Minggu Biasa | Pembukaan Bulan Penciptaan
Stola Hijau
Bacaan 1: Yesaya 49 : 1 – 7
Bacaan 2: 1 Korintus 1 : 1 – 9
Bacaan 3: Yohanes 1 : 29 – 42
Tema Liturgis: GKJW Terlibat Mewujudkan Keadilan Ciptaan
Tema Khotbah: Melihat Keberadaan Diri Sendiri Dan Orang Lain Secara Adil
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 49 : 1 – 7
Sebagai salah satu Nabi Tuhan, Yesaya dipanggil dan mendapat tugas untuk menjadi penolong bagi Bangsa Israel dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Bisa dikatakan pada saat Yesaya dipanggil dan berperan dalam tugasnya, kondisi Bangsa Israel pada saat itu berada pada posisi terendah. Di mana hantaman demi hantaman telah mengacau-balaukan semua sendi kehidupan, baik dalam hal sosial, kultural, politik, ekonomi, lebih-lebih dalam hal spiritual. Bangsa Israel yang sekian lama mampu mengintegrasikan seluruh sendi kehidupannya mengarah pada spiritualitas yang baik dan matang, oleh karena beratnya masalah yang dihadapi, kini mereka sampai pada titik tidak lagi sepenuhnya percaya pada kemahakuasaan Allah yang selama ini menjadi penopang kehidupan mereka. Mereka jauh lebih percaya pada kekuatan bangsa lain yang notabene adalah bangsa yang tidak mengenal Allah Israel.
Maka disinilah kemudian Yesaya membawa pesan Allah untuk disampaikan kepada bangsa Israel. Tugas pertama Yesaya adalah untuk menceritakan kebesaran, keagungan, dan kuasa Allah yang sepatutnya diandalkan bangsa Israel. Kedua, mengupayakan kembalinya bangsa Israel untuk dapat beribadah kepada Tuhan (Ay. 5). Melalui Yesaya, Israel dipanggil untuk mengutamakan Tuhan, sehingga pembaharuan kehidupan akan berdampak pada tegaknya “suku-suku Yakub” (Ay. 6) yang terserak dalam pembuangan. Ketiga, menyadarkan bangsa Israel bahwa mereka pun diberi tugas yang sama seperti Yesaya serta nabi-nabi lainnya, yaitu menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain (Ay. 6). Ketika Israel dapat dipulihkan, maka seluruh Israel akan heran dan turut serta mengakui keagungan dan kuasa Allah dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, bangsa Israel mampu menjadi teladan dan terang bagi bangsa-bangsa lain yang ada di sekelilingnya.
1 Korintus 1 : 1 – 9
Sesuai dengan kebiasaan menulis surat pada zaman itu, dicantumkan juga nama orang yang menulis surat dan nama orang-orang yang kepadanya surat tersebut dituliskan. Surat ini adalah surat kerasulan dari Paulus, rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, kepada jemaat di Korintus. Paulus menulis suratnya yang pertama kepada jemaat Korintus dalam rangka menanggapi permasalahan yang muncul di dalam jemaat itu. Di bagian awal suratnya, Paulus menyatakan bahwa para pembaca suratnya, yaitu jemaat Korintus, adalah orang-orang kudus (Ay. 2). Karena itu Paulus mengucap syukur karena ia tahu bahwa Allah telah melimpahi mereka dengan berbagai anugerah (Ay. 4-6), yang telah membuat mereka menjadi kaya dalam berbagai perkataan dan pengetahuan. Ini terlihat dari karunia-karunia rohani yang telah mereka terima di dalam Kristus, yang merupakan peneguhan kebenaran Injil. Memang pemberian karunia merupakan salah satu cara Allah menyatakan kebenaran Injil pada zaman gereja mula-mula. Karunia-karunia tersebut merupakan pendahuluan dari kegenapan yang akan mereka alami saat kedatangan Kristus yang kedua kali kelak.
Meskipun ada masalah yang sedang dihadapi jemaat Korintus, Paulus menyatakan keyakinannya bahwa Allah akan meneguhkan mereka, sehingga mereka tak bercacat pada hari Tuhan kelak (Ay. 8). Penekanan pada nama Tuhan Yesus Kristus, yang telah memanggil, menguduskan, serta menganugerahi jemaat Korintus dengan berbagai karunia memperlihatkan keyakinan Paulus untuk melihat permasalahan yang dihadapi jemaat Korintus dari sudut pandang Kristus, sehingga titik awal Paulus dalam memandang masalah yang dihadapi jemaat Korintus tersebut adalah ucapan syukur kepada Allah.
Yohanes 1 : 29 – 42
Sebagai seorang anak Imam yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan Bait Allah, Yohanes tentu sangat mengenal berbagai macam tradisi Yahudi yang dijalankan dalam laku spiritualitas mereka, salah satunya adalah ritus mempersembahkan kurban sebagai upaya penebusan dosa (lih. Kel. 29:38-42). Namun pada bacaan ini, kita diajak oleh Yohanes untuk merubah konsep penebusan dosa yang tadinya berpangkal pada usaha pribadi itu mengarah kepada peran Yesus Kristus yang disebutnya sebagai Anak Domba Allah.
Yohanes mengajak bangsa Israel dan kita semua untuk memahami, bahwa dalam rangka menunjukkan kasih bagi umat yang dikasihi-Nya, Allah telah menyediakan kurban yang sempurna, yaitu Yesus Kristus. Inilah tujuan kedatangan Yesus yang dipahami oleh Yohanes, sehingga ia menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah (Ay. 29). Sebutan ini bukan hanya ingin menggambarkan bahwa Yesus memiliki sifat lemah lembut seperti anak domba. Lebih dari itu, sebutan Anak Domba yang disematkan pada Yesus adalah berkenaan dengan pengorbanan diri untuk menebus setiap manusia yang berdosa. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Dia telah menjadi jalan pendamaian antara manusia dengan Allah. Ia datang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan dapat dilakukan oleh manusia sendiri, yaitu memperoleh anugerah keselamatan. Setiap orang yang percaya kepada Dia akan diampuni. Dengan memahami siapa dirinya dan siapa Kristus, Yohanes tahu bagaimana dia harus bersikap dan apa yang harus dia lakukan bagi Kristus. Dia sadar bahwa dirinya tidak lebih dari Kristus. Dia tahu bahwa dirinya hanyalah nabi yang ditunjuk untuk mempersiapkan jalan sebelum Kristus.
Adegan kemudian dilanjutkan dengan pemanggilan murid-murid Tuhan Yesus yang pertama. Bisa dikatakan bahwa bagian ini merupakan peralihan antara pelayanan Yohanes Pembaptis dan pelayanan Yesus Kristus, karena dalam bagian ini murid Yohanes menggabungkan diri mereka dengan Yesus. Jika membandingkan peristiwa ini dengan peristiwa panggilan murid-murid Tuhan Yesus dalam Injil Sinoptik (Mat. 4:18-22; Mrk. 1:16-20; dan Luk. 5:1-11) ada beberapa perbedaan yang menonjol. Dalam ketiga Injil Sinoptik Tuhan Yesus secara aktif memanggil mereka, sedangkan dalam Injil Yohanes murid-murid dan Yohanes Pembaptis adalah yang berinisiatif. Panggilan yang diceritakan oleh Yohanes terjadi “di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis”, sedangkan panggilan yang diceritakan dalam Injil Sinoptik terjadi di tepi Danau Galilea. Ternyata data dari keempat Injil berbeda, tetapi tidak kontradiktif. Misalnya, tidak ada kata, “Ini panggilan yang satu-satunya…”, dan Injil Sinoptik tidak berkata bahwa tidak pernah berbicara dengan mereka di Betania. Setiap penulis Injil mencatat peristiwa yang sesuai dengan tujuan Injilnya masing-masing, dari pengalaman mereka dan dari riset mereka. Menariknya, Yohanes memakai sebutan “Kedua belas” mengenai kedua belas murid itu (pasal 6:67, 70, 71; dan 20:24), tetapi dia tidak memberi daftar nama mereka seperti ada dalam Injil Sinoptik (Mat. 10:2-4; Mrk. 3:16-19; dan Luk. 6:13-16). Mungkin daftar nama tidak dicatat oleh Yohanes, karena dia tidak mau menyebutkan namanya sendiri.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Tuhan sangat mengasihi segenap umat ciptaan-Nya, oleh sebab itu, Dia tidak pernah membiarkan umat ciptaan-Nya itu berjalan seorang diri dalam kegelapan. Kasih karunia dan anugerah keselamatan serta pembebasan senantiasa Dia tawarkan dan berikan. Hanya saja tidak seluruh umat menyambut dan merespon kebaikan Tuhan itu dengan baik. Sebagai contoh adalah bangsa Israel yang harus kembali diingatkan oleh Yesaya, bagaimana mereka harus tetap percaya dan setia kepada Tuhan Allah, sekalipun berbagai macam cobaan hidup mendera. Lain bangsa Israel, lain pula Jemaat Korintus, yang didapati Paulus menjadi Jemaat yang kehilangan arah, bagaimana mereka bersikap dan harus menempatkan diri ketika mendapatkan kasih karunia Tuhan. Banyak di antara warga Jemaat Korintus yang secara sadar mengunggulkan dirinya sendiri atau kelompoknya atas kelebihan yang mereka miliki (bdg. Ay. 10-17). Kita dapat belajar dari Yohanes Pembaptis yang mampu menempatkan dirinya dengan baik, menyadari bahwa segala sesuatu yang didapatinya semata-mata adalah kasih karunia dari Tuhan. Dia dapat memahami dan menjalankan tugas panggilan dalam dirinya dengan baik, tanpa harus terjatuh pada kesombongan diri. Oleh sebab itu, ketika Yesus datang, dia tidak segan-segan untuk memuliakan-Nya, bahkan rela hati ketika dua orang muridnya menjadi pengikut Yesus.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Apabila panjenengan memiliki anak atau cucu di tengah-tengah hidup berkeluarga yang berjumlah lebih dari satu orang, pernahkah panjenengan diperhadapkan dengan situasi di mana anak atau cucu panjenengan menuntut diperlakukan adil oleh orang tuanya atau kakek neneknya? Misalnya masalah uang saku sekolah, anak bungsu yang notabene masih duduk di bangku Sekolah Dasar meminta uang saku sebesar kakaknya yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama atau Sekolah Menengah Atas. Atau masalah mainan, apakah pernah sang Kakak yang notabene sudah berumur 10 tahun, meminta mainan yang sama dengan adiknya yang masih berusia 5 tahun? Lalu apa tanggapan panjenengan? (Berikan waktu sejenak agar satu atau dua orang warga jemaat merespon).
Pada kenyataannya menerapkan konsep keadilan dalam kehidupan kita sehari-hari bukanlah perkara yang mudah, bukan? Karena setelah kita berhadapan dengan kasus-kasus sebagaimana contoh di atas, kita tentunya tersadarkan bahwa keadilan itu bukanlah sekedar sama rata, melainkan juga perlu mempertimbangkan azas-azas subyek penerima dan objek atau barang/ kebijakan yang akan diberikan. Manakala kita salah dalam menentukan penilaian terhadap subyek (penerima), maka kita pun bisa salah dalam memberikan sesuatu entah itu barang maupun kebijakan (objek). Jika kita jatuh pada kesalahan dalam menerapkan konsep keadilan, maka dapat dikatakan bahwa kita juga telah gagal menjadi orang yang berlaku adil, dan akan muncul dampak-dampak tertentu atas ketidakadilan yang kita lakukan tersebut.
Isi
Berbicara mengenai keadilan, kita pun perlu menarik prinsip-prinsip keadilan tersebut dalam kaitannya memandang kelebihan diri sendiri dan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Karena seringkali kita menjumpai, terdapat seseorang yang tidak adil dalam membandingkan kelebihan diri sendiri dan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, di mana seseorang tersebut hanya mengakui keunggulan dirinya sendiri serta memandang rendah orang lain tanpa memperhitungkan faktor-faktor penentu kelebihan dan kekurangan tersebut. Apakah adil ketika terdapat seorang astronot menilai dirinya sendiri lebih unggul dibandingkan dengan seorang pekerja kasar, sedangkan si astronot sejak masa kecilnya memiliki privilege (jalan istimewa) yang memungkinkan dia untuk menjadi seorang astronot sedangkan sang pekerja kasar tidak? Jika tidak, maka jalan untuk dapat mencapai titik keadilan dalam hal ini adalah membuang segala bentuk pengunggulan atau kesombongan diri dengan mau mengakui keunggulan yang lain sesuai dengan keistimewaan masing-masing. Dengan mengakui kelebihan kita dan kelebihan orang lain secara proporsional, kita telah melakukan satu tindakan adil dalam kehidupan ini.
Berdasarkan keterangan sejarah Kitab Suci, Yohanes Pembaptis adalah seorang tokoh besar yang dipanggil dan diutus Tuhan untuk mempersiapkan jalan kedatangan Sang Mesias (band. Mat. 11:11). Bukti dari seberapa besarnya nama dari Yohanes Pembaptis ini dapat kita temukan dari beberapa orang yang menghambakan diri menjadi pengikut setianya (Mat. 14:12). Yohanes Pembaptis pun hadir sebagai sosok berpengaruh yang dianggap sebagai sebuah ancaman bagi kekaisaran Herodes, sehingga dia harus menerima konsekuensi hukuman mati. Dan lagi bukti bahwa nama Yohanes Pembaptis sangatlah besar pada masa itu adalah ketika murid-murid Yesus sendiri kebingungan untuk meyakini siapakah sosok yang memiliki keistimewaan panggilan dari Allah, baik yang bergelar Anak Manusia ataupun Mesias itu sebenarnya (Band. Mat. 16: 14, Mrk. 8:28, Luk. 9:19). Besarnya nama Yohanes Pembaptis kala itu sebenarnya bisa saja dimanfaatkan oleh Yohanes untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Akan tetapi Yohanes Pembaptis sadar akan siapa dirinya, apa yang menjadi perannya, dan dia tidak bermegah pada karunia yang dianugerahkan oleh Allah kepada dirinya. Itu artinya, Yohanes Pembaptis telah berlaku adil dengan menilai dirinya secara proporsional.
Dalam bacaan Injil hari ini, kita bisa menemukan bukti tentang begitu besarnya hikmat dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Yohanes Pembaptis tersebut. Ketika Tuhan Yesus datang menghampiri, dia tidak segan-segan memperkenalkan Dia sebagai Anak Domba Allah yang akan menghapuskan dosa dunia. Bahkan dia pun rela melepaskan dua orang muridnya yang memutuskan untuk menjadi murid atau pengikut Yesus, disebutkan salah satunya bernama Andreas (lih. Ay. 40). Lalu kenapa Yohanes Pembaptis dapat bertindak seperti itu? Jawabannya adalah karena Yohanes Pembaptis menyadari bahwa keadaan yang saat itu dimilikinya semata-mata adalah anugerah pemberian Tuhan, bukan atas usahanya sendiri. Dia dipanggil dan diutus Tuhan untuk bekerja sesuai kapasitasnya.
Penutup
Menerapkan konsep keadilan memang bukanlah perkara yang mudah, apalagi berlaku adil bagi orang lain. Maka, dalam upaya memperjuangkan keadilan bagi ciptaan, khususnya keadilan bagi orang-orang terdekat kita, kita harus melatih diri untuk melihat dan menilai keberadaan diri kita dalam hidup bersama dengan orang lain secara adil dan proporsional. Masing-masing orang diciptakan Tuhan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Segala kelebihan yang dimiliki setiap orang tersebut semata-mata adalah pemberian Tuhan yang tidak perlu disombongkan. Ketika kita mampu menilai diri sendiri dan orang lain secara adil, maka kita pun akan dimampukan untuk menghargai orang lain apapun yang menjadi latar belakang dan statusnya. Maka selanjutnya, dunia ini akan terasa lebih indah ketika masing-masing pribadi dapat saling bekerjasama dengan sesamanya sesuai panggilan hidupnya, menjadi terang bagi seluruh ciptaan. Amin. [YEP].
Pujian: KJ. 379 : 1, 4, 6 Yang Mau Dibimbing Oleh Tuhan
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Bilih panjenengan kagungan yoga utawi wayah ing satengah-tengahipun brayat ingkang cacahipun kalih utawi langkung, punapa nate panjenengan dipun abenajengaken dhateng swasana ing pundi yoga utawi wayah panjenengan kepengin panjenengan adil tumrap punapa ingkang panjenengan tindakaken? Contonipun, gegayutan kaliyan arto sangu sekolah, kang Ragil ingkang kasunyatanipun taksih lenggah ing bangku Sekolah Dasar nyuwun supados sangunipun sami kaliyan kang Mbarep ingkang lenggah ing bangku Sekolah Menengah Pertama utawi Sekolah Menengah Atas. Contonipun malih, punapa nate si Kakang ingkang kasunyatanipun sampun yuswa 10 taun lajeng nyuwun dolanan ingkang sami kaliyan dolanan adhinipun ingkang taksih yuswa 5 taun? Lajeng punapa ingkang dados raos panjenengan? (Pelados paring wekdal dhateng satunggal utawi kalih warganing pasamuwan paring wangsulan).
Ing kasunyatanipun nindhakaken bab kaadilan ing satengah-tengahing gesang padintenan pancen sanes prekawis ingkang gampil, nggih napa boten? Karana ing kasunyatanipun, nalika kita dipun abenajengaken kaliyan prekawis kados conto wonten ing inggil kalawau, kita saged manggihi pangertosan bilih adil punika boten anamung prekawis sami rata, ananging ugi mbetahaken kawasisan kangge ngukur bab subyek ingkang badhe nampi lan obyek utawi barang/ tumindhak ingkang badhe dipun aturaken. Bilih kita tumindhak lepat anggenipun nemtokaken pambiji tumrap subyek (ingkang badhe nampi), kita ugi saged lepat anggenipun badhe ngaturaken barang utawi tumindhak (obyek). Nalika kita nindhakaken kalepatan ing babagan punika kalawau, sejatosipun kita inggih dereng saged nindhakaken kaadilan, lan tamtunipun ugi badhe wonten resiko-resiko ingkang badhe kalampahan.
Isi
Wicanten bab kaadilan, kita saged narik prinsip-prinsip kaadilan kalawau gegayutan kaliyan mirsani kaluwihaning gesang kita pribadi lan kaluwihaning gesang tiyang sanes. Asring kita manggihi, wonten tiyang-tiyang tertamtu ingkang boten saged tumindhak adil anggenipun paring pambiji tumrap kaluwihaning gesang pribadi lan kaluwihaning gesang tiyang sanes, ing pundi tiyang punika anamung purun ngakeni kaluwihan dhirinipun piyambak, ananging mboten purun ningali kaluwihanipun tiyang sanes, tanpa ningali punapa kemawon ingkang dados wiwit mulanipun kaluwihan lan kekirangan kalawau dumugi. Punapa adil, bilih wonten astronot paring pambiji tumrap dhirinipun piyambak langkung sae katimbang tiyang sanes ingkang nyambut damel sarabutan, kamangka piyambakipun wiwit mula alit sampun nggadahi privilege (margi kang mirunggan) ingkang saged ndadosaken piyambakipun astronot, lajeng tiyang sanes ingkang dados pekerja sarabutan kalawau mboten. Bilih wangsulanipun boten, pangupadi kita sami supados saged tumindhak adil saged dipun wiwiti kanthi mbucal sedaya raos dumeh kanthi purun ngakeni kasaenanipun tiyang sanes miturut kesagedanipun piyambak-piyambak. Kanthi purun ngakeni kaluwihanipun dhiri kita pribadi lan kaluwihanipun tiyang sanes sacara proporsional, kita saged dipun wastani tiyang ingkang nindhakaken kaadilan ing satengah-tengahing gesang punika.
Miturut katrangan sejarahipun Kitab Suci, Nabi Yokanan Pambaptis punika kalebet salah satunggaling tokoh ageng ingkang dipun timbali lan dipun utus dening Gusti kangge nyawisken margi tumrap rawuhipun Sang Kristus (band. Mat. 11:11). Ingkang saged dados bukti sepinten agengipun asma Nabi Yokanan Pambaptis saged kita panggihi saking tiyang-tiyang ingkang purun ngabdi dados pandherekipun (Mat. 14:12). Nabi Yokanan Pambaptis rawuh dados tiyang ingkang kaanggep nggadahi daya kangge ngancam Prabu Herodes, ngantos piyambakipun dipun pejahi. Sarta malih ingkang dados bukti bilih asmanipun Nabi Yokanan Pambaptis saestu ageng rikala semanten, kita saged panggihaken wonten ing carios nalika para sakabatipun Gusti Yesus sami bingung kangge nemtokaken wangsulan sinten ingkang sejatosipun dados Putranipun Manungsa utawi Sang Kristus (band. Mat. 16:14, Mrk. 8:28, Luk. 9:19). Agengipun asma Nabi Yokanan Pambaptis rikala semanten sejatosipun saged dipun ginakaken dening Nabi Yokanan kangge pados kauntungan sacara pribadi. Ananging Nabi Yokanan Pambaptis sadar sinten piyambakipun lan punapa ingkang dados timbalanipun. Piyambakipun boten gumunggung tumrap sih-kamirahanipun Gusti ingkang wonten ing gesangipun. Punika saged dados ukuran, dene Nabi Yokanan Pambaptis sampun nindhakaken kaadilan kanthi paring pambiji tumrap pribadinipun sacara proporsional.
Wonten ing waosan Injil dinten punika, kita saged manggihi bukti bilih Nabi Yokanan Pambaptis saestu kagungan kaluwihaning budi sarta kawicaksanan. Nalika Gusti Yesus rawuh dhateng piyambakipun, piyambakipun boten ewuh pakewuh nepangaken Panjenenganipun minangka Cempenipun Allah ingkang badhe mbirat dosa-dosanipun donya. Malah-malah piyambakipun ugi eklas ngeculaken kalih sakabatipun ingkang sarujuk dados sakabatipun Gusti Yesus, ingkang kasebat salah satunggal naminipun Andreas (Ay. 40). Lajeng ingkang dados pitakenanipun, kenging punapa Yokanan Pambaptis saged nindhakaken prekawis ingkang kados mekaten? Wangsulanipun wangsul malih, punika saged dipun lampahi karana Nabi Yokanan Pambaptis nggadahi kasadaran bilih kawontenan ingkang rikala semanten dipun alami, saged dipun gadhahi inggih karana Gusti ngersakaken, sanes karana pambudayanipun. Piyambakipun dipun timbali lan dipun utus Gusti supados saged nindhakaken pakaryan miturut kasagedanipun.
Panutup
Nindhakaken bab kaadilan punika pancen sanes prekawis ingkang gampil, langkung-langkung nindhakaken kaadilan tumrap tiyang sanes. Pramila, ing salebeting pangupadi nindhakaken kaadilan kangge sedaya titah, mliginipun kaadilan tumrap tiyang-tiyang celak kita, kita kedah nglatih dhiri kanthi ningali lan paring pambiji tumrap kawontenn gesang kita ing satengah-tengahing gesang sesarengan kaliyan tiyang sanes sacara adil lan proporsional. Kita ngakeni bilih saben-saben tiyang punika dipun titahaken kanthi kaluwihan lan kakirangan piyambak-piyambak, lan sedaya kaluwihan punika saged dipun gadahi namung karana Gusti karenan, boten prelu dipun gunggungaken. Nalika kita saged paring pambiji tumrap dhiri kita lan kawontenan tiyang sanes sacara adil, ing wusananipun kita inggih saged ngajeni tiyang sanes punapa kemawon ingkang dados kawontenanipun. Kawontenan donya punika saged langkung karaos endah nalika saben tiyang purun nyambut damel sesarengan miturut timbalan gesangipun, dados pepadhang tumrap sedaya titah. Amin. [YEP].
Pamuji: KPJ. 290 : 1, 2, 3 Sang Roh Suci Rohing Agesang