Pertobatan yang Sungguh Mendatangkan Keselamatan Khotbah Minggu 4 Desember 2022

21 November 2022

Minggu Adven II | Perjamuan Kudus Masa Natal
Stola Putih

Bacaan 1: Yesaya 11 : 1 – 10
Bacaan 2: Roma 15 : 4 – 13
Bacaan 3: Matius 3 : 1 – 12

Tema Liturgis: Kewaspadaan di Tengah Pergumulan Membuahkan Kebaikan
Tema Khotbah: Pertobatan yang Sungguh Mendatangkan Keselamatan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 11 : 1 – 10
Yesaya 11 : 1 – 10 berisi nubuatan Yesaya tentang hadirnya Sang Raja Damai dari keturunan Yehuda, tunggul Isai. Allah berkenan menyatakan janji-Nya bahwa dari tunggul Isailah akan tumbuh tunas baru yang berkembang dan berbuah (Ay. 1). Allah akan memulihkan umat-Nya Yehuda, melalui sosok Mesias dari keturunan Daud. Yesaya menggambarkan sosok Mesias ini sebagai sosok yang menerima kepenuhan Roh TUHAN, yaitu Roh Hikmat dan Pengertian, Roh Nasihat dan Keperkasaan, Roh Pengenalan dan Takut akan TUHAN (Ay. 2). Dia akan hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah.

Nubutan Yesaya ini juga menjelaskan bahwa Sang Raja Damai (Mesias) akan datang menjadi Raja yang adil. Dia akan menghakimi setiap orang dengan adil dan memutuskan perkara dengan bijaksana. Orang fasik akan dihukumnya sebab Dia berketetapan menegakkan keadilan dan kebenaran, sehingga kepemimpinannya akan membawa keteraturan dan keadilan bagi semua orang (Ay. 3-5). Dia akan membela hak-hak orang yang lemah dan miskin terhadap orang kaya dan berpengaruh.

Keteraturan dan keadilan tersebut tampak dari kedamaian yang digambarkan seperti kembalinya kehidupan di taman Eden, dengan semua binatang yang tunduk kepada manusia (Ay. 6-8). Seluruh makhluk akan hidup dalam damai dan memiliki kedekatan dengan TUHAN. Demikian kehadiran Sang Mesias tidak hanya sebatas untuk bangsa Israel/ Yehuda saja melainkan berlaku juga untuk semua bangsa (Ay. 10).

Roma 15 : 4 – 13
Kehidupan persekutuan jemaat di Roma diwarnai dengan hubungan orang Kristen Yahudi dan orang Kristen non-Yahudi yang kurang harmonis. Hal ini terlihat dari istilah “kuat” dan “lemah” yang disebutkan Paulus dalam suratnya pada pasal ini. Paulus menggunakan istilah “kuat” untuk menggambarkan orang yang percaya yang hidup dalam ketaatan kepada Allah dan memiliki kepekaan terhadap orang lain. Ketaatan kepada Allah yang melebihi ketaatan mereka terhadap hal ritual dan tradisi hukum Taurat. Dalam hal ini adalah orang Kristen non- Yahudi.

Sedangkan istilah “lemah” digunakan oleh Paulus untuk menggambarkan orang Kristen Yahudi, dimana mereka lebih mengutamakan pada ketaatan ritual dan tradisi hukum Taurat. Mereka seringkali menghakimi orang lain yang tidak sepemahaman dengan mereka. Orang Kristen Yahudi yang merasa dirinya sebagai kelompok yang paling kuat di tengah-tengah jemaat. Hal inilah yang menyebabkan adanya perselisihan di antara jemaat.

Karena itulah, Rasul Paulus menasihatkan agar Jemaat Roma menjadikan kasih sebagai dasar dalam relasi antar pribadi, sebab kasihlah yang merekatkan persekutuan di antara mereka. Di dalam kasih, setiap anggota jemaat akan saling menghargai dan saling menerima kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing. Mereka belajar saling membangun dan menguatkan satu dengan yang lain, bukan menjadi batu sandungan bagi sesamanya (Ay. 2). Dasar kasih di antara jemaat adalah Kristus. Kristuslah yang menyatukan umat Allah baik orang Kristen Yahudi (orang bersunat) dan orang Kristen non Yahudi (bangsa-bangsa lain). Di dalam Kristus, setiap umat percaya dibenarkan dan menjadi milik Allah. Kristus menjadi dasar kebersamaan dan persekutuan di jemaat. Untuk itulah, Rasul Paulus menasihatkan agar jemaat di Roma mengikuti teladan hidup Kristus (Ay. 3-4), memohon kekuatan dari Allah (Ay. 5), mendasari sikap dan tindakan sesuai dengan kehendak Kristus (ay. 5-6). Paulus mengharapkan jemaat di Roma untuk tidak pernah mencari kepentingan bagi diri mereka sendiri melainkan mereka mau hidup taat kepada kehendak Allah dan mengutamakan sesama di antara mereka.

Paulus mengatakan di dalam Kristus, baik orang Kristen Yahudi maupun non Yahudi akan senantiasa memuliakan Allah, itu semua karena kasih karunia Allah semata (Ay. 9 – 12). Hal ini merupakan penggenapan janji Allah kepada nenek moyang bangsa Yahudi bahwa keturunan mereka akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain (Kej. 12:2-3; 22:18; 26:4; 28:14). Melalui Yesus Kristus, bangsa-bangsa lain yang percaya kepada-Nya beroleh keselamatan yang sama seperti yang diterima oleh orang Yahudi melalui iman (Ay. 12).

Matius 3 : 1 – 12
Yohanes Pembaptis adalah anak dari Imam Zakharia dan ibu Elizabeth. Setelah Yohanes Pembaptis dewasa, ia hidup mengembara di padang gurun Yudea. Kehadirannya di tengah masyarakat Yahudi pada waktu itu mengundang perhatian bagi banyak orang. Hal ini dikarenakan beberapa hal. Pertama, Yohanes Pembaptis mengenakan pakaian yang unik yaitu jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit (Ay. 4a). Kedua, jenis makanan yang ia makan sehari-hari berbeda dengan masyarakat pada waktu itu, ia memakan belalang dan madu hutan (Ay. 4b). Dan ketiga, ia memberitakan berita tentang Kerajaan Sorga yang disertai dengan seruan pertobatan (Ay. 2). Ajaran Yohanes Pembaptis tentang Kerajaan Allah merupakan berita baru. Karena pada waktu itu kehidupan masyarakat Yahudi lebih menekankan segi lahiriah saja, yaitu hanya mengandalkan status lahiriah sebagai keturunan Abrahan (Ay. 8-9). Bahkan ia tidak segan untuk menegur dengan keras orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dengan menyebut mereka sebagai keturunan ular beludak. (Ay. 7)

Yohanes Pembaptis diutus Tuhan Allah untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus dengan cara menyerukan berita pertobatan. Ia mengingatkan mereka bahwa penghakiman Tuhan akan berlaku bagi semua orang yang tidak bertobat (Ay. 10, 12). Hal ini dilakukan oleh Yohanes Pembaptis agar setiap orang yang telah menyimpang dan berbuat dosa, mau bertobat dari tingkah laku mereka yang jahat dan hidup dengan menghasilkan buah-buah pertobatan (Ay. 2, 8). Dengan seruannya ini Yohanes Pembaptis mengecam orang Yahudi yang pada waktu itu bangga dengan status mereka sebagai keturunan Abraham atau sebagai bangsa pilihan Allah. Ia mengingatkan mereka bahwa mereka tidak akan lepas dari murka Allah jika mereka tidak mau bertobat. Pertobatan yang dimaksudkan bukan hanya sekedar menyesali perbuatan dosa saja, tetapi pertobatan adalah kemauan untuk berubah dan melakukan kebenaran firman Tuhan.

Yohanes menyadari siapa dirinya, ia merasa tidak layak dihadapan Tuhan. Jika dia membaptis mereka dengan air sebagai tanda pertobatan, maka dia menunjukkan kepada orang-orang Yahudi saat itu, bahwa akan tiba saatnya Tuhan Yesus datang. Yesuslah yang akan membaptis mereka dengan Roh Kudus dan api (Ay. 11). Yohanes Pembaptis menyadari bahwa Dia yang datang lebih berkuasa dari pada dirinya, melepaskan kasut-Nya saja, ia merasa tidak layak. Karena itulah, di ayat 12, Yohanes Pembaptis menyerukan kembali tentang waktu Tuhan yang sudah mendekat. Setiap orang yang tidak bertobat, ia akan dibakar dalam api yang tak terpadamkan.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Berita tentang karya keselamatan Allah semula berlaku kepada bangsa Israel, namun oleh karena dosa dan ketidaktaatan Israel, Tuhan Allah berkenan menyatakan karya keselamatan-Nya kepada semua bangsa di dunia ini. Keselamatan Allah itu adalah anugerah dari Allah yang dinyatakan di dalam diri Yesus Kristus. Hal mutlak yang dikehendaki Allah pada diri umat-Nya untuk mendapatkan keselamatan itu adalah mereka mau mengakui dan menyesali dosanya dan bertobat, hidup benar seturut dengan kehendak Allah.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Dalam keberadaan hidup kita sehari-hari, tentunya kita tidak lepas dari kesalahan, baik kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, semuanya tentu pernah berbuat salah. Ada kesalahan yang dilakukan perseorangan/ pribadi dan ada kesalahan yang dilakukan komunal. Kesalahan pribadi yaitu perbuatan salah yang dilakukan oleh satu individu yang berakibat buruk pada diri orang tersebut dan lingkungannya. Contohnya: melakukan tindakan kriminal, terlambat sekolah atau kerja. Akibat dari kesalahannya itu, dia mendapatkan teguran, peringatan atau bahkan hukuman penjara. Sedangkan kesalahan komunal yaitu satu perbuatan salah yang dilakukan secara terencana, disepakati bersama, dan dilakukan bersama. Contohnya: tindak pidana korupsi yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Akibatnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada lembaga atau yayasan baik itu pemerintahan maupun swasta hilang dan masyarakat akan sulit untuk percaya lagi pada lembaga tersebut.

Tidaklah mudah bagi seseorang untuk mengakui kesalahannya, terlebih jika hal tersebut dihubungkan dengan citra diri dan harga diri seseorang. Terkadang muncul perasaan malu jika ia mengakui kesalahannya, sebab orang yang terbukti berbuat salah, mereka akan mendapat stigma negatif dari masyarakat walaupun mungkin dia sudah mengakui kesalahannya dan mendapatkan hukuman. Contohnya mantan narapidana yang terkadang sulit untuk diterima anggota masyarakat. Lantas bagaimana dengan kita dan gereja manakala berbuat salah? Maukah kita mengakui dosa dan bertobat?

Isi
Melalui bagian bacaan firman Tuhan saat ini, kita dapat melihat benang merah dari ketiga bacaan kita, yaitu ada keselamatan dari Allah bagi mereka yang mau mengakui dosanya dan bertobat, kembali hidup benar dan taat kepada kehendak Allah. Baik nabi Yesaya, rasul Paulus, dan Yohanes Pembaptis, masing-masing diutus Tuhan Allah untuk mewartakan tentang keselamatan dan pengampunan dosa kepada umat-Nya. Hal ini hendak menunjukkan bahwa karya keselamatan Allah berlaku di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Kita yang mau mendengar dan meresponnya tentu beroleh anugerah keselamatan Tuhan itu.

Pada bacaan I, Nabi Yesaya menyampaikan nubuatan tentang datangnya Sang Raja Damai/ Mesias dari keturunan Daud yang akan membebaskan umat Allah dari kekuasaan bangsa lain. Digambarkan oleh Yesaya, Sang Raja Damai ini sebagai sosok yang menerima kepenuhan Roh TUHAN, yaitu Roh Hikmat dan Pengertian, Roh Nasihat dan Keperkasaan, Roh Pengenalan dan Takut akan TUHAN. Dia akan hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Dia akan menghakimi setiap orang dengan adil dan memutuskan perkara dengan bijaksana. Orang fasik akan dihukumnya. Dia akan membela hak-hak orang yang lemah dan miskin. Oleh Dialah, keselamatan Allah tidak hanya diberikan kepada bangsa Israel/ Yehuda saja melainkan juga diberikan kepada semua bangsa yang percaya kepada-Nya.

Pada bacaan II, Rasul Paulus mewartakan kepada Jemaat Roma bahwa karya keselamatan Yesus Kristus tidak hanya dimiliki oleh orang Kristen Yahudi saja, tetapi juga dimiliki oleh orang Kristen Yahudi non-Yahudi. Hal ini ditegaskan oleh Paulus, sebab ada sebagian orang Kristen Yahudi yang merasa lebih unggul dibandingkan orang Kristen non Yahudi. Orang Kristen Yahudi merasa unggul karena mereka tetap menjalankan ritual dan tradisi hukum Taurat. Bagi Paulus, di dalam Kristus tidak ada lagi pembedaan antara orang yang bersunat dengan tidak bersunat, orang Yahudi dengan orang Yunani. Kasih Kristus menjadi pengikat di dalam persekutuan jemaat Roma. Paulus mengatakan di dalam Kristus, baik orang Kristen Yahudi maupun non Yahudi, mereka akan senantiasa memuliakan Allah dan itu semua adalah karena kasih karunia Allah semata. Ini merupakan penggenapan janji Allah kepada nenek moyang orang Yahudi bahwa keturunan mereka akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain

Pada bacaan III, Yohanes Pembaptis berseru-seru kepada orang-orang Yahudi pada saat itu untuk bertobat. Yohanes menyerukan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, hendaklah masing-masing orang bertobat, dan kembalilah kepada Allah. Mereka yang mau mengakui dosa memberi diri mereka untuk dibaptis akan diselamatkan. Seruan Yohanes ini dikenal sebagai seruan pertobatan yang mengharapkan orang-orang Yahudi pada saat itu mau mengakui dosa dan bertobat dari kejahatan mereka. Kesemua yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis bertujuan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus yang segera memulai pelayanan-Nya di dunia ini.

Penutup
Minggu Adven mengajak kita untuk datang mendekat kepada Tuhan. Dengan kerendahan hati mari kita mengakui segala perbuatan dosa dan kejahatan kita di hadapan Tuhan. Dengan jujur kita menyadari akan keterbatasan kita sebagai manusia yang seringkali jatuh bangun dalam dosa. Karena itu, janganlah kita terus terjerumus semakin dalam ke dalam dosa, melainkan dengan penyesalan kita kembali kepada Tuhan. Kita mau bertobat dan hidup benar dihadapan-Nya.

Perjamuan Kudus yang kita lakukan bersama saat ini mengajak kita menyadari akan kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus yang sungguh luar biasa. Kita diundang masuk dalam anugerah-Nya, hidup bersekutu dengan Kristus, merasakan kemurahan dan berkat Tuhan yang berkenan mengampuni kita dari kuasa dosa. Telebih di masa Adven ini, kita diingatkan kembali untuk menjaga kehidupan kita agar senantiasa seturut dengan firman dan kehendak-Nya.

Pertobatan yang sejati adalah kesediaan kita menanggalkan dosa-dosa kita, serta berkomitmen untuk tidak mengulang kesalahan kita yang sama. Ada tekat yang kita nyatakan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari. Mari kita wujudkan pertobatan kita dengan hidup benar dan kudus di hadapan Allah.

Disamping kita bertobat dan hidup benar di hadapan Tuhan, Firman Tuhan minggu ini juga memanggil kita untuk menjadi pewarta kabar sukacita dan keselamatan bagi sesama di sekitar kita. Sebagaimana Yesaya, Paulus dan Yohanes Pembaptis yang berani mewartakan pertobatan dan karya keselamatan Allah, marilah kita pun juga berani menjadi saksi-Nya yang siap sedia mewartakan pertobatan dan karya keselamatan Allah di tengah lingkungan kita. Selamat menghayati masa Adven dan mempersiapkan diri menyambut Natal Tuhan. Kiranya pertobatan yang sungguh, yang lahir dari dalam diri kita mendatangkan keselamatan Kristus. Amin. [AR].

 

Pujian: KJ. 85 : 1, 2 Ku Songsong Bagaimana


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Salebeting gesang kita saben dinten, tamtunipun kita nate tumindak lepat ingkang dipun sengaja utawi boten dipun sengaja. Wiwit saking anak ngantos dumugi tiyang sepuh tamtu nate tumindak lepat. Wonten tumindak lepat ingkang dipun tindakaken piyambak/ pribadi lan wonten tumindak lepat ingkang dipun tindakaken sesarengan/ komunal. Tumindak lepat pribadi punika dipun alami dening tiyang setunggal, ingkang akibatipun dipun tanggel sacara pribadi. Contonipun: tumindak kriminal, telat mlebet sekolah utawi nyambut damel. Karana tumindak lepat pribadi punika, piyambakipun nampi pangenget saking tiyang sanes utawi malah ngantos kaukum kunjara. Selajengipun tumindak lepat komunal punika tumindak lepat ingkang dipun rancang, dipun sepakati lan dipun tindakaken sacara sesarengan. Contonipun: Korupsi. Saking tumindak korupsi punika dadosaken masyarakat boten pitados malih dhateng para panguwasa lan ewet kangge mulihaken kapitadosan masyarakat punika.

Tiyang lepat punika boten gampil anggenipun ngakeni kalepatanipun, punapa malih bilih punika sesambetan kaliyan citra diri lan harga diri piyambakipun. Asring ugi tuwuh raos isin bilih piyambakipun ngakeni kalepatanipun, karana asring kedadosan tiyang ingkang kabukti lepat punika, dipun cap/ dipun tandhani boten sae kaliyan tiyang sakiwa tengenipun, sanajan piyambakipun sampun ngakeni kalepatanipun lan nampi paukuman. Lajeng kados pundi kaliyan kita lan greja nalika kepanggih tumindak lepat? Punapa kita purun ngakeni kalepatan kita lan mratobat?

Isi
Lumantar Sabda Pangandikanipun Gusti wekdal punika, kita saged manggihaken
benang merah saking tiga waosan kita, inggih punika wonten kawilujengan saking Gusti Allah kanggenipun tiyang ingkang purun ngakeni dosanipun lan mratobat, tumindak leres lan setya tuhu dhumateng Gusti Allah. Awit Nabi Yesaya, Rasul Paulus, lan Yokanan Pambaptis, sami dipun utus Gusti Allah kangge martosaken bab kawilujengan lan sih pangapuraning dosa dhateng umat-Ipun. Prekawis punika nedahaken bilih kawilujenganipun Gusti Allah punika tansah wonten salebeting gesang manungsa. Kanggenipun kita ingkang purun mirengaken lan nanggepi bab punika tamtunipun pinaringan sih rahmat kawilujengan saking Gusti Allah punika.

Ing waosan I, Nabi Yesaya ngaturaken pameca bab rawuhipun Ratu Katentreman saking trahipun Dawud, ingkang badhe ngluwari umating Allah saking panguwaosipun bangsa sanes. Dipun gambaraken kaliyan Yesaya, Ratu Katentreman punika piyantun ingkang nampi kebaking Rohipun Gusti Allah, inggih punika Roh Kawicaksanan lan Pangertosan, Roh Nasihat lan Kakiyatan, Roh Pangertosan lan Ajrih dhumateng Gusti Allah. Panjenenganipun badhe gesang setya tuhu, nindakaken karsanipun Gusti Allah. Panjenenganipun badhe ngadili saben tiyang sacara adil lan mutusaken samukawis prekawis sacara wicaksana. Tiyang fasik badhe nampi paukuman. Panjenenganipun badhe mbela hak-hak tiyang ingkang ringkih lan mlarat. Wonten ing Panjenenganipun, kawilujengan saking Gusti Allah boten namung kangge bangsa Israel/ Yahudi kemawon, nanging ugi kangge bangsa-bangsa sanes ing pitados dhumateng Panjenenganipun.

Ing waosan II, Rasul Paulus martosaken dhateng Pasamuwan Roma bilih kawilujenganipun Gusti Yesus punika boten namung kangge tiyang Kristen Yahudi kemawon, nanging ugi kangge tiyang Kristen non-Yahudi. Bab punika dipun tegesaken Paulus, karana wonten tiyang Yahudi ingkang rumaos langkung unggul katimbang tiyang Kristen non Yahudi. Tiyang Kristen Yahudi punika rumaos unggul karana piyambakipun nindakaken ritual lan tradisi Taurat salebeting gesangipun. Kanggenipun Paulus, ing Sang Kristus boten wonten malih bentenipun antawisipun tiyang ingkang tetak (sunat) lan ingkang boten tetak, tiyang Yahudi kaliyan tiyang Yunani. Katresnanipun Gusti Yesus Kristus dados tali kangge ngiket patunggilanipun pasamuwan Roma. Rasul Paulus ngengetaken: Wonten ing Gusti Yesus Kristus, sae tiyang Kristen Yahudi lan non-Yahudi, sami ngegungaken Gusti Allah. Sedaya punika awit saking Sih Rahmatipun Gusti Allah kemawon. Punika minangka janjinipun Gusti Allah dhateng para leluhuring bangsa Yahudi ingkang dipun genepi, bilih tedhak turunipun bangsa Yahudi badhe dados lantaran berkahipun Allah kangge bangsa-bangsa sanesipun.

Ing waosan III, Yokanan Pambaptis medhar pangandika dhateng tiyang-tiyang Yahudi nalika semanten bab pamratobat. Yokanan nyebataken bilih Kratoning Allah sampun celak, karana punika sedaya tiyang katimbalan mratobat, wangsul malih dhateng timbalanipun Gusti Allah. Tiyang ingkang purun ngakeni dosanipun lan dipun baptis badhe pinaringan kawilujengan. Pangandikanipun Yokanan punika dipun kenal minangka timbalan pamratobat, ingkang ngajeng-ajeng tiyang-tiyang Yahudi punika sami ngakeni dosanipun lan mratobat saking tumindak awonipun. Sedaya punika dipun tindakaken Yokanan Pambaptis kanthi tujuan nyawisaken margi kagem rawuhipun Gusti Yesus ingkang badhe nindakaken peladosanipun ing donya punika.

Panutup
Minggu Adven punika ngajak kita langkung rumaket malih dhumateng Gusti Allah. Sarana andhap asoring manah, mangga kita purun ngakeni sedaya tumindak dosa lan awon kita wonten ing ngarsanipun Gusti. Kanthi jujur, swawi kita sami sadar bilih kita punika kawates lan minangka manungsa, kita asring dawah ing dosa. Awit saking punika sampun ngantos kita dawah langkung lebet malih dhateng dosa, nanging swawi kita sami nelangsani tumindak dosa kita, kita purun mratobat lan nindakaken gesang miturut karsanipun Gusti Allah.

Bujono Suci ing kita tindakaken sesarengan wekdal punika mugi saged ngengetaken kita bilih sih rahmatipun Gusti Yesus punika saestu ngedap-edapi. Kita dipun undang dening Gusti mlebet ing sih rahmatipun, gesang nyatunggil kaliyan Sang Kristus, ngraosaken sih kamirahan lan berkahipun Gusti Allah ingkang kersa paring pangapuntening dosa kangge kita sami. Langkung-langkung ing mangsa Adven punika, kita dipun engetaken kangge jagi gesang kita supados mbangun turut dhumateng Sabda lan karsa-Nipun.

Pitobat ingkang sayekti punika kasedyan kita nanggelaken dosa-dosa kita. Kita ugi nggadahi tekad boten badhe ngimbali kalepatan kita ingkang sami. Kita nggadahi tekad dhateng diri kita pribadi bilih gesang kita kedah langkung sae saben dintenipun. Mangga kita wujudaken pitobat kita punika kanthi gesang ingkang sayekti lan suci ing ngarsanipun Gusti Allah.

Sak sampunipun kita mratobat lan gesang sayekti wonten ngasanipun Gusti Allah, Sabda Pangandikanipun Gusti ing Minggu punika ugi nimbali kita kangge martosaken kabar kabingahan lan kawilujengan dhateng sesami ing sakiwa tengen kita. Kados dene Yesaya, Paulus, lan Yokanan Pambaptis ingkang wantun martosaken pamratobat lan kawilujenganipun Gusti Allah, mangga kita ugi wantun dados saksinipun Gusti ingkang cumadang kangge martosaken pawartos pitobat lan kawilujenganipun Gusti Allah ing satengah-tengahing gesang kita. Sugeng nindakaken mangsa Adven lan nyawisaken dhiri kangge nyambeti dinten Natal. Mugi pamratobat kita ingkang temen, ingkang lair saking manah ingkang tulus dadosaken tuwuhing kawilujengan saking Sang Kristus. Amin. [AR].

 

Pamuji: KPK. 163 Pitobat

Renungan Harian

Renungan Harian Anak