Beriman pada yang Sejati Khotbah Minggu 6 Maret 2022

21 February 2022

Minggu Pra Paskah I
Stola Ungu

Bacaan 1: Ulangan 26 : 1 11
Bacaan 2: Roma 10 : 8b 13
Bacaan 3: Lukas 4 : 1 13

Tema Liturgis: Bertirakat sebagai Jalan Memperbarui Panggilan dan Iman
Tema Khotbah: Beriman pada yang Sejati

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Ulangan 26 : 1 11
Teks Ulangan ini berisi tentang peraturan ritual liturgis yang harus dilakukan oleh Bangsa Israel, terutama yang berkaitan dengan persembahan. Dalam pasal 26 ini ada dua jenis persembahan yang dibahas: persembahan hasil pertama (Ay. 1-11) dan persembahan persepuluhan (Ay. 12-15). Keterangan di ay. 1, “apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu,…” menunjukkan bahwa peraturan ini memiliki konteks waktu future (masa depan/ belum benar-benar terjadi). Jadi, penulis Ulangan mengandaikan bahwa saat kitab ini ditulis, Israel masih belum memasuki tanah Kanaan yang dijanjikan TUHAN.             

Penekanan yang ada dalam liturgi persembahan hasil pertama ini adalah pengakuan yang harus disampaikan dua kali. Deklarasi iman harus disampaikan pada Imam, saat seseorang membawa bakul persembahan pertamanya, bahwa TUHANlah yang memberikan tanah itu pada nenek moyangnya. Setelah menyatakan di hadapan Imam, ia masih harus menyatakan imannya sekali lagi di hadapan TUHAN sendiri dengan mengutip sejarah perjalanan Israel yang kemudian diakhiri dengan pernyataan bahwa persembahan pertama itu dapat diberikan pada TUHAN, karena tanah itu adalah pemberian dari TUHAN. Dalam liturgi ini, pengakuan bahwa TUHAN-lah yang memberikan tanah dan segala yang dihasilkannya diulang sebanyak enam kali! (Ay. 1, 2, 3, 9, 10, dan 11). Hal ini berarti menurut Ulangan, ritual dan liturgi yang dilakukan bertujuan untuk senantiasa mengingatkan Israel dari generasi ke generasi bahwa TUHANlah yang memberikan tanah dan menyediakan kehidupan bagi mereka.

Roma 10 : 8b 13
Jemaat Roma memang belum pernah dikunjungi Paulus, karena itu Paulus tidak mengenal Jemaat Roma secara pribadi. Oleh sebab itu, surat ini berisi paparan teologi yang sangat sistematis dan bersifat lebih umum jika dibanding dengan surat-surat Paulus lain yang biasanya merupakan respon dari permasalahan yang sangat spesifik. Dalam bagian ini, Paulus menyoroti ketaatan ritual agamis para kaum Yahudi yang hampir mutlak terhadap hukum, bahkan menempatkan hukum di atas segalanya. Orang yang sakit di hari Sabat memang boleh diberi pertolongan agar ia tidak semakin buruk, namun pertolongan yang membuatnya semakin baik dilarang. Ketaatan ini memang tidak mudah dilakukan, banyak narasi yang menceritakan bagaimana orang-orang Yahudi (terutama di masa-masa perang) bahkan sampai kehilangan nyawa hanya untuk tetap menaati Hukum Taurat. Namun menurut Paulus, orang-orang Yahudi ini salah fokus. Mereka bukannya berfokus pada kebenaran Allah, tapi justru pada kebenaran sendiri (Ay.3).

Lukas 4 : 1 13
Narasi tentang pencobaan ini adalah narasi terakhir sebelum Yesus memulai karya-Nya. Lukas menempatkan pencobaan ini segera setelah Yesus menerima baptisan yang disertai dengan kejadian alam luar biasa (Luk. 3:21-22) sebagai pernyataan Sang Bapa.

Pencobaan-pencobaan ini sebenarnya memiliki dampak individual dan komunal. Pencobaan untuk mengubah batu menjadi roti saat Dia kelaparan, adalah pencobaan untuk menyalahgunakan kuasa ilahi yang dimiliki Yesus. Pencobaan selanjutnya (Ay. 5-8) menunjukkan konsep mengenai Kerajaan Allah. Iblis menunjukkan kerajaan-kerajaan besar di dunia dan menawarkannya pada Yesus jika Ia bersedia menyembahnya. Pencobaan terakhir (Ay. 9-12) inilah yang menjadi penekanan narasi Lukas. Dengan membawa Yesus ke bubungan Bait Allah dan meminta-Nya menjatuhkan Diri dari sana, Iblis menawarkan jalan pintas (shorcut) bagi Yesus untuk mendapatkan pengakuan atas kemesiasanNya secara instan. Iblis menggoda Yesus untuk melewatkan penderitaan dan kematian.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Kita sering diperhadapkan dengan berbagai hal di dalam kehidupan kita sebagai manusia. Kita sering berfokus pada apa yang kita hadapi, bukan pada apa yang ada di balik itu semua. Melalui bagian-bagian Alkitab yang kita baca, kita diajak untuk terus belajar menemukan makna terdalam dari setiap peristiwa hidup yang kita alami.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Saat mendengar kata ‘setan’, sebagian besar orang akan berpikir tentang sosok yang menakutkan. Banyak tempat yang dianggap dihuni setan dihindari dan disingkiri. Namun ada juga yang membuat acara atau konten-konten semacam uji nyali yang bermaksud menampilkan setan sebagai sosok yang menakutkan dan suka mengganggu.

Isi
Dalam bacaan kita yang ketiga ditampilkan sosok setan yang menggoda. Tuhan Yesus yang berpuasa selama 40 hari digoda oleh setan. Ada 3 hal yang diajukan oleh setan untuk menggoda Tuhan Yesus:

  1. Masalah makanan (Ay. 3-4)
    Bayangkan Yesus yang lapar dan haus digoda dengan makanan. Tuhan Yesus menjawab dengan bijak untuk menghindari godaan setan.
  2. Masalah penyembahan (Ay. 5-8)
    Memberikan tawaran instan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia. Segala sesuatu akan diberikan oleh setan jika mau menyembahnya.
  3. Masalah kekuasaan (Ay. 9-12)
    Semua akan memuji-muji jika Tuhan Yesus bisa menampilkan kekuasaan-Nya saat itu juga.

Tiga hal yang ditawarkan setan dipergunakan oleh Tuhan Yesus untuk memberi pengajaran kepada kita, bahwa hidup kita tidak hanya sebatas pada hal-hal tersebut di atas. Ada yang jauh lebih besar dari hal-hal sesaat dan kasat mata itu, yaitu Tuhan sendiri. Hidup kita bergantung pada Tuhan, kebijaksanaan-Nya dan tuntunan-Nya.

Hidup kita merupakan bagian dari perjalanan hidup yang panjang. Hidup yang berasal, bergantung dan akan kembali kepada Allah. Orang yang sombong dan menggantungkan diri pada sesuatu yang instan, kekuasaan, dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan atau lebih tepatnya keinginan-keinginan pribadi yang sesaat saja dapat membuat orang “mati”.

Dalam ilustrasi kehidupan dikisahkan ada orang yang sombong dan selalu menampilkan diri dengan segala kekayaan dan kelebihannya. Saat banyak orang yang berkomentar: “Wah bapak hebat ya… Mobilnya banyak dan bagus-bagus...”, maka dengan segera si bapak merespon dengan dada yang terbusung dan kedua tangan yang dibuka lebar sambil berkata: “Iya dong… Aku kok...” Begitulah si bapak selalu merespon saat orang lain memuji-muji kehebatan dirinya. Dada yang dibusungkan, kedua tangan yang dibuka lebar sambil berujar: “Iya dong… Aku kok...” Saat dia sudah semakin tua dan suatu hari dia memanjat pohon, orang yang lewat-pun memuji dia: “Wah bapak hebat ya… Sudah tua tetapi masih bisa memanjat pohon...” Maka seperti apa yang biasa dia lakukan saat orang memuji-muji dirinya, si bapak dengan bangganya membusungkan dada, membuka kedua tangannya lebar-lebar dan berujar: “Iya dong… Aku kok...” Maka seketika itu juga dia jatuh karena pegangannya pada dahan pohon yang dipanjatnya terlepas dan dia pun mati. Demikianlah kesombongan, menggantungkan diri pada hal-hal duniawi, kepuasan-kepuasan atas puja-puji dapat mengakibatkan orang mati.

Penutup
Pesan Kristus melalui Injil kali ini mengajak dan mengingatkan kita agar kita tidak mati melainkan agar kita berusaha untuk tetap hidup dengan baik seturut apa yang dikehendaki Tuhan Allah Bapa di sorga. Godaan-godaan setan selalu ada di sekitar kita, bukan sebagai sosok yang mengerikan atau menakutkan, melainkan justru sebagai sosok yang yang menawarkan berbagai kemudahan, kenikmatan dunia, sosok yang menawari pemenuhan aneka kebutuhan atau lebih tepatnya keinginan-keinginan manusia. Kunci agar kita mampu menghadapinya adalah dengan selalu ingat bahwa ada Tuhan yang lebih berkuasa dari segala sesuatu. Ada Tuhan yang menjadi sumber kehidupan dan hikmat bagi kita. Jangan sampai kita salah fokus dengan melihat kehidupan dan mengandalkan kekuatan serta apa yang kita punya secara duniawi. Kita diajak melihat dan menyadari sesuatu yang lebih jauh melampaui hal-hal sesaat untuk mencapai sesuatu yang lebih berarti. Semoga kita bertobat, memalingkan diri dari hal-hal sesaat dan sementara, kepada rangkaian perjalanan peziarahan kita menuju Bapa. Amin. [abed].

 

Pujian: KJ. 372 : 1 3 Ikutkah Kau Ikut Tuhan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Nalika mirengaken tembung ‘setan’, kathah tiyang ingkang badhe langsung mikir sosok ingkang serem lan ndadosaken ajrih. Kathah papan panggenan ingkang dipun anggep wingit lan wonten setanipun dipun tebihi. Nanging ugi wonten ingkang ngawontenaken acara kados uji nyali kangge nampilaken setan minangka sosok ingkang ngajrih-ajrihi lan remen ngganggu.

Isi
Ing waosan kita ingkang kaping tiga, kita saged manggihaken sosok setan ingkang be
nten kaliyan ingkang dados gambaran umumipun tiyang. Sosok setan ing waosan kita, inggih sosok ingkang nggodha lan saged ndadosaken tiyang kepencut. Sasampunipun Gusti Yesus siyam (puasa) 40 dinten, Gusti Yesus dipun godha dening setan ing tigang prekawis:

  1. Bab tetedhan (Ay. 3-4)
  2. Bab penyembahan (Ay. 5-8)
  3. Bab kekuasaan (Ay. 9-12)

Ing tigang prekawis ingkang dipun tawaraken dening setan punika dipun agem dening Gusti kangge paring piwucal dhumateng para pendherekipun. Gusti Yesus paring piwucal bilih gesang kita punika mboten namung winates ing prekawis-prekawis kadonyan ingkang mboten langgeng kemawon. Wonten prekawis ingkang langkung ageng tinimbang prekawis-prekawis ingkang katingal dening mripat kamanungsan kita, inggih punika Gusti Allah piyambak. Gesang kita punika namung gumantung saking Gusti, kawicaksananipun Gusti saha tuntunanipun Gusti kemawon.

Gesang kita punika minangka perangan saking lampah gesang ingkang panjang. Gesang ingkang asalipun saking Gusti, gumantung dhumateng Gusti lan badhe wangsul malih dhumateng Gusti kemawon. Tiyang ingkang sombong dan ngandelaken prekawis-prekawis kadonyan, kuwaos, lan pepinginan-pepinginan kadonyan mesthi bakal sirna.

Wonten ilustrasi pigesangan, kacariyosaken wonten tiyang ingkang sombong lan tansah tampil ngetingalaken sedaya barang darbekipun dalah kabisanipun. Tamtu kemawon wonten tiyang sanes ingkang ngalembana kasugihan lan kabisanipun punika: “Wah… Bapak hebat nggih… mobilipun kathah lan sae-sae…” Kanthi bingah lan bangga, si bapak kalawau enggal ngrespon pangalembana saking tiyang sanes punika kanthi bangga, mbusungaken dhadha lan ndhaplangaken tanganipun lajeng ngucap: “Iyo lah... Lha wong aku…”. Inggih kados mekaten responipun si bapak saben-saben wonten tiyang ingkang paring pangalembana bab kasugihan lan kabisanipun. Nalika si bapak sampun saya sepuh, ing sawijining dinten si bapak menek wit ing ngajeng griyanipun. Nalika wonten tiyang ingkang liwat, tiyang punika paring pangalembana dhateng si bapak: “Wah… Bapak hebat nggih… Sampun sepuh taksih menek wit…” Kados ingkang sampun dados kebiasaanipun menawi wonten tiyang ingkang paring pangalembana, si bapak kanthi bangga, mbusungaken dhadha lan ndhaplangaken tanganipun lajeng ngucap: “Iyo lah.. Lha wong aku..” Tanpa sadhar, si bapak dhawah lajeng seda awit tangan ingkang kangge cepengan ing wit ucul.

Panutup
Piwucalipun Gusti lumantar waosan kita dinten punika ngengetaken dhateng kita supados kita mboten mati utawi sirna karana bab kadonyan, nanging tansah ngupadi kasaenaning gesang cundhuk kaliyan punapa ingkang dipun kersakaken dening Gusti. Godha rencana saking setan tansah wonten ing gesang kita. Setan ‘ngetingal’ sanes minangka sosok ingkang serem lan ndadosaken manungsa ajrih, nanging kosok wangsulipun, setan ‘ngetingal’ minangka panggodha ingkang saged ndadosaken manungsa kepincut dhateng rupi-rupi bab kadonyan, kenikmatan duniawi. Kunci supados kita saged tanggon aben ajeng kaliyan godha rencana setan inggih punika tansah enget dhumateng Gusti ingkang maha kuwaos lan dados sumbering gesang saha kawicaksanan kita. Sampun ngantos kita salah fokus dhateng pangertosan lan kakiyatan kamanungsan kita piyambak awit kita punika ringkih. Mugi kita tansah mratobat, nebihaken fokus kita saking prekawis-prekawis kadonyan ingkang namung sementara punika, tumuju fokus dhateng lampah gesang peziarahan tumuju Sang Rama ing Swarga. Amin. [abed].

 

Pamuji: KPJ. 426 : 1 3 Apa Sira Ngupaya Inten

Renungan Harian

Renungan Harian Anak