Minggu Natal
Stola Putih
Bacaan 1: Yesaya 62 : 6 – 12
Bacaan 2: Titus 3 : 4 – 7
Bacaan 3: Lukas 2 : 8 – 20
Tema Liturgis: Bersukacita karena Karya Allah di Tengah Suramnya Kehidupan
Tema Khotbah: Cinta Tuhan Tanpa Syarat Mampu Mengubah Keadaan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 62 : 6 – 12
Yesaya 62 ini dalam pembagian Kitab Yesaya adalah bagian Trito Yesaya. Pembagian Kitab Yesaya adalah sebagai berikut:
- Proto-Yesaya (Yesaya 1–39) berasal dari zaman ketika Yehuda, Kerajaan Selatan, terancam oleh Asyur, negara tetangga yang sangat kuat. Yesaya menyadari bahwa yang sesungguhnya mengancam kehidupan Yehuda bukanlah kekuatan Asyur, tetapi dosa bangsa Yehuda sendiri, karena bangsa itu tidak taat dan kurang percaya kepada Tuhan. Baik dengan kata-kata, maupun dengan perbuatan, Nabi Yesaya mendorong rakyat serta para pemimpin mereka untuk hidup menurut kehendak Tuhan dan berlaku adil. Ia mengingatkan bahwa umat Tuhan akan celaka dan binasa kalau tidak mau mendengarkan Tuhan. Yesaya juga meramalkan perdamaian dunia dan kedatangan seorang keturunan Daud yang akan menjadi raja yang diidam-idamkan.
- Deutero-Yesaya (Yesaya 40–55) ditujukan kepada orang-orang Yehuda yang hidup dalam pembuangan di Babel. Mereka dalam keadaan hancur tanpa harapan. Yesaya memberitakan bahwa tak lama lagi Tuhan membebaskan umat-Nya dan membawa mereka pulang ke Yerusalem, untuk memulai suatu hidup baru. Tema penting bagian ini ialah bahwa Tuhan itu Tuhan yang menguasai sejarah, dan bahwa Ia merencanakan untuk mengutus umat-Nya ke segala bangsa yang akan diberkati melalui Israel. Ayat-ayat tentang “Hamba Tuhan” merupakan salah satu bagian yang paling terkenal dari Perjanjian Lama.
- Trito-Yesaya (Yesaya 56–66) sebagian besar ditujukan kepada bangsa yang sudah kembali di Yerusalem. Mereka perlu diyakinkan lagi bahwa Tuhan akan memenuhi janji-janji-Nya kepada bangsa itu. Perhatian khusus diberikan kepada cara hidup yang benar dan keadilan; juga kepada cara merayakan hari Sabat, mempersembahkan kurban dan doa.
Jadi tema besar dari Yesaya 62 ini adalah tentang pemenuhan janji penyelamatan Allah kepada umat-Nya. Yesaya adalah salah satu nabi yang hebat. Yang menjadi tugasnya adalah memberitakan pertobatan dan pengharapan akan adanya keselamatan. Ia melihat adanya pengharapan akan pemenuhan janji Tuhan. Untuk memahami bacaan ini tidak bisa dilepaskan dari ayat-ayat sebelumnya. Yesaya memiliki kepercayaan yang kuat bahwa pemulihan akan terjadi di Sion. Dia menyampaikan berita bahwa bangsa itu tidak akan disebut lagi “yang ditinggalkan suami” atau “yang sunyi”, tetapi akan dinamai “yang berkenan kepada-Ku” dan negerimu “yang bersuami.” Dahulu mereka umat buangan, sekarang dipulihkan dan diselamatkan Allah. Kebahagiaan yang dirasakan karena relasi antara Allah dengan umat-Nya kembali dipulihkan. Hubungan antara bangsa Israel dengan Allah digambarkan seperti kebahagiaan hati seorang mempelai melihat pengantin perempuannya (Ay. 5).
Kebahagiaan ini yang membuat Allah akan menjaga umat-Nya, memastikan keselamatan hidup mereka dengan menempatkan penjaga dan menjaga kemakmuran mereka. Hati Tuhan telah terikat kepada Yerusalem. Yesaya menerima perintah untuk menyampaikan berita keselamatan ini kepada umat milik Tuhan. Berita keselamatan ini bukan berita tertutup antara dua belah pihak saja, antara Allah dan umat-Nya melainkan berita ini adalah terbuka yang melibatkan bangsa-bangsa lain sebagai saksinya bahkan sampai ke ujung bumi (Ay. 10-11). Ketika pihak lain dilibatkan dalam janji keselamatan ini maka berita keselamatan ini bukan isapan jempol belaka. Berita ini sungguh-sungguh akan menjadi kenyataan. Maka dari itu umat harus disiapkan bagi hadirnya janji Allah itu dalam kehidupan mereka. Segala batu penghalang yang menghalangi harus disingkirkan. Datangnya rahmat ini harus disambut umat dengan baik dan Yesaya memiliki tanggung jawab memastikan bahwa datangnya rahmat keselamatan ini diterima dengan baik.
Titus 3 : 4 – 7
Yang unik dari pandangan Paulus berkaitan dengan karya keselamatan yang dianugerahkan melalui Tuhan Yesus adalah keselamatan itu mengandung kronologi masa lampau. Kata kerja “menyelamatkan” di ayat 5a berbentuk lampau (Dia telah menyelamatkan) dan penggunaan kata kerja lampau di ayat 4 (telah muncul). Jadi, keselamatan yang dianugerahkan melalui Yesus Kristus itu sudah dimulai sejak kekekalan dimana mengandung kronologi waktu masa lalu dan sampai kapanpun juga. Keselamatan manusia yang datangnya dari Allah melalui Yesus Kristus telah dijanjikan oleh Allah sejak permulaan zaman. (Titus 1:2 “…dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta.”).
Oleh karena itu, cinta itu tidak bersyarat bahkan perbuatan baik manusia bukan syarat bagi hadirnya kasih, kebaikan, dan kemurahan Allah kepada manusia melalui Yesus Kristus. Ayat 5 diawali dengan: “bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan.” Perbuatan baik memang penting bagi kualitas hidup manusia tetapi keselamatan adalah kemurahan hati Allah kepada manusia. Kata rahmat Allah adalah bagian yang penting, jika perbuatan baik dijadikan landasan dalam keselamatan lalu kata rahmat Allah menjadi sia-sia. Paulus menegaskannya dengan menggunakan kata “yang Dia curahkan atas kita dengan limpahnya”. Rahmat dalam kamus bahasa Indonesia artinya belas kasihan dan dilekatkan dengan tokoh Allah, bisa dibayangkan bahwa belas kasihan ini diberikan berlimpah-limpah kepada manusia. Untuk tujuan apa Allah melimpahkan rahmat-Nya itu? Dalam Alkitab bahasa sehari-hari diterjemahkan demikian: (7) “supaya oleh rahmat Yesus, kita berbaik kembali dengan Allah dan kita mendapat hidup sejati dan kekal yang kita harap-harapkan.” Allah yang menciptakan kita mengasihi kita, Dia ingin kita kembali kepada-Nya. Tidak sia-sia karya penciptaan-Nya dalam kasih kemurahan-Nya melalui penyelamatan Yesus Kristus.
Jika seperti itu dimana tempat perbuatan baik? Jika diteruskan pasal ini sampai dengan ayat 11 dan 14, tampaklah penjelasan Paulus bahwa orang yang hidup dengan cara yang tidak baik adalah orang yang tersesat dan menghukum dirinya sendiri sebagai manusia yang tidak bertanggungjawab dan tidak menghasilkan buah yang baik dalam hidupnya sebagai manusia. Ini adalah kecaman yang sangat keras bagi orang yang hidup sembarangan. Maka dari itu, berita tentang rahmat Allah yang berlimpah ini perlu diberitakan. Sukacita ini yang ingin dibagikan Paulus kepada Titus dan para pembacanya. Dia telah merasakan anugerah besar keselamatan dari Allah atas peristiwa spiritualitasnya dalam perjalannan di Damsyik. Dia adalah salah satu orang yang dilimpahi rahmat itu.
Lukas 2 : 8 – 20
Pemilihan Allah atas para gembala yang diberikan berita tentang kelahiran Yesus Kristus Sang Mesias adalah sangat menarik. Mengapa mereka yang dipilih dari sekian banyak profesi di dunia? Gembala domba di Palestina adalah kelompok masyarakat sederhana yang hidup terpencil. Saat bertugas mereka tinggal di alam terbuka, terpisah dari komunitas, tetapi mereka dikenal sebagai orang-orang yang setia menjalankan tugasnya. (perhatikan kalimat: ”… menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.”).
Tugas utama mereka antara lain:
- Menjaga domba dari serangan pencuri dan binatang predator (pemangsa).
- Merawat domba yang terluka.
- Mencari domba kalau ada yang hilang atau tersesat.
- Mencarikan padang rumput dan sumber air untuk makan-minum dombanya. Dalam rangka mencari padang rumput dan sumber air, ini bukanlah perkara mudah dilakukan.
Mereka tidak akan menetap di suatu tempat karena terbatasnya rumput dan sumber makanan. Di musim semi dan musim panas, mereka masih bisa menggembalakan kambing domba di sekitar desa mereka karena berlimpahnya rumput dan sisa hasil panen di ladang. Tetapi di musim dingin mereka akan mencari tempat yang jauh untuk mendapatkan makanan dan sumber air. Gembala tidak menetap di suatu tempat. Mereka berkelana mencarikan domba mereka sumber pangan dan air. Melihat kehidupan para gembala yang tidak menetap seperti itu maka mereka adalah yang paling bisa dipercaya untuk menjadi penyebar berita kelahiran Mesias.
Gembala mungkin kaum rendahan kelas masyarakat rendah yang disepelekan tetapi mereka adalah para pekerja keras yang setia, para perawat yang kompeten, dan pembawa berita yang dapat diandalkan. Alasan inilah yang menjadikan mereka kandidat yang terpilih sebagai saksi kelahiran Sang Mesias dan calon pembawa berita keselamatan atas Israel dan seluruh bangsa. Berita keselamatan itu memang milik kalangan rendahan yang sungguh-sungguh menantikan zaman baru dampak dari hadirnya Sang Mesias yang dinantikan. Berita keselamatan akan menjadi berita sukacita bagi yang sedang menderita dan menantikan perubahan keadaan. Maka para gembala itupun sangat bersukacita mendapat berita kelahiran Sang Mesias.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kasih dan kemurahan Allah nyata kepada umat-Nya melalui kehadiran Yesus Kristus yang menyelamatkan dan mendamaikan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Kumis dan Mbak adalah sepasang kekasih yang sepakat akan menikah. Tanggal pernikahan mereka telah ditentukan dan disepakati oleh mereka berdua. 90 hari sebelum pemberkatan perkawinan mereka akan mengadakan pertunangan dan melaporkan rencana perkawinan mereka ke gereja. Dalam pertunangan itu, Kumis hanya diiringi oleh bebrapa orang temannya dan bukan oleh keluarganya. Keluarga Mbak kecewa, dan Kumis memberi alasan jika Bapak dan Ibunya sedang isolasi karena Covid-19. Mereka kemudian bersepakat akan datang menemui pendeta jemaat untuk melaporkan perkawinan. Pendeta menjelaskan apa saja surat-surat yang diperlukan dalam perkawinan. Sepulang dari menemui pendeta, Kumis menjadi gelisah dan malamnya Kumis menelpon Mbak dan tidak setuju jika perkawinan dilakukan dalam agama Kristen. Ia meminta perkawinan dalam agama lain yang tidak memerlukan surat-surat atau syarat administrasi yang ribet. Kumis juga tidak mau ada pesta perkawinan yang meriah, cukup dengan keluarga dekat saja. Mbak menjadi sangat kecewa dengan hal itu. Keluarga besar Mbak tidak menyetujui rencana itu dan marah besar. Mereka mencurigai sesuatu pada diri Kumis dan ternyata benar Kumis sudah menikah.
Isi
Perkawinan adalah perjumpaan dua orang yang saling mencintai dan ingin hidup bersama. Perkawinan itu adalah sebuah kebahagiaan. Ketika Kumis ingin menyembunyikan berita gembira itu tentu saja ini menimbulkan kecurigaan. Berita gembira harusnya diberitakan bukan disembunyikan. Kegembiraan dua orang yang saling mencintai itu harusnya juga menjadi energi kegembiraan bagi yang lainnya.
Energi kegembiraan inilah yang terkandung dalam ketiga bacaan kita saat ini. Energi bersatunya cinta antara Allah dan umat-Nya.
- Yesaya 62 : 6 – 12
Allah yang begitu mencintai umat-Nya bertemu dengan kerinduan umat akan penyelamatan bagi mereka. Dua pihak yang saling mencintai ini pada umat yang diciptakan akhirnya bertemu. Allah yang begitu mencintai umat-Nya itu berinisiatif untuk merengkuh umat yang diciptakan-Nya dan memulihkan hubungan. Berita gembira ini disampaikan oleh Yesaya, energi cinta yang memberikan kehidupan baru bagi umat yang dikasihi-Nya ini harus diberitakan dan dipersiapkan dengan baik supaya bisa ditanggapi dengan baik oleh umat. Pasti tidak mudah bagi Yesaya untuk meyakinkan bangsa Yehuda yang sudah lama menantikan pengharapan akan perubahan keadaaan, akan datangnya keselamatan. Mungkin tidak mudah juga bagi umat Yehuda untuk mempercayai berita penyelamatan itu setelah sekian lama menanti. Tapi itu memberi energi bagi Yesaya dan umat untuk mempercayai-Nya. - Titus 3 : 4 – 7
Cinta Allah kepada umat-Nya sungguh tidak bersyarat, Paulus dalam pengalaman imannya ingin berbagi sukacita itu kepada pembacanya. Bahkan perbuatan baik bukan syarat bagi pemulihan hubungan Allah dengan umat-Nya, tetapi cinta semata. Cinta Allah kepada manusia, janji keselamatan itu sudah ada sejak semula dan akan tetap ada dalam rengkuhan kasih Allah kepada umat-Nya. Paulus sudah menemukan rengkuhan kasih itu dan dia ingin menuntun yang lainnya untuk menemukan rahasia cinta Allah ini. Tidak ada kebahagiaan selain daripada yang menemukan Allah dan cinta-Nya yang tak bersyarat itu. Itulah rahasia energi Paulus yang tidak berhenti untuk memberitakan berita sukacita penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus, bahkan penjara, kematian, dan penderitaan tak kuasa menghentikannya. Energi cinta ini terlalu besar untuk dibendung, terlalu kuat untuk dilumat oleh keadaan. Paulus sudah menemukan cinta tanpa syarat dari Allah yang penuh kasih dalam diri Yesus Kristus. Yang dia yakini dan yang dia beritakan hanyalah janji keselamatan, yang berasal dari pengalaman iman dan perjumpaannya dengan Tuhan. Cinta tanpa syarat itu menguatkan Paulus dan setiap orang percaya. Apakah Cinta itu sudah Anda temukan? Sudahkah Cinta itu menyentuh seluruh kehidupan Saudara? dan mendorong Saudara menjadi orang yang lebih baik dan menjadi berguna bagi kehidupan yang lainnya? Perbuatan baik bukanlah syarat keselamatan, bahwa orang yang hidup dengan cara yang tidak baik adalah orang yang tersesat dan menghukum dirinya sendiri, sebagai manusia yang tidak bertanggungjawab dan tidak menghasilkan buah yang baik dalam hidupnya sebagai manusia. Keselamatan itu adalah rahmat dari Allah semata. - Lukas 2 : 8 – 20
Kehidupan menjadi gembala bukanlah kehidupan yang mudah. Mereka harus terus bergerak mencari tempat bagi domba-dombanya menemukan minum dan makanan. Gembala mungkin kaum rendahan kelas masyarakat rendah yang disepelekan tetapi mereka adalah para pekerja keras yang setia, para perawat yang kompeten dan pembawa berita yang dapat diandalkan karena perjalanan mereka untuk mencari sumber pangan bagi ternak. Alasan inilah yang menjadikan mereka kandidat yang terpilih sebagai saksi kelahiran Sang Mesias dan calon pembawa berita keselamatan atas Israel dan seluruh bangsa. Berita keselamatan itu memang milik kalangan rendahan yang menderita, karena mereka sungguh-sungguh menantikan zaman baru dampak dari hadirnya Sang Mesias yang dinantikan. Berita keselamatan akan menjadi berita sukacita bagi yang sedang menderita dan menantikan perubahan keadaan. Maka para gembala itupun sangat bersukacita mendapat berita kelahiran Sang Mesias. Di tengah kerasnya perjuangan kehidupan yang tak mudah bagi mereka, malam itu terasa istimewa. Berita tentang keselamatan itu dipercayakan kepada mereka. Apakah mereka akan menyimpan berita itu sendiri? Pengalaman spiritual itu pasti akan menumpuk bara cinta di hati mereka, harapan mereka akan keselamatan pasti akan mendorong mereka kepada kualitas hidup yang lebih baik dan energi itu pasti akan membuncah untuk dibagikan kepada yang lain. Sekali lagi Cinta Allah yang ingin bersatu dengan umat-Nya dinyatakan melalui sukacita para gembala yang melihat bayi Yesus.
Demikianlah energi cinta Allah kepada umat-Nya mengalir dan menjadi kekuatan dalam kehidupan umat-Nya. Berita tentang Allah yang mencintai umat-Nya itu harus terus diberitakan sehingga umat memiliki keyakinan dan harapan tumbuh menjadi kekuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Siapa di antara kita yang hidupnya tidak pernah mengalami kesulitan? Kita semua pasti pernah bukan? Bagaimana respon kita menghadapi kesulitan itu? Dari mana datangnya energi kita dalam menghadapinya? Datangnya dari pengharapan bahwa Allah mengasihi kita, menyertai kita, dan ingin menyelamatkan kita. Tidak hanya dari dosa tetapi dari kehidupan berat saat ini.
Berita natal adalah pengharapan akan datangnya keselamatan akan datangnya kehidupan yang lebih baik. Kita sedang merayakan cinta Tuhan yang besar kepada kita umat yang diciptakan-Nya dari debu tanah. Kesadaran akan adanya Tuhan yang mencintai kita adalah sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Bersukacitalah dunia, Juruselamatmu telah lahir, rayakanlah cinta Tuhan yang tanpa syarat itu. Kehidupan kita yang mencerminkan kasih Allah dan penuh kemurahan adalah tanda bahwa berita penyelamatan Allah telah sampai kepada kita. Seorang pendendam, yang tidak memaafkan orang lain dan seorang yang enggan bermurah hati kepada orang lain adalah tanda bahwa hatinya belum disentuh berita keselamatan dari Allah. Kemurahan hati Allah belum sampai padanya sehingga iapun tidak mengenal kemurahan hati untuk berbagi, untuk memaafkan, dan untuk berbuat baik tanpa pamrih.
Berita tentang Allah yang mengasihi umat-Nya dan yang menyelamatkan umat-Nya ini harus disampaikan supaya hati yang dingin dan keras karena keringnya cinta akan menghangat kembali dan percaya bahwa cinta itu masih ada. Supaya hati yang putus asa kembali bergairah bahwa pengharapan itu masih ada. Kita bisa menjadi berita sukacita akan kesungguhan kasih Allah yang mencintai umat-Nya tanpa syarat.
Penutup
Kembali ke cerita pembukaan tadi, Kumis tidak bersemangat untuk mengabarkan berita sukacita perkawinannya dengan Mbak tenyata ada masalah di dalamnya, ada kepalsuan di dalamnya. Apakah saudara juga sedang tidak ingin merayakan hidup Saudara? Tidak ingin merayakan kehidupan bersama pasangan hidup, tidak ingin merayakan hidup Saudara dengan orang tua? Mungkin sedang ada masalah di dalamnya. Kiranya berita kasih Allah kepada umat-Nya ini menjadi kekuatan bagi Saudara untuk memperbaiki keadaan. Meski semua cinta di dunia menghilang, masih ada satu pribadi yang mencintai kita tanpa syarat, yaitu cinta Allah kepada kita. Allah berjanji dan sanggup mengubah keadaan, untuk itulah Ia hadir di antara kita. Selamat Natal. Tuhan Yesus memberkati. Amin [AM].
Pujian: KJ. 120 Hai, Siarkan di Gunung
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Kumis lan Mbak sampun pacangan lan badhe krama. Tanggal pemberkatan sampun dipun pilih. 90 dinten sakderengipun pemberkatan, Kumis lan Mbak badhe ngawontenaken tunangan lan badhe lapor tahap 1 dhateng greja. Emanipun ingkang dugi ing tunangan punika, Kumis namung dipun dherekaken dening kancanipun tanpa tiyang sepuhipun. Kumis matur bilih tiyang sepuhipun dipun karantina krana Covid-19. Kumis lan Mbak sowan dhateng pendita lan pikantuk penjelasan surat-surat punapa kemawon ingkang kedah dipun cawisaken. Sakwangsulipun saking kapanditan, Kumis nelpon Mbak lajeng ngendika bilih mboten kepingin nikah kanthi tata cara agami Kristen, mawi cara agami sanes kemawon ingkang mboten ribet syaratipun, malahan saged nikah tanpa surat. Lan mangke ugi mboten kepingin wonten pesta rame-rame cekap brayat kemawon. Tamtu brayatipun Mbak mboten sarujuk lan duka sanget mireng pawartos ing kados makaten. Lajeng sami dipun tlesih lan saestu Kumis punika sampun kagungan garwa.
Isi
Neningkahan punika wujudipun katresnan tiyang kalih ingkang kepingin gesang sesarengan. Neningkahan punika salah satunggilipun prekawis ingkang mbingahken. Kedahipun dipun sebar supados tiyang sanes pirsa kabingahan punika. Milanipun nalika Kumis kepingin nyidem pawartos kabingahan punika dadosaken kecurigaan. Kedahipun pawartos kangihan punika dipun sebar lan dados energi kabingahan kangge sanesipun.
Energi kabingahan ugi ingkang dados punjeripun tigang waosan kita ing dinten punika. Inggih punika energi manunggalipun katresnanipun Gusti Allah dhumateng umatIpun :
- Yesaya 62 : 6 – 12
Gusti Allah ingkang saestu tresna dhumateng manungsa, manunggal kaliyan manungsa supados umat punika pikantuk pangentasan lan karahayon. Gusti Allah ingkang saestu tresna dhumateng manungsa kagungan inisiatif kangge ngrengkuh umatIpun supados hubungan ingkang risak saged dipun pulihaken. Pawartos kabingahan punika kedah dipun wartosaken dening Yesaya. Rawuhipun katresnanipun Gusti Allah punika kedah dipun cawisaken supados saged dipun tanggepi kanthi sae dening umat. Tamtu mboten gampil kangge Yesaya, martosaken bab punika tumrap bangsa ingkang sampun dangu ngrantos rawuhipun pangentasan lan karahayon. Mbok menawi mboten gampil kangge umat pitados ing pawartos pangentasan lan karahayon saksampunipun dangu ngrantos. Ananging energi katresnanipun Gusti Allah punika ndadosaken Yesaya lan umat pitados dhumateng Gusti Allah. - Titus 3 : 4 – 7
Katresnanipun Gusti Allah dhumateng manungsa punika tanpa syarat. Lantaran pengalaman imanipun, Paulus kepingin sanget mbagi pawartos kabingahan ingkang sampun dipun tampi saking Gusti Yesus. Miturut pamanggihipun Paulus, tindak tanduk ingkang sae punika sanes syarat kangge pulihipun sesambetaning manungsa kaliyan Gusti Allah, ananging krana katresnanipun Gusti Allah kemawon. Prasetyanipun Gusti Allah tumrap karahayon kangge manungsa sampun wonten ing kelanggengan. Paulus sampun manggihaken katresnanipun Gusti punika lan kepingin mbage bab punika kaliyan tiyang sanes. Mboten wonten kabingahan sanes kajawi manggihaken katresnanipun Gusti Allah tanpa syarat. Punika ingkang dados semangatipun Paulus ingkang sregep martosaken kabar kabingahan bab karahayon lantaran Gusti Yesus Kristus. Katresnan punika ingkang dadosaken Paulus mboten keder ngadepi penjara, kasangsaran, lan ugi bilai pati. Paulus sampun manggihaken katresnanipun Gusti ingkang tanpa syarat ing Gusti Yesus Kristus. Punapa kula lan panjenengan ugi sampun manggihaken? Lajeng punika punapa dados semangat gesang ingkang langkung sae lan migunani? Tumindak sae punika sanes syarat kangge nampi karahayon. Ananging tiyang ingkang tumindak awon punika tiyang ingkang keblinger lan tiyang ingkang gesanipun muspra tanpa nggadahi wohing gesang ingkang sae. Karahayon punika sih rahmatipun Gusti Allah kemawon. - Lukas 2 : 8 – 20
Gesang dados pangon punika sanes gesang ingkang gampil. Para pangon ing tlatah Palestina kedah pados panggenan ingkang wonten suket lan sumber toyanipun kangge mendanipun. Pramila sami kesah tebih saking griya. Para pangon punika dipun wastani kalangan ingkang asor ingkang dipun sisihaken lan dipun sepelekaken. Ananging para pangon punika pekerja keras, telaten, lan pangrimat ingkang sae. Krana asring kesahan tebih pados panggenan suket kangge mendha, pramila saged dados panyebar pawartos wiyosipun Sang Mesiah. Pawartos kabingahan bab karahayon panci saged dipun raosaken namung dening tiyang ingkang sangsara amargi sampun sami ngrantos zaman ingkang enggal ingkang kebak katentreman lan karaharjan, rawuhipun Sang Mesiah sampun sami dipun rantos. Ing satengahipun gesang ingkang mboten gampil punika, para pangon nampi pawartos agung. Punapa pawartos punika badhe dipun simpen piyambak tamtu mboten. Kabingahan punika tamtu kedah dipun wartosaken. Awit prastawa spiritual punika tamtu ndadosaken raos tresna dhumateng Gusti Allah matumpa-tumpa lan saged njurung gesang ingkang langkung sae. Sepindah malih manunggaling katresnanipun Gusti Allah dhumateng manungsa dipun tedhahaken dhumateng kabingahinipun para pangon ingkang mirsani bayi Yesus Sang Mesiah.
Kados makaten energi tresnanipun Gusti Allah dados kekiyatan kangge para umat. Pawartos bab Gusti Allah ingkang tresna dhumateng manungsa kedah terus dipun wartosaken, temahan umat nggadahi pangajeng-ajeng lan kekiyatan kangge nglampahi gesang padintenan. Kita sedaya tamtu nate nglampahi kasangsaranipun gesang, kados pundi anggen kita nglampahi kasangsaran punika? Saking pundi kakiyatan kangge nglampahi? Tamtu saking pangajeng-ajeng bilih Gusti Allah nresnani kita, mboten badhe nilar kita. Pawartos natal punika, pawartos bab rawuhipun karahayon lan gesang ingkang langkung sae. Kita sedaya sami sukarena nampi katresnanipun Gusti ingkang agung dhumateng umatipun ingkang dipun titahaken saking lebu punika. Kesadaran bilih Gusti Allah tresna dhumateng kita punika dados kakiyatan kita nglampahi gesang padintenan. Gesang ingkang kebak kamirahan punika nedahaken gesang ingkang sampun wanuh lan kepanggih kaliyan kamirahanipun Gusti. Tiyang ingkang nggadhahi dendam, mboten kersa ngapunten kaluputanipun tiyang sanes lan mboten loma dhumateng tiyang sanes punika tanda bila kamirahanipun Gusti dereng dumugi ing manahipun tiyang punika. Bilih kamirahainipun Gusti Allah sampun dipun tampi tamtu tiyang punika ugi nggadhahi kamirahan.
Pawartos bab Gusti Allah ingkang nresnani umatipun lan maringi karahayon punika kedah dipun wartosaken dhateng manah ingkang asrep lan atos, awit garingipun katresnan ingkang wonten manahipun supados anget malih lan nggadahi katresnan dhumateng gesangipun piyambak lan liyan. Supados tiyang ingkang lungkrah nggadhahi semangat malih awit pangajeng-ajeng taksih wonten. Kula lan panjenengan saged dados duta pawartos kabingahan punika, bilih Gusti Allah nresnani umatipun tanpa syarat.
Panutup
Wangsul dhateng cariyos ing pambuka kalawau, Kumis mboten kepingin martosaken pawartos neningkahanipun kaliyan Mbak, krana wonten masalah ingkang dipun sidhem. Mbok menawi kita ugi kados makaten, wonten masalah ing gesang kita, ing brayat kita. Pawartos kabingan bab wiyosipun Gusti Yesus, Allah ingkang nresnani manungsa punika mugi dados kakiyatan kangge kita ngrampungaken masalah. Senaosa sedaya katresnan ing alam donya ical, taksih wonten Gusti Allah ingkang saestu nresnani kita. Gusti Allah prasetya dhumateng kita bilih sagah ngubah kawontenan kita lan maringi karahayon. Punika ingkang dados tujuanipun Gusti Yesus rawuh ing antawis kita. Sugeng Natal. Gusti mberkahi kita sami. Amin. [AM].
Pamuji: KPJ. 220 Dinten Natal Dinten Adi