Minggu Adven 3 | HUT ke-91 GKJW
Stola Putih
Bacaan 1: Yesaya 35 : 1 – 10
Bacaan 2: Yakobus 5 : 7 – 11
Bacaan 3: Matius 11 : 2 – 11
Tema Liturgis: Kewaspadaan di Tengah Pergumulan Membuahkan Kebaikan
Tema Khotbah: Tuhan Hadir dalam Setiap Pergumulan Gereja-Nya dan Berkenan Memberikan Pemulihan
Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 35 : 1 – 10
Bila melihat rangkaian jalan cerita dari pasal sebelumnya, maka akan didapati sebuah perbedaan yang cukup signifikan antara pasal 34 dengan pasal 35. Pada pasal 34, penulis menuliskan tentang hukuman yang akan dialami oleh bangsa Edom, tetapi sepanjang pasal 35 penulis menubuatkan tentang keselamatan yang akan dialami oleh umat Tuhan, yaitu Israel. Bila lebih jauh kita kembali melihat pasal-pasal sebelumnya, maka kita akan menemukan bahwa pelayanan penulis berpusat kepada bangsa Israel yang mengalami kekalahan, karena mereka tidak mendengarkan apa yang diperingatkan oleh Allah melalui Yesaya, sebagaimana yang tertulis pada pasal 1 – 5. Selain itu, ketidakpercayaan Ahas untuk percaya kepada Allah juga semakin memperburuk situasi tersebut. Tetapi yang perlu diingat ialah sekalipun Ahas tidak percaya sepenuhnya kepada Allah, hal tersebut tidak membuat Allah membatalkan perjanjian-Nya kepada bangsa Israel.
Bila berfokus pada pasal 35, pasal ini diawali dengan kalimat personifikasi yang dituliskan oleh penulis, dimana penulis menyatakan bahwa “padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorai dan berbunga.” Kita tahu bahwa dalam arti harafiah, istilah padang gurun menunjuk pada suatu kondisi tanah yang tandus. Tetapi bolehlah kita menduga bahwa padang gurun yang dimaksudkan oleh penulis di sini secara lebih spesifik menunjuk pada daerah-daerah yang dilalui oleh Bangsa Israel ketika mereka melakukan perjalanan dari tanah Mesir menuju ke tanah Kanaan. Padang kering juga merujuk pada tanah yang tandus atau dapat juga diartikan sebagai daerah dimana beberapa kota ada di daerah tersebut (Yes. 42:11). Sedangkan padang belantara memiliki arti yang lebih luas. Akar katanya memiliki beberapa makna, antara lain “percampuran”, “pertukaran”, atau “menjadi kering”. Kemudian berkembang menjadi padang gurun di daerah Arab. Biasanya dalam Perjanjian Lama, ini merujuk pada daerah padang berumput di sekitar Laut Mati, khususnya di daerah barat dan selatan yang diakui oleh Yehuda sebagai milik mereka, namun daerah tersebut ternyata diduduki oleh Edom. Ketiga nama tersebut saling berkombinasi untuk menggambarkan sebuah adegan yang menceritakan tentang sebuah kegirangan yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa kabar yang akan disampaikan kepada bangsa Israel merupakan kabar yang sangat menggembirakan, sampai-sampai ketiga sebutan daerah tersebut saling menyatakan ekspresi kebahagiaan karena kabar yang akan diterima oleh bangsa Israel itu.
Ekspresi kebahagiaan itu bahkan diungkapkan dalam tiga kata yang berbeda dalam bahasa Ibrani, yaitu giyl/gul, gilyah/gilyat, dan ranan. Kata-kata tersebut dapat diterjemahkan dengan rejoice, joy, and singing (kegirangan, kegembiraan, dan nyanyian). Hal Ini menunjukkan bahwa ekspresi sukacita akan kabar pemulihan yang akan terjadi pada bangsa pilihan Allah, Israel itu sangat semarak. Kemudian Penulis menambahkan bahwa Israel akan diberikan kemuliaan Libanon. Istilah “Libanon” menunjuk pada suatu tempat yang dipenuhi dengan kemilau salju putih yang menutupi puncak-puncaknya selama enam bulan dalam setahun. Libanon memiliki hutan-hutan yang lebat, selain itu juga memiliki punggung gunung yang terdiri dari batu kapur yang menjadi sumber dari banyak mata air dan anak sungai yang mengalir dari timur ke barat. Pohon-pohon Aras yang kokoh dari Libanon menggambarkan kebesaran dan kekuatan. Libanon memiliki pohon Aras dan pohon campur jarum (berbagai jenis pohon cemara) yang merupakan bahan bangunan kayu yang paling baik di Timur Dekat Kuno. Beberapa fakta tentang kekayaan Libanon yang telah disebutkan di atas agaknya menunjukkan bahwa Israel akan dipulihkan secara luar biasa oleh Tuhan.
Tidak berhenti sampai di situ saja, penulis kembali menambahkan bahwa bangsa Israel akan merasakan semarak Karmel dan Saron. Kata “semarak”, dalam bahasa Ibrani menggunakan kata hadar. Kata ini dapat diterjemahkan dalam bahasa Inggris dalam beberapa kata, yaitu magnificence, ornament or splendor: – beauty, excellency, glorious, glory, honour, majesty. Dalam bahasa Indonesia kata-kata tersebut dapat diartikan kecemerlangan, perhiasan atau kemuliaan, yang mulia, kecantikan, keagungan,kejayaan,hormat,dan keagungan. Beberapa kata tersebut menunjukkan bahwa bangsa Israel akan mendapatkan kejayaan dan keagungan Karmel dan Saron. Kata Karmel berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki arti ladang yang penuh dengan buah atau juga tanah subur. Sedangkan Saron mengarah pada Lembah Saron terkenal dengan bunga mawarnya yang indah dan menjadi taman bunga yang indah-permai di sepanjang pantai. Daerah ini menjadi daerah paling subur di Israel pada saat ini yang ditanami oleh tanaman semacam jeruk. Beberapa hal tersebut menunjukkan bahwa Allah akan memberikan pemulihan yang besar kepada Israel selepas hukuman yang Ia berikan kepada Israel karena ketidakpercayaan mereka kepada-Nya.
Selanjutnya, Penulis juga menyerukan kepada orang-orang Yehuda (atau sisa Israel) agar mereka semua menguatkan tangan mereka yang sudah mulai lemah lesu dan mereka harus meneguhkan kaki lutut yang goyah. Hukuman yang diberikan oleh Allah kepada mereka sepertinya telah membuat semangat mereka menjadi patah dan seakan-akan mereka tidak lagi memiliki pengharapan akan pemulihan yang akan terjadi pada bangsa mereka. Bertahun-tahun mengalami masa pembuangan membuat bangsa Israel putus pengharapan mereka kepada Allah. Selain itu, Penulis juga menyerukan kepada bangsa Israel untuk meneguhkan lutut mereka yang goyah. Hal ini menunjukkan bahwa Penulis hendak mengatakan kepada bangsa Israel agar mereka memerintahkan kepada orang-orang Israel lain yang sudah mulai lemah semangatnya dan mulai menjadi orang-orang yang pengecut agar mereka tidak menjadi kecut hatinya, sebab Allah mereka akan datang dengan pembalasan. Allah sendirilah yang akan melakukan pembalasan disertai dengan pertengkaran dengan musuh-Nya dan musuh umat-Nya. Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya kepada bangsa Israel yang sempat meragukan kekuatan-Nya.
Saat Allah datang untuk menyelamatkan bangsa Israel dan memberikan kemenangan kepada mereka, maka pada saat itu mata orang-orang buta akan dicelikkan. Mata yang dimaksudkan oleh Penulis merupakan bahasa kiasan yang tengah menggambarkan mata rohani bangsa Israel yang selama ini tertutup dan seakan-akan mengalami kebutaan rohani dengan tidak dapat melihat kekuatan Allah mereka yang sangat sanggup untuk memberikan kemenangan kepada mereka atas musuh-musuh mereka. Dengan penyelamatan yang Allah lakukan sendiri kepada bangsa Israel, maka mata mereka yang selama ini tertutup akan terbuka dan mereka akan menyaksikan keperkasaan yang Allah tunjukkan kepada mereka dengan membebaskan mereka dari hukuman yang selama bertahun-tahun mereka alami.
Yakobus 5 : 7 – 11
Dalam bagian terakhir suratnya, Yakobus kembali menekankan hal-hal aplikatif yang harus diperhatikan. Kepada para pembaca suratnya yang mengalami tekanan dari para lawan mereka, Yakobus mendorong mereka untuk bersabar di dalam penderitaan. Hal ini sesuai dengan pesan di awal surat Yakobus, yaitu bahwa ujian yang kita alami akan menghasilkan ketekunan dan kita akan menerima mahkota kehidupan yang telah disediakan Tuhan jika kita bisa bertahan.
Yakobus memberikan suatu teladan yang kerapkali muncul dalam kitab suci mengenai ketekunan dalam penderitaan. Disebutkan, bahwa hampir seluruh nabi Tuhan yang melayani Tuhan dan memberitakan firman-Nya menghadapi pergumulan dan penderitaan yang hebat. Mereka semua berjuang, bertahan, dan bersabar dalam penderitaan selama mereka melakukan panggilan Allah dalam hidup mereka. Yakobus menuliskan “nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan,” untuk menegaskan bahwa penderitaan yang mereka alami bukanlah akibat kesalahan mereka sendiri. Penderitaan tersebut muncul dalam tugas yang berasal dari Tuhan. Memberikan contoh dan kebajikan dari teladan seseorang adalah salah cara argumentasi yang penting pada masa kuno sehingga Yakobus tidak mengabaikan memberikan contoh-contoh kesabaran yang telah dimanifestasikan oleh para nabi. Sebab sama seperti para nabi yang dianiaya dalam pelayanan mereka, jemaat pembaca surat Yakobus juga berada dalam kehendak Allah meskipun menderita. Penderitaan pada dirinya sendiri bukanlah buah dari dosa dan ketidaksetiaan sehingga mereka yang berada dalam pergumulan dan penderitaan belum tentu karena mereka tidak setia kepada Allah. Apa keteladanan yang diberikan oleh para nabi dalam penderitaan mereka? Keteladanan tersebut mendorong mereka untuk mengingatkan bahwa Tuhan peduli ketika mereka menghadapi penderitaan karena Allah.
Dalam hal ini tentu sudah sangat diperhitungkan oleh Yakobus, bahwa pembaca suratnya tentu telah mendengar (ἠκούσατε) ketabahan Ayub dan telah melihat (εἴδετε) bahwa Tuhan pada akhirnya memberikan upah bagi mereka yang tahan uji. Beberapa penafsir memahami τέλος sebagai “hasil” atau “output,” sehingga setelah bertekun dalam penderitaannya ia memperoleh hasil atau buahnya, yakni semuanya dikembalikan oleh Tuhan (Ayub 42:12-17). Sehingga hal ini menunjukkan bahwa berkat adalah janji bagi semua orang yang dapat bertahan sampai akhir dan mereka akan menerima berkat itu sebelum pergumulan itu berakhir. Pandangan ini jelas menentang anggapan yang berkata bahwa upah dari Allah selalu diterima pada waktu orang tersebut sudah meninggal atau sampai Tuhan datang kembali. Dalam kedaulatan-Nya, Allah mampu memberkati mereka selama mereka masih hidup di dalam dunia ini. Namun Yakobus tidak sedang mempersempit makna berkat hanya pada aspek materi saja, meskipun dalam konteks Ayub, Allah memulihkannya secara material. Bertahan dalam pencobaan pada dirinya sendiri adalah berkat dari pada Tuhan. Jadi orang Kristen yang bergumul dalam penderitaan tidak boleh hanya memiliki pengharapan akan sesuatu yang akan diterima diakhir, tetapi juga melihat bahwa penderitaan itu sendiri menghasilkan ketekunan dan kedewasaan. Tetapi sebaliknya orang Kristen tidak boleh mengabaikan apa yang Allah janjikan bagi mereka yang teguh berdiri hingga akhir. Sebab penggunaan bentuk ὑπομένειν (kesabaran, aorist-participle) menunjukkan bahwa atribut berkat hanya berlaku bagi orang orang yang ada di masa lalu sebagai rujukan kepada mereka yang berdiri teguh hingga akhir. Pikiran ini menyiratkan bahwa hal ini adalah berkat khusus dari Allah tertunda bagi mereka yang masih hidup. Hanya mereka yang telah bertahan sampai akhir bisa disebut “berbahagia.” Sehingga para nabi yang telah meninggal, termasuk Ayub, dan orang-orang Kristen yang setia di masa lalu harus disebut sebagai “orang yang berbahagia/ diberkati.” Secara sederhana Yakobus ingin mengatakan, “mereka yang bertekun sampai akhir tidak akan kehilangan upah mereka,” dan Allah telah membuktikannya kepada para nabi-Nya dan Ayub.
Saat mengetahui bahwa penerima suratnya tidak mampu membela diri terhadap para orang kaya yang menindas mereka saat itu, Yakobus mengajar jemaat untuk bersabar. Bersabar (long suffering) yang dimaksud adalah sabar kepada seseorang dalam jangka waktu panjang. Hal ini dilukiskan seperti petani yang sabar menantikan hasil tanahnya walaupun harus melalui berbagai musim. Yakobus mendorong mereka untuk bersabar dan menyerahkan masalah ke tangan Tuhan karena pembalasan adalah hak Tuhan dan Tuhanlah yang akan menghakimi umat-Nya (Ibr. 10:30). Yakobus mengatakan, “Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!” (Ay. 8). Yakobus juga mengingatkan kita untuk menjaga mulut saat menghadapi masalah, tidak bersungut-sungut dan tidak saling menyalahkan (Ay. 9).
Matius 11 : 2 – 11
Sebagaimana kita ketahui bahwa Yohanes Pembaptis merupakan salah seorang nabi besar, yang diutus untuk mempersiapkan kehadiran Sang Mesias dengan menyerukan ajakan pertobatan kepada umat yang menanti-nantikan kedatangan-Nya. Ajakan pertobatan diserukan Yohanes Pembaptis dengan berani serta tidak tahu kompromi, walaupun harus menghadapi tantangan raja Herodes, Raja yang berkuasa pada waktu itu. Dia bahkan berani menegur Herodes yang menikahi istri saudaranya yang berujung dimasukkannya dia ke dalam penjara. Pada saat berada dalam penjara inilah kemudian Yohanes Pembaptis menyuruh murid-muridnya bertanya kepada Yesus tentang kesejatian ke-Mesias-an-Nya.
Mengapa pertanyaan ini diajukan oleh Yohanes Pembaptis? Beberapa penafsir menghadirkan kemungkinan jikalau Yohanes Pembaptis sedang menghadapi keragu-raguan tentang kemesiasan Yesus atau mungkin dia sudah merasa bahwa usianya tidak panjang lagi sehingga dia perlu suatu kepastian tentang Mesias dalam diri Yesus. Jika kita memandang hanya sebatas satu ayat itu saja tanpa mencermati keseluruhan konteks, maka kemungkinan tersebut bisa benar adanya. Tetapi kita harus mengingat pada saat peristiwa pembaptisan Yesus, Yohanes Pembaptis menjadi saksi yang tahu persis jikalau Yesus adalah seorang Mesias. Pada saat Tuhan Yesus memohon dibaptis olehnya, Yohanes Pembaptis langsung menghindari Ia serta mengatakan: “Akulah yang seharusnya dibaptiskan oleh-Mu …“ Tidak hanya itu, Yohanes Pembaptispun juga menegaskan bahwa untuk membuka tali kasut Yesus pun dirinya tidak layak. Sejak awal berjumpa dengan Yesus, selaku seseorang nabi, Yohanes Pembaptis telah mengetahui jikalau Yesus merupakan Mesias yang akan menjadi juru selamat bagi umat manusia. Tidak cukup hanya di sana saja, bahkan menurut kesaksian Alkitab, Yohanes Pembaptis juga menjadi saksi melalui mata kepalanya sendiri bahwa Allah dari sorga langsung memberikan penegasan bahwa Yesus adalah putera tunggal Allah yang sangat dikasihi-Nya. Maka kembali lagi pertanyaannya, jika Yohanes Pembaptis sudah menegaskan secara implisit akan ke-Mesias-an Yesus dan bahkan menjadi saksi bagaimana Bapa di Sorga menyatakannya, kenapa Yohanes Pembaptis kembali mempertanyakan tentang ke-Mesias-an Yesus?
Besar kemungkinan pertanyaan yang timbul dalam diri Yohanes Pembaptis itu lahir atas desakan situasi penderitaan yang sedang dia hadapi, di mana saat itu diceritakan bahwa dia sedang berada dalam penjara. Jadi, yang dipertanyakan Yohanes adalah “Jika benar-benar Yesus adalah Mesias, mengapa sampai dengan saat ini dirinya masih dibiarkan di dalam penjara?”. Upaya Yohanes Pembaptis dengan menugaskan murid-muridnya mempertanyakan ke-Mesia-an Yesus seakan bernada “sindiran” atas penderitaan yang sedang dialaminya selama di penjara. Yesus bisa menyelamatkan Yohanes Pembaptis tetapi Ia tidak melakukannya. Sebaliknya Ia mengirim kembali pesan yang berbunyi: “Orang buta melihat, orang lumpuh menjadi tahir… dan berbahagialah orang yang tidak kecewa dan menolak Aku” (Mat. 11:4-6). Sungguh, pesan Yesus ini bukan jawaban yang Yohanes harapkan. Namun, memang itulah pesan yang harus Yohanes Pembaptis terima. Tuhan menginginkan agar Yohanes Pembaptis mendengar dan memuji Allah sekalipun saat itu dia berada dalam penjara bahkan hingga akhir hayatnya.
Apa yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap Yohanes Pembaptis ini tampak seperti seorang rekan kerja atau sahabat yang tega membiarkan rekan kerjanya menderita seorang diri dan tidak mau berbuat apa-apa untuk sahabatnya itu. Namun tentu bukan itu yang menjadi pesan utama dari bagian ini. Yesus ingin mengatakan bahwa seorang utusan tidak seharusnya terlalu terburu-buru menganggap penderitaan yang sedang dialaminya sebagai penghalang bagi dirinya untuk berkarya demi nama Tuhan. Melainkan dapat memaknai penderitaan itu sebagai sarana bagi dirinya untuk senantiasa berpengharapan kepada Tuhan. Terlepas dari itu semua, Yesus setelah murid-murid Yohanes pergi, Kristus membukakan pada para murid-Nya tentang Yohanes Pembaptis (Yoh. 11:7-11). Yesus memuji Yohanes dihadapan orang banyak. Dia meneguhkan pelayanan Yohanes yang sudah dinubuatkan, tidak ada orang lebih besar kehormatannya dari Yohanes, namun yang terkecil dalam kerajaan Sorga lebih besar dari Yohanes, bahkan Tuhan Yesus menyetarakan Yohanes Pembaptis dengan nabi Elia.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Dari ketiga bacaan di atas kita dapat menarik suatu benang merah bahwa tidak ada satupun kebaikan yang diperoleh tanpa melalui proses perjuangan. Perjuangan dalam hal ini berkaitan erat dengan penderitaan dan pergumulan yang terjadi. Sebagaimana dinyatakan oleh Yakobus, bahwa para nabi yang membawa misi Allah justru harus menanggung penderitaan dan pergumulan hidup karena apa yang sedang mereka perjuangkan. Ketika para nabi dan utusan-utusan lain itu dapat bersabar dalam penderitaannya, maka kebaikan-kebaikan Allah akan dinyatakan kepada semua orang. Ditegaskan pula oleh kisah perjalanan hidup seorang Yohanes Pembaptis yang dituliskan oleh Matius. Yohanes Pembaptis yang pada saat itu mengalami penderitaan karena hukuman penjara, sempat berada dalam kondisi keterpurukan yang membuatnya “meragukan” kemesiasan Yesus dan hanya berfokus pada kebaikan bagi dirinya sendiri. Tetapi pada akhirnya penderitaan itu tetap dia jalani dengan kesabaran hingga akhir hayatnya oleh karena dia mampu melihat apa yang sebenarnya sedang dikerjakan oleh Yesus demi kebaikan semua orang.
Penderitaan dan pergumulan memang seringkali diijinkan oleh Allah terjadi atas hidup umat-Nya demi tujuan-tujuan tertentu. Salah satu tujuan dari Allah mengijinkan penderitaan dan pergumulan itu terjadi atas hidup umat-Nya adalah menjadikan umat-Nya senantiasa waspada dalam menjalani hidup dan selalu melekatkan diri dalam pengharapan yang Allah berikan. Sebagaimana Bangsa Israel dalam kesaksian Nabi Yesaya, mereka diajak untuk kembali merenungi akan perjalanan hidup mereka yang mengalami penderitaan akibat peristiwa pembuangan. Pembuangan dihayati sebagai cara Allah untuk mengingatkan mereka yang telah menjauh dari kehendak Allah. Meskipun demikian, Allah tidak membiarkan mereka seorang diri. Allah tetap berada di tengah situasi pergumulan dan penderitaan yang sedang mereka alami dan memberikan pemulihan kepada mereka.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Barangkali di antara kita ada yang pernah mendengarkan cerita-cerita perjuangan masa lalu yang dialami oleh kakek-nenek ataupun orang tua kita pada saat berkumpul bersama keluarga, ketika suasana sedang santai. Mereka biasanya akan bercerita dengan semangat berapi-api, bahwa hidup yang pernah mereka jalani adalah hidup yang keras, hidup yang penuh tantangan dan pergumulan, makan hanya seadanya, pakaian hanya seadanya, belum ada listrik, belum ada telepon atau HP, belum ada internet, sekolah pun harus dilalui dengan berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh dan lain sebagainya. Kemudian mereka mulai membandingkan situasi yang mereka hadapi dahulu dengan situasi masa sekarang dan mereka kemudian menyimpulkan bahwa hidup di jaman sekarang jauh lebih mudah dibandingkan hidup di jaman yang mereka hidupi dahulu. Pada bagian akhir, biasanya para orang tua atau kakek nenek kita akan mengajak kita untuk bersyukur atas kemudahan-kemudahan hidup pada masa sekarang ini. Begitulah yang biasa dilakukan oleh para orang tua dan kakek nenek kita dan saya yakin bahwa kita pun yang hidup pada masa sekarang ini, yang sudah menjadi kakek nenek maupun orang tua, akan bercerita hal yang sama kepada anak-anak dan cucu kita bukan?
Terlepas bahwa cerita-cerita yang senantiasa didengungkan oleh para pendahulu itu adalah benar adanya dan kesimpulan yang mereka sampaikan bertujuan untuk membuat kita merasa bersyukur atas hidup saat ini yang sedang kita jalani, namun sepertinya kita harus mempertanyakan kembali muatan kesimpulan yang mereka sampaikan itu: “Apakah benar bahwa hidup pada masa sekarang ini jauh lebih mudah dibandingkan dengan kehidupan jaman dahulu?” atau jangan-jangan malah sebaliknya.
Setiap konteks jaman tentunya membawa tantangan dan masalahnya sendiri. Demikian juga untuk mengukur apakah tantangan pada konteks jaman tertentu jauh lebih sukar atau jauh lebih mudah daripada jaman yang lain, apakah orang lain jauh lebih menderita atau lebih bahagia ketika berhadapan dengan situasi tertentu dibandingkan kita, itupun bergantung pada parameter atau tolok ukur dan sudut pandang apa yang kita pilih. Artinya kita tidak bisa gegabah menilai kondisi jaman ataupun perasaan orang-orang yang menghidupinya hanya berdasarkan pengalaman ataupun subyektifitas pribadi, karena bisa saja kita salah dalam mengambil kesimpulan.
Isi
Jika kita mengalihkan fokus kita pada bacaan Injil pada hari ini, kita dapat menjumpai bagaimana seorang Yohanes Pembaptis yang menyuruh murid-muridnya untuk menemui Tuhan Yesus secara langsung dan menanyakan mengenai kepastian status Mesias yang Dia bawa: “Apakah Yesus itu benar-benar Mesias ataukah bukan?”. Apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dengan menyuruh murid-muridnya menanyakan status kemesiasan Yesus ini adalah sesuatu yang terasa aneh, mengingat Yohanes Pembaptis sendiri pernah menyatakan secara implisit bahwa dia benar-benar yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang selama ini dinanti-nantikan oleh Bangsa Yahudi, bahkan dia telah menjadi saksi mata secara langsung bagaimana Allah mengurapi Yesus melalui peristiwa turunnya burung merpati di hadapannya (band. Mat. 3:13-17). Lalu kenapa Yohanes Pembaptis kemudian kembali mempertanyakan status kemesiasan Yesus? Apakah ini hanya didasarkan pada keragu-raguan semata ataukah ada hal lain yang melatarbelakanginya?
Tampaknya apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan sudut pandang dan konsep berpikir tentang apa yang harus dijalankan oleh seorang Mesias. Yohanes Pembaptis yang kala itu sedang berada di dalam penjara, sudah mendengar dan mengetahui mujizat-mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus dan menanti-nantikan Tuhan Yesus membebaskan dirinya. Barangkali Yohanes Pembaptispun juga terpengaruh oleh pandangan orang Yahudi kala itu yang berpikir bahwa kehadiran seorang Mesias adalah untuk memimpin reformasi politik dengan membebaskan bangsa Israel dari belenggu penjajahan bangsa Romawi, sehingga dia pun berharap ingin segera bebas dari penjara bangsa Romawi.
Tuhan Yesus menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh murid-murid Yohanes Pembaptis dengan jawaban yang nampaknya bukanlah jawaban yang diinginkan oleh Yohanes Pembaptis sendiri. Seolah Dia ingin menyampaikan bahwa pekerjaan seorang Mesias tidaklah serta merta “menuruti” keinginan pribadi orang per-orang yang hanya memikirkan kehidupannya pribadi, yang ingin bebas dari penderitaannya sendiri tanpa memikirkan penderitaan orang lain. Tuhan Yesus menegaskan bahwa kedatangan-Nya adalah untuk memberi kebebasan dan pemulihan yang berujung pada kebaikan semua orang. Sehingga tidaklah bisa seorang Yohanes Pembaptis berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang paling menderita dibandingkan orang lain, kemudian “mendikte” Sang Mesias untuk berkarya sesuai dengan keinginannya. Sang Mesias bukanlah milik Yohanes Pembaptis seorang, Dia dimiliki oleh semua orang dan berupaya untuk membawa pemulihan bagi semua orang. Maka Tuhan Yesuspun mengingatkan Yohanes Pembaptis, tersirat pada ayat ke 5, Yesus meminta supaya Yohanes Pembaptis tidak menjadi kecewa dan kemudian menolak kesejatian-Nya sebagai seorang Mesias sekalipun Sang Mesias tidak melakukan seperti apa yang dia kehendaki.
Penutup
Apa pembelajaran yang bisa kita petik dari Firman Tuhan ini bagi hidup kita? Kita mungkin pernah dan sedang menghadapi krisis yang sama seperti yang dialami Yohanes Pembaptis, “terpenjara” dan menderita. Padahal kita merasa telah melakukan banyak hal untuk melayani Tuhan. Situasi inilah yang kerap menguji hati kita. Apakah kita tetap percaya bahwa Tuhan itu adil dalam segala pekerjaan-Nya? Apakah kita tetap mengandalkan-Nya dan tidak bersandar pada pengertian kita sendiri? Jika Tuhan tampaknya tidak memenuhi harapan kita saat ini, bukan berarti Dia meninggalkan kita. Tuhan melihat gambaran yang jauh lebih besar dan Dia sedang menangani masalah yang bahkan tidak bisa kita pahami.
Kaitannya dengan kehidupan persekutuan di tengah GKJW, kita tahu bahwa perjalanan panjang Greja Kristen Jawi Wetan dalam mewartakan kabar kebaikan bagi dunia, khususnya di bumi Jawa Timur ini telah sampai di usia 91 tahun. Tentu semua di antara kita berperan menjadi saksi mata dan pelaku sejarah bagaimana keberadaan GKJW dalam berhadapan dengan situasi jatuh-bangun dan suka-dukanya, entah berapapun usia kita saat ini. Dalam setiap peringatan hari ulang tahunnya pun seringkali disampaikan secara berulang-ulang, bagaimana GKJW atas pertolongan dan penyertaan Allah dapat bertahan ketika berhadapan dengan segala tantangan jaman yang menjadi konteksnya.
Sikap yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis yang mengharapkan pekerjaan Mesias sesuai dengan harapannya sendiri, mengukur dan membandingkan situasi yang sedang dihadapi oleh orang lain menggunakan pengalaman dan subyektifitasnya sendiri, tentu bukanlah sikap yang dikehendaki oleh Tuhan. Maka sama seperti nasihat Tuhan Yesus kepada Yohanes Pembaptis, kita pun diminta supaya tidak kecewa kemudian menolak pekerjaan Sang Kristus dalam tubuh GKJW meskipun tidak sesuai dengan keinginan diri kita pribadi.
Maka sudah seharusnyalah kita bersyukur atas penyertaan Allah pada GKJW ini. Perjalanan GKJW di masa lalu barangkali memang berat, tetapi bukan berarti bahwa pada masa kini lebih mudah. Tentang masa depan GKJW kita juga tidak tahu, apakah akan jauh lebih mudah ataukah akan menghadapi tantangan serta pergumulan. Namun marilah kita percaya, bahwa sekalipun pergumulan itu mungkin akan terjadi di GKJW, Tuhan akan senantiasa ada dalam setiap pergumulan kita dan memberi kita pemulihan.
Maka dalam rangka menghayati hari Ulang Tahun GKJW ke-91 yang bersamaan dengan peringatan masa Adven yang ke-3 ini, marilah kita sama-sama menghayati peran dan panggilan kita masing-masing sebagai bagian dari GKJW yang dipanggil untuk menyatakan karya kebaikan Allah bagi dunia. Jika Tuhan mengijinkan pergumulan itu terjadi dalam hidup kita, maka marilah kita tetap percaya bahwa Tuhan pun juga akan memberikan pemulihan bagi kita. Amin. [YEP].
Pujian: KJ. 260 : 1, 2, 3 Dalam Dunia Penuh Kerusuhan
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Mbok menawi ing antawis panjenengan nate mirengaken carios-carios saking simbah utawi tiyang sepuh ingkang ngalami mangsa merjuang rikala semanten anggenipun nglampahi gesang, nalika ngempal ing swasana santai ing tengah-tengahing brayat. Biasanipun simbah utawi tiyang sepuh kita punika nyariosaken lampahing gesangipun kanthi semangat mulad-mulad bilih gesang ingkang dipun lampahi inggih gesang ingkang kebak ing pakewed, namung saged dhahar sakwontenipun, ewed sandang-pangan, dereng wonten listrik, dereng wonten tilpon utawi handpone, dereng wonten internet, bilih tindhak dhateng sekolah kedah mlampah, nempuh margi ingkang tebih, lsp. Lajeng simbah utawi tiyang sepuh kita mbanding-mbandingaken kawontenan ingkang dipun alami rumiyin kaliyan kawontenan ing samangke lan nggadahi pemanggih bilih nglampahi gesang ing jaman samangke langkung gampil katimbang nglampahi gesang ing jaman semanten. Ing wusananipun simbah utawi tiyang sepuh sami ngajak kita supados saos sokur tumrap gesang ing samangke punika. Inggih mekaten ingkang biasanipun dipun tindhakaken dening simbah utawi tiyang sepuh. Kula ugi pitados bilih kita ingkang taksih gesang ing jaman samangke, ingkang sampun dados simbah utawi tiyang sepuh inggih badhe carios ingkang sami.
Kita boten selak bilih punapa ingkang dipun cariosaken dening para tiyang sepuh kalawau saestu leres kawontenanipun lan pemanggih ingkang dipun dhawuhaken minangka pangajak supados kita saged ngaturaken pangucap sokur tumrap gesang ingkang kita lampahi ing samangke. Ananging kadosipun kita mesthinipun inggih saged ngraos-ngraosaken malih: “Punapa leres, bilih nglampahi gesang ing jaman samangke punika langkung gampil katimbang nglampahi gesang rikala semanten?” Mbok menawi malah kosokwangsulanipun.
Sadengah kawontenan jaman tamtunipun nggadahi tantangan lan pakewedipun piyambak-piyambak. Mekaten ugi kangge nemtokaken ukuran bab tantangan ing satunggal jaman punika langkung awrat utawi gampil katimbang jaman sanesipun, punapa tiyang sanes langkung sangsara utawi langkung bingah nalika ngadhepi kawontenan tertamtu katimbang dhiri kita piyambak, punika inggih gumantung saking parameter utawi patrap ningali kados pundi ingkang kita pilih. Artosipun kita boten saged grusa-grusu anggenipun paring patrap bab kondisinipun jaman utawi raosipun tiyang sanes ingkang gesang ing salebetipun ngginakaken pangalaman utawi subyektifitas dhiri kita piyambak, karana bilih mekaten ingkang kalampahan, kita saged kemawon lepat anggenipun menggalih.
Isi
Bilih kita ningali waosan Injil ing dinten punika, kita saged manggihi kados pundi Yokanan Pambaptis mrentah sakabatipun sowan dhateng Gusti Yesus sacara langsung kapurih nyuwun pirsa bab sejatinipun Sang Kristus ingkang dipun asta dening Gusti: “Panjenenganipun punika saestu sejatinipun Sang Kristus punapa sanes?”. Punapa ingkang dipun tindhakaken dening Yokanan Pambaptis kanthi mrentah sakabatipun nyuwun pirsa dhateng Gusti Yesus bab sejatinipun Sang Kristus punika kalebet tumindhak ingkang nyleneh, karana bilih kita emut Yokanan Pambaptis punika nate nglairaken sacara implisit bilih piyambakipun saestu yakin dhumateng Gusti Yesus minangka Sang Kristus ingkang sampun dipun rantos dening Bangsa Israel, malah-malah piyambakipun nate dados seksi sacara langsung nalika Gusti Allah njebadi Gusti Yesus ngagem pratandha tumedhakipun peksi dara anedhaki Panjenenganipun (Bnd. Mat. 3:13-17). Lajeng ingkang dados pitakenan, kenging punapa Yokanan Pambaptis nyuwun pirsa malih bab sejatinipun Sang Kristus dhumateng Gusti Yesus? Punapa pitakenan punika namung dipun dhasari raos mangu-mangu kemawon utawi wonten prekawis lintunipun ingkang dados sebab?
Kadosipun ingkang dipun tindhakaken dening Yokanan Pambaptis punika dipun dhasari karana wonten panggalih ingkang benten bab punapa ingkang dados pakaryanipun Sang Kristus. Yokanan Pambaptis ingkang rikala semanten dipun kunjara, sampun mireng lan mangertosi mukjijat-mukjijat ingkang dipun tindhakaken dening Gusti Yesus lan piyambakipun ngrantos Gusti Yesus paring pangluwaran tumrap piyambakipun. Mbok menawi Yokanan Pambaptis punika kenging pengaruh tiyang-tiyang Yahudi ingkang rikala semanten nggadahi penggalih bilih rawuhipun Sang Kristus ngasta tujuan dados pemimpin reformasi politik tumrap bangsa Israel ingkang dipun tindhes dening bangsa Romawi, matemah piyambakipun ugi nggadahi pangajeng-ngajeng enggal luwar saking kunjara punika.
Gusti Yesus paring wangsulan tumrap pitakenan sakabatipun Yokanan Pambaptis ngagem wangsulan ingkang mesthinipun sanes wangsulan ingkang dipun kersakaken dening piyambakipun. Wangsulanipun Gusti Yesus kados-kados paring paneges bilih pakaryanipun Sang Kristus punika mboten namung “manut miturut” pepenginanipun tiyang mbaka tiyang ingkang sawetawis mikiraken dhirinipun piyambak, namung kepengin luwar saking pakewedipun piyambak boten mikiraken pakewedipun tiyang sanes. Gusti Yesus paring panegesan bilih rawuhipun kapurih paring kamardhikan lan pangluwaran tumrap tiyang kathah. Pramila boten saged Yokanan Pambaptis punika nggadahi penggalih bilih pakewed ingkang dipun sanggi dening piyambakipun langkung awrat katimbang tiyang sanes, lajeng kepengin “ndikte” Sang Kristus supados kersa nindhakaken pakaryan kanthi pepenginanipun piyambak. Sang Kristus sanes kagunganipun Yokanan Pambaptis piyambak, Sang Kristus punika kagunganipun sedaya tiyang lan nindhakaken pangluwaran tumrap sedaya tiyang. Pramila Gusti Yesus paring pangemut dhumateng Yokanan Pambaptis ingkang kaserat wonten ing ayat 5, supados piyambakipun boten kuciwa lajeng selak tumrap sejatinipun Sang Kristus ingkang kaasta dening Gusti Yesus sanaosa Sang Kristus boten nyembadani punapa ingkang dipun pikajengaken Yokanan Pambaptis.
Panutup
Pasinaon punapa ingkang saged kita tampi saking Dhawuh Pangandikanipun Gusti dinten punika? Mbok menawi kita nate lan ugi taksih ngalami pakewed kados dene ingkang dipun alami dening Yokanan Pambaptis, “kakunjara” lan sangsara. Kamangka kita rumaos bilih kita sampun nindhakaken kathah prekawis kangge leladi wonten ing ngarsanipun Gusti. Kawontenan ingkang kados mekaten kalawau ingkang dados tanthingan tumrap manah kita. Punapa kita taksih pitados dhumateng Gusti bilih Panjenenganipun punika saestu adil ing sedaya pakaryaniPun? Punapa kita taksih purun ndadosaken Gusti piandel katimbang pangertosan kita piyambak? Bilih Gusti kados-kados boten paring kasembadan tumrap pangajeng-ngajeng kita, boten ateges bilih Panjenenganipun negakaken kita. Gusti pirsa gegambaran ingkang langkung wiyar lan Panjenenganipun nindhakaken pakaryan ingkang boten saged kita mangertosi ing sakmangke.
Gegayutan kaliyan lampahing gesang pasamuwan ing GKJW, kita mangertosi bilih lampahing gesang ingkang sampun dipun lampahi dening GKJW ing salebetipun martosaken kasaenan tumrap donya, mliginipun wonten ing tlatah Jawa Timur sampun dumugi yuswa 91 taun. Tamtunipun kita sedaya nggadhahi wewengku minangka seksi lan tiyang ingkang nindhakaken sejarah kados pundi GKJW punika anggenipun ngadhepi tiba-tanginipun sarta bingah-susahipun, boten peduli sakpinten yuswa kita samangke. Wonten ing panghargyan ambal warsanipun ugi tansah dipun aturaken kados pundi GKJW punika dipun reksa dening Gusti saged ngadhepi mawarni-warni tantanganipun jaman ingkang dados kawontenanipun.
Pramila sampun sakmesthinipun kita saos sokur tumrap panuntunipun Gusti Allah dhateng GKJW punika. Lampahipun GKJW ing rikala semanten mbok menawi pancen awrat ananging boten ateges bilih ing wekdal semanten langkung gampil. Bab wekdal tembe, kita inggih boten mangertosi punapa lampahipun GKJW badhe ngadhepi tantangan lan pambengan punapa boten. Ananging sumangga kita pitados, sanaosa pakewed punika badhe kalampahan ing GKJW, Gusti tamtunipun tansah rawuh ing sadengah pakewed ingkang dipun lampahi lan paring pangluwaran tumrap kita.
Ing wusana, ing satengah-tengahing kita mahargya dinten ambal warsanipun GKJW ingkang kaping 91, sesarengan ugi kaliyan wekdal Adven kaping 3 punika, sumangga kita sesarengan ngraos-ngraosaken wewengku lan timbalan kita piyambak-piyambak minangka perangan gesangipun GKJW ingkang dipun utus kangge mratelakaken pakaryan lan kasaenanipun Gusti dhateng jagad. Bilih Gusti ngersakaken pakewed punika kalampahan ing salebeting gesang kita, sumangga kita tansah pitados bilih Gusti ugi badhe paring pangluwaran tumrap kita. Amin. [YEP]
Pamuji: KPJ. 338 : 1, 3, 4 Greja Prasasat Baita