Bacaan : Markus 11 : 15 – 19 | Pujian : KJ. 2 : 2
Nats: “Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” (Ay. 17)
Saya termasuk orang yang sering sakit gigi. Namun karena takut ke dokter, saya termasuk orang yang jarang ke dokter gigi. Suatu saat ketika sakit gigi saya sudah cukup parah, ada teman yang menasehati agar segera ke dokter gigi. Dia memberitahu ada seorang dokter gigi yang baik, yang kebetulan juga saya kenal. Dengan meyakinkan dia memberi gambaran tentang baiknya dokter itu. Dokter yang baik adalah dokter yang memahami keadaan pasiennya. Sebelum saya menanggapi nasehat itu, saya bertanya tentang berapa biayanya? Teman saya tersenyum, gratis jawabnya. Memang teman saya itu seorang dokter umum, sehingga wajar sesama dokter saling menolong. Tapi dia memberi penjelasan bahwa sebenarnya juga membayar walau dalam bentuk lain. Saya mengerti, hidup memang patut saling menguntungkan.
Untung adalah suatu keadaan yang banyak dirindukan orang. Sebaliknya rugi adalah keadaan yang sangat tidak diharapkan orang. Usahakanlah selalu membuat orang lain beruntung, karena kitapun berharap senantiasa mengalami untung. Memang ada juga orang yang membuat orang lain rugi, tapi kita tahu bahwa itu perbuatan yang tidak baik. Ada falsafah yang mengatakan bahwa kalau kita senang membuat orang lain untung, maka kitapun akan sering mendapatkan keuntungan. Sebaliknya kalau kita sering merugikan orang lain, maka kita akan sering pula mengalami kerugian. Jadi, senang mencari keuntungan itu sudah merupakan sifat manusia yang umum dan wajar.
Bacaan kita kali ini jelas menggambarkan bagaimana Yesus menentang orang yang mencari untung di Rumah Ibadah. Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang dari halaman Rumah Ibadah itu. Yesus pasti merugikan banyak orang yang sudah terbiasa mencari untung di tempat itu. Kemarahan Yesus menunjukkan bahwa Dia ingin Rumah Ibadah tidak dipakai untuk mencari keuntungan materi sampai kapanpun. Jadi, disini kita tahu bahwa kalau kita datang kepada Allah, sepatutnya kita sepenuh hati bersyukur kepada-Nya tanpa diembel-embeli maksud mencari keuntungan sekecil apapun. Bukankah semua milik kita itu anugerah-Nya, bahkan hidup kita inipun sepenuhnya milik Dia? (DLS).
“Manusia itu untung karena Allah memberikan Roh kepadanya agar dia hidup.”