Kasih dan Kebaikan Tuhan yang Tak Terbatas Khotbah Minggu 21 Februari 2021

8 February 2021

Minggu Pra Paskah 1
Stola Ungu

Bacaan 1 : Kejadian 9 : 8 – 17
Bacaan 2 :
1 Petrus 3 : 18 – 22
Bacaan 3 : Markus 1 : 9 – 15

Tema Liturgis : Ketergantungan Mutlak kepada Kasih Karunia Kristus
Tema Khotbah: Kasih dan Kebaikan Tuhan yang Tak Terbatas

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 9 : 8 – 17
Perjanjian yang ada dalam Alkitab biasanya berisi 3 hal yaitu pihak-pihak yang berjanji, isi perjanjian dan syarat-syarat perjanjian. Isi perjanjian biasanya menyangkut tentang apa yang harus dilakukan oleh kedua belah pihak. Syarat perjanjian adalah sanksi yang diberlakukan seandainya salah satu pihak tidak mematuhi isi perjanjian yang disepakati bersama. Dalam banyak perjanjian kuno dinyatakan apa yang akan dilakukan kedua belah pihak untuk mewujudkan syarat-syarat perjanjian. Dalam perjanjian antara Allah dan manusia, tentu saja Allah selalu setia dan Ia selalu menggenapi janji-Nya kepada umat-Nya.

Pada perjanjian antara Allah dan Nuh, Allah memanggil segala makhluk hidup (Ay. 9,10) untuk mengadakan perjanjian dengan Dia dalam alam ciptaan yang sudah dipulihkan. Isi perjanjian itu adalah Allah tidak akan mendatangkan air Bah (Ay. 11). Allah sendiri memberi janji tidak bersyarat untuk tidak memusnahkan bumi dengan air bah. Janji tersebut ditandai dengan pelangi “busur” (ay. 12). Ini mengandung arti bahwa Allah seakan-akan meletakkan senjata-Nya seraya mengumumkan perdamaian antara Dirinya dengan manusia. Pelangi sekaligus melambangkan kasih pemeliharaan Allah Sang Pencipta yang melingkupi semua ciptaan-Nya.

1 Petrus 3 : 18 – 22
Konteks pada bagian bacaan ini adalah menjadikan hidup Tuhan Yesus sebagai teladan dan sumber kekekuatan orang Kristen ketika mereka menderita karena kebenaran. Yesus rela menderita dan berkorban bagi orang-orang berdosa meski diri-Nya benar. Tubuh-Nya dapat dibunuh, tetapi roh-Nya tidak (ay. 18). Ia bangkit, naik ke sorga dan dari sana Ia memerintah segala sesuatu (Ay. 22). Kesediaan Yesus Kristus untuk menderita dan kebangkitan-Nya menjadi kekuatan setiap orang Kristen.

Kristus telah mati … dibangkitkan menurut Roh (Ay. 18) : ayat ini merupakan sebuah nyanyian pujian kuno dari jemaat Kristen perdana yang berisi pernyataan iman tentang Kristus yang mati dan bangkit demi mengampuni dosa manusia. Roh-roh yang di dalam penjara (Ay. 19) : Yang dimaksud dengan “roh-roh” di sini roh-roh orang-orang pada zaman Nuh yang tidak taat kepada Allah, sehingga dibinasakan oleh air bah. Kristus bahkan memberitakan Injil kepada mereka dan itu memperlihatkan bahwa Ia juga berkuasa atas orang-orang yang tidak taat. Nuh : tidak seperti orang-orang sejamannya. Nuh taat kepada Allah. Kiasannya, yaitu baptisan (Ay. 21): Dahulu Allah menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari air bah. Sekarang umat Allah yang baru, diselamatkan dengan pembaptisan. Air baptisan mengingatkan jemaat akan karya penyelamatan Allah. Duduk di sebelah kanan (Ay. 22) : tempat yang terhormat dan berkuasa.

Markus 1 : 9 – 15
Apa yang ditunjukkan oleh pewartaan Yohanes diperkuat oleh Allah sendiri. Meskipun Yesus datang dari Nasaret untuk dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Markus membuatnya jelas bahwa Allah sendirilah yang memberkati Yesus. Allah yang membelah langit dan mengutus Roh ke atas Yesus dalam bentuk seekor merpati dan berkata, “Engkaulah AnakKu yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan.” Demikianlah Allah turun kepada orang Kristen dalam baptisan mereka, membuat mereka anak-anak terkasih Allah. Jika pembaca mengikuti anak, mereka akan belajar untuk menyerupai Dia. Mereka melihat bagaimana Ia membiarkan Roh dari baptis-Nya mengantar Dia untuk meminum piala kesengsaraan pada akhir hidup pelayanan-Nya dan menafsirkan kematian-Nya yang mengancam sebagai “baptis” kedua, yang akan dialami oleh para murid-Nya.

Cerita Markus mengenai penggodaan di gurun, jauh lebih singkat dari pada cerita Matius dan Lukas. Namun, singkatnya membuat maknanya semakin jelas. Roh memimpin Yesus ke padang gurun, digoda dan dicobai di sana oleh Iblis selama 40 hari, seperti Bangsa Israel dicobai selama 40 tahun. Yesus dilindungi oleh Allah melalui malaikat-Nya. Dua ayat Markus menyatakan bahwa Yesus lulus dari pencobaan ini dan siap untuk menjalani hidup yang singkat, menyelamatkan manusia dan melayani Allah. Pengalaman penggodaan dan kelemahan tidaklah asing bagi anak Allah. Demikian Markus menceritakan kepada pembacanya bahwa Roh yang melindungi Yesus adalah bersama mereka dalam kelemahan mereka. Sama seperti Allah ada bersama-Nya dalam pengalaman di padang gurun. Berita baik dari Yesus dihubungkan dengan seruan, “Maka dari itu, bertobatlah dan percayalah kepada Injil Allah.” Dalam kata-kata pemakluman yang singkat dalam pelayanan Yesus ini, Markus meringkas pesan Injil yang diwartakan Yesus : Kuasa Allah dapat dimiliki oleh mereka yang membuka dirinya terhadap Yesus dan Injil-Nya sehubungan dengan jalan pelayanan yang penuh kasih.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Kasih Allah senantiasa terwujud di sepanjang waktu, sekalipun manusia seringkali memilih untuk hidup tidak taat kepada Allah namun kasih-Nya tidak pernah terbatas. Sejak jaman Nuh, Allah telah mewujudkan penyelamatan-Nya kepada Nuh dan keluarganya serta mengadakan perjanjian bahwa Allah tidak akan membinasakan umat manusia dengan air bah yang ditandai dengan Pelangi sebagai tanda perjanjian Allah. Tidak hanya itu, kasih Allah juga dinyatakan melalui kehadiran Yesus Kristus yang semasa hidup-Nya di dunia menghadapi banyak pencobaan bahkan kesengsaraan dan kematian. Kebangkitan-Nya menganugerahkan kasih keselamatan kepada manusia. Semua itu adalah wujud nyata bahwa Allah mengasihi dan menyelamatkan umat manusia. Tidak hanya itu, Roh Allah yang melindungi Yesus adalah Roh Allah yang melindungi umat manusia dalam menghadapi kelemahan. Sebagai umat yang dikasihi Allah, maka kita menjalani hidup dengan ketaatan penuh kepada Allah, bertobat serta meneladani kehidupan Yesus.

Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Jemaat yang dikasihi Tuhan, apakah yang akan saudara lakukan ketika saudara menerima kebaikan dari orang lain tanpa batas? Mungkin jawaban yang terlintas adalah kita berusaha untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan yang sama. Namun, adakah terbersit dalam pikiran kita, untuk “memanfaatkan” kebaikan yang tanpa batas itu demi keuntungan dan kepentingan diri kita pribadi? Semoga saja tidak.

Isi
Ketiga bacaan kita saat ini berbicara mengenai kasih Allah yang tak terbatas. Pada bacaan pertama dikisahkan Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh. Allah berjanji tidak akan lagi memusnahkan manusia dengan air bah. Dan, sebagai tanda dari perjanjian itu diwujudnyatakan melalui tanda pelangi. Hal ini menunjukkan bahwa sekalipun manusia jatuh dalam dosa dan tidak taat kepada Allah, namun Allah tetap berkenan mengadakan perjanjian itu sebagai wujud Dia mengampuni dan mengasihi umat-Nya.

Tidak hanya sebatas itu, pada bacaan yang kedua dinyatakan bahwa Allah berkenan hadir sebagai manusia dalam diri Yesus Kristus. Ini adalah bukti nyata janji Allah untuk senantiasa menyelamatkan manusia. Kehadiran Yesus menunjukkan karakter Allah yang penuh kasih. Keselamatan dianugerahkan-Nya melalui cara Ia mengorbankan diri-Nya, mengalami penderitaan, mati dan bangkit dari antara orang mati.

Pada bacaan yang ketiga mengisahkan Yesus yang mengalami pencobaan di padang gurun selama 40 hari. Ketaatan Yesus pada Allah serta tuntunan Roh Allah memampukan Yesus melewati setiap pencobaan yang datang pada-Nya. Yesus menujukkan ketaatan-Nya, Allah menunjukkan pemeliharaan dan perlindungan-Nya. Dan seruan Yesus yang mengatakan, “Maka dari itu, bertobatlah dan percayalah kepada Injil Allah” menunjukkan bahwa Kasih Allah itu sungguh terwujud bagi setiap umat kepunyaan-Nya yang mau percaya dan bertobat kepada Allah.

Penutup
Seruan Tuhan Yesus berlaku juga bagi kita yaitu seruan untuk percaya kepada Allah dan bertobat kembali kepada Allah. Kebaikan dan kasih Allah senantiasa dianugerahkan kepada kita, lebih dalam dari lautan dan lebih luas dari samudera itulah wujud kasih Allah. Seruan ini kembali diwartakan bagi kita di Minggu Pra Paskah I ini supaya kita kembali merasakan kasih dan kebaikan Tuhan yang tak terbatas.

Hendaknya kita tidak “memanfaatkan” kasih Tuhan itu untuk kepentingan diri sendiri. Seperti kita merasa, “Ah Tuhan pasti mengampuni, ah Tuhan akan tetap baik kok, tidak apalah aku berbuat curang sedikit, tak apalah aku mengambil keuntungan sedikit, dsb”. Namun selayaknya melalui kasih Allah dan segala anugerah yang telah Ia berikan kepada kita, semakin membawa kita untuk memperbaiki diri, meneladani segala kasih dan kebaikan-Nya.

Mari kita ingat bahwa kita ada sampai hari ini hanya karena anugerah, kasih dan kebaikan dari Allah. Untuk itu mari kita mengasihi Allah sepenuh hati dan setia kepada-Nya. Kita yakin bahwa ditengah segala godaan yang diijinkan hadir dalam hidup kita, selama kita mengandalkan kekuatan Tuhan, maka Roh Allah akan melindungi kita. Maka jangan biarkan diri kita jatuh dalam pencobaan, namun mari kita senantiasa merasakan kasih Allah dan mewujudkannya dengan hidup dekat, setia dan taat hanya kepada Allah yang sungguh mengasihi kita. Tuhan memberkati. Amin. (RKN)

Nyanyian : KJ. 178 : 1, 2 Kar’na Kasih-Nya Padaku


Rancangan Khotbah : Basa Jawi

Pambuka
Pasamuwan ingkang kinasih ing dalem Asmanipun Gusti, punapa ingkang badhe panjenengan tindakaken bilih panjenengan tansah nampi kasaenan saking tiyang sanes ingkang tanpa winates? Menawi wonten ingkang badhe mangsuli inggih punika kita badhe mbales kasaenan kalawau sarana kasaenan ingkang sami. Ananging, punapa nate wonten pikiran kita kangge “memanfaatkan” kasaenan ingkang tanpa winates saking tiyang sanes kalawau kangge kauntungan lan kepentingan kita pribadi? Mugi-mugi mboten wonten nggih.

Isi
Ketiga waosan kita wekdal punika, nyariosaken bab katresnanipun Gusti Allah ingkang mboten winates. Ing waosan sepisan dipun cariosaken Gusti Allah ingkang ngawontenaken prajanji kaliyan Nuh. Gusti Allah janji mboten badhe ngukum manungsa malih sarana toya Bah. Lan, minangka tanda saking prajanjinipun Gusti punika dipunwujudaken lumantar tanda pelangi. Bab punika nedahaken bilih sanadyan manungsa dawah ing dosa, lan mboten setya dhumateng Gusti Allah, ananging Gusti Allah tetep kersa ngawontenaken prajanjian minangka wujud bilih Panjenenganipun ngapunten lan nresnani umatIpun.

Mboten namung punika kemawon, ing waosan kita kaping kalih nyariosaken bilih Gusti Allah kersa rawuh dados manungsa ing Gusti Yesus. Punika nedahaken wujud nyata janjinipun Gusti Allah ingkang kersa paring kawilujengan kangge manungsa. Rawuhipun Gusti Yesus nedahaken watakipun Gusti Allah ingkang kebak ing katresnan. Kawilujengan ingkang dipunparingaken dhateng kita dipun lampahi kanthi nandhang kasangsaran, seda lan wungu saking antawisipun tiyang seda.

Ing waosan katelu nyariosaken Gusti Yesus ingkang ngadepi pacoben ing ara-ara samun salami 40 dinten. Lumantar kesetyanipun Gusti Yesus dhumateng Gusti Allah sarta tuntunaning Sang Roh Suci, Gusti Yesus saged ngadepi sedaya pacoben lan nampeni kemenangan. Gusti Yesus nedhahaken kasetyanipun, Gusti Allah nedhahaken pangrimatan lan pangayomanipun. Selajengipun Gusti Yesus ngendika, “ Wis tekan waktune, kratone Allah wis cedhak, padha mratobata, lan pracayaa marang Injil. “Lumantar pangandikanipun Gusti Yesus punika mujudaken bilih Katresnanipun Gusti Allah punika saged kawujud dhateng sedaya umat kagunganipun ingkang purun pracaya lan mratobat dhateng Gusti Allah.

Panutup
Pangandikanipun Gusti Yesus punika ugi kangge kita sedaya supados pracaya lan mratobat ing Gusti Allah. Kasaenan lan katresnanipun Gusti Allah tansah dipun paringaken kengge kita, langkung lebet tinimbang seganten lan langkung luas tinimbang samudra, punika wujuding katresnanipun Gusti Allah. Pitedah punika dipun wartosaken kangge kita ing Minggu Pra Paskah I supados kita saged ngraosaken kados pundi katresnanipun lan kasaenanipun Gusti Allah ingkang mboten winates dhateng kita.

Sampun ngantos kita namun “memanfaatkan” katresnanipun Gusti Allah punika kangge kapentingan kita pribadi. Sampun ngantos kita rumaos lan matur, “Ah wong Gusti mesti paring pangapunten, ah Gusti tetap paring katresnan, gak apa nek aku licik, gak apa nek aku nggolek keuntungan kangge awakku dewe lsp.” Ananging sampun sakmestinipun lumantar katresnanipun Gusti Allah tansaya mbeta gesang kita langkung sae. Kita tansah nuladani katresnanipun Gusti lan mujudaken katresnan punika ing gesang kita.

Mangga kita tansah enget bilih kita taksih gesang ngantos dinten punika, sedaya awit saking sih rahmat, katresnan lan kasaenanipun Gusti Allah dhateng kita. Karana punika, sumangga kita nresnani Gusti Allah klayan gumolonging manah lan kita tansah setya tuhu dhateng Gusti. Kita yakin bilih Rohipun Gusti Allah ingkang nunggil Gusti Yesus tansah nunggil kita satemah kita saged ngadepi sedaya pacoben lan nampeni kemenangan. Pramila, sampun ngantos diri kita dawah ing dosa lan pacoben Iblis ananging swawi kita tansah mangun gesang celak rumaket, taat lan setya dhumateng Gusti ingkang saestu nresnani kita. Gusti mberkahi. Amin. (RKN)

Pamuji : KPJ. 68 Allah Maasih

Renungan Harian

Renungan Harian Anak