Tutup Tahun
Stola Putih
Bacaan 1: 1 Raja – raja 3 : 5 – 14
Bacaan 2: Yohanes 8 : 12 – 19
Bacaan 3: –
Tema Liturgis: Bersukacita karena Karya Allah di Tengah Suramnya Kehidupan
Tema Khotbah: Mengenal dan Menempatkan Diri di Bawah Karya Allah
Penjelasan Teks Bacaan
1 Raja-raja 3 : 5 – 14
Perikop ini menjadi salah satu kisah yang menonjolkan kelebihan Salomo di antara raja-raja yang pernah memerintah Israel, yaitu terkait anugerah kebijaksanaan. Sebelum melayangkan permohonan, dalam dialog dengan Tuhan, Salomo menyampaikan beberapa hal:
- Bahwa Tuhan telah menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada Daud, ayahnya, yang hidup setia, benar, dan jujur. Lalu Salomo mengingatkan bahwa karena kesetiaan ayahnya itu, Tuhan memberikan jaminan kepada keturunan Daud, yakni kepadanya untuk menjadi raja atas Israel (Ay. 6).
- Salomo lalu melanjutkan bahwa berdasarkan jaminan Tuhan itu, ia yakin sekalipun ia masih sangat mudah dan belum berpengalaman, Tuhanlah yang mengangkat dia menjadi raja (Ay. 7), dan menempatkannya di tengah-tengah umat pilihan-Nya, yang tak terhitung banyaknya (Ay. 7-9).
Inilah yang menjadi dasar dan kepatutan bagi Salomo melayangkan permohonannya meminta hikmat dari Tuhan untuk memimpin dan menghakimi umat Israel.
Jika dicermati dan dihubungkan dengan pasal-pasal sebelumnya, permohonan Salomo ini ada kaitan dengan usahanya memperkokoh tahtanya. Baginya, klaim perjumpaannya dengan Tuhan melalui mimpi di Gibeon, suatu tempat pelaksanaan ritual agama adalah sebuah afirmasi bahwa kekuasaannya berasal dari Allah. Klaim ini sekaligus merupakan sebuah legitimasi bahwa dirinya adalah pewaris sah dinasti Daud.
Walaupun demikian, afirmasi dan legitimasi sebagai standart normatif yang dipakai untuk mengokohkan diri dan tahtanya, Salomo juga sadar bahwa ia tak dapat semata mengandalkan semua itu, apalagi ia masih muda dan belum berpengalaman, pun tak mungkin hanya bersandar pada iman dan kebesaran Daud, ayahnya, tetapi ia sendiri harus membangun relasi personal dengan Tuhan dan meminta kepada Tuhan hati yang bijak untuk melaksanakan dan mewujudkan keadilan bagi rakyat Israel.
Pengenalan diri yang baik mengantarkan Salomo pada keputusan untuk meminta hikmat. Tidak hanya bagi dirinya sendiri melainkan dia memohon kebaikan bagi pemerintahan dan rakyat yang dipimpinnya. Pengenalan diri Salomo mengantarkannya pada kesediaan untuk menempatkan hubungan dengan Tuhan sebagai yang utama dan mendorongnya untuk tidak egosentris.
Yohanes 8 : 12 – 19
Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai terang dunia. Peristiwa itu menjadi batu loncatan bagi perdebatan di ayat selanjutnya. Ungkapan “Akulah terang dunia” sangat mengejutkan dalam konteks akhir hari Raya Pondok Daun, karena selain menuangkan air di mezbah, mereka juga menyalakan empat lampu besar di Pelataran Wanita, dan bersukacita menari sepanjang malam dengan obor. Ungkapan ini juga terkait erat dengan pasal 1:5, yang berkata, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Seluruh pasal 8, dan sebenarnya pasal 9 juga, merupakan uraian dari ungkapan singkat ini.
Dalam Perjanjian Lama, terang memiliki banyak konotasi. Kemuliaan TUHAN Allah bercahaya dari awan pada siang hari dan dari api pada malam hari, untuk menuntun (Kel. 13:21-22) dan melindungi (Kel. 14:19-25) umat Israel. Pemazmur berkata, “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku…” (Maz. 27:1) dan “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Maz. 119:105). Bandingkalah juga Zakharia 14:5-7 dan Yesaya 60:19-22. Pernyataan Akulah terang dunia membawa kesan yang kaya bagi umat Israel. Pernyataan ini bukan hanya sekadar teologia. Ada berkat bagi orang yang menerapkannya: ia akan mempunyai terang hidup, yaitu terang yang menghasilkan hidup, sama seperti Roti Hidup menghasilkan hidup.
Tema terang dunia tidak diteruskan secara terang-terangan dalam pasal ini, karena orang-orang Yahudi menantang hak Tuhan Yesus untuk bersaksi mengenai diri-Nya sendiri. Ungkapan terang dunia, yang merupakan latar belakang pasal 9 diulangi dalam pasal 9:5. Tema ini mencapai puncak pada akhir pasal 9. Di situlah Tuhan Yesus meringkaskan seluruhnya dengan berkata bahwa orang buta melihat terang dan orang yang dapat melihat, buta terhadap terang.
Penolakan orang Yahudi nyatanya tidak bisa menutupi kenyataan tentang keberadaan dan nilai Tuhan Yesus. Berdasarkan pengenalan diri itulah Tuhan Yesus menunjukkan integritas di setiap pengajaran dan karya-Nya.
Benang Merah Dua Bacaan:
1 Raja-raja 3 dan Yohanes 8 menampilkan 2 tokoh yang dikisahkan baik, yaitu Salomo dan Yesus. Keduanya dikenang sebagai tokoh hebat pada jamannya. Jika diperhatikan kehebatan kedua tokoh itu berangkat dari satu persamaan, yaitu pengenalan diri dan integritas. Pengenalan diri yang baik menjadikan Tuhan Yesus dan Salomo tidak berfokus pada diri mereka sendiri melainkan menghadirkan diri untuk berkontribusi pada orang lain. Salomo dalam kebijaksanaannya dan Yesus yang menyebut diri sebagai Sang Terang, hadir untuk menerangi umat.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
“Wahai cermin ajaib, katakan siapa wanita paling cantik di negeri ini!”, “Putri Putih Salju adalah wanita yang paling cantik di negeri ini”. Dialog di atas tentu tidak asing bagi kita. itu adalah bagian dari dongeng Putri Putih Salju. Kelanjutan kisahnya, tentu kita sudah mengetahuinya. Yang menarik dari bagian dongeng tersebut adalah adanya cermin yang disebut cermin ajaib. Dan itulah permulaan konflik dalam dongeng Putri Salju. Setelah bertahun-tahun bertanya dan dijawab bahwa dirinyalah yang tercantik, sang ratu ‘mengenal dirinya’ dalam image cantik yang didasarkan pada kata-kata cermin. Maka ketika cermin ajaib menjawab berbeda, dia seolah kehilangan diri dan karena itu dia berpikir dan bertindak jahat. Maka kita bisa melihat bahwa sang ratu nyatanya tidak memiliki pengenalan diri yang baik karena hanya menggantungkan nilai dirinya pada sebuah cermin. Dampaknya tampak pada tindakannya yang hanya menuruti emosi dan memuaskan egonya saja.
Isi
“Pengenalan diri” menjadi kata kunci yang dapat kita pakai dalam membaca teks Alkitab hari ini, baik yang tersurat dalam 1 Raja-raja 3:5-14 (tentang Raja Salomo) maupun Yohanes 8:12-19 (tentang Tuhan Yesus).
Permohonan Salomo untuk dianugerahi kebijaksanaan berangkat dari pengenalan dirinya: hubungan dengan Daud – sebagai ayah sekaligus raja sebelumnya, relasi Daud dengan Allah terutama tentang jaminan atas pemerintahan keturunan Daud. Berdasar itulah Salomo menaikkan doa permohonan itu. Sekalipun secara politis, permohonan Salomo ini ada kaitan dengan usahanya memperkokoh tahtanya. Klaim perjumpaannya dengan Tuhan melalui mimpi di Gibeon, tempat pelaksanaan ritual agama adalah sebuah afirmasi bahwa kekuasaannya berasal dari Allah sekaligus legitimasi bahwa dirinya adalah pewaris sah dinasti Daud. Walaupun demikian, afirmasi dan legitimasi sebagai standart normatif yang dipakai untuk mengokohkan diri dan tahtanya, Salomo juga sadar bahwa ia tak dapat semata mengandalkan semua itu, apalagi ia masih muda dan belum berpengalaman. Tidak mungkin dia hanya bersandar pada iman dan kebesaran Daud, ayahnya, tetapi dia sendiri harus membangun relasi personal dengan Tuhan dan meminta kepada Tuhan hati yang bijak untuk melaksanakan dan mewujudkan keadilan bagi rakyat Israel.
Pengenalan diri yang baik mengantarkan Salomo pada keputusan untuk meminta hikmat. Tidak hanya bagi dirinya sendiri melainkan dia memohon kebaikan bagi pemerintahan dan rakyat yang dipimpinnya. Pengenalan diri Salomo mengantarkannya pada kesediaan untuk menempatkan hubungan dengan Tuhan sebagai yang utama dan mendorongnya untuk tidak egosentris.
Penyataan diri Tuhan Yesus sebagai terang dunia lahir dari pengenalan diri-Nya. Tuhan Yesus tahu eksistensi dan esensi kehadiran-Nya di dunia. Dengan pengenalan diri itu Tuhan Yesus hadir dan berkarya. Sekalipun setelah menyatakan diri demikian, Dia mendapat penolakan dari para orang Farisi. Namun dalam diskusi/ perdebatan yang terjadi nyatanya para Farisi itu tidak mampu menyanggah dan mematahkan argumen Tuhan Yesus. Perdebatan itu justru semakin mempertegas identitas dan integritas Tuhan Yesus. Sang Terang yang membawa kehidupan bagi dunia. Penyataan diri-Nya itu dikukuhkan dalam karya pelayanan dan mukjizat yang dialami oleh banyak orang. Perjumpaan-Nya dengan orang banyak saat itu membawa pada keselamatan, kesembuhan, dan pengharapan, menjadi bukti bahwa Terang itu benar-benar menerangi dan berdampak di manapun Dia berada.
Pengenalan diri merupakan hal mendasar dan penting. Tidak hanya bagi sosok raja, pemimpin, atau tokoh terkemuka, seperti dalam dua bacaan di atas, tetapi juga berlaku bagi kita semua. Dalam hidup nyatanya kita tidak bisa menghindar dari permasalahan, pergumulan, apalagi musibah. Semua itu justru bisa menjadi alat bantu bagi kita untuk mengenal diri dan relasi kita dengan Tuhan. Semakin mengenal diri, kita akan dimampukan untuk bijak, tidak hilang arah, dan bermanfaat bagi sesama.
Penutup
Di penghujung tahun ini, marilah kita merenungkan perjalanan kita sepanjang tahun 2022. Suka-duka, kesuksesan dan kegagalan, tawa dan tangis yang kita lalui, sudahkah semuanya itu membuat kita mengenal diri kita? Siapa saya? Apakah kelebihan dan kekurangan yang Tuhan anugerahkan? dan dampak apa yang sudah saya berikan bagi lingkungan (keluarga, sekolah, kerja, gereja, dsb)? Jika dalam perenungan kita mendapati bahwa ada kalanya kita ragu, tidak tentu arah atau bahkan membawa dampak tidak baik, bisa jadi karena kita belum seutuhnya mengenal diri dan tujuan Tuhan merancang kehidupan kita. Maka saat ini di penghujung tahun 2022, mari kita memohon kepada Tuhan agar perjalanan kita selanjutnya, kita beroleh hati yang bijak dan menjadi berkat di semua musim kehidupan, termasuk di masa suram karena pandemi saat ini. Karena kita percaya di kondisi paling suram sekalipun Tuhan ada dan memandu kita. Selamat menutup catatan perjalanan tahun 2022 ini, mengambil pelajaran dari padanya dan menjadi semakin bijak. Amin. [WE]
Pujian: KJ. 331 : 1, 4 Siang, Malam, Musim, Tahun
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
“Kaca benggala sekti, duduhne sapa wong sing paling ayu ing negri iki?”, “ Putri Salju kang paling ayu ing negri punika!”. Sedaya tamtu pirsa dialog punika ingkang dados perangan dongeng Putri Salju. Carios salajengipun tamtu kita pirsa. Ingkang menarik ing dongeng punika wonten kaca pangilon ingkang saged mangsuli pitakenan pramila dipun wastani sakti utawi ajaib. Punika ingkang dados wiwitan masalah, nalika mataun-taun sang ratu ndangu lan pikantuk wangsulan bilih piyambakipun punika tiyang ingkang paling ayu, lajeng ing sawijining dinten wangsulan punika owah lan nyebat tiyang sanes ingkang paling ayu. Sang ratu murka lan nggadhahi krenteg nyingkiraken tiyang wau, sanadyan ingkang kasebat dening kaca benggala inggih anak sambungipun piyambak. Saking carios punika ketawis bilih sang ratu mboten saestu wanuh kaliyan dhirinipun piyambak, ‘nilai diri’nipun gumantung tumrap wangsulanipun kaca benggala punika. Satemah nalika pikantuk wangsulan ingkang benten, piyambakipun lajeng emosi lan ngandelaken egonipun piyambak.
Isi
“Tepang diri” punika dados tembung kunci ing maos waosan dinten punika, sae punika ing kitab 1 Para Raja 3:5-14 (bab Raja Salomo) ugi Yohanes 8:12-19 (bab Gusti Yesus).
Pandonga panyuwun kawicaksanan tuwuh saking ‘tepang diri’ Raja Salomo: Sinten ta piyambakipun, kados pundi brayatipun utaminipun kang rama sesambetan klayan Gusti kalebet prajanjining Gusti Allah mliginipun jaminan tumrap paprentahan tedhak turunipun Dawud ing Israel. Alelandhes punika, Salomo ngunjukaken pandonga panyuwun bab kawicaksanan. Sanadyan sacara politis panyuwun punika tamtu mboten uwal saking upaya negesaken bilih paprentahan ingkang dipun ayahi dening Raja Salomo punika asalipun saking Gusti Allah. Punika dipun tegesi ing salebeting paseksi bab ngimpi pepanggihan klayan Gusti Allah. Ananging kejawi namung pados ‘pengukuhan’ bab pangwaosipun, Raja Salomo ugi sadar estu bilih anggenipun mimpin bangsa Israel ingkang kathah sanget cacahipun ugi mawarni-warni pikajengipun, tamtu mboten saged dipun ayahi piyambak, langkung-langkung dhirinipun taksih anem. Piyambakipun prelu panuntuning Gusti Allah. Satemah paprentahanipun saged lumampah sae lan dados berkah tumrap bangsanipun. Tepang diri ingkang saestu nuntun Raja Salomo nyuwun kawicaksanan ing ngarsanipun Gusti Allah. Srana mapanaken sesambetan klayan Gusti Allah dados prekawis ingkang utami,ugi tujuan gesangipun mboten namung kangge mburu pikajengipun piyambak.
Ing waosan 2, kita maos pamedharing Gusti Yesus bab sejatining dhirinipun. Penyataan diri punika ugi lair saking tepang diri. Gusti Yesus saestu pirsa sejatining dhirinipun ugi tujuan lan tugasipun rawuh ing donya punika. Sanadyan pangandikanIpun katampik dening tiyang Farisi, nanging ing salebeting pirembagan ingkang kelampahan kita malah saged manggihi bilih punapa ingkang kadhawuhaken leres. Tiyang Farisi punika mboten saged nyanggah punapa ingkang dipun pangandikakaken, langkung-langkung kados pundi Gusti Yesus nerangaken bab sesambetanipun kaliyan Gusti Allah. Panjenenganipun punika pepadhang ingkang ngasta gesang. Lan punapa ingkang kapangandikakaken bab dhirinipun saestu dipun jangkepi ing salebeting pakaryan, peladosan, kawilujengan, mukjijat, kasarasan, panglipuran ingkang dipun alami dening tiyang kathah.
Tepang diri punika prekawis ingkang wigati. Mboten namung kagem pangwaos (Raja/ pemimpin), tokoh ingkang kinurmatan, kados ing waosan kita dinten punika, ananging ugi tumrap sedaya manungsa. Ing gesang padintenan punika nyata billih kita mboten saged nampik kacilakan, selak dhateng kasisahan, ugi sesakit, pambengan/ pergumulan gesang, punapa malih musibah lan bencana. Sedaya prekawis kalawau sejatosipun saged dados lantaran, anggen kita tansaya tepang lan wanuh dhateng dhiri kita piyambak lan mbeta kita tansaya nyelak dhumateng Gusti. Nalika kita tansaya ‘tepang diri’ kita kasagedaken mindhak wicaksana, mboten miyar-miyur, malah tansaya dados berkah tumrap sesami.
Panutup
Ing pungkasan tahun punika, sumangga kita pirsani malih, kados pundi lelampahan kita ing tahun 2022. Ing salebeting kasisahan lan kabingahan, kesuksesan lan kegagalan, punapa sedaya kawontenan kalawau ndadosaken kita tansaya tepang lan wanuh dhateng dhiri kita? Sejatosipun sinten ta kula niki? Punapa kasaenan lan kekirangan kula? Lan punapa kula berdampak tumrap lingkungan – brayat, sekolah, papan pandamelan, ugi greja? Menawi sasampunipun kita ngraos-ngraosaken pitakenan punika, kita manggihi bilih kita taksih asring mangu-mangu, miyar-miyur, langkung-langkung mbeta dampak awon dhateng sakiwa tengen kita, mbok bilih punika krana kita dereng saestu tepang lan wanuh dhateng dhiri kita piyambak, ugi dereng saged manggihaken tujuan lan rancananing Gusti Allah tumrap gesang kita. Menawi pancen mekaten, sumangga kita nyenyuwun ing ngarsanipun Gusti supados ing lampah gesang kita salajengipun kita binerkahan manah ingkang wicaksana saha dados berkah ing sedaya kawontenan gesang, kaleben ing awrating pageblug samangke. Krana kita pitados ing wekdal awrat (teleng palimengan) Gusti tansah ngamping-ampingi lan nuntun gesang kita. Sugeng mungkasi tahun 2022 punika, mangga kita mundhut piwucal saking sedaya ingkang sampun kelampahan ing gesang kita, satemah kita saged tansaya mawas dhiri lan wicaksana. Amin. [WE].
Pamuji: KPJ. 395 : 1, 2 Sawatara Aku Noleh