Minggu Adven I
Stola Ungu
Bacaan 1: Yesaya 2 : 1 – 5
Bacaan 2: Roma 13 : 11 – 14
Bacaan 3: Matius 24 : 36 – 44
Tema Liturgis: Kewaspadaan di Tengah Pergumulan Membuahkan Kebaikan
Tema Khotbah: Menanti Kehadiran Kristus dengan Hidup dalam Kasih
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 2 : 1 – 5
Yesaya 1 – 39 merupakan bagian pertama dari keseluruhan Kitab Yesaya (Pasal 1 – 66) yang disebut Proto Yesaya. Bagain ini, ditulis dan ditujukan oleh nabi Yesaya kepada bangsa Israel, khususnya Kerajaan Selatan/ Kerajaan Yehuda, sebelum mereka berada dalam masa pembuangan di Babel.
Saat itu, situasi politik dan ekonomi Kerajaan Yehuda sebenarnya dalam keadaan baik. Sekalipun, tidak dapat dipungkiri bahwa ancaman dari bangsa Asyur sudah mulai mereka rasakan. Akan tetapi, sebanarnya ada hal yang lebih berbahaya daripada sekadar ancaman bangsa Asyur bagi Kerajaan Yehuda, yaitu ketidaktaatan dan ketidaksetiaan bangsa Israel kepada Allah (Yes. 1:21). Sebab itu, Kerajaan Yehuda akan mendapatkan hukuman langsung dari Allah karena ketidaktaatan dan ketidaksetiaan mereka tersebut (Yes. 1:25-26); dan dalam situasi yang demikian, seruan pertobatan menjadi hal utama yang disampaikan oleh nabi Yesaya (Yes. 1:27).
Sekalipun pesan yang disampaikan oleh nabi Yesaya bernada menakutkan, akan tetapi ia pun tetap menyampaikan bahwa keadaan yang baik akan dialami oleh Kerajaan Yehuda ketika mereka mau taat dan setia kepada Allah. Pada hari-hari yang terakhir, Yerusalem akan menjadi pusat peribadatan banyak suku bangsa. Segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana untuk mendengarkan pengajaran dan firman Tuhan (Yes. 2:2-3). Tidak ada lagi peperangan. Pedang-pedang akan menjadi mata bajak dan tombok-tombak akan menjadi pisau pemangkas (Yes. 2:4). Sion akan menjadi pusat kerajaan damai, saat kaum keturuan Yakub berjalan dalam terang Allah (Yes. 2:5).
Roma 13 : 11 – 14
Surat Roma dari pasal 1 – 16 dibagi menjadi 5 bagian dan 1 tambahan, yaitu: bagian pembukaan (Pasal 1:1-17), bagian pertama (Pasal 1:18 – 8:39), bagian kedua (Pasal 9:1 – 11:36) bagian ketiga (Pasal 12:1 – 15:23), bagian penutup (Pasal 15:14-33) dan bagian tambahan (Pasal 16).1 Secara khusus, Groenen mengatakan bahwa Surat Roma bagian ketiga berisi tentang pelbagai nasihat, ajakan, dan dorongan bagi kehidupan praktis dan penghayatan iman Kristen.
Sebagai sebuah kota metropolis – pusat politik dan administrasi –, maka tidak mengherankan jikalau Roma menjadi sebuah kota yang sangat padat (l.k. 1.000.000 penduduk) dan majemuk. Oleh sebab itu, ketegangan antara kelompok pun tidak bisa dihindari dan sebagai sebuah pusat peradaban, maka tidak mengherankan jikalau agama Kristen sudah ada di kota Roma, bahkan sebelum Rasul Paulus datang ke sana. Akan tetapi, sekalipun tidak ada catatan khusus tentang kapan, bagaimana, dan siapa yang membawa agama Kristen ke sana, sangat mungkin jika agama Kristen dibawa oleh orang Yahudi yang berziarah ke Yerusalem, bertemu dengan aliran baru (Kristen) dan kembali ke Roma. Ataupun memang dibawa oleh orang Yahudi yang masuk Kristen dan berpindah dari Palestina/ dari kawasan Timur menuju Roma, sehingga dapat diandaikan bahwa iman kepercayaan mereka jauh dari kata utuh dan mantap.2 Dalam dua situasi yang demikianlah, Rasul Paulus mengirimkan suratnya kepada Jemaat di Roma.
Rasul Paulus mengatakan bahwa sudah saatnya “bangun dari tidur” (Rom. 13:11). Ia menyampaikan agar umat Kristen di Roma semakin mantap dalam mengikut ajaran Kristus, sebab hari sudah hampir siang. Keselamatan sudah lebih dekat bagi mereka. Oleh karena itu, Rasul Paulus mengajak umat percaya untuk menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan (pesta pora, kemabukan, percabulan, hawa nafsu, perselisihan, dan iri hati). Rasul Paulus mengajak mereka hidup dengan sopan seperti pada waktu siang dan mengenakan Tuhan Yesus Kristus sebagai senjata terang (Rom. 13:12-14). Artinya Rasul Paulus mengajak agar Jemaat di Roma mendasari setiap perilaku kehidupannya dengan kasih, agar ketegangan/ perselisihan yang terjadi di dalam Jemaat dapat reda dan dengan memberlakukan kasih dalam hidup sehari-hari, maka mereka akan mengerti dan memahami secara utuh inti ajaran iman Kristen.
Matius 24 : 36 – 44
Kepercayaan tentang akhir zaman atau kedatangan Yesus untuk kali kedua merupakan salah satu hal sentral yang ditulis dalam Injil Matius dan sebagai sebuah peristiwa penting yang ditunggu-tunggu, maka menjadi sangat wajar jikalau para murid bertanya tentang waktu dan tanda dari kedatangan Yesus dan kesudahan dunia (Mat. 24:3).
Menanggapi hal tersebut, Yesus tidak mengatakan dengan pasti kapan waktu datangannya zaman akhir tersebut, sebab tidak ada seorangpun yang tahu (Mat. 24:36). Akan tetapi, ia menjelaskan bahwa akan ada tanda-tanda yang mendahului datangnya masa itu, yaitu: munculnya berbagai macam penganiyayaan, banyak orang murtad dan saling membenci, kasih antara seorang dengan yang lain menjadi dingin, bermunculan mesias-mesias dan nabi-nabi palsu, matahari menjadi gelap dan tidak bercahaya lagi, bintang-bintang akan berjatuhan dan langit akan goncang (Mat. 24:9-11, 24 & 29).
Namun yang lebih penting dari pada itu Yesus mengingatkan kepada para murid agar mereka senantiasa waspada dan berjaga-jaga saat menanti datangan hari itu (Mat. 24:4 & 44). Hal itu dikarenakan hari kedatangan Anak Manusia ibarat seorang pencuri yang akan datang. Tidak diketahui kapan hari dan waktunya. Yesus membandingkan dengan zaman Nuh sesaat sebelum air bah datang, yang mana keadaannya biasa-biasa saja. Semua orang masih melakukan aktifitas seperti biasa (makan, minum, kawin dan mengkawinkan – Mat. 24:38), seolah-olah tidak akan ada air bah yang akan menenggelamkan bumi. Artinya bagi Yesus lebih penting untuk siap sedia dan berjaga-jaga dari pada sibuk memikirkan kapan hari dan waktunya akan datang, karena Anak Manusia akan datang pada saat yang tidak diduga.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kehadiran Yesus Kristus ke dalam dunia merupakan wujud nyata kasih Allah Bapa bagi seluruh ciptaan, termasuk manusia. Oleh sebab itu, menantikan kehadiran Yesus Kristus seharusnya dilakukan dengan penuh sukacita, yaitu dengan memberlakukan kasih (bacaan 2) dan hidup taat serta setia kepada Allah (bacaan 1). Karena kedatangan Yesus Kristus tidak ada yang tahu, maka memberlakukan kasih, taat dan setia kepada Allah harus dilakukan setiap hari, sebagai wujud kesiap-sediaan dan sikap berjaga-jaga (bacaan 3), agar penantian yang dilakukan mendatangkan kedamaian.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Banyak orang sepakat bahwa menunggu adalah aktivitas yang membosankan bahkan menjengkelkan sehingga tidak semua orang suka dengan kegiatan menunggu. Apalagi jika sesuatu yang ditunggu tidak jelas kapan waktu kedatangannya. Pertanyaannya, apakah benarkan demikian? Apakah menunggu memang menjadi sebuah aktivitas yang membosankan? Agaknya tidak juga. Sebab, menunggu akan menjadi hal yang menyenangkan jikalau dilakukan dengan melakukan hal-hal/ kegiatan-kegiatan tertentu. Artinya tidak dilakukan dengan berdiam diri, tetapi ada aktivitas yang dikerjakan.
Isi
Menantikan hari datangnya Anak Manusia dan hari akhir – yang tidak jelas hari dan waktunya – agaknya juga menjadi hal yang “membosankan” bagi para murid Yesus. Oleh sebab itu, mereka bertanya kepada Yesus tentang waktu dan tanda kehadiran Anak Manusia tersebut (Mat. 24:3). Alih-alih memberikan jawaban yang jelas, Yesus malah menyampaikan bahwa kedatangan Anak Manusia tidak ada yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, bahkan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri yang tahu (Mat. 24:36). Akan tetapi ada tanda yang akan mendahuluinya.
Melalui jawaban tersebut, sebenarnya Yesus ingin mengatakan bahwa tidak penting kapan waktu dan harinya Anak Manusia dan hari akhir akan datang, yang lebih penting adalah sikap hidup saat menantikan hari kedatanganNya. Hal yang harus dilakukan saat berada dalam masa penantian ialah tetap waspada dan selalu sedia serta berjaga-jaga (Mat. 24:44).
Pertanyaannya, dengan hal-hal apakah kewaspadaan, kesediaan, dan berjaga-jaga itu dilakukan? Rasul Paulus – dalam suratnya kepada Jemaat di Roma – mengatakan bahwa sebagai umat percaya/ orang Kristen, hidup dalam kasih adalah sebuah keharusan. Sebab, itulah inti ajaran Kristus (Rom. 13:10, 14). Artinya sebagai orang Kristen, hidup dalam kasih harus dilakukan setiap hari, tidak bisa tidak. Hidup dalam kasih harus menjadi sebuah kebiasaan, bahkan kebutuhan hidup layaknya seseorang yang bernafas. Jadi sikap waspada dan berjaga-jaga harus kita isi dengan “aktivitas kasih”.
Refleksi
Oleh sebab itu, dalam masa penantian (Adven I) ini, kita pun diajak melihat kembali hidup kita masing-masing. Pertanyaanya, dalam masa penantian ini, sudahkah kita mengisinya dengan “aktivitas kasih”? Mengampuni orang yang bersalah kepada kita, meminta ampun kepada seseorang yang sudah kita lukai, menolong saudara kita yang membutuhkan, dll. Ataukah kita malah hanya berdiam diri saja, bahkan melakukan “aktivitas malam” (Rom. 13:12-13)? Memanfaatkan kesulitan orang lain, berselisih dengan saudara karena urusan harta, atau bahkan dengan sengaja membuat hidup orang lain menderita, dll.
Hari kedatangan Anak Manusia memang tidak ada yang tahu. Oleh sebab itu, yang dapat kita lakukan hanya menantikannya dengan taat, setia, dan penuh percaya (Yes. 2:5). Artinya, menanti dengan kewaspadaan dan selalu berjaga-jaga. Tidak lengah, tidak hanya berdiam diri, melainkan melakukan senantiasa “aktivitas kasih”, agar kedamaian Sion yang dijanjikan Allah kepada bangsa Israel pun dapat kita rasakan bersama-sama.
Penutup
Menanti memang merupakan hal yang membosankan jika kita lakukan dengan berdiam diri. Namun, aktivitas menanti akan benar-benar memiliki arti dan makna jika dilakukan dengan melakukan hal-hal yang menjadi “hobi” / “gambar diri” kita. Gambar diri kita sebagai umat percaya/ orang Kristen ialah Kasih. Maka, marilah kita menanti kedatangan Tuhan Yesus Kristus dengan memberlakukan kasih setiap hari sebagai gambar diri kita dan juga sebagai wujud sikap waspada serta berjaga-jaga. Amin. [7us].
Pujian: KJ. 84 : 1 – 3 Ya Yesus, Dikau Kurindukan
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Kathah tiyang ingkang sepakat menawi ngrantos punika prekawis ingkang mbosenaken, temahan boten sedaya tiyang remen kaliyan prekawis punika. Langkung-langkung menawi bab ingkang dipun rantos boten jelas ing wanci kapan rawuhipun. Nanging, punapa estu leres prekawis punika? Punapa ngrantos punika panci prekawis ingkang mbosenaken? Kula kinten boten, awit ngrantos punika saged dados prekawis ingkang nuwuhaken kabingahan menawi dipun lampahi kanthi nindakaken kegiatan-kegiatan sanes. Tegesipun, boten dipun tindakaken/ dipun lampahi kanthi mendel kemawon, nanging wonten kegiatan ingkang dipun tindakaken.
Isi
Ngrantos rawuhipun Putraning Allah lan dinten pungkasan – ingkang boten jelas wancinipun – tamtu ugi nuwuhaken raos bosen mungguh para sakabatipun Gusti Yesus. Pramila, para sekabat paring pitakenan dhumateng Gusti Yesus bab wanci lan tanda-tanda rawuhipun Putranipun Allah punika (Mat. 24:3). Mboten kok paring wangsulan ingkang jelas, Gusti Yesus malah ngandika bilih rawuhipun Putraning Allah boten wonten ingkang pirsa, para malaekat ing swarga boten mangertos, Sang Putra ugi boten pirsa, kejawi namung Sang Rama (Mat. 24:36).
Lumantar wangsulan ingkang kados punika, sejatosipun Gusti Yesus badhe dhawuh bilih boten penting kapan wanci lan mangsanipun Putranipun Allah waruh, ingkang langkung wigati nggih punika kados pundi gesangipun manungsa anggenipun nganti-anti rawuhipun Putraning Allah. Lan perangan ingkang kedhah dipun tindakaken nalika nganti-anti rawuhipun Sang Putra, nggih punika tetep waspada lan siap siaga (Mat. 24:44).
Pitakenanipun, kanthi prekawis-prekawis punapa waspada, sedya, lan jumaga punika dipun lampahi? Miturut Rasul Paulus, minangka umat kagunganipun Gusti, gesang kebak ing katresnan punika prekawis ingkang kedhah dipun lampahi, boten saged boten. Awit, punika ingkang dados punjer/ wos piwucalipun Sang Kristus (Rum. 13:10, 14). Tegesipun, minangka tiyang Kristen, gesang ing tresna-tinresnan kedhah dipun lampahi saben dinten. Gesang kebak ing katresnan kedhah njalari sedaya tindak-tandukipun manungsa. Tresna-tinresnan punika wajib dados pakulinan saha kabetahanipun gesang. Dados, sikap waspada lan jumaga nganti-anti rawuhipun Sang Putra, kedhah kita lampahi kanthi nindakaken “aktivitas tresna-tinresnan”.
Refleksi
Pramila, ing mangsa ngrantos (Adven I) punika, kita kaajak nliti pirsa wonten salebeting gesang kita pribadi baka pribadi. Ing salebeting mangsa ngrantos punika, punapa kita sampun ngisi kanthi “aktivitas tresna-tinresnan”? Paring pangapunten dhumateng sedaya tiyang ingkang lepat dhateng kita, nyuwun pangapunten dhumateng tiyang ingkang nate kita larani, paring pitulungan dhumeteng tiyang ingkang betahaken, lsp. Punapa kita malah mendel mawon, langkung-langkung nindakaken “aktivitas pepeteng” (Rum. 13: 12-13)? Remen ningali tiyang sanes sisah, crah kaliyan brayat karana donya, utawi kanthi sadar nyisahaken gesangipun tiyang sanes, lsp.
Dinten rawuhipun Putraning Allah panci boten wonten ingkang mangertos. Pramila, ingkang saged kita tindakaken nggih punika taat, setya, lan pitados (Yes. 2:5). Tegesipun, nganti-anti kanthi waspada lan tansah jumaga. Boten mendel kemawon, ananging setya nglampahi “aktivitas tresna-tinresnan”, supados karaharjan lan katentremanipun Sion ingkang kaprasetyaaken dhumateng bangsa Israel ugi saged kita raosaken sesarengan ing gesang kita samangke.
Panutup
Ngrantos punika panci prekawis ing mbosenaken nalika dipun lampahi kanthi mendel, ananging ngrantos saged dados tuking kabingahan, nuwuhaken makna, nalika dipun lampahi kaliyan nindakaken prekawis-prekawis ingkang dados “hobi” / “gegambaranipun” manungsa. Gegambaran kita minangka tiyang Kristen nggih punika Katresnan. Pramila, swawi kita nganti-anti rawuhipun Gusti Yesus Kristus kanthi nindakaken sikap tresna-tinresnan, supados kita estu saged nglairaken gambar dhiri kita lan ugi nindakaken sikap tresna-tinresnan minangka wujuding sikap waspada lan jumaga. Amin. [7us].
Pamuji: KPJ. 239 : 1 – 3 Pinuji Tansah
1 C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kaninius, 1984), hal. 222 – 226.
2 C. Groenen, Pengantar, hal. 217 – 218.