Pemahaman Alkitab (PA) November (I)
Bulan Budaya
Bacaan: Rut 1 : 1 – 22
Tema Liturgis: Melestarikan Hidup dengan Budaya Toleransi dan Saling Berbagi
Tema PA: Membiasakan Diri Menghargai Keunikan Manusia
Pengantar PA
Semakin berkembangnya zaman ternyata tidak menjamin perkembangan pola pikir ke arah yang sehat dan maju. Terlebih melihat realita bangsa Indonesia akhir-akhir ini, hiruk pikuk perpolitikan, kekuasaan dan perekonomian tidak pernah terlepas dari 3 kata, yakni primordialisme, fanatisme, dan diskriminasi.
Primordialisme adalah perasaan kesukuan yang berlebihan, namun perasaan yang tidak sehat cenderung menyebelah matakan yang lain. Hal ini sungguh sering terjadi, terlebih persoalan kesukuan menjadi hal yang sensitif yang dapat memicu gesekan dengan suku yang lain. Seperti peristiwa di tanah Sampit antara etnis Dayak dan Madura, lalu kejadian di Malang antara etnis Jawa dan Papua, dsb.
Fanatisme adalah keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Seringkali yang terjadi adalah pengaruh tidak sehat agama dalam kancah perpolitikan yang seringkali memicu konflik dengan agama lain (bahkan sesama agamanya juga). Seperti kasus bom bunuh diri di beberapa gereja di Surabaya yang mengatas namakan agama, dilema kepemimpinan pemerintahan oleh non-muslim, dsb.
Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya) yang cenderung merugikan atau merendahkan. Seperti kasus penolakan Lurah perempuan di Jakarta, predikat minoritas-mayoritas, sempitnya lapangan pekerjaan bagi non-muslim, dsb.
Dalam keadaan demikian seolah-olah yang kecil dan berbeda harus menelan kepahitan dari perlakuan yang mengekang kemerdekaan seseorang untuk berperan dan berkiprah dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal dalam kesejatiannya, manusia diciptakan oleh Tuhan dengan segala keunikannya yang berbeda satu dengan yang lain adalah suatu keniscayaan yang harus kita pelihara dan lestarikan sampai kapanpun.
Penjelasan Teks
Kitab Rut merupakan salah satu kitab yang cukup unik, di samping banyaknya penamaan tokoh-tokoh Alkitab yang dilatarbelakangi tradisi patriarkhi, namun untuk satu ini memakai nama seorang tokoh perempuan. Di samping dari tujuan besar penulisan kitab Rut ini yang menyinggung eksklusifitas dan fanatisme Yahudi, kitab Rut ini juga memuat cerita yang ringan, sederhana dan mudah untuk dibaca maupun dipahami dengan penokohan utama dari kalangan perempuan, yakni Rut dan Naomi. Benar bahwa mereka bukan nabi atau orang yang memiliki jabatan penting di tengah umat, namun Rut yang berasal dari Moab bersama Naomi orang Efrata – Yehuda benar-benar memecahkan kekakuan dan fanatisme masyarakat terkait dengan paham patriakhi, semangat primordialisme, dsb.
- Ay. 1-2. Mulai dari pembukaan kisah ini, di mana pada ayat yang pertama sudah diperkenalkan bahwa kisah Rut ini mengambil latar waktu sejak jaman hakim-hakim dimana pada saat itu terjadi krisis kelaparan yang hebat di tanah Israel (ay. 1). Kuat dugaan keadaan kelaparan ini dikarenakan kekeringan yang berkepanjangan sehingga membuat keluarga Elimelekh dan Naomi berpindah menuju ke Moab untuk bertahan hidup.
- Ay. 3-7a. Dalam perpindahan mereka ternyata tidak membuat keadaan lebih baik, tidak lama berselang sang kepala keluarga, yakni Elimelekh meninggal. Hal ini menjadi suatu duka yang mendalam bagi Naomi, yang mana ia tidak hanya hidup bersama kedua anaknya, melainkan juga bertanggung jawab untuk menata masa depan anaknya. Setelah peristiwa duka tersebut, digambarkan bahwa Naomi bertanggung jawab atas Mahlon dan Khilyon, maka diambilnyalah dua perempuan Moab untuk dijadikan istri dari kedua anaknya. Dalam teks ini, tidaklah digambarkan dengan jelas siapa yang menjadi istri Mahlon dan istri Khilyon, bahkan dalam tulisan kitab Rut tidak ada penilaian khusus terkait pengambilan istri dari bangsa lain atau kawin campur. Sebab hukum Musa melarang perkawinan dengan wanita asing (Ulangan 23:3-4) bahkan mengawini perempuan asing adalah bentuk hukuman dari Tuhan (Ulangan 28:32).
Apakah Naomi tidak tahu hukum ini? Belum tentu, bisa jadi ia tahu dan sadar betul akan hukum ini, namun memang tidak tersirat secara jelas hanya saja ayat 21 dapat menjadi petunjuk bahwa Naomi menyesali diri akan tindakannya yang mendatangkan malapetaka Tuhan kepadanya. Terlebih hal ini diperkuat dengan kematian kedua anaknya pasca 10 tahun perjalanan kehidupan mereka. Tentu kondisi ini semakin membebani diri Naomi, tidak hanya ia menjadi janda karena ditinggal oleh suaminya, namun kedua menantunya juga menjadi janda! Karena keadaan mereka, maka berkemaslah mereka dari Moab kembali menuju ke tanah Yehuda sebab akan dimulai musim menuai jelai. - Ay. 7b-19a. Sungguh keadaan Naomi penuh dengan kekosongan. Tiada harta yang ia warisi bahkan anak menantunya juga tidak memiliki apapun. Dalam ketegaran hati Naomi menasehati agar menantunya kembali ke Moab untuk melanjutkan kehidupan. Hanya saja nasehat ini tidak berlaku bagi Rut, baginya hidup dan mati telah dibaktikan kepada Naomi sebagai ibu mertuanya. Bahkan Rut rela untuk mengikuti Naomi kembali ke Yehuda dan menjadi bagian dari kaumnya. Kesetiaan Rut kepada mertuanya, Naomi, menjadi wujud pengasihan Allah bagi Naomi sebab dalam kekosongan Allah tidak berhenti menyertainya, sebab melalui Rut karya Allah semakin memulihkan dan membebaskan Naomi dari keadaannya yang kosong. Hal ini pun menyinggung kekakuan tradisi Yehuda yang menolak bahkan mengucilkan bangsa lain yang masuk ke tanah Yehuda, namun bagi Rut justru Allah menyatakan kuasa-Nya terlebih bagi seorang janda bernama Naomi, dimana kisah ini berlanjut ketika Naomi juga menyatakan kasihnya bagi Rut dengan menjodohkannya dengan Boas yang akan menyelamatkan seluruh keluarganya bahkan menjadi kebahagiaan yang membebaskan Naomi dari kekosongan.
- Ay. 19b-22. Kata “Mara” yang berarti kepahitan tidak lagi menjadi suatu hal yang berarti negatif namun kata “Mara” menjadi wujud keteguhan hati seorang Naomi untuk kembali ke tanah kelahirannya untuk memulai kembali kehidupannya yang kosong yang akan diisi oleh kehadiran Rut dan ditengarai oleh permulaan musim menuai jelai dimana cerita pemulihan karakter Naomi dan Rut akan dimulai.
Bahan Diskusi:
- Pernahkah anda mengalami titik terendah dalam kehidupan, seperti Naomi?
- Sebagai warga GKJW yang dipanggil untuk menjadi berkat bagi semua ciptaan, apa yang dapat kita lakukan di lingkup kita masing-masing dalam merespon paham seperti Primordialisme, Fanatisme dan Diskriminasi? (mojo).
Pemahaman Alkitab (PA) November 2021 (II)
Bulan Budaya
Bacaan: 1 Timotius 6 : 11 – 21
Tema Liturgis: Melestarikan Hidup dengan Budaya Toleransi dan Saling Berbagi
Tema PA: Jawa sing Njawani, Kristen sing Ngristeni
Pengantar PA:
“Aku iki wong Jawa sing ora njawani” merupakan kalimat yang mungkin pernah terdengar di telinga kita. Kalimat tersebut berasal dari pengakuan seorang yang berasal dari suku Jawa namun merasa tidak percaya diri akan ke-jawaan-nya. Lantas apa ukuran yang membuatnya tidak percaya diri akan ke-jawaan-nya? Warna kulit? Tidak sedikit warna kulit warga Indonesia berwarna sawo matang sekalipun bukan orang jawa. Pakaian? Saat ini siapapun sudah bisa memakai pakaian khas jawa. Bahasa? Mayoritas orang Jawa berbahasa Jawa sekalipun campur aduk. Lantas apa ukurannya? Yang pasti adalah karakter atau wataknya. Kekhasan orang Jawa adalah memiliki karakter atau watak yang dilandasi oleh filosofi unggah-ungguh, seperti rasa hormat kepada yang lebih tua; membungkukan badan apabila numpang lewat; bila menunjuk memakai jari jempol, dsb. Kekhasan inilah yang melampaui fisik, seorang jawa yang tulen adalah pribadi yang benar-benar menjunjung tinggi unggah-ungguh dalam prinsip kehidupannya.
Bila demikian, bagaimana dengan kekristenan? Jika kita mengaku bahwa saya orang Kristen, lantas apa yang membuat kita dikatakan ngristeni? Apa tolok ukurnya? Warna kulit? Pakaian? Aksesoris? Siapapun bisa memakainya, hanya saja kekhasan dari Kekristenan juga tidak sebatas dari fisik semata, namun bagaimana seseorang dikatakan Kristen apabila kehidupannya juga dibangun atas dasar prinsip ajaran Kristus. Sebagaimana Yohanes 13:34-35, Yesus memerintahkan agar supaya para murid saling mengasihi seperti Dia yang mengasihi para murid, dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa mereka adalah murid-murid Kristus.
Penjelasan Teks:
Surat 1 Timotius adalah jenis surat penggembalaan yang dituliskan oleh Rasul Paulus kepada Timotius dalam rangka memberi pengajaran tentang bagaimana menata jemaat-jemaat (dalam hal ini Efesus) dan menghadapi para pengajar sesat. Pesan ini kuat tersampaikan dalam 1 Timotius 1:3-11 dimana rasul Paulus sejak awal tulisan suratnya sudah menyinggung tentang ajaran sesat yang muncul di tengah jemaat. Para pengajar sesat ini adalah para tokoh yang cerdas, dimana dalam pengajarannya mempengaruhi pemikiran orang lain dengan dongeng-dongeng kosong (penyair yang menceritakan dewa-dewa); silsilah yang tiada putusnya (mengenai garis keturunan). Pengaruh yang cukup besar berasal dari kaum Yunani yang menebarkan ajaran gnosis di tengah persekutuan umat percaya di Efesus. Mereka mempengaruhi dengan pemikiran spekulatif seperti “roh itu baik dan materi itu jahat” dengan dampak laku ajaran yang tidak sesuai kaidah Kristus, berpantang makan (karena materi itu jahat), berpantang kawin (karena hasrat jahat) dsb (ps. 4:3). Melalui pengajaran inilah, nampak kekhasan pengajaran para guru-guru palsu yang mempengaruhi umat beriman di Efesus.
Dalam pergumulan inilah, rasul Paulus dalam akhir suratnya memberi pesan yang kuat kepada Timotius yang dipercayai untuk melanjutkan karya pelayanan di tengah jemaat Efesus.
- Ay. 11-12. Paulus dengan tegas menempatkan peranan Timotius (beserta umat dan pembaca) sebagai manusia Allah. Kata “manusia Allah” memiliki padanan kata dalam Perjanjian Lama yakni “abdi Allah” dan disebut-sebut sebagai gelar yang mulia yang juga diterima oleh Musa. Sehingga dapat diartikan bahwa Timotius (beserta umat dan pembaca) adalah manusia Allah – abdi Allah yang memiliki sikap menjauhi cinta uang dan praktik kejahatan guru-guru sesat (ps. 6:10) dan mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Sebagai manusia Allah – abdi Allah, Paulus menasehati agar berjuang dalam pertandingan iman. Sebab itulah yang baik daripada perjuangan yang dilakukan oleh para guru penyesat yang memperjuangkan laba keji (ps. 6:10).
- Ay. 13-16. Paulus menasehati dengan memanggil Allah dan Kristus sebagai saksi atas apa yang akan ia katakan. Hal ini sebagai bentuk pesan yang dilandasi oleh iman yang menegaskan tentang perintah yang disampaikan oleh Paulus kepada Timotius dan seluruh umat. Yakni dengan melaksanakan tugas pelayanan (membimbing jemaat dan menghadapi para penyesat) dengan senantiasa hidup kudus (tidak bercacat dan tidak bercela, maksudnya adalah berjuang dengan cara – cara yang baik) yang mana ketika kedatangan Kristus yang kedua Timotius dapat mempertanggung jawabkan dengan baik dan tanpa rasa takut.
- Ay. 17-19. Orang kaya dalam hal ini juga disinggung oleh Paulus. Bagi Paulus, orang kaya hanyalah berlimpah harta di dunia, namun belum tentu di dunia yang akan datang. Oleh sebab itu Paulus menegur agar orang kaya janganlah tinggi hati. Sebab tiada alasan bagi mereka untuk tinggi hati karena kekayaan mereka hanya pemberian dan sementara. Kekayaan yang sejati bagi Paulus dilandasi dari tolok ukur kehidupan yang berlimpah kebaikan, kebajikan dan murah hati (ay. 18). Melalui penjelasan ini, tidak berarti Paulus menolak atau menganggap dosa orang kaya, sebab kekayaan adalah tanggung jawab yang besar. Bila tidak dikelola dengan benar bahkan menimbulkan kesombongan, maka kekayaan akan meruntuhkannya sebab kekayaan memiskinkan jiwanya. Namun apabila kekayaan dikelola dengan benar, untuk menolong dan membahagiakan orang lain, pada saat ia menjadi miskin justru ia menjadi lebih kaya. Menurut Barclay (2011), untuk saat ini dan selamanya “memberi lebih baik daripada menerima”
- Ay. 20-21. Nasihat ini berbicara tentang pewarisan iman kepada Timotius dan generasi yang akan datang, sebab Kekristenan adalah iman dari para leluhur yang harus terus kita wariskan bagi anak cucu kita. Tidak hanya perkara pemahaman iman, namun laku hidup yang menjadi ciri khas Kekristenan juga harus dipelihara dan diwariskan. Sebab para penyesat yang ajarannya menyimpang dari iman (bahkan tidak sesuai dengan sifat Injil) akan selalu ada dan menyerang iman Kristen yang diwarsikan secara turun temurun. Dalam akhir pesan ini, Paulus menguatkan Timotius (juga umat serta para pembaca, karena kata “kamu” memakai bentuk jamak) bahwa Kasih karunia menyertai kita semua.
Bahan Diskusi:
- Menurut anda, siapakah manusia Allah atau abdi Allah yang sesungguhnya?
- Apakah kekhasan orang Kristen di GKJW menurut anda?
- Sepanjang pengalaman iman saudara, pernahkah anda menemukan bentuk pengajaran sesat oleh guru-guru palsu? (dapat diceritakan pengalamannya)
- Apakah langkah yang tepat bagi kita warga GKJW di dalam menghadapi tantangan para pengajar sesat yang dapat kita lakukan dalam komunitas maupun terprogram di PKT? (mojo).