Minggu Biasa – Penutupan Bulan Penciptaan
Stola Hijau
Bacaan 1: Yeremia 1 : 4 – 10
Bacaan 2: 1 Korintus 13 : 1 – 13
Bacaan 3: Lukas 4 : 21 – 30
Tema Liturgis: Allah Memulihkan dan Memperbarui CiptaanNya
Tema Khotbah: Menjadi Rekan Kerja Allah dalam Keutuhan Ciptaan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yeremia 1 : 4 – 10
Yeremia dipanggil Allah menjadi nabi bagi Kerajaan Selatan (Kerajaan Yehuda). Ia melayani 40 tahun terakhir di Yehuda, termasuk hari-hari terakhir sebelum Yehuda – Yerusalem dihancurkan dan bangsa Israel dibawa ke Babel (627 – 586 SM). Yeremia melayani sepanjang pemerintahan Yosia, Yoahas, Yoyakim, dan Zedekia. Sepanjang masa itu, bangsa Israel memberontak kepada Allah dan mengandalkan persekutuan politik untuk memperoleh kebebasan dari musuh-musuhnya.
Di ayat 10, dijelaskan bahwa nubuat Yeremia adalah mengenai hukuman dan keselamatan sesudah hukuman itu. Dimana hukuman yang diberikan Allah kepada bangsa Israel bukanlah untuk memusnahkan atau membuat bangsa Israel menderita, melainkan supaya bangsa Israel bertobat. Tuhan Allah ingin menghancurkan dan menggulingkan perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan oleh bangsa Israel. Allah ingin menyelamatkan mereka kembali, supaya mereka jera dengan perbuatan yang telah mereka lakukan. Allah mengharapkan mereka dapat diatur oleh-Nya dan kembali tunduk pada peraturan-peraturan-Nya. Yang pada akhirnya mereka kembali pulih dan baru sebagai ciptaan–Nya.
לִבְנ֖וֹת = Kata kerja infinitif konstruk dari kata dasar bana yang artinya membangun. וְלִנְטֽוֹעַ = Kata kerja infinitif konstruk dari kata dasar nata yang artinya menanam. Firman itu, baik merusak maupun membangun, mencabut maupun menanam, tetap merupakan karya Allah demi memulihkan dan memperbarui ciptaan–Nya. Disinilah terletak kunci pengertian terhadap corak pesimistis dari nubuat-nubuat Yeremia. Nabi Yeremia mengerti bahwa malapetaka adalah akibat yang tak terelakkan dari ketidaksetiaan dan kekurang–percayaan bangsa Israel kepada Allah. Namun sekiranya terjadi yang paling buruk, Yeremia mengetahui bahwa penghukuman itu, hanyalah pendahuluan suatu hari yang mulia. Dengan demikian dalam nubuatan Yeremia terkandung pengharapan akan keselamatan dari Tuhan Allah.
Yeremia 1:4-10 ini, justru memberi penguatan kepada Yeremia untuk menjalankan tugas panggilannya bahwa dari semula Tuhan Allah telah menetapkan dirinya sebagai nabi. Yeremia mendapatkan kekuatan supaya ia tidak takut dan gentar, apalagi berputus asa dalam menjalankan tugas panggilannya. Sebelum Yeremia lahir Allah sudah menetapkan bahwa dia akan menjadi nabi.
1 Korintus 13 : 1 – 13
Korintus, sebuah kota kuno di Yunani, dalam banyak hal merupakan kota metropolitan Yunani yang terkemuka pada jaman Paulus. Seperti halnya banyak kota yang makmur pada masa kini, Korintus menjadi kota yang angkuh secara intelektual, kaya secara materi, dan bejat secara moral. Segala macam dosa merajalela di kota ini yang terkenal karena perbuatan cabul dan hawa nafsu. Jemaat di Korintus terdiri dari beberapa orang Yahudi, tetapi mayoritas orang bukan Yahudi yang dahulu menyembah berhala. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, berbagai macam masalah timbul dalam gereja yang masih muda itu, yang memerlukan wewenang dan pengajaran rasuli melalui surat-menyurat dan kunjungan pribadi.
Rasul Paulus dalam seluruh pasal 13 ini sedang membicarakan tentang kasih, yaitu: keunggulan kasih (Ay. 1-3), karakteristik kasih (Ay. 4-7), kekekalan kasih (Ay. 8), kesempurnaan kasih (Ay. 9-12), dan kebesaran kasih (Ay. 13) dibandingkan dengan karunia-karunia rohani yang ada pada jemaat Korintus. Pada saat surat ini ditulis, jemaat Korintus bersikap kanak-kanak rohani dengan membanggakan karunia-karunia Roh yang ada pada mereka, tetapi mengabaikan penerapan kasih.
Di Korintus saat itu, terjadi perpecahan, pertikaian, percabulan, penyembahan berhala, kesombongan, padahal mereka berlimpah dengan karunia rohani. Hal ini dikarenakan kurangnya penerapan kasih, bukan pada kurangnya karunia rohani. Dengan demikian, dalam perikop ini Rasul Paulus ingin menekankan pentingnya kesempurnaan kasih yang menyempurnakan orang percaya.
Lukas 4 : 21 – 30
Seakan tidak percaya dan tidak menerima akan keberadaan dan pengajaran Yesus yang saat itu sedang berada di tengah-tengah mereka. Di sini orang-orang Nazaret menunjukkan sifat statis dalam menilai Yesus. Mereka mengira Yesus adalah manusia biasa yang selama ini mereka kenal. Persoalan utama mereka adalah salah mengerti tentang diri Yesus. Penolakan itu menjadi benteng bagi mereka untuk tidak bersedia disadarkan bahwa mereka keliru/ salah dalam menilai Yesus. Keengganan untuk disadarkan meningkat menjadi tindakan anarkis, kasar, dan memberontak. Sifat-sifat seperti itu menjadi modal mereka untuk memanfaatkan setiap ketidaksepahaman mereka terhadap pernyataan Yesus. Sekalipun pernyataan Yesus itu adalah fakta yang ada dalam diri mereka.
Menurut William Barcley, orang-orang Nazaret itu menjadi marah dan berubah seketika, karena mendengar khotbah Yesus yang terkesan lebih menyanjung orang-orang asing daripada orang Yahudi yang adalah bangsa–Nya sendiri. Yesus memang menjelaskan bagaimana Elia dilayani oleh janda Sarfat-Sidon (kafir) saat terjadi kelaparan di Israel dan Eliza justru mentahirkan Naaman orang Siria (kafir) daripada mentahirkan begitu banyak orang sakit kusta di Israel. Bagi orang-orang Nazaret itu, hal-hal tersebut menjadi alasan yang tepat untuk menolak bahkan untuk menghabiskan Yesus (Ay. 28-29).
Disini Yesus ingin mengajarkan bahwa pemahaman yang keliru tentang diri–Nya bisa berdampak pada pengerasan hati terhadap pengajaran–Nya. Hati yang keras sulit menerima perubahan, pemulihan, dan pembaruan ciptaan–Nya, termasuk kita manusia ini.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Untuk mencapai pemulihan dan pembaruan ciptaan–Nya, Tuhan Allah membutuhkan rekan kerja seperti Nabi Yeremia, Rasul Paulus dan sikap manusia yang tidak mengeraskan hati terhadap pengajaran yang diberikan Tuhan Yesus.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Bekerja di sebuah perusahaan akan terasa menyenangkan jika memiliki atasan maupun rekan kerja yang baik. Punya satu visi yang sama, tidak saling menjilat, dapat berkompetisi secara sehat, dan saling mendukung. Namun bagaimana kalau kita justru harus satu tim atau bekerja dengan rekan yang menyebalkan? Apalagi bila kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, tentu saja bekerja seperti itu menjadi ‘neraka’ buat kita. Dalam dunia kerja, pasti kita akan menemukan rekan kerja yang punya sifat demikian. Coba saja untuk berpikir positif. Jangan anggap itu sebagai beban atau tekanan, karena akan berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental kita. Ambil sisi positifnya, bahwa bekerja dengan rekan yang menyebalkan tidak selalu membawa kerugian. Pasti ada keuntungan atau pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Itulah satu sisi yang terjadi dalam beradaptasi dengan rekan kerja dalam dunia pekerjaan kita. Lalu bagaimana dengan Tuhan Allah dalam memelihara, merawat, dan mengusahakan semua ciptaan–Nya di bumi ini? Apakah Tuhan bekerja sendirian karena kemahakuasaan–Nya itu?
Isi
Pandemi Covid-19 di awal tahun 2022 ini memang semakin mereda, namun apakah dengan semakin meredanya pandemi ini, keutuhan ciptaan Tuhan sudah benar-benar kembali seperti sebelum pandemi? Apakah Tuhan tidak membutuhkan rekan kerja dalam pemulihan dan pembaruan ciptaan–Nya pasca pandemi ini? Tuhan Allah Pencipta Langit dan Bumi adalah Maha Kuasa, tidak akan kehilangan sifat–Nya tersebut, saat memutuskan memberi tugas kepada manusia yang juga adalah ciptaan–Nya, untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden (Kej. 2:15). Artinya, dengan pemberian tugas tersebut, manusia dianggap sebagai rekan sekerja Allah dalam kemahakuasaan–Nya sebagai pencipta langit dan bumi serta isinya.
Untuk memulihkan dan memperbarui ciptaan–Nya dalam konteks Bangsa Israel khususnya pada jaman pemerintahan Raja Yosia, Yoahas, Yoyakim dan Zedekia, sebelum masa pembuangan ke Babel (627-586 SM), Tuhan Allah memilih dan menugasi seorang dari mereka yang bernama Yeremia, untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam (Yer. 1:10). Yeremia masih muda dan merasa tidak pandai berbicara (Ay. 6), sehingga merasa tidak pantas menerima tugas tersebut untuk menjadi rekan kerja Allah. Dengan kemahakuasaan–Nya, Tuhan Allah memperlengkapi Yeremia untuk pandai berbicara menyampaikan perkataan-perkataan Tuhan bagi Bangsa Israel (Ay. 9). Dengan nubuatan Yeremia yang disampaikan kepada Bangsa Israel, mereka yang mau kembali kepada Allah akan diselamatkan. Yeremia menjadi rekan kerja Allah mencapai tujuan memulihkan dan memperbarui ciptaan-Nya selama 40 tahun.
Untuk memulihkan dan memperbarui ciptaan–Nya dalam konteks jemaat mula-mula di Korintus, Tuhan Allah memilih dan menugasi Rasul Paulus sebagai rekan kerja–Nya. Korintus adalah sebuah kota kuno di Yunani, dalam banyak hal merupakan kota metropolitan Yunani yang terkemuka pada jaman Paulus. Seperti halnya banyak kota yang makmur pada masa kini, Korintus menjadi kota yang angkuh secara intelektual, kaya secara materi dan bejat secara moral. Segala macam dosa merajalela di kota ini yang terkenal karena perbuatan cabul dan hawa nafsu. Jemaat di Korintus terdiri dari beberapa orang Yahudi, tetapi mayoritas orang bukan Yahudi yang dahulu menyembah berhala. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, berbagai macam masalah timbul dalam gereja yang masih muda itu, yang memerlukan wewenang dan pengajaran rasuli melalui surat-menyurat dan kunjungan pribadi. Di jemaat Korintus saat itu, terjadi perpecahan, pertikaian, percabulan, penyembahan berhala, kesombongan, padahal mereka berlimpah dengan karunia rohani. Hal ini karena kurangnya penerapan kasih, bukan pada kurangnya karunia rohani. Dengan demikian, dalam 1 Korintus 13:1-13 ini, Rasul Paulus ingin menekankan pentingnya kesempurnaan kasih yang menyempurnakan orang percaya.
Untuk memulihkan dan memperbarui ciptaan–Nya dalam konteks kehadiran Tuhan Yesus di dunia ini, Tuhan Allah menghendaki orang-orang yang berada di sekitar Tuhan Yesus untuk memiliki sikap yang tidak mengeraskan hati terhadap pengajaran yang diberikan Tuhan Yesus. Namun hal ini tidak terjadi pada orang-orang Nazaret, dalam perikop Injil Lukas 4:21-30. Orang-orang Nazaret menunjukkan sifat statis dalam menilai Yesus. Mereka mengira Yesus adalah manusia biasa yang selama ini mereka kenal. Persoalan utama mereka adalah salah mengerti tentang diri Yesus. Sehingga saat Yesus memberikan pengajaran yang begitu mempesona mereka, mereka menolak pengajaran itu, karena melihat siapa Yesus yang mereka kenali selama ini. Penolakan itu menjadi benteng bagi mereka untuk tidak bersedia disadarkan bahwa mereka keliru/ salah dalam menilai Yesus. Mereka itu menjadi marah dan berubah seketika, karena mendengar khotbah Yesus yang terkesan lebih menyanjung orang-orang asing daripada orang Yahudi yang adalah bangsa–Nya sendiri. Yesus memang menjelaskan bagaimana Elia dilayani oleh janda Sarfat-Sidon (kafir) saat terjadi kelaparan di Israel dan Eliza justru mentahirkan Naaman orang Siria (kafir) daripada mentahirkan begitu banyak orang sakit kusta di Israel. Bagi orang-orang Nazaret itu, hal-hal tersebut menjadi alasan yang tepat bagi mereka untuk menolak bahkan untuk menghabiskan Yesus (Ay. 28-29).
Di sini Yesus ingin mengajarkan bahwa pemahaman yang keliru tentang diri–Nya bisa berdampak pada pengerasan hati terhadap pengajaran–Nya. Hati yang keras sulit menerima perubahan, pemulihan, dan pembaruan ciptaan–Nya, termasuk kita yang hidup di jaman kini.
Penutup
Kita yakin pandemi Covid-19 ini akan segera berakhir jika kita bersedia menjadi rekan kerja-Nya dalam menjaga keutuhan ciptaan-Nya. Menjadi rekan kerja Allah dalam keutuhan ciptaan-Nya pada konteks sekarang ini adalah bersedia selalu mendengar dan melakukan segala yang diajarkan dan diperintahkan Tuhan Yesus kepada kita (Matius 28:20). Dengan kesediaan diri menerima vaksin C-19 dan menaati protokol kesehatan, sehingga kita semua dapat mencapai keadaan Herd Immunity1 , kita telah menjadi rekan kerja Allah dalam keutuhan ciptaan pada konteks sekarang ini. Semoga kita tetap diberikan kekuatan dan kesehatan dalam menjalani kehidupan bersama dengan semua ciptaan-Nya. Amin. [tes].
Pujian:
- KJ. 246 : 1, 2 Ya Allah yang Maha Tinggi
- KJ. 260 : 1, 2 Dalam Dunia Penuh Kerusuhan
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Nyambut damel wonten ing satunggaling perusahaan, badhe kita raosaken nengsemaken bilih kita nggadahi pimpinan utawi rencang damel ingkang sae. Inggih nggadahi gambaran ngajeng ingkang sami, boten remen ngepek ati wonten pamrih, saged saingan kanthi sehat, lan sami nyengkuyung ing bot repot setunggal lan sanesipun. Nanging kadospundi menawi kita malah satunggal kelompok utawi nyambut damel kaliyan rencang damel ingkang nglarani manah? Punapa malih bilih kawontenan punika kalampahan ing wekdal ingkang dangu, tamtu punika dadosaken padamelan kita kados dene wonten ing “neraka”. Wonten ing papan pedamelan, tamtu kita badhe manggihi rencang damel ingkang gadah sifat kados mekaten. Ing kawonten ingkang mekaten punika, cobi kita gadahi pemanggih ingkang sae. Boten nganggap bab punika dados sanggan utawi tekanan, amargi pemanggih ingkang negatif punika saged dadosaken gangguan jiwa lan raga kita. Kita mendhet ingkang sae kemawon, bilih nyambut damel kaliyan rencang damel ingkang jengkelaken dereng tamtu dadosaken kita rugi. Mesti wonten untungipun utawi piwucal ingkang mulya ingkang saged kita pendhet. Punika satunggaling wujud nyata rikala kita ngresepi rencang damel ing papan pedamelan kita. Lajeng kadospundi kaliyan Gusti Allah ing salebeting ngrimati, ngolah, lan ngreksa sedaya titahipun ing bumi punika? Punapa Gusti Allah makarya piyambakan awit saking panguwaosipun ingkang ageng punika?
Isi
Pagebluk Covid-19 ing wiwitan warsa 2022 punika panci sansaya suda, nanging punapa kawontenan punika sampun dadosaken kawetahan titahipun Gusti wangsul malih kadosdene sakderengipun pagebluk punika wonten? Punapa Gusti Allah boten betahaken rencang damel ing salebeting pakaryan ngripta enggal titahipun sesampunipun wekdal pagebluk punika? Gusti Allah ingkang nitahaken langit lan bumi punika Maha Kuwaos, boten badhe kicalan sifatipun punika, rikala paring perintah dhumateng manungsa ingkang ugi kalebet titahipun, kangge ngolah lan ngreksa taman Eden (Purwaning Dumadi 2:15). Tegesipun, kanthi maringi perintah punika, manungsa kaanggap minangka rencang damelipun Gusti Allah ing salebeting sifat Maha Kuwaosipun minangka ingkang nitahaken langit kaliyan bumi.
Kangge pakaryan ngripta enggal titahipun ing wekdal Bangsa Israel dipun perintah Prabu Yosia, Prabu Yoahas, Prabu Yoyakim lan Prabu Zedekia, sakderengipun dipun bucal ing Babel (627-586 SM), Gusti Allah miji lan paring ayahan dhumateng priyatun ingkang kaparingan asma Yeremia, kangge mbedholi lan mbubrahi, ngrusak lan nggempur, sarta mbangun lan nandur (Yeremia 1:10). Nabi Yeremia taksih enem lan rumaos boten pinter wicantenan (Ay. 6), matemah ngrumaosi boten pantes nampi ayahan punika kangge dados rencang damelipun Gusti Allah. Kanthi panguwaosipun ingkang ageng, Gusti Allah njangkepi Nabi Yeremia dados pinter wicantenan medharaken Sabda Pangandikanipun Gusti Allah kangge bangsa Israel (Ay. 9). Miyos pamedhar bab ingkang badhe dumadi dening Nabi Yeremia, Bangsa Israel ingkang purun mratobat badhe pinaringan karahayon. Nabi Yeremia dados rencang damelipun Gusti Allah nggayuh angen-angen pakaryan ngripta enggal titahipun ngantos 40 taun.
Kangge pakaryan ngripta enggal titahipun ing wekdal pasamuwan wiwitan ing kitha Korintha, Gusti Allah miji lan paring ayahan dhumateng Rasul Paulus minangka rencang damelipun. Korintha, satunggaling kitha ageng ingkang majeng ing Yunani, wekdal Rasul Paulus. Kados dene kitha-kitha ageng wekdal samangke, Korintha dados kitha ingkang angkuh ing pamikir, sugih bandha lan bejat akhlakipun. Sedaya tumindak dosa sumrambah ing saindenging kitha ingkang kasuwur tumindak dursila lan hawa nepsu. Pasamuwan Korintha kadadosaken saking sakathahing tiyang Yahudi, nanging ingkang paling kathah sanes tiyang Yahudi ingkang rumiyin nyembah brahala. Sesampunipun Rasul Paulus mengkeraken kitha Korintha, mijil sakathahing prekawis ing salebeting patunggilan tiyang pitados ingkang kalebet taksih timur punika. Matemah betahaken panguwaos lan piwucal rasuli miyos seratan lan patuwen pribadi. Ing salebeting pasamuwan Korintha wekdal semanten, tuwuh cecongkrahan, kadursilan, nyembah brahala, lan adigang, adigung, adiguna, senadyan pasamuwan punika kathah peparingan rohani. Punika amargi pangejawantahing katresnan ingkang kirang, sanes amargi kirang peparingan rohani. Kanthi mekaten, ing 1 Korintha 13:1-13 punika, Rasul Paulus maringi kawigatosan tumrap kautaman katresnan ingkang saged nyampurnakaken tiyang pitados.
Kangge pakaryan ngripta enggal titahipun ing wekdal rawuhipun Gusti Yesus ing donya mriki, Gusti Allah ngersakaken tetiyang ing antawisipun Gusti Yesus nggadahi sikap ingkang boten wangkot tumrap piwucal ingkang dipun paringaken Gusti Yesus. Ewasemanten, bab punika boten dados kasunyatan ing satengahing tiyang-tiyang Nazaret wonten perikop Injil Lukas 4:21-30. Tiyang-tiyang Nazaret gadahi pamanggih bilih Yesus punika manungsa biasa kadosdene priyantun ingkang sampun dipun tepangi. Prekawis utaminipun inggih punika klintu mangertosi sinten sejatinipun Yesus punika. Matemah rikala Yesus maringi piwucal ingkang luhur, tiyang-tiyang Nazaret punika boten saged nampi piwucalipun awit mandheng sinten Yesus kadosdene priyantun ingkang sampun dipun tepangi. Prekawis boten purun nampi piwucalipun punika dados beteng kangge tiyang-tiyang Nazaret wau wangkot bilih piyambakipun klintu/ lepat ing bab mandheng Yesus punika. Tetiyang punika dados muntab dukanipun lan owah sakala amargi mireng khotbah-ipun Yesus ingkang ketingal ngunggulaken bangsa sanes tinimbang bangsa Yahudi, bangsanipun piyambak. Gusti Yesus estu mratelakaken kadospundi Elia dipun ladosi dening randa Sarfat-Sidon (kafir) kala mangsa gering ing Israel lan Eliza malah nyarasaken Naaman tiyang Siria (kafir) tinimbang nyarasaken semanten kathahipun tiyang sakit lepra ing Israel. Kangge tetiyang punika, bab-bab kala wau dados alasan ingkang maton kangge wangkot lan mejahi Gusti Yesus (Ay. 28-29).
Ing mriki, Gusti Yesus paring piwucal bilih pamanggih ingkang klintu bab sinten piyambakipun, saged dadosaken wakoting manah tumrap piwucalipun. Manah ingkang wangkot ewet nampi pakaryan pangripta enggal titahipun, kalebet kita ing gesang samangke.
Panutup
Kita yakin pagebluk Covid-19 punika enggal purna bilih kita sumadya dados rencang damelipun Gusti ing pakaryan pangripta enggal lan wetahipun sedaya titahipun Gusti. Dados rencang damelipun Gusti Allah ing sawetahipun sedaya titah wekdal samangke, inggih punika tansah sumadya nggatosaken lan nglampahi sedaya piwucal lan perintahipun Gusti Yesus dhumateng kita sami (Matius 28:20). Kanthi tansah samekta nampi program vaksin C-19 lan wanuh protokol kesehatan matemah kita sedaya saged nggayuh kawontenan Herd Immunity2, kita sampun dados rencang damelipun Allah ing salebeting wetahipun titah ing wekdal samangke. Mugi-mugi kita tansah pinaringan kekiyatan lan seger bagas kewarasan ing lelampahing gesang sesarengan kaliyan sedaya titahipun. Amin. [tes].
PAMUJI:
- KPJ. 439 : 1, 2 Ing Jagad Kang Peteng
- KPJ. 26 : 1 – 3 Pinuji Gusti
1 Herd immunity adalah ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular tertentu sehingga memberikan perlindungan tidak langsung atau kekebalan kelompok bagi mereka yang tidak kebal terhadap penyakit menular tersebut.
Misalnya, jika 80% populasi kebal terhadap suatu virus, empat dari setiap lima orang yang bertemu seseorang dengan penyakit tersebut tidak akan sakit dan tidak akan menyebarkan virus tersebut lebih jauh. Dengan cara ini, penyebaran penyakit tersebut dapat dikendalikan. Bergantung pada seberapa menular suatu infeksi, biasanya 70% hingga 90% populasi membutuhkan kekebalan untuk mencapai kekebalan kelompok.
2 Herd immunity punika rikala meh sedaya tiyang ing donya lan ing Indonesia kebal saking penyakit kang dados pagebluk, matemah saged maringi plindungan boten langsung utawi kekebalan kelompok kangge sedaya tiyang kang boten kebal saking penyakit kang dados pagebluk kala wau.
Tuladhanipun, bilih 80% saking sedaya tiyang ing donya utawi Indonesia kebal saking sawijining virus, sekawan saking gangsal tiyang kang pinanggihan tiyang kang sakit awit saking virus kalawau, boten badhe sakit lan boten badhe dados pagebluk. Kanthi cara mekaten, penyakit kala wau saged dipunwatesi panyebaranipun. Senadyan sedaya punika ugi gumantung kekiyatan virus-ipun, limrahipun dibetahaken 70% ngantos 90% kathahipun tiyang wonten ing wilayah kangge nggayuh kekebalan kelompok punika.