Pemahaman Alkitab Oktober 2021

30 August 2021

Pemahaman Alkitab (PA) Oktober 2021 (I)
Bulan Ekumene

Bacaan: 1 Samuel 12 : 1 – 25
Tema Liturgis: Hidup Bersama dalam Kepedulian
Tema PA: Hidup yang Berintegritas

Pengantar PA:
Binatang gajah dikenal sebagai jenis satwa yang hidup berkelompok dengan membangun komunitas berdasarkan gendernya. Ada kawanan gajah-gajah betina dengan anak-anak yang berada dalam pengasuhan dan ada pula kawanan yang hanya berisikan gajah jantan. Sekali waktu kawanan-kawanan ini akan saling bertemu untuk melakukan perjalanan migrasi mencari air dan makanan secara bersama dan juga melakukan proses reproduksi. Ketika kawanan gajah ini bertemu maka mereka akan membentuk suatu hierarki kepemimpinan di bawah seekor gajah jantan yang diistilahkan sebagai ‘’The Alpha Male’’ (sang pejantan utama). Melalui kepemimpinan gajah Alpha Male inilah perjalanan kawanan gajah dapat aman hingga tujuan. Sang Alpha Male inilah yang akan maju terlebih dahulu ketika ada serangan binatang buas, memberi aba-aba adanya bahaya atau amannya situasi, dsb.

Namun ada kalanya ketika Sang Alpha Male ini mulai beranjak tua dan mulai kehilangan kekuatan, kecepatan dan mulai terdesak dengan gajah jantan lain yang lebih muda. Sang Alpha Male ini akan mulai ditinggalkan oleh kawanan gajah yang lain. Dominasinya atas kawanan gajah menjadi berkurang bahkan bisa terkikis habis dan akhirnya tergantikan dengan Alpha Male yang baru. Bila hal ini terjadi, biasanya sang mantan Alpha Male ini akan menyendiri keluar dari kawanan. Sikap ini akan dapat membahayakan dirinya sebab menjadi rentan terhadap serangan binatang buas yang mengincar dagingnya ataupun pemburu yang mengincar gadingnya. Hal semacam ini diistilahkan dengan sindrom gajah tua.

Gambaran tentang binatang gajah ini menjadi suatu pengantar bagi kita saat melakukan Pemahaman Alkitab kali ini. Dinamika naik dan turunnya kehidupan seperti yang dirasakan oleh Gajah Alpha Male ini sejatinya juga terjadi dalam diri manusia. Jika ditinjau dari ilmu psikologi perkembangan psikososial oleh Erik Erikson yang membagi tahapan perkembangan jiwa seseorang mulai dari usia bayi hingga lanjut usia. Terkhusus pada tahapan lanjut usia (sebagaimana yang dialami oleh Sang mantan Alpha Male) terdapat pertentangan nilai yaitu antara integritas dan keputus-asaan. Maksudnya di sini adalah jika dalam usia lanjut berhasil mengatasi krisis yang terjadi maka akan didapatkan suatu jati diri yang berintegritas tinggi, namun jika tidak berhasil mengatasi yang terjadi adalah keputus-asaan hidup karena merasa sudah tidak berguna lagi.

Tema integritas inilah akan kita perhadapkan dengan sebuah teks Alkitab yang terambil dari 1 Samuel 12:1-25 bertajuk Samuel tua yang minta diri dari hadapan bangsa Israel dikarenakan adanya peralihan sistem kepemimpinan dari era hakim-hakim yang beralih kepada era para raja.

Penjelasan Teks:

  • Secara umum, kitab 1 Samuel berpusat pada 3 (tiga) tokoh utama yaitu : Samuel, Saul dan Daud. Samuel yang tercatat sebagai Nabi sekaligus hakim terakhir dari bangsa Israel memiliki tugas untuk mempersiapkan (mengurapi) dua raja Israel yaitu Saul dan Daud. Kisah ini sendiri bersetting sekitar tahun 1100 – 1000 SM.
  • Kitab 1 Samuel memiliki struktur atau kerangka kisah sebagai berikut : kisah Samuel dan keluarga Imam Eli (Ps. 1-3), kisah tabut perjanjian (Ps. 4-7), kisah seputar Saul sebagai Raja pertama Israel (Ps. 8-15) dan kisah antara Saul dan Daud (Ps. 16-31). Oleh karena itu bacaan kita kali ini berada pada kisah Saul.
  • Teks 1 Samuel 12: 1-25 dapat dibagi-bagi menjadi beberapa subtema sebagai berikut :
  • Ayat 1-5 : bagian ketika Samuel tua yang akan undur diri dari kepemimpinan Israel itu meminta suatu penilaian atas semua yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya. Perbuatan ini adalah suatu hal yang diluar kewajaran sebab mengandung resiko besar ketika ditemukan sejumlah pelanggaran maka ini akan menodai track record Samuel. Secara pribadi Samuel didapati bersih, namun jika pemeriksaan ini dikenakan pada anak-anak Samuel maka akan diperoleh hasil yang berbeda. Bagian ini dimunculkan dengan tujuan hendak membuat suatu perbandingan antara kepemimpinan nabi dengan kepemimpinan raja.
  • Ayat 6-12 : bagian ini adalah suatu ungkapan kejengkelan Samuel yang sekalipun didapati bersih dari suap namun masih tidak dipercaya sebagai pemimpin Israel. Samuel mempertentangkan antara kesetiaan Allah terhadap umatNya dibandingkan dengan ketidaksetiaan Israel sejak era pembebasan Mesir hingga era hakim-hakim. Namun karena melihat trend kepemimpinan bangsa-bangsa sekitar Israel yang menganut sistem kerajaan, maka Israel tergoda untuk menerapkannya juga guna menggantikan pola teokrasi yang selama ini berlaku.
  • Ayat 13-18 : kembali Samuel menunjukkan pada bangsa Israel kesalahan fatal mereka karena meminta raja. Seolah-olah menjadi sebuah kecukupan dengan menempatkan Tuhan Allah hanya pada ruang privat yaitu dalam ketaatan beribadah, sedangkan ruang publik diatur dalam kendali raja. Samuel hendak menunjukkan bahwa Tuhan Allah adalah Tuhan yang menyejarah, tidak terbatas ruang dan waktu dan kekuasaanNya tak terkira. Hal ini dibuktikan dengan guntur dan hujan yang datang diluar musimnya.
  • Ayat 19-25 : doa dan wejangan akhir dari Samuel kepada bangsa Israel. Di sini Samuel menegaskan pentingnya posisi lembaga kenabian dalam pusaran kerajaan Israel yaitu sebagai penyambung lidah Allah dan rakyat. Ketaatan mutlak hanya kepada Allah Israel saja dengan menyingkirkan segala berhala menjadi wejangan dasar nabi-nabi yang ada sebagai penegasan identitas iman monotheisme khas Israel.

BAHAN DISKUSI:

  1.  Siapa dan bagaimanakah Samuel? Itulah pertanyaan pertama sekaligus pemantik diskusi kali ini. Guna mendapatkan pemahaman yang utuh tentang sosok Samuel, adalah baik bila peserta PA diajak untuk mereview kisah-kisah Samuel semenjak kecil hingga masa tuanya. Peserta diajak untuk menginventarisir sikap-sikap, pernyataan-pernyataan dan tindakan-tindakan Samuel yang mencerminkan ke-integritas-an dirinya dihadapan Tuhan Allah dan sesamanya.
  2. Apakah integritas itu? Peserta PA diajak untuk mengekplorasi makna dari integritas, bukan sekedar pengertian literatur namun berwujud sebagai sebuah istilah yang otentik keluar dari pemahaman dan pengalaman dirinya sendiri. Peserta dapat diajak untuk memperkaya diskusi PA ini dengan sharing pengalaman pribadi terkait dengan topik integritas ini.
  3. Bagaimana mewujudkan sikap integritas dalam kehidupan sehari-hari? Peserta PA diajak untuk melihat situasi yang ada sekarang ini bahwa ada kalanya yang terjadi adalah sikap keputus-asaan sebagai ganti integritas. Betapa masih maraknya sindrom gajah tua yang mewarnai pola-pola kepemimpinan ditambah dengan desakan dari arus bawah untuk segera mengganti kepemimpinan tanpa mempertimbangkan kesiapan regene rasi. Dalam diskusi ketiga ini peserta diajak untuk menemukan solusi/jalan tengah atas permasalahan regenerasi kepemimpinan dengan diterangi oleh firman Tuhan. (ads).

Selamat ber-PA. Tuhan memberkati.


Pemahaman Alkitab (PA) Oktober 2021 (II)
Bulan Ekumene

 

Bacaan: Ibrani 6 : 1 – 12
Tema Liturgis:
Hidup Bersama dalam Kepedulian
Tema PA: Kedewasaan Iman

Pengantar PA:
Salah satu buah modernisasi adalah pengagungan terhadap daya nalar logika manusia. Berawal semenjak abad pencerahan berlanjut pada era revolusi industri bahkan hingga sekarang ini, semangat modernisasi senantiasa mewarnai kehidupan manusia. Pada satu sisi modernisasi ini membawa dampak positif karena memberi ruang kepada umat manusia untuk mengekspresikan pontensinya semaksimal mungkin. Namun pada sisi yang lain, akan ada hal-hal yang terpaksa disisihkan karena dianggap tidak up to date atau ketinggalan jaman. Ditengarai salah satu pihak yang tersisih itu adalah perihal iman kepercayaan!

Anggapan jadul dan ketinggalan jaman itu direspon bermacam-macam oleh para penganut kepercayaan. Ada yang kecewa kemudian meninggalkan keyakinan serta memilih menjadi tidak percaya. Ada pula yang berekspresi menjadi fundamentalis dan konservatif karena bertekad mempertahankan nilai-nilai yang diyakini tersebut. Selain itu ada yang berupaya setia menghidupi keyakinannya sambil mengupayakan kontekstualisasinya dengan jaman sekarang. Dan tak jarang juga yang gamang sehingga hanya memahami keyakinan itu hanya serangkaian ritual tanpa penghayatan batin serta praksis lapangan yang mendalam. (bandingkan hal ini dengan tema PA bulan Oktober 2021 yang pertama, dimana umat Israel yang meminta raja menjadi tergoda untuk menepikan Tuhan Allah hanya di ranah privat saja dan kemudian mengambil alih ranah publik dalam sistem politik kerajaan mereka)

Gejala semacam ini pun kini mulai marak dijumpai pada generasi muda. Mereka akan merasa keren jika menyebut dirinya dengan istilah-istilah seperti : agnostik, believers but not followers (percaya namun bukan pengikut), dsb. Pemahaman yang mereka kembangkan ini sebagai buah modernisme dan bahkan post-modernisme. Sehingga pertanyaan utamanya adalah bagaimana iman Kristen merespon tantangan modernisme ini guna mewujudkan kedewasaan berimannya. Bahasan inilah yang menjadi tema pokok PA kita kali ini, tentang kedewasaan iman. Bersama sebuah teks terpilih dari Ibrani 6: 1-12 peserta PA diajak untuk bagaimana menghidupi dan memaknai iman yang dewasa di masa sekarang ini.

Penjelasan Teks:

  • Surat Ibrani sejatinya lebih cenderung kepada sebuah khotbah tertulis yang komprehensif dan kaya akan tema-tema teologis dari Perjanjian Lama yang dibawa kepada komunitas Gereja perdana. Diperkirakan ditulis sekitar tahun 70 M dan sudah beredar luas serta diacu dalam pengajaran-pengajaran gereja sekitar tahun 90 100 M.
  • Surat Ibrani secara garis besar terbagi dalam 3 (tiga) tema besar yaitu : Pertama, firman Allah yang disampaikan melalui PutraNya adalah lebih utama daripada firman yang disampaikan melalui Musa dan para malaikat (Ps. 1-4). Kedua, Yesus adalah Imam besar yang kurbanNya menghapus dosa, memberi keselamatan dan pengharapan (Ps. 4-10). Ketiga, iman dan pengharapan yang digunakan untuk memandang kenyataan akan karya pengorbanan Yesus.
  • Teks Ibrani 6:1-12 berada pada tema besar Yesus Sang Imam Besar, dengan secara spesifik mengangkat tema dorongan untuk terus berpengharapan. Penguraiannya adalah sbb :
    • Ayat 1-3 : penulis surat Ibrani hendak menekankan betapa pentingnya pendidikan iman bagi orang dewasa. Bahwa yang disebutkan sebagai asas-asas dasar pengajaran iman Kristen tetaplah perlu diperhatikan, namun orang percaya tidak boleh hanya stagnan di hal-hal yang demikian. Dengan demikian diharapkan iman akan terus menjadi baru dan kontekstual karena diperhadapkan dengan kenyataan sehari-hari dan tidak hanya berkutat pada praktik ritual ataupun tema-tema pengajaran yang itu-itu saja.
    • Ayat 4-8 : bagian ini berbicara tentang betapa bahayanya ketika seseorang menolak untuk menjadi dewasa iman yaitu dengan resiko kehilangan pengharapan dan bahkan berpaling meninggalkan Allah. Digambarkan seperti turut serta dan bertanggung jawab atas kematian Yesus. Dibutuhkan suatu perubahan radikal berupa pertobatan dan penyesalan guna memperoleh pengampunan sejati.
    • Ayat 9-12 : berisikan suatu ajakan dan dorongan agar pembaca surat terus mengupayakan keselamatan yang terwujud dalam tindakan pelayanan kasih sebagai wujud itikad pengharapan mereka. Dibutuhkan suatu kerelaan dan juga inisiatif agar pengharapan itu dapat terwujud.

Bahan Diskusi:

  1. Apakah definisi iman dan pengharapan? Berpijak pada teks-teks surat Ibrani yang ada peserta PA diajak untuk mendefinisikan kembali makna dari iman dan pengharapan. Perlu diperhatikan bahwa respon yang dikehendaki bukanlah sekedar jawaban-jawaban retoris berdasarkan rumusan-rumusan ayat, namun peserta diharapkan mampu merespon menurut pengalaman mereka masing-masing.
  2. Apakah ukuran atau pencapaian dari kedewasaan? Peserta PA diajak untuk mengartikan makna dari kedewasaan dalam berbagai tataran bidang (fisikal, mental, sosial dan spiritual) guna mendapatkan gambaran kedewasaan yang utuh dan diikaitkan pula dengan tema bahasan yaitu kedewasaan iman.
  3. Bagaimanakah seharusnya orang beriman bersikap dalam era modernisasi? Diperhadapkan dengan kenyataan dunia yang semakin maju dan modern ini, bagaimanakah orang percaya membawa nilai-nilai iman kepercayaan mereka untuk dapat dikontekstualisasikan dengan kenyataan masa kini? Bagaimana iman percaya tidak tergerus namun justru mampu untuk menerangi dan memberi rasa pada dunia? Meminjam istilah dari dunia bisnis, bagaimana ‘’menjual/mempromosikan Yesus Kristus’’ kepada dunia masa kini dengan disertai keyakinan sebagaimana klaim surat Ibrani bahwa Yesus adalah lebih baik dari siapapun? (ads).

 Selamat ber-PA. Tuhan memberkati.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak