Bacaan: 1 Korintus 15 : 35 – 49 | Pujian : KJ. 341 : 1, 3
Nats: “Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan.” (Ayat 42)
Ada orang yang takut dan gelisah menghadapi kematian, ada juga yang siap menghadapinya. Siapa yang bisa menunda kematian? Walaupun seseorang memiliki kekuasaan yang besar, memiliki harta kekayaan yang berlimpah, memiliki kepandaian dan kesaktian yang tiada tandingannya, jika berhadapan dengan kematian semua yang dimilikinya itu tidak bisa digunakan sebagai alat untuk menolak. Kematian adalah kepastian bagi setiap manusia dan makhluk hidup yang lain.
Dalam konteks jemaat Korintus, mereka menanyakan bagaimanakah orang mati dibangkitkan. Paulus menjelaskan dengan menggunakan perumpamaan dari dunia pertanian. Satu biji benih ketika ditanam di tanah, benih itu mati, kemudian akan mengelupas, tumbuh akar, daun dan siap menjadi tanaman yang subur yang menghasilkan buah. Paulus menjelaskan bahwa “tubuh” yang ditempatkan di dunia bisa rusak, tetapi tubuh yang dibangkitkan tidak dapat rusak. Paulus menyampaikan hal tersebut berdasarkan pada sosok Yesus Kristus yang dibangkitkan pada hari ketiga dan menampakkan diri kepada banyak orang, kemudian terangkat ke surga. Bagi Paulus, kebangkitan Kristus menjadi dasar kebangkitan orang percaya. Kebangkitan Kristuslah yang memberikan keberanian untuk memberitakan Injil dan menjadi saksi-Nya yang setia dan teguh, sekalipun diperhadapkan dengan penderitaan dan kematian.
Refleksi kita: yang pertama, tidak ada yang bisa memperpanjang umur ataupun memperpendeknya, kecuali Tuhan. Tugas kita hanyalah mengisi umur kita supaya hidup ini berguna, bisa dirasakan oleh sesama. Selaras dengan lagu populer rohani berjudul “Hidup ini adalah kesempatan” mengingatkan kita: “jangan sia-siakan waktu yang Tuhan b’ri, hidup ini harus jadi berkat”. Yang kedua, satu hal yang pasti, ada kematian, ada kebangkitan, karena kita beriman kepada Kristus yang telah bangkit mengalahkan kematian. Ini menjadi sumber kebahagiaan bagi kita orang percaya, karena kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Kematian adalah awal kehidupan yang penuh kedamaian bersama dengan Tuhan. Selamat menerima hidup bahagia abadi. Tuhan memberkati. (YEW)
“Tetaplah bersukacita menghadapi kematian, karena kita akan bangkit bersama Kristus serta hidup bahagia abadi.”