Memulihkan Yang Terluka Khotbah Minggu 31 Januari 2021

19 January 2021

Minggu Epifania 4 – Penutupan Bulan Penciptaan
Stola Hijau

 

Bacaan 1 : Ulangan 18 : 15 – 20
Bacaan 2 :
1 Korintus 8 : 1 – 13
Bacaan 3 : Markus 1 : 21 – 28

Tema Liturgis : Berkat Terindah adalah Kembali menjadi Milik Allah
Tema Khotbah: Memulihkan yang Terluka

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Ulangan 18 : 15 – 20
Secara umum Kitab Ulangan berisi tentang “amanat Musa” yang disampaikan kepada bangsa Israel generasi muda yang akan memasuki tanah perjanjian. Musa menyampaikan amanat tersebut karena banyak dari generasi muda bangsa Israel yang sudah tidak mengetahui bagaimana pemilihan, pemeliharaan dan pertolongan Allah kepada nenek moyang serta orang tua mereka. Oleh sebab itu, ada pula yang menyebut bahwa Kitab Ulangan sebagai sebuah kitab “pembaharuan perjanjian”, yaitu perjanjian Allah kepada Bapa-bapa leluhur yang “dibacakan” ulang untuk generasi muda bangsa Israel. Tujuannya agar generasi muda bangsa Israel selalu ingat tentang kasih setia Allah kepada umat/ bangsa yang telah dipilih-Nya.

Secara khusus, amanat Musa pada Ulangan 18: 15 – 20 menjelaskan tentang bagaimana sikap hidup yang harus dilakukan oleh bangsa Israel ketika mereka akan menduduki tanah perjanjian. Bangsa Israel diingatkan agar mereka tidak mengikuti kebiasaan keji (mempersembahkan anak-anak sebagai korban, menjadi petenung, menjadi penyihir, menjadi peramal, bertanya kepada arwah dan meminta petunjuk kepada roh orang-orang mati) yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di tanah perjanjian tersebut (ayat 9 – 14). Sebaliknya, mereka harus menjauhi kekejian tersebut dan hanya mendengarkan suara Allah yang dinyatakan-Nya melalui nabi yang telah dipilih dari tengah-tengah bangsa mereka (ayat 15). Sebab, hanya kepada nabi yang benar-benar telah dipilih oleh Allah, bangsa Israel akan mengetahui firman dan perintah Allah bagi kehidupan mereka. Artinya, melalui perkataan para nabi, Allah akan selalu mengingatkan agar bangsa Israel menjauhi kekejian.

1 Korintus 8 : 1 – 13
Pada saat itu, Korintus adalah salah satu kota besar pada zaman imperialisme Romawi. Korintus disebut juga sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan, sehingga banyak sekali masyarakat dari luar kota Korintus datang dan menetap di sana. Akibatnya, Korintus menjadi kota yang sangat padat dan majemuk. Keadaan yang demikian, mau tidak mau, pun membawa pengaruh pada pola keagamaan masyarakat Korintus.

Secara umum, masyarakat Korintus adalah para penyembah berhala (ayat 1). Mereka melakukan ritual keagamaan, salah satunya, dengan cara memberikan daging persembahan kepada para allah/tuhan (ayat 4-5). Selain itu, sebagai tanda bahwa mereka adalah para penyembah berhala, mereka pun memakan daging persembahan yang telah mereka persembahan dalam ritual pemujaan tersebut. Sebagai seorang Kristen yang telah percaya hanya kepada satu Allah (memiliki “pengetahuan”), pemahaman yang demikian sudah tidak berlaku. Bagi mereka, memakan daging persembahan adalah hal yang biasa (tidak berdosa). Namun, Rasul Paulus mengingatkan bahwa “pengetahuan” yang demikian dapat membuat seseorang menjadi sombong, karena akan membuat orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan menjadi lemah dan hati nurani mereka seakan dinodai oleh makanan tersebut (ayat 1 & 7).

Oleh sebab itu, Rasul Paulus mengatakan agar kebebasan (“pengetahuan”) yang dimiliki tidak menjadi batu sandungan bagi yang lain (ayat 9). Sebab, jika demikian, maka seseorang yang memiliki “pengetahuan” telah berdosa kepada Kristus (ayat 12). Jadi, menurut Rasul Paulus, lebih baik tidak memakan daging persembahan (sekalipun tidak berdosa), dari pada membuat saudara-saudara yang lain merasa berdosa karena ketidaktahuan yang mereka miliki. “Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan” (ayat 8). Artinya, “pengetahuan” harus diarahkan pada kasih yang membangun, bukan kesombongan yang merusak.

Markus 1 : 21 – 28
Secara singkat dapat dikatakan bahwa Markus 1:21 – 28 adalah kisah pelayanan pertama yang dilakukan oleh Yesus. Setelah Yesus dibaptis (ayat 9 – 11), dicobai di padang gurun (ayat 12 – 13) dan memanggil para murid (ayat 16 – 20), Ia mengawali pelayanan-Nya di Kapernaum. Di sana, Yesus hadir sebagai seorang pengajar di rumah ibadat. Ia mengajarkan dengan begitu luar biasa, sehingga membuat para murid-Nya takjub, sebab pengajaran-Nya berbeda dengan pengajaran yang biasa disampaikan oleh para ahli Taurat (ayat 21 – 22). Yesus tidak hanya mengajar dengan kata, melainkan dengan kuasa; dan hal tersebut nyata dalam peristiwa “pengusiran” roh jahat yang sedang merasuki salah seorang yang hadir dalam rumah ibadat tersebut. Dengan kuasa-Nya Yesus membebaskan orang yang sedang dikuasai oleh roh jahat. Yesus adalah pribadi yang dipilih oleh Allah (ayat 11) dan melalui kuasa yang diberikan Allah kepada-Nya, Yesus hadir sebagai seorang penolong. Artinya, kuasa Yesus adalah kuasa kasih yang menyelamatkan.

Benang Merah Tiga Bacaan
Allah membenci segala bentuk kekejian, karena kekejian menyebabkan kehancuran dan kerusakan. Oleh sebab itu, setiap “pengetahuan”, “kuasa” dan “kebebasan” yang diberikan Allah kepada manusia harus digunakan untuk menolong, menguatkan dan memulihkan.

Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Setiap manusia pasti berharap agar dapat hidup dengan tenang dan bahagia. Tidak mengalami permasalahan, pergumulan bahkan penderitaan di dalam hidupnya; dan apabila mengetahui ada hal-hal berbahaya dan menyebabkan kerusakan serta kehancuran di depannya, pasti akan memilih untuk menghindarinya. Namun, sekalipun demikian, kenyataan yang terjadi malah sebaliknya. Banyak manusia yang mengalami penderitaan dalam hidupnya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang merasakan putus asa dan memilih untuk menyerah melanjutkan hidup. Pertanyaannya, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apakah yang menyebabkan harapan tidak sesuai dengan kenyataan?

Isi
Pada dasarnya, Allah pun memiliki harapan yang sama dengan manusia. Ia menghendaki agar seluruh ciptaan-Nya dapat hidup dengan penuh kedamaian. Sekurang-kurangnya, hal tersebut tampak dalam peristiwa penciptaan yang terdapat dalam Kejadian 1: 1 – 31. Dalam kisah penciptaan, Allah menciptakan segala sesuatu baik adanya, tidak ada cacat dan cela. Semuanya hidup berdampingan dengan harmonis. Akan tetapi semuanya berubah, tatkala manusia yang diciptakan khusus seturut gambar dan rupa Allah, menggunakan “kuasa” dan “kebebasan”nya secara tidak bertanggung jawab. Mereka (Adam dan Hawa) memakai “kuasa” dan “kebebasan”nya untuk melawan perintah Allah. Mereka melanggar aturan yang ditetapkan oleh Allah, yaitu agar tidak makan buah “pengetahuan yang baik dan yang buruk” (Kejadian 3:6); dan karena mereka melanggar perintah Allah, maka Allah menghukum mereka (Kejadian 3: 16 – 19).

Allah sangat membenci ketidaktaatan. Oleh sebab itu, dalam peristiwa “persiapan” memasuki tanah perjanjian, Allah memakai Musa untuk mengingatkan bangsa Israel agar mereka taat dan menjauhi kekejian. Mereka dilarang mengikuti tradisi/kebiasan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa yang ada di tanah perjanjian tersebut, yaitu: mempersembahkan anak-anak sebagai korban, menjadi petenung, menjadi penyihir, menjadi peramal, bertanya kepada arwah dan meminta petunjuk kepada roh orang-orang mati (Ulangan 18:9–14). Sebab, setiap kekejian yang dilakukan oleh manusia akan mendatangkan penderitaan dan bencana bagi yang lainnya. Sehingga, segala “pengetahuan” yang diberikan Allah kepada manusia, hendaknya diarahkan untuk membangun dan memperbaharui (1 Kor. 8:1,9). Bukan sebaliknya, “pengetahuan” yang dimiliki malah digunakan untuk merusak dan menghancurkan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pengetahuan, kuasa dan kebebasan yang dimiliki manusia nyatanya mendatangkan rupa-rupa kekejian, yang memunculkan berbagai macam krisis, baik krisis ekologi (kekeringan, banjir, tanah longsor, sampah anorganik,dll.) maupun krisis kemanusiaan (KDRT, jual-beli manusia, korupsi, tindakan-tindakan kriminal, dll.). Ada banyak korban yang disebabkan oleh dampak negatif pengetahuan, kuasa dan kebebasan manusia. Ada banyak yang sakit dan terluka! Oleh sebab itu, pada saat ini, kita diajak agar mampu menggunakan pengetahuan, kuasa dan kebebasan kita untuk memulihkan dan menyembuhkan “yang terluka”. Seperti halnya yang dilakukan oleh Yesus kepada orang yang dirasuki oleh roh jahat. Dengan kuasa-Nya, Yesus membebaskan dan menolong manusia yang mengalami penderitaan (Markus 1:21–28).

Penutup
Penutupan Bulan Penciptaan bukan berarti pekerjaan untuk mencipta telah selesai. Sebaliknya, penutupan Bulan Penciptaan merupakan awal dari tugas tanggung jawab pengikut Yesus untuk mampu menjaga dan merawat ciptaan Allah agar tetap baik adanya. Jadi, marilah kita menggunakan pengetahuan yang kita miliki untuk memilih yang baik, kuasa yang kita miliki untuk melayani yang lain dan kebebasan yang kita miliki untuk memulihkan yang terluka. Amin. (7us)

Nyanyian : KJ. 68 : 1, 2 Tahukah Kamu Jumlah Bintang

Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Saben manungsa tamtu nggadhah pengajeng-ajeng supados saged gesang kanthi ayem lan tentrem. Boten ngalami perkawis ingkang awrat lan kasangsaran wonten ing gesangipun; lan menawi mangertos ing ngajengipun wonten bab ingkang mbebayani lan nglairaken karisakan, tamtu milih nebihi perkawis punika. Ananging, sinaosa mekaten, kasunyatanipun ingkang kelampahan malah kosokwangsulipun. Kathah manungsa ingkang ngalami kasangsaran ing gesangipun, linangkung boten sakedhik ingkang ngraosaken pepes lan milih mandheg nglajengaken gesang. Pitakenanipun, kenging punapa bab ingkang mekaten saged kelampahan? Punaka ingkang njalari pangajeng-ajeng benten kaliyan kasunyatan ingkang kelampahan?             

Isi
Sejatosipun, Gusti Allah ugi kagungan pangajeng-ajaneg kados dene manungsa. Panjenenganipun karsa sedaya titahipun saged gesang kanthi kebak katentreman. Kados dene ingkang kaserat wonten ing Purwaning Dumadi 1:1–31. Ing kisah penciptaan, Gusti Allah nitahaken sedayaipun kanthi sampurna, boten wonten cacat lan lepatipun. Sedaya titah gesang sesarengan kanthi rukun. Ananging sedayaipun dados risak, nalika manungsa ingkang katitahaken miturut gambaripun Gusti Allah, migunakaken “kuwasa” lan “kebebasan”ipun kanthi salah. Adam – Hawa migunakaken “kuwasa” lan “kebebasan”ipun kangge nglawan dhawuhipun Gusti Allah. Adam – Hawa nerak angger-angger ingkang sampun katetepaken dening Gusti Allah, nggih punika boten angsal nedha wohing “wit pangertosan” (Purwaning Dumadi 3:6); lan karana Adam – Hawa nerak dhawuhipun Gusti Allah, mila Gusti Allah paring paukuman dhateng Adam lan Hawa (Purwaning Dumadi 3:16–19).

Gusti Allah punika sengit dhateng ketidaktaatan. Pramila, ing kisah “persiapan” lumebet dhateng ing tanah prajanjian, Gusti Allah, lumantar Musa, ngemutaken bangsa Israel supados tansah setya lan nebihi tumindak ingkang keji. Bangsa Israel kasuwun supados boten nindakaken sedaya pakulinan/adat ingkang dipun tindakaken kaliyan bangsa-bangsa ing salebeting tanah prajanjian (ngurbanaken para putra lan putrinipun, dados juru tenung, dados juru pethek, dados juru petung, dados juru sihir, dados juru dendam, lsp. (Pangandharing Toret 18:9–14). Sabab, saben tumindak keji ingkang katindakaken, tamtu nuwuhaken kasangsaran tumrap tiyang sanes. Pramila, sedaya “kawruh” ingkang dipun paringi dening Gusti Allah, kedah katujuaken kegem kabecikan. (1 Kor. 8:1,9).

Pancen boten saged dipun tutupi bilih kawruh, kuwasa lan kebebasan ingkang dipun gadhahi manungsa, kasunyatanipun nglairaken mawarni-warni tumindak ingkang keji, ingkang nuwuhaken krisis, sae krisis alam (banjir, longsor, sampah anorganik, lsp.) mekaten ugi krisis kamanungsan (KDRT, adol-tuku manungsa, korupsi, tindak kriminal, lsp.). Kathah korbanipun, menawi kawruh, kuwasa lan kebebasan boten dipun ginakaken kanthi wicaksana. Pramila, ing wegdal punika, kita kaajak supados saged nyarasaken sedaya titah ingkang nampi kasangsaran. Kados dene ingkang dipun tindakaken dening Gusti Yesus dhateng tiyang ingkang kadunungan rohing pepeteng. Kanthi kuwasanipun, Gusti Yesus ngluari lan paring pitulungan dhateng manungsa ingkang ngraosaken kasangsaran. (Markus 1:21–28).

Panutup
Panutupaning Bulan Penciptaan sanes ateges bilih pakaryan adi (penciptaan) sampun rampung/mandheg. Kosokwangsulipun, panutupaning Bulan Penciptaan nedahaken bilih kita kedah ngrimati lan njagi sedaya titahipun Gusti Allah supados tansah lestari. Pramila, swawi kita sami migunakaken sedaya kawruh kita kagem milih perkawis ingkang becik, kuwasa kita kagem paring peladosan tumrap sesami, lan kebebasan kita kagem nyarasaken sedaya titah ingkang ngraosaken kasangsaran lan sesakit. Amin. (7us)

 Pamuji : KPJ. 177 : 1, 2 Para Manuk Ora Tau Anyebar

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak