Pemahaman Alkitab September 2021

10 August 2021

Pemahaman Alkitab (PA) September (I)
Bulan Kitab Suci.

Bacaan: Yeremia 1 : 4 – 10
Tema Liturgis: Firman Tuhan Penuntun Kehidupan
Tema PA: Firman Tuhan Meneguhkan UtusanNya

Pengantar PA:
Setiap orang yang diutus untuk melakukan sebuah tugas tertentu akan memberikan respon yang beragam. Ada yang merespon dengan senang, ada yang ragu-ragu, ada yang masih harus bernegosiasi, dan ada juga yang terang-terangan menolak. Masing-masing respon ini sangat bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kesesuaian dengan keinginan. Jika tugas perutusan itu dirasakan sesuai dengan yang diinginkan maka akan diterima dengan sukacita. Begitu juga sebaliknya, jika tugas itu dirasa tidak sesuai dengan yang diinginkan seringkali yang terjadi adalah bernegosiasi terlebih dahulu atau bahkan langsung ditolak.

Dalam Yeremia 1:4-10 telah kita baca bahwa Yeremia dipanggil dan diutus oleh TUHAN untuk melakukan suatu tugas tertentu. Respon awal yang diberikan oleh Yeremia adalah mengelak dengan alasan karena ia masih muda. Mengapa Yeremia berani mengelak dari panggilan Allah? Apakah tugas dari TUHAN itu tidak sesuai dengan keinginan hati Yeremia? Kira-kira apa yang akan terjadi kepada Yeremia ketika ia berani mengelak dari panggilan itu? Agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, ada baiknya untuk kita mengetahui siapa itu Yeremia dan juga mengenal konteks yang terjadi saat itu.

Penjelasan Teks:
Yeremia berasal dari keturunan Abyatar, seorang imam Lewi dan salah seorang imam kepala pada zaman Raja Daud. Dia mendapat panggilan dan utusan dari TUHAN sejak ia muda, sekitar usia 20 tahun. Yeremia dipilih oleh Allah untuk menjalankan tugas istimewa yaitu menubuatkan malapeta dan pengharapan yang akan diterima oleh Yehuda. Yeremia berkarya bagi bangsa Israel sejak masa pemerintahan Yosia hingga Zedekia yaitu sekitar tahun 627 – 587 SM. Lalu mengapa TUHAN memerintahkan Yeremia untuk menyampaikan berita penghukuman bagi bangsa Israel? Apa saja bentuk hukuman yang harus diterima oleh Israel?

Berita malapetaka dari Allah bagi bangsa Israel datang bukan tanpa sebab. Sejatinya ketika Yehuda berada di bawah pemerintahan raja Yosia, kehidupan bangsa Israel berangsur-angsur menjadi baik dan setia kepada TUHAN. Sebab raja Yosia banyak melakukan pembaharuan keagamaan dengan berpedoman pada gulungan kitab yang berisi sebagian dari kitab Ulangan. Dengan pedoman itu Yosia memusnahkan ilah-ilah asing dalam Bait Allah dan memerintahkan rakyat agar berbalik kepada TUHAN. Yosia juga berusaha membebaskan Yehuda dari kekuasaan Asyur dan mengembalikan kejayaan seperti zaman Daud. Namun raja Yosia terbunuh oleh tentara Mesir, sehingga pemerintahan diserahkan kepada Yoahas anaknya. Pemerintahan Yoahas tidak berlangsung lama, hanya sekitar tiga bulan. Selanjutnya Yoyakim yang menjadi raja di Yehuda. Pada zaman Yoyakim inilah peribadatan kepada ilah-ilah lain kembali diadakan. Bangsa Israel juga kembali berbuat dosa karena beribadat kepada ilah-ilah lain. Para raja juga lebih mengandalkan kekuatan militer yang dimiliki, daripada mengandalkan TUHAN dan meminta perlindungan kepada TUHAN. Karena hal inilah Yeremia dipanggil untuk menyampaikan pesan kepada orang Israel tentang berita malapetaka.

Sebagai nabi, Yeremia turut merasakan kesedihan dan kemarahan Allah karena bangsa Israel yang tidak setia kepada Allah dan hidup atas kemauan mereka sendiri. Yeremia juga sudah memberikan peringatan-peringatan kepada Yoyakim tetapi peringatan itu diabaikan. Yeremia menyampaikan seruan agar bangsa Israel selalu setia kepada TUHAN yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir dan tetap memelihara perjanjian-Nya. Dia juga memberikan peringatan yang keras kepada umat Allah agar tidak menyimpang dari perjanjian yang diadakan oleh TUHAN Allah dengan Musa di Gunung Sinai. Mereka harus menaati dan menempatkan hukum Allah di atas segala-galanya. Karena seruan dan peringatan Yeremia diabaikan, maka malapetaka TUHAN menimpa bangsa Israel. Malapetaka itu datang dalam bentuk penindasan yang dilakukan oleh Babel. Nebukadnezar yang menjadi raja Babel menyerbu Yehuda dan membunuh Yoyakim. Ketika Yehuda ditaklukkan kerajaan Babel, beberapa pemuka rakyat dan sebagian rakyat diangkut ke pembuangan.

Nabi Yeremia yang tetap tinggal di Yerusalem, ia berusaha menolong sisa-sisa orang yang berada di Yehuda. Di tengah kondisi yang berat ini Yeremia menyampaikan nubuat bahwa kehancuran dan malapetaka ini akan berubah menjadi warta pengharapan dan janji tentang perjanjian baru antara Allah dan umat-Nya. Meskipun malapetaka terjadi, akan tetapi Allah yang penuh dengan belas kasihan itu memberikan sebuah pengharapan akan kehidupan baru yang lebih baik.

Itulah gambaran umum yang terjadi dengan bangsa Israel selama masa pelayanan Yeremia. Namun sekarang mari kita kembali mencermati mengapa Yeremia mengelak panggilan TUHAN? Salah satunya adalah karena Yeremia tahu bahwa tugas panggilan itu tidaklah mudah. Yeremia yang masih muda harus menyampaikan berita bagi bangsa Israel yang terkenal sebagai bangsa yang bebal. Dan mungkin saja ia akan menghadapi banyak masalah ketika harus menyampaikan berita malapetaka dari TUHAN itu. Bisa jadi raja yang memerintah saat itu tidak akan suka dengan nubuat yang disampaikan oleh Yeremia, dan menganggap Yeremia sebagai pengkhianat. Tentu hal ini akan mengancam keselamatan diri Yeremia. Maka sangat manusiawi jika ketika menerima panggilan itu Yeremia mengelak.

Meskipun Yeremia mengalami keragu-raguan atas panggilan TUHAN tersebut, namun Firman TUHAN yang datang dalam diri Yeremia mampu meneguhkan langkahnya sebagai utusan TUHAN. Dari firman TUHAN yang datang itu ada tiga hal yang membuat Yeremia menjadi yakin dan teguh dalam merespon panggilan TUHAN. Pertama, sejak dalam kandungan Yeremia telah dipilih dan dipersiapkan oleh TUHAN untuk menjadi utusan-Nya (ayat 5). Yeremia telah dipersiapkan oleh TUHAN untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Kedua, firman TUHAN yang datang pada Yeremia menyebutkan ada janji pernyertaan. TUHAN yang mengutus Yeremia, TUHAN juga yang menyertai Yeremia dalam menjalankan panggilannya (ayat 8). Ketiga, firman TUHAN yang harus ia sampaikan kepada bangsa Israel bukan hanya tentang malapetaka, tetapi juga tentang sebuah pengharapan akan kehidupan yang lebih baik lagi. TUHAN memang akan menghancurkan dan meruntuhkan Yehuda, tetapi TUHAN juga akan membangun kembali umat Allah. Ada waktunya TUHAN mencabut dan merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan, tetapi juga ada waktu bagi TUHAN untuk kembali membangun dan menanam (ayat 10). Hal ini menunjukkan betapa kasih TUHAN yang tak terhingga untuk umat pilihan-Nya. Dengan firman TUHAN inilah yang mampu meneguhkan kembali langkah Yeremia untuk bersedia merespon panggilan dari TUHAN.

Bahan Diskusi:

  1. Apakah yang diusahakan oleh Yeremia agar ia terbebas dari tugas panggilan TUHAN?
  2. Seringkali dalam masa dauran seperti sekarang ini, kita juga sering mengelak jika terpilih menjadi Penatua atau Diaken. Lalu hal-hal apa saja yang menjadi faktor kita mengelak atas panggilan Tuhan itu?
  3. Apakah yang akan kita sampaikan jika kita diutus untuk melakukan pelayanan yang kita tahu bahwa pelayanan itu sulit untuk dilakukan? (GW).

 


 

Pemahaman Alkitab (PA) September 2021 (II)
Bulan Kitab Suci

 

Bacaan: Yohanes 8 : 21 – 36
Tema Liturgis: Firman Tuhan Penuntun Kehidupan
Tema PA: Firman yang Memerdekakan

Pengantar PA:
Apakah arti kemerdekaan bagi saudara? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan arti kata merdeka adalah bebas dari perhambaan atau penjajahan, terlepas dari tuntutan, dan tidak terikat pada orang lain atau pihak tertentu. Setiap orang tentu menginginkan hidupnya merdeka dari segala tuntutan atau tekanan. Namun seringkali orang tidak menyadari bahwa dirinya belum menjadi orang yang benar-benar merdeka. Seseorang mengira bahwa dirinya adalah orang merdeka, padahal sebanarnya ia adalah seorang budak. Sungguh menyedihkan bila seorang budak tidak menyadari perbudakan yang sedang ia alami. Hal inilah yang juga terjadi dalam diri orang-orang Yahudi khususnya para pemimpin agama Yahudi. Mereka merasa diri benar dan suci. Mereka menganggap diri mereka adalah orang merdeka. Namun sejatinya mereka sedang diperbudak oleh dosa. Dan hal itu semua tidak mereka sadari. Mereka tidak mau menerima kebenaran yang nyata dalam diri Tuhan Yesus, padahal kebenaran dari Tuhan inilah yang mampu memerdekakan mereka dengan sesungguhnya.

Penjelasan Teks:
Gaya penulisan Injil Yohanes berbeda dengan ketiga Injil Sinoptik lainnya, yaitu Injil Matius, Markus dan Lukas. Cara Yohanes dalam menuturkan kehidupan dan ucapan Yesus adalah dengan tema-tema yang sistematis. Ada 3 tema besar yang menjadi inti penulisan Injil Yohanes, pertama tentang siapakah Yesus? Kedua tentang apakah perbuatan Yesus yang membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah? Ketiga tentang bagaimana hubungan antara pengikut Yesus dan orang-orang yang menentang diriNya? Sedangkan bacaan materi PA saat ini dalam kelompok tema pertama yaitu penjelasan tentang siapa itu Yesus.

Dalam pasal pertama Injil Yohanes sudah dituliskan bahwa Yesus adalah Firman yang menjadi manusia. Dengan Firman yang menjadi manusia harapannya orang-orang dapat melihat seperti apa Allah itu sesungguhnya. Dengan Firman yang menjadi manusia, harapannya banyak orang percaya kepada-Nya karena Ia datang memberikan tuntunan pada kehidupan yang benar. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, banyak orang yang masih belum dapat memahami apa yang dimaksud oleh Yesus. Sehingga sepanjang Injil Yohanes berkali-kali dijelaskan tentang siapakah Dia. Penulis Injil Yohanes menyebutkan bahwa Yesus adalah sang Mesias, roti hidup, sumber air hidup, gembala yang baik, pokok anggur yang benar, dan lain sebagainya. Semua penjelasan ini ditujukan kepada orang banyak agar dapat mengenal dan percaya kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.

Pada perikop materi PA saat ini Yesus kembali menjelaskan bahwa Ia bukan berasal dari dunia ini melainkan diutus oleh Allah di sorga (ayat 23). Hal ini disampaikan oleh Yesus karena lagi-lagi orang banyak itu tidak paham. Pada ayat 21, Yesus mengatakan akan pergi meninggalkan mereka dan ke tempat dimana Ia pergi, mereka tidak mungkin akan datang. Kalimat ini dimaknai oleh orang Yahudi bahwa Yesus berencana untuk bunuh diri. Bagi orang Yahudi bunuh diri adalah perbuatan dosa yang amat dibenci karena orang Yahudi diajarkan untuk menghargai hidup. Jika Yesus bunuh diri, Ia akan pergi ke tempat penghakiman, dan itulah sebabnya mereka tidak dapat mengikuti Dia.

Penjelasan tentang Yesus yang adalah utusan Allah dari Sorga belum cukup bagi orang-orang Yahudi, terbukti mereka masih menanyakan siapakah Yesus itu (ayat 25). Kali ini Yesus menjelaskan bahwa Ia adalah utusan Bapa untuk menyampaikan dan mengajarkan apa yang telah Bapa ajarkan. Yesus memberikan penjelasan bahwa melalui diri-Nya, setiap orang yang percaya kepada Dia dan yang menjadi murid-Nya, akan hidup dalam kebenaran yang memerdekakan. Pernyataan Yesus ini ternyata dibantah oleh orang-orang Yahudi karena mereka menganggap diri mereka sebagai keturunan Abraham yang juga dipahami sebagai anak Allah, sehingga mereka meyakini bahwa mereka tidak pernah menjadi budak siapapun karena status mereka sebagai keturunan Abraham ini. Padahal yang dimaksudkan oleh Yesus adalah perbudakan oleh dosa.

Yesus yang adalah Sang Firman telah menyatakan diri kepada manusia agar manusia percaya dan mengikuti jalan-Nya. Sang Firman telah memberikan teladan dan juga telah memerdekakan umat yang percaya kepada-Nya dari segala dosa. Dengan menaati firman Allah, kita tumbuh dalam pengetahuan rohani yang benar, dan pengetahuan rohani yang benar akan memerdekakan kita dari dosa. Firman Allah memimpin hidup pada pembelajaran, pengetahuan, dan membawa kita pada kemerdekaan dari dosa.

Bahan Diskusi:

  1. Apakah seorang yang telah menjadi budak dosa dapat dimerdekakan? Bagaimana caranya?
  2. Dalam pengalaman hidup sehari-hari, seberapa sering kita menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman dan sumber pengetahuan rohani yang benar? (GW).

Renungan Harian

Renungan Harian Anak