 23
Tema Liturgis: Berkomitmen Terlibat Dalam Karya Kerajaan Allah
Tema Khotbah: Allah Senantiasa Menuntun Kepada Jalan Keselamatan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 63 : 7 – 9
Yesaya hidup pada masa yang penting dalam sejarah bangsa Israel, yakni pada paruh kedua abad 8 SM. Pada masa-masa tersebut tampil beberapa nubuat lain, yakni dari Amos, Hosea, dan Mikha. Pada tahun 740 SM, kematian raja Uzia (6:1) menandai akhir suatu periode, ketika Yehuda maupun Israel menikmati masa kelonggaran, sekitar 50 tahun, dari agresi besar-besaran. Sisa dari abad itu seterusnya didominasi oleh raja-raja Asyur seperti Tiglat Pileser III (745-727), Salmaneser V (727-722), Sargon II (722-705) dan Sanherib (722-705).
Bagian yang kita baca pada saat ini, masuk dalam bagian Trito Yesaya. Jika bagian pada Deutero Yesaya memberikan laporan pada masa pembuangan di Babel, dengan sebagian laporan mengenai kembalinya sebagian besar orang Israel ke kampung halaman, maka Trito Yesaya memusatkan perhatian pada keadaan setelah mereka kembali ke kampung halaman, Sion. Pada bagian ini muncul ungkapan-ungkapan syukur atas pertolongan Tuhan kepada bangsa Israel. Pada bagian yang kita perhatikan pada saat ini, kita juga melihat ekspresi syukur atas penyertaan Tuhan kepada bangsa Israel. Penulis menghayati bahwa pembebasan yang dirasakan dan dialami oleh bangsa Israel adalah karena perbuatan kasih setia Tuhan. Perbuatan Tuhan masyhur sebagaimana yang telah dilakukan bagi bangsa Israel. Tuhanlah yang menyelamatkan mereka dari segala kesesakan. Tuhanlah yang menebus bangsa Israel dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya.
Ibrani 2 : 10 – 18
Para ahli Perjanjian Baru meyakini bahwa Surat Ibrani termasuk ke dalam Pseudo-Paulus. Pada abad-abad pertama dan abad pertengahan, Surat Ibrani dianggap sebagai sebuah surat Paulus. Satu-satunya keterangan mengenai penulisan Surat Ibrani terdapat dalam surat itu sendiri. Yang pasti, surat ini ditulis untuk orang-orang Kristen generasi kedua (2:3). Kisahnya disampaikan oleh orang-orang yang telah mendengar ajaran Tuhan kepada para penerima surat ini. Persekutuan Kristen yang menjadi alamat surat ini bukanlah orang-orang yang baru mengenal iman Kristen.
Pada Ibrani 2:10-18, penulis memakai gelar Yesus yakni sebagai pemimpin (Arkhegos) keselamatan. Gelar yang sama dipakai untuk Yesus dalam Kisah Para Rasul 3:15, 5:13, Ibrani 12:2. Kata Arkhegos itu dapat diartikan sebagai Kepala. Seorang arhkegos adalah seseorang yang mengawali sesuatu supaya orang-orang lain dapat ikut masuk ke dalamnya. Seorang Arkhegos adalah seorang yang merintis jalan supaya diikuti oleh orang-orang lain. Penulis surat Ibrani menyebut bahwa melalui penderitaanlah, Yesus mampu memenuhi tugasnya sebagai pemimpin keselamatan. Penulis surat Ibrani mengutip tiga ayat dari Perjanjian Lama yang dianggap telah menubuatkan hal tersebut. Ketiga ayat itu adalah Mazmur 22:23; Yesaya 8:17 dan Yesaya 8:18. Dalam diri Yesus, Allah telah menyatakan empatinya kepada manusia dengan menjalani jalan penderitaan.
Matius 2 : 13 – 23
Di dunia kuno dipercaya bahwa Allah dapat mengirimkan perutusannya kepada manusia melalui mimpi. Dalam perikop kita hari ini, juga digambarkan bagaimana Yusuf mendapatkan perintah dari Allah melalui mimpi untuk mengungsi ke Mesir, demi menghindari maksud dari Herodes yang membunuh anak-anak. Pengungsian ke Mesir adalah hal yang normal dan wajar kala itu. Jika ada pemimpin yang menyulitkan orang Yahudi, maka mereka akan mengungsi ke Mesir. Itulah sebabnya di Mesir terdapat koloni-koloni orang Yahudi. Dalam kerangka cerita ini, kisah Yesus yang melarikan diri dari pembunuhan anak-anak oleh Herodes, dihubungan oleh penulis Injil Matius dengan sosok Musa, yang pada saat ia dilahirkan juga ada pada masa Raja Firaun yang berupaya membunuh anak laki-laki (Kel. 1). Dalam Matius 2, penulis menggemakan sosok Musa. Yesus dihadirkan sebagai Musa yang baru bagi bangsa Israel.
Di tengah rencana jahat Herodes untuk membunuh bayi Yesus, rencana Allah berjalan melampaui rencana jahat tersebut. Tuhan memerintahkan Yusuf untuk membawa bayi Yesus dibawa ke Mesir. Setelah Herodes mati, barulah Yesus kembali ke Israel (Ay. 20). Karya Tuhan melampaui rencana jahat Herodes. Karya Tuhan menyelamatkan, karya Tuhan menghidupkan.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan berkisah tentang Tuhan sebagai penyelamat. Dalam bacaan pertama penulis Kitab Yesaya merefleksikan Tuhan sebagai keselamatan. Dengan kasih setia-Nya, Ia telah melepaskan umat Israel dari kesesakan. Pada bacaan kedua, penulis Surat Ibrani merefleksikan Yesus sebagai pemimpin menuju keselamatan. Demikian pula pada bacaan ketiga, penulis Injil Matius menggambarkan bagaimana rencana Tuhan mampu menyelamatkan bayi Yesus dari rencana jahat Herodes. Ketiga bacaan berkisah tentang keselamatan yang datangnya dari Tuhan. Tuhan Sang Penyelamat akan menuntun manusia kepada jalan keselamatan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Apakah jalan kehidupan manusia selalu mudah? Dengan segera kita tentu akan menjawab “tidak.” Berdasarkan pengalaman, ada berbagai tantangan, rintangan serta kesulitan yang mewarnai kehidupan. Tak ayal kadangkala manusia menjalani kehidupannya tanpa pengharapan. Tidak ada gairah dan semangat, karena rasanya Tuhan terlalu jauh dan tak kuasa untuk menolong kita. Apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini rasanya sia-sia saja. Jika itu yang kita rasakan, kisah berikut menolong kita untuk merefleksikan bahwa semua pengalaman kehidupan kita berharga.
Diceritakan, di sebuah desa yang mengalami kekeringan, penduduknya harus mengambil air di sumur yang letaknya berada jauh di pinggir desa. Seorang laki-laki bernama Semi juga tidak luput dari kondisi seperti penduduk lainnya. Setiap hari menjelang senja, dengan menggunakan dua ember yang dipikulnya, Semi mengambil air di pinggir desa. Sengat matahari, jarak yang jauh dan jalan yang berbatu-batu menjadi tantangan tersendiri. Tantangan itu terasa semakin berat ketika ia menyadari embernya yang ada pada sebelah kanan pikulannya mengalami lubang kecil pada bagian bawahnya. Sehingga setiap kali ia memenuhi ember dengan air, maka sesampainya di rumah airnya sudah berkurang. Ia merasa sia-sia, sedangkan untuk mengganti embernya sudah tidak mungkin, ia tidak punya biaya untuk membelinya. Rasanya ia mau menghentikan saja usahanya mengambil air. Tetapi, seorang temannya yang mengetahui hal itu mengajaknya untuk bercakap-cakap. “Jangan kau hentikan usahamu untuk mengambil air, kau tidak tahu apa yang dihasilkan dari embermu yang berlubang itu. Coba kau perhatikan jalan setapak yang kau lewati. Perhatikan sebelah kanan jalan itu kau akan melihat bunga-bunga putih kecil yang tumbuh. Padahal ini musim kering, dari mana tanaman itu dapat air, sehingga ada bunga-bunga yang bisa tumbuh? Ketahuilah, air itu datangnya dari air yang jatuh dari embermu yang berlubang. Tidak ada yang sia-sia, engkau masih bisa membawa air ke rumahmu dan engkau juga bisa membuat kehidupan tanaman itu tetap berlangsung,” ujar kawan Semi.
Kisah tersebut di atas mengajak kita untuk merefleksikan bahwa dalam setiap pengalaman kehidupan, sesungguhnya Tuhan senantiasa ada dan membawa kebaikan bagi manusia, meskipun terkadang manusia keliru dalam menangkap rencana Tuhan.
Isi
Pada saat ini kita mengawali tahun baru 2023. Hari-hari telah kita lalui di sepanjang tahun 2022 dengan berbagai dinamika kehidupan yang mewarnai. Apabila kita diperkenankan untuk memasuki tahun 2023, sesungguhnya itu semua juga karena karunia dari Tuhan. Sebagaimana refleksi penulis Kitab Yesaya dalam Yesaya 63:7-9, Tuhan dihayati sebagai penuntun kehidupan yang telah membawa mereka kembali ke Israel. Dalam ayat 7 tertulis demikian “Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar.” Tuhan penuh dengan kasih setia, Ia melakukan kebajikan kepada umat-Nya dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang Tuhan dinyatakan dengan melepaskan bangsa Israel dari kesesakan mereka (Ay. 8). Sebagai bangsa yang ada di bawah penguasaan Babel, bangsa Israel kala itu tidak memiliki kebebasan. Hak-hak mereka ada di bawah kekuasaan penguasa Babel. Hidup yang semacam ini tentu sangatlah tidak menyenangkan. Namun Tuhan kemudian melepaskan bangsa Israel dari segala kesesakan itu, karena kasih setia dan kasih sayang Tuhan. Di sini nampak dengan jelas bagaimana penyertaan Tuhan dalam perjalanan kehidupan bangsa Israel.
Dalam bacaan kedua kita juga mendapat peneguhan Yesus sebagai pemimpin kepada keselamatan. Dalam Ibr. 2:10 penulis surat Ibrani menulis demikian “Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah – yang bagi-Nya dan oleh-Nya – segala sesuatu dijadikan – yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.” Menariknya, penulis Surat Ibrani melihat penderitaan bukan sebagai nasib buruk, namun justru menjadi sarana bagi Yesus untuk memimpin kepada keselamatan. Kata penderitaan pada kalimat tersebut terambil dari bahasa Yunani patematon. Kata patematon berasal dari kata dasar patema yang berarti ‘penderitaan.’ Adapun kata patematon adalah kata benda bentuk jamak dari patema, sehingga kata tersebut lebih tepat diterjemahkan dengan ‘penderitaan-penderitaan.’ Penderitaan Yesus yang tidak hanya satu kali itu menjadi sarana atau jalan bagi Yesus untuk memimpin manusia menuju jalan keselamatan. Sekali lagi kita mendapatkan penegasan bahwa penderitaan tidak sama sekali buruk pada dirinya, dibalik penderitaan ada hal baik yang bisa kita dapatkan.
Dalam bacaan ketiga, kita diajak untuk mengingat kisah kelahiran Yesus. Kisah di dalam Injil Matius mengenai bayi Yesus yang dibawa mengungsi ke Mesir memang khas Matius dan tidak terdapat dalam Injil Sinoptik yang lain. Itu artinya sumber cerita ini terlepas dari Injil Markus. Penulis Injil Matius yang berlatarbelakang Yahudi, membawa kisah Yesus pada kisah tokoh besar bagi bangsa Yahudi, yakni Musa. Dengan alur kisah yang sama, penulis hendak menampilkan Yesus sebagai sosok Musa yang baru, yang kuasa dan ketokohannya lebih besar dari pada Musa. Pada masa bayi, Yesus mengalami bahaya dengan adanya rencana jahat Herodes yang hendak membunuh-Nya. Namun Tuhan menyelamatkan bayi Yesus dengan memerintahkan Yusuf untuk mengungsi ke Mesir. Kuasa dan rencana Tuhan melampaui rencana jahat manusia.
Penutup
Memasuki tahun yang baru ini, kita tidak tahu tantangan apa yang terbentang di depan. Apakah keadaan kita menjadi lebih baik di tahun yang baru, kita tidak tahu. Saya teringat dengan sebuah kalimat indah yang berbunyi: Learn from yesterday, Live for today, and Hope for tomorrow. Belajarlah dari hari kemarin, hiduplah di hari ini, dan milikilah pengharapan untuk hari esok. Di setiap dinamika kehidupan, Ia senantiasa menyertai kehidupan kita. Tidak ada yang sia-sia dengan hari yang telah kita lalu, jika kita mau belajar darinya. Dengan semangat dan pengharapan yang penuh, marilah kita menyongsong hari depan, dengan meyakini bahwa Tuhan yang penuh kasih setia akan senantiasa menolong kita, menuntun, dan memimpin kita kepada jalan keselamatan. Amin. [ANS].
Pujian: KJ. 407 : 1, 2 Tuhan, Kau Gembala Kami
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Punapa lampahing gesang kita tansah ngremenaken? Kanthi rikat kita tamtu caos wangsulan ‘boten.’ Wonten ing pangalaman gesang, wonten marupi-rupi panandhang, pepalang, lan reribet ingkang nempuh gesanging manungsa. Kawontenan punika kadangkala malah kepara asring lajeng damel kita nglokro, boten wonten semangat lan pangajeng-ajenging gesang, awit kados-kados Gusti tebih sanget saking gesang kita lan boten kagungan panguwaos mitulungi gesang kita. Punapa ingkang kita tindakaken wonten ing gesang kita muspra. Menawi punika ingkang kita raosaken, carios punika nulungi kita maneges bilih sedaya pengalaman gesang kita punika wonten ginanipun.
Kacarios, ing satunggaling dusun ngalami mangsa ketiga sawetawis dangu, sedaya ingkang mapan wonten ing dusun punika kedah ngangsu toya saking sumur ingkang tebih wonten ing watesing dusun. Wonten satunggaling pria kanthi nama Semi ingkang tumut ngraosaken kawontenan punika. Saben enjang, kanthi mbeta kalih ember piyambakipun ngangsu toya wonten watesing dusun kanthi dipun panggul. Srengene ingkang sumlenget, sela-sela ingkang gumronjal dados tantangan tumrap lampahing Semi anggenipun ngangsu toya. Tantangan punika tansaya awrat nalika piyambakipun sadar bilih ember ingkang sisih tengen punika bocor. Saben-saben ember punika dipun kebaki toya, saben-saben ugi dumugi griya toyanipun tansah kirang. Piyambakipun rumaos bilih punapa ingkang dipun tindakaken punika muspra, kamangka badhe tumbas ember ingkang enggal ugi boten saged. Piyambakipun kepengin mandheg anggenipun ngangsu mendhet toya. Nanging satunggaling kanca ingkang mangertos kedadosan punika lajeng ngajak Semi reraosan. Kancanipun Semi matur, “Aja mandheg anggonmu golek banyu. Coba gatekna dalan sing biasa kok lewati nggawa banyu. Gatekna sisih tengen dalan. Sawangen ana tetuwuhan tanduran lan tukul. Kamangka iki mangsa ketiga, ora ana banyu. Nanging sawangen, tetuwuhan iki tukul amarga embermu kang bocor iku. Ora ana sing muspra yen kok tindakake kanthi temen, kowe isih isa nggawa banyu mulih nang omahmu, kowe uga isih isa nyirami tetanduran ana ing dalan iki.” mekaten atur kancanipun Semi.
Carios punika ngajak dhateng kita supados maneges bilih sedaya pengalamaning gesang kita punika migunani. Gusti tansah wonten lan nyarengi lampah gesang kita sanadyan manungsa kadangkala klentu anggenipun maneges kersanipun Gusti.
Isi
Wekdal punika kita miwiti warsa enggal 2023. Dinten-dinten sampun kita lampahi kanthi marupi-rupi kawontenaning gesang. Menawi kita kaparengaken lumebet wonten ing taun 2023, estunipun sedaya punika awit saking keparengipun Gusti Allah. Kados dene paseksinipun Kitab Yesaya 63:7-9, Gusti Allah punika ingkang nuntun bangsa Israel lan ngeparengaken bangsa Israel wangsul dhateng Israel. Wonten ing ayat 7 kaserat mekaten: “Kawula badhe mratelakaken sih-susetyanipun Pangeran Yehuwah, pakaryaning Sang Yehuwah ingkang misuwut, laras kaliyan sedaya ingkang katandukaken dening Pangeran Yehuwah dhumateng kita, tuwin kamirahanipun ingkang ageng dhumateng Bani Israel ingkang tumandukipun laras kaliyan sih-piwelasipun tuwin cundhuk kaliyan sih-susetyanipun ingkang ageng.” Gusti Allah kebak sih piwelas, Panjenenganipun nindakaken kasaenan cunduk kaliyan sih-susetyanipun ingkang ageng. Sih-susetyaning Pangeran ingkang sampun ngluwari bangsa Israel saking panindesing Babel (Ay. 8). Minangka bangsa ingkang katindes dening Babel, bangsa Israel kala semanten boten anggadahi kebebasan. Gesang ingkang kados mekaten tamtu mboten ngremenaken. Ananging Gusti Allah salajengipun paring pangluwaran dhateng bangsa Israel inggih awit sih-susetyaning Pangeran. Wonten ing waosan punika cetha bilih Gusti tansah nyarengi lampahing manungsa kados dene Panjenenganipun nyarengi lampahipun bangsa Israel.
Wonten ing waosan kaping kalih kita ugi nampi pratelan bab Gusti Yesus ingkang mimpin nuju dhateng kawilujengan. Wonten ing Ibr. 2:10 kaserat mekaten, “Jalaran pancen wus mungguh karo kaananing Allah, — kang kagem Panjenengane sarta dening Panjenengane anggone samubarang kabeh iku dititahake –, yaiku Gusti Allah kang nuntun wong akeh marang kamulyan, uga nyampurnakake Gusti Yesus, kang ngirid wong-wong iku marang karahayon, srana nandhang sangsara.” Ingkang narik kawigatosan, serat Ibrani maneges bilih panandhang utawi kasangsaran punika sanes nasib awon, ananging malah kepara dados sarana anggenipun Gusti Yesus paring kawilujengan. Tembung sangsara kapendhet saking tembung Yunani patematon. Tembung patematon kapendet saking tembung dasar patema ingkang nggadahi teges “kasangsaran”. Tembung patematon punika bentuk jamak, mila estunipun tembung punika dipun perta dados “kasangsaran-kasangsaran.” Kasangsaran ingkang kaalami dening Gusti Yesus ingkang boten namung sepisan punika, dados lantaran lan margi anggenipun Gusti Yesus mimpin manungsa tumuju dhateng kawilujengan. Sepisan malih kita nampi paneges bilih kasangsaran punika estunipun boten awon tumrap dhirinipun, ing salebeting kasangsaran wonten prekawis sae ingkang saged kita tindakaken.
Wonten waosan Injil, kita kaajak ngemut-emut prastawa miyosipun Gusti Yesus. Wonten ing Injil Mateus, bayi Yesus kabeta ngungsi dhateng Mesir. Kisah punika khas wonten ing Injil Mateus lan boten wonten ing Injil Sinoptik sanesipun. Punika ateges bilih carios punika sumberipun sanes saking Injil Markus. Ingkang nyerat Injil Mateus nggadahi latar belakang Yahudi, pramila mbeta kisah bab tokoh bangsa Yahudi inggih punika Musa. Kanthi alur utawi urutan kisah ingkang sami, Injil Mateus badhe nedahaken Gusti Yesus minangka Musa ingkang enggal, ingkang panguwaosipun lan sosokipun linangkung luhur katimbang Musa. Rikala taksih bayi, Gusti Yesus ugi ngalami bebaya awit wontenipun rancangan awon saking Herodes ingkang badhe nyedani Panjenenganipun. Ananging Gusti Allah milujengaken bayi Yesus kanthi dhawuh dhateng Yusuf saperlu ngungsi dhateng Mesir. Panguwaos lan rancanganipun Gusti Allah nglangkungi rancanganipun manungsa ingkang awon.
Panutup
Lumebet wonten ing warsa enggal punika, kita boten mangertos pepalang punapa ingkang badhe kita adepi wonten ing wekdal ngajeng. Punapa kawontenan kita ing taun punika linangkung sae tinimbang taun kapengker, kita boten mangertos. Kula emut satunggaling pitembungan ingkang mekaten: Learn from yesterday, Live for today, and Hope for tomorrow. Sinaua saka dina kang kapungkur, uripa ana ing dina iki, lan kebak pangarep-arepa ing dina mbesoke. Boten wonten ingkang muspra saking dinten ingkang sampun kita pengkeraken, menawi kita purun sinau saking dinten ingkang sampun lumampah. Kanthi semangat lan pangajeng-ajeng, sumangga kita mapag warsa enggal punika, kanthi pitados bilih Gusti Allah ingkang kebak sih-susetya tansah nulungi kita, nuntun, lan mimpin kita tumuju dhateng margining kawilujengan. Amin. [ANS].
Pamuji: KPJ. 436 : 1, 2 Gusti Nuntun Lampah Kula