Beriman Berarti Membangun Diri, Keluarga, dan Gereja Tanpa Henti Khotbah Minggu 7 Agustus 2022

25 July 2022

Bacaan 1: Kejadian 15 : 1 – 6
Bacaan 2:
Ibrani 11 : 1 – 3, 8 – 16
Bacaan 3:
Lukas 12 : 32 – 40

Tema Liturgis: Iman menjadi Dasar Tanggung Jawab Umat dalam Pembangunan Gereja
Tema Khotbah: Beriman Berarti Membangun Diri, Keluarga, dan Gereja tanpa Henti

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 15 : 1 – 6
Berdasarkan latar belakang Kejadian 1 – 11, jelas pemanggilan Abraham tidak boleh diartikan sebagai nasionalisme agama yang sempit. Panggilan ini dimaksudkan agar semua bangsa mendapat berkat. Nama Abram diubah oleh Tuhan menjadi Abraham, karena dia menjadi bapa dari bangsa-bangsa (Kej. 17:5). Pemilihan Abraham dan keturunannya atau umat Israel bukan berdasarkan jasa mereka, melainkan karena anugerah Allah semata, sehingga bukan untuk memegahkan diri (Kej. 12:3).

Dalam bacaan ini, di tengah kekecewaan dan kegundahan Abram karena hingga tua belum mendapatkan anak yang dijanjikan itu, ia berpikir akan mewariskan hartanya kepada Eliezer orang Damsyik hambanya yang setia, Tuhan kembali menguatkannya. Tuhan mengajak Abram ke luar melihat bintang-bintang di langit yang tak terhitung jumlahnya dan masing-masing memantulkan sinarnya. Ya, akan seperti itulah banyaknya keturunannya.

Abraham percaya artinya ia percaya akan firman-Nya, taat dan hidup dari Firman-Nya, dan Tuhan memperhitungkan hal itu sebagai kebenaran. Tuhan menerima Abraham sebagai orang benar, bukan karena jasa atau amalnya, melainkan karena imannya.

Ibrani 11 : 1 – 3, 8 – 16
Surat Ibrani ditulis oleh seorang Kristen Yahudi yang paham betul filsafat dan budaya Yahudi. Surat ini ditujukan kepada orang-orang Kristen berlatar belakang Yahudi yang terserak berada di berbagai tempat. Ia menghubungkan Yesus Kristus Sang Mesias dengan Perjanjian Lama.

Dalam bacaan ini, penulis menjelaskan tentang iman sebagai dasar atau pondasi dan jaminan dari apa yang kita harapkan dan bukti dari apa yang tidak dapat kita lihat. Karena itu, iman memberi kekuatan, membentuk karakter, mengarahkan langkah dan mengontrol kehidupan. Sebagai contoh adalah iman Abraham yang percaya kepada firman-Nya, taat dan setia melakukannya dalam hidupnya. Sehingga iman itu memberi kekuatan untuk berjalan dan berproses meninggalkan yang lama menuju yang baru. Dalam iman, proses itu terjadi terus menerus, yaitu proses untuk mencari kota yang mempunyai dasar, yang dibangun oleh Allah, yang tidak dapat rusak dan dicuri serta tidak ada ngengat dan gegatnya. Bahkan mungkin melewati kematian di dunia ini.

Lukas 12 : 32 – 40
Setelah Tuhan Yesus meninggalkan rumah orang Farisi dan panjang lebar mengajar orang banyak, kini Dia mengarahkan pengajaran-Nya kepada para murid-Nya yang digambarkan sebagai kawanan kecil dari domba. Supaya mereka jangan takut karena Tuhan telah berkenan memberikan Kerajaan-Nya kepada mereka (Ay. 32). Kerajaan Allah adalah suasana di mana Allah memerintah dengan nilai-nilai kebenaran, kasih, dan damai sejahtera. Kerajaan itu sudah datang tetapi kegenapannya secara sempurna baru nanti pada kedatangan Tuhan Yesus kedua. Oleh karena itu, dalam perjalanan orang beriman, Kerajaan Allah itu itu harus terus digali, dicari, dijaga, dan ditumbuh kembangkan.

Untuk tujuan tersebut maka kawanan kecil umat Allah itu harus selalu waspada: pertama, dengan pinggang tetap berikat, artinya selalu siap sedia. Kedua, pelita tetap menyala artinya spiritualitas, semangat, dan terang yang terus mengalir dari iman. Ketiga, seperti hamba yang menantikan tuannya, artinya tetap berjaga dan bekerja. Sehingga ketika tuannya datang, dia siap. Berbahagialah dia, karena dia akan diajak makan dan dilayani oleh tuannya.

Adalah Lukas yang melihat bahwa kedatangan Tuhan Yesus tidak begitu segera sebagaimana dipahami oleh penulis-penulis Injil yang lain. Karena itu, Kerajaan Allah yang telah datang dalam kawanan kecil atau gereja-Nya itu perlu terus dicari dan dinyatakan. Gereja perlu terus dipersiapkan, dibina, ditata, dan dikoordinir sehingga tumbuh berkembang dalam persekutuan, kesaksian, dan pelayanananya hingga benar-benar siap ketika Sang Kristus datang. Oleh karena itu, dia tidak berhenti menulisnya pada kehidupan Tuhan Yesus saja, melainkan juga melanjutkan dengan Kisah Para Rasul, yang tidak lain adalah sejarah Gereja Tuhan sebagai tanda Kerajaan Allah itu.

Benang Merah Tiga Bacaan
Iman Abraham menjadi teladan bagi kawanan kecil domba Tuhan yang telah menerima Kerajaan Allah untuk tidak takut melangkah maju, terus menerus membangun diri, demi menumbuh-kembangkan Kerajaan Allah dengan setia sepanjang hidupnya hingga digenapi dalam kedatangan Kristus kedua.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Saudaraku kekasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita bersyukur bahwa hari ini kita boleh memperingati Hari Pembangunan GKJW yang kita rayakan dengan pelayanan Perjamuan Kudus. Pada masa penindasan Jepang (Maret 1942 – Agustus 1945) sebagai kawanan domba, GKJW tidak hanya kawanan kecil, melainkan juga terserak, remuk dari dalam, terpecah belah dan saling mengkhianati serta memangsa antara satu dengan yang lain. Hartanya banyak yang dirampas, tenaga pelayan dan tokoh-tokohnya banyak yang dipenjara, bahkan warganya banyak yang dijadikan romusha meninggalkan isteri dan anak-anak di rumah yang miskin tanpa sandang dan tanpa pangan.

Apakah yang tersisa? Syukur masih ada secuil iman, namun sekecil apapun iman itu seperti sebiji sesawi yang hidup. Setelah kemerdekaan iman itu menggerakkan para pelayan dan warga dalam pertobatan masal dan membangun kembali GKJW mulai dari spiritualitasnya hingga berbagai bidang pelayanan dan kehidupannya.

Kawanan Kecil Hendaknya Jangan Takut
Dengan peringatan ini kita diajak tidak hanya untuk melihat masa lalu dan mensyukuri karya Tuhan di GKJW, melainkan juga melihat masa depan, untuk terus melangkah. Karena pembangunan tubuh Kristus sebagai tanda Kerajaan Allah itu memang harus dilakukan secara terus menerus.

Adalah Penulis Injil Lukas yang menyadari bahwa kedatangan Tuhan Yesus masih belum segera, sehingga Gereja sebagai kawanan domba Allah masih harus dipersiapkan, diajar, dibina, ditata, dan dikoordinir untuk melakukan tugasnya dalam persekutuan, kesaksian, dan pelayanan sehingga siap menyongsong kedatangan Tuhan Yesus kedua. Karena itu, dia melanjutkan dengan menulis Kitab Para Rasul yang sebenarnya merupakan Sejarah Gereja. Sejarah pertumbuhan Kerajaan Allah dari Yerusalem, Samaria, hingga ke ujung bumi.

Dalam bacaan kita, setelah Tuhan Yesus meninggalkan rumah orang Farisi untuk mengajar orang banyak. Ia kemudian mengarahkan pengajaran-Nya kepada murid-murid-Nya. Isi pengajaran-Nya: Pertama, hendaknya para murid-Nya yang seperti kawanan domba yang kecil itu, tidak takut, karena kepada mereka, Bapa di surga telah memberikan Kerajaan-Nya. Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah dengan nilai-nilai: kebenaran, keadilan, cinta kasih dan damai sejahtera. Kerajaan-Nya itu abadi, tidak dapat dicuri dan dirusak oleh ngengat dan gegatnya. Namun di dunia ini ia masih tersembunyi seperti mutiara terpendam dan biji sesawi yang sedang tumbuh (Mat. 13:44-45, 30-31) dan akan dinyatakan dengan sempurna pada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua. Oleh karena itu, Tuhan Yesus mengajarkan, “carilah Kerajaan Allah itu, yaitu kehendak Allah: kebenaran, kasih, dan damai sejahtera, maka segala kebutuhan hidupmu akan ditambahkan.”

Kedua, hendaknya para murid waspada, yaitu dengan pinggang berikat, artinya selalu siap sedia melakukan tugas dan panggilannya. Pelitanya selalu menyala, artinya semangat, spiritualitas yang mengalir dari iman terus hidup dan memancarkan terang. Sebagai hamba yang menanti tuannya, selalu berjaga dan bekerja, sehingga ketika tuannya datang, mereka sudah siap dan diajak makan bersama, dilayani oleh tuannya.

Di dalam pertumbuhannya hingga saat ini, betapa tidak habis-habisnya tantangan dan masalah yang menakutkan yang dialami oleh orang-orang Kristen dan Gereja Tuhan. Hanya iman yang mampu mengatasi ketakutan dengan kepasrahan kepada Sang Raja, Sang Pemilik Kerajaan. Imanlah yang memberi kekuatan, menggerakkan, dan mengarahkan kehidupan. Karena itu, dalam pembangunan gereja-Nya, kita harus selalu mencari Kerajaan Allah dan waspada.

Iman Abraham Sebagai Teladan
Hidup dalam iman yang terus menerus, mencari Kerajaan Allah, dan bersikap waspada (Ibr. 11:1-3, 8-16) menunjuk pada iman Abraham sebagai teladan. Iman sebagai dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti atau jaminan dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Abraham percaya kepada janji Allah itu dan Tuhan memperhitungkannya sebagai kebenaran. Artinya Tuhan menerima iman Abraham dan menganggap Abraham sebagai orang benar, bukan karena jasanya atau amalannya, melainkan karena imannya itu.

Percaya bukan hanya berarti percaya bahwa Tuhan itu ada dan mengetahui bahwa Tuhan itu satu. Jikalau demikian, iblispun tahu. Karena kepercayaan semacam itu hanyalah selevel iblis. Percaya berarti percaya bahwa Tuhan itu ada dan menyerahkan seluruh hidup kita hanya kepada-Nya serta hidup taat kepada Firman-Nya. Percaya berarti pergi dalam proses sepanjang hidup, meninggalkan yang lama atau manusia lama dan terus menerus diperbarui menjadi manusia baru di dalam Kristus. Iman dan harapan itu memberi arah, semangat dan kekuatan menuju masa depan, untuk mencari Tanah Air Sorgawi dan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri (Ay. 10, 16). Maka orang benar hidup dari imannya.

Bertitik tolak dari iman Abraham, maka pembangunan diri dan Gereja adalah bukan sekedar tugas tambahan, melainkan hakekat dari gereja itu sendiri. Artinya Gereja harus selalu terbuka untuk belajar, dikritik dan mengkritik, meninggalkan kesalahan, kekurangan, dan dosa yang dilakukan di masa lalunya serta terus menerus memperbarui dan memperbaiki diri menuju masa depan Kerajaan Allah. Sehingga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Tujuannya bukan sekedar supaya Gereja tidak ketinggalan zaman atau Gereja dapat menjawab tantangan zaman saja, melainkan supaya setiap orang beriman yang bersekutu dalam Gereja-Nya semakin menjadi berkat, selalu siap menyongsong kedatangan-Nya yang kedua, dan layak bersekutu bersama-Nya menikmati kebahagiaan karunia-Nya.

Penutup
Sebagaimana Abraham, kita adalah peziarah-peziarah di dunia ini. Berada di dunia, bukan dari dunia dan adanya di dunia supaya menjadi berkat. Iman menjadikan kita terus menerus membangun diri, membangun keluarga dan gereja-Nya, meninggalkan manusia lama, terus menerus diperbarui untuk menjadi lebih baik. Amin. [BRU].

 

Pujian: KJ. 416 : 1, 2 Tersembunyi Ujung Jalan


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Para sadherek kinasih ing ndalem asmanipun Gusti Yesus, puji sukur konjuk wonten ngarsanipun Gusti, dene ing dinten punika kita mengeti Dinten Pambangunan GKJW ingkang kita riyadinaken kanthi Bujana Suci. Ing kala panindhesing Jepang (Maret 1942 – Agustus 1945), minangka pepanthaning menda, GKJW mboten namung alit, ananging ugi semburat, remuk rempu, pinecah pecah miwah cidra-cinidra lan mangsa-minangsa ing antawisipun satunggal lan satunggalipun. Karana sebagean ngathok dhateng Jepang lan sebagean sanesipun nglawan. Kathah bandha ingkang karampas, para pelados tuwin pangajenging pasamuan ingkang kinunjara, malahan kathah warganipun ingkang kadadosaken romusha utawi kerja paksa nilaraken semah miwah anak anak ingkang kesrakat tanpa sandhang, tanpa pangan.

Lajeng punapa malih ingkang taksih kantun? Puji sokur sanajan alit, mendrip-mendrip, mobat-mabit katampek angin, taksih wonten iman kapitadosan. Kadosdene wiji Sawi ingkang alit nanging gesang, sasampunipun kamardikan, kapitadosan punika ngosikaken miwah mbereg para peladosing tuwin warganing pasamuan sami mratobat lan mbangun malih GKJW wiwit saking karohanenipun sumrambah dhumateng sarupining peladosan miwah pagesanganipun.

Pepanthan Alit Mendanipun Gusti Sampun Ngantos Ajrih
Kanthi pengetan punika kita mboten namung kaajak ningali dinten kepengker miwah nyukuri pakaryanipun Gusti ingkang kepengker kemawon, ananging ugi mandeng dinten ngajeng sarta nglajengaken lampah. Awit pambanguning sariranipun Gusti punika pancen kedah katindakaken terus.

Inggih Penginjil Lukas ingkang ngengeti bilih rawuhipun Gusti Yesus punika dereng enggal-enggal, mila pasamuanipun Gusti ingkang kadosdene pepanthaning menda ingkang sampun nampi Kratoning Allah punika kedah tansah kacawisaken, kawucal, kakiyataken, katata miwah kabina kangge nindakaken tugas timbalanipun ing saklebeting patunggilan, paseksi miwah peladosan matemah siap mapag rawuhipun Gusti Yesus ingkang kaping kalih. Mila Penginjil Lukas lajeng nglajengaken kanthi nyerat Lelampahanipun Para Rasul ingkang estunipun minangka sejarahing Pasamuan, Sejarah tuwuh ngrembakanipun Kratoning Allah, saking Yerusalem, Samaria, dumugeng poncoting Bumi.

Ing waosan kita kacariyosaken sasampunipun Gusti Yesus nilaraken griyanipun tiyang Parisi memucal tiyang kathah, Panjenenganipun lajeng mucali murid-muridIpun. Sepisan, supados para murid ingkang kadosdene pepanthan menda ingkang alit punika sampun ngantos ajrih. Karana Gusti Allah Sang Rama sampun maringaken Kratoning Allah dhumateng para murid. Kratoning Allah minangka paprentahanipun Allah adhedhasar kayekten, sih katresnan miwah tentrem rahayu ingkang asalipun saking Gusti Allah piyambak. Kraton ingkang langgeng ingkang mboten saged kacolong maling, karampas rampog tuwin karisak dening renget. Kraton ingkang ing ndonya punika taksih sinaput ing lelimenganing dosa miwah pejah kadya mutiyara ingkang kapendhem lan wiji sesawi ingkang saweg tuwuh ngrembaka (Mat. 13:44-45, 31-32), ingkang mangke kasampurnakaken ing rawuhipun Gusti Yesus ingkang kaping kalih. Mila, “padha upayanen Kratoning Allah, nuli kabeh iku mau bakal diwuwuhake marang kowe” (Luk. 12:31).

Kaping kalih, para murid supados tansah waspada. “Lambungmu sabukana!”, wosipun tansah samekta lan sumadya nindakaken tugas miwah timbalanipun Gusti. “Damarmu tetep muruba!”, artosipun semangat, karohanen ingkang mili saking iman tetepa gesang saha nyunaraken pepadhang. Kadosdene abdi ingkang ngantos-antos bendaranipun, inggih tansaha jumaga lan makarya. Saengga nalika bendaranipun rawuh inggih sampun samekta, lajeng kembul bujana tuwin kaladosan dening bendaranipun.

Ing tuwuh lan ngrembakanipun GKJW ngantos ing wekdal sakpunika, saestu mboten wonten telasipun tantangan miwah masalah ingkang nggegirisi ingkang dipun alami dening tiyang pitados saha pasamuanipun Gusti, kalebet GKJW. Inggih namung pitados bilih Kratoning Allah sampun kaparingaken lan saweg nedheng-nedhengipun tuwuh ngrembaka miwah pasrah dhumateng Sang Raja ingkang kagungan Kraton punika ingkang saged ngatasi raos ajrih kita. Malahan kapitadosan punika maringi kekiyatan matemah kita saged nyanggi sedaya momotaning gesang. Kapitadosan punika ngarahaken lampah kita kanthi leres. Mila ing saklebeting pambanguning pasamuanipun lan gesang kita piyambak-piyambak punika, kita kedah tansah ngupadosi Kratoning Allah miwah waspada.

Kapitadosanipun Rama Abraham Minangka Tuladha
Ibrani 11:1-3, 8-16 nedahaken kapitadosanipun Rama Abraham minangka tuladha kados pundi gesang pitados ingkang tansah ngupadi Kratoning Allah lan waspada punika. Pitados punika dhasaring sedaya ingkang kita ajeng-ajeng miwah bukti utawi jaminan tumrap sedaya ingkang mboten ketingal. Rama Abraham pitados dhumateng prasetyanipun Allah, mila Gusti Allah ngetang punika minangka kasampurnipun (PD. 15:6). Wosipun Gusti Allah nampi lan nganggep Abraham minangka tiyang leres utawi mursid, sanes saking amalipun, nanging saking kapitadosanipun.

Pitados mboten namung mangertos bilih Gusti punika wonten saha namung satunggal kemawon. Awit iblis ugi mangertos bilih Gusti Allah punika wonten lan satunggal. Kapitadosan ingkang mekaten punika tingkatipun namung sami kaliyan iblis. Nglangkungi sedaya punika, pitados punika mangertos bilih Gusti Maha Wonten lan Maha Tunggal sarta masrahaken sarandhuning gesang namung dhumateng Panjenenganipun. Pitados punika taat dhumateng pangandikaning Allah kanthi jumangkah, bidhal nilaraken ingkang lami utawi kamanungsan laminipun ing proses tanpa kendhat kaenggalaken tumuju kamanungsan enggal wonten ing Gusti Yesus. Pitados lan pangajeng-ajeng punika maringi arah, semangat saha kekiyatan tumuju dinten ngajeng, ngupadosi tanah wutah rah kaswargan miwah kitha ingkang tetales saha karancang sarta kayasa dening Gusti Allah piyambak (Ibr. 11:10,16). Karana punika tiyang leres punika gesang saking kapitadosanipun (Rum. 1:17). Gusti Allah makarya lumantar Sang Roh Suci ing samukawis sedaya kangge kasaenanipun tiyang pitados ingkang nresnani Panjenenganipun (Rum. 8:28).

Adhedhasar tuladha kapitadosanipun Rama Abraham, mila pambangunaning dhiri miwah Greja punika sanes namung tugas tambahan, nanging hakekating greja punika. Adhedhasar pancasan Kratoning Allah punika Greja minangka patunggilaning mendanipun Gusti kedah tansah mirengaken pangandikanipun Gusti, sinau, samekta dipun kritik punapa dene ngritik, nilaraken sedaya kekirangan, kalepatan miwah dosa ing dinten kepengker saha terus kaenggalaken, mbangun dhiri tumuju dinten ngajeng kasampurnaning Kratoning Allah. Matemah dinten sakpunika langkung sae katimbang dinten kepengker saha dinten mbenjing langkung sae katimbang dinten punika. Tujuanipun mboten namung supados Greja mboten kedaluwarsa utawi mboten kuwawa njawab tantanganipun zaman kemawon, ananging supados saben tiyang pitados miwah pasamuanipun Gusti sangsaya dados berkah tuwin tansah siap mapag rawuhipun Gusti sarta pantes tetunggilan kaliyan Gusti ing kamulyanipun.

Penutup
Kadosdene Rama Abraham, kita punika para peziarah ingkang tansah mbangun dhiri ing donya punika. Wonten ing donya, sanes saking donya, wontenipun supados dados berkah ing donya. Kapitadosan ndadosaken kita saged tansah mbangun dhiri, mbangun brayat saha pasamuanipun Gusti, nilaraken manungsa lami, ngrasuk manungsa enggal ingkang tansah kaenggalaken, kasampurnakaken ing rawuhipun Gusti. Amin. [BRU].

 

Pamuji: KPJ. 65 : 1, 2 Aku Tan Ngreti Mengkone

Renungan Harian

Renungan Harian Anak