Minggu Epifania 3 – Bulan Penciptaan
Stola Hijau
Bacaan 1 : Yunus 3 : 1 – 5, 10
Bacaan 2 : 1 Korintus 7 : 29 – 31
Bacaan 3 : Markus 1 : 14 – 20
Tema Liturgis : Berkat Terindah adalah Kembali menjadi Milik Allah
Tema Khotbah: Menoleh pada Karya Allah yang Memulihkan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yunus 3 : 1 – 5, 10
Kitab Yunus ingin mengungkapkan kritik kepada bangsa Yahudi setelah masa pembuangan. Secara umum, Orang Yahudi masih merasa sebagai umat Tuhan yang memiliki kekhususan, sehingga berefek pada pandangan mereka yang tidak dapat menerima apabila orang bukan Yahudi juga bisa menjadi umat Allah. Pandangan dan sikap inilah yang sedang digugat oleh kehadiran kitab Yunus. Sosok Yunus mewakili pemikiran rasial, fanatik dan eksklusif yang dimunculkan ketika tindakan Yunus untuk mengabaikan perintah Allah ketika diutus ke kota Niniwe, alih-alih pergi ke Tarsis untuk melarikan diri. Respon pengabaikan panggilan Tuhan terhadap Yunus ini merupakan respon sikap Yunus yang rasial, fanatik dan eksklusif sehingga menganggap orang-orang di kota Niniwe tidak pantas dikasihi dan diselamatkan oleh Tuhan. Bacaan kali ini merupakan perombakan pola pikir Yunus yang telah terbuka sehingga menjadi jalan keselamatan bagi Bangsa Niniwe. Kita melihat ada 2 pihak yang bersedia membuka pikiran, yang pertama adalah Yunus sendiri, yang kedua adalah bangsa Niniwe yang berkenan untuk berbalik dari tingkahnya yang jahat serta menyesal.
1 Korintus 7 : 29 – 31
Dalam bacaan ini Paulus membicarakan bahwa waktu bagi eskhaton (akhir jaman) sudah dekat. Dalam pandangan mengenai akhir jaman inilah pandangan mengenai orang yang beristri berlaku seolah-olah mereka tidak beristri dijelaskan. Apabila dijabarkan, Paulus ingin jemaat terhindar dari kesusahan (ayat 28), Paulus ingin setiap orang perhatiannya tidak terbagi-bagi karena perkara dunia dan dapat memusatkan perhatiannya kepada Tuhan.
Ia mengetengahkan mengenai konsep hidup baru orang Kristen yang memiliki pengharapan akan masa depan. Karena apabila manusia hidup tanpa adanya pengharapan akan masa depan, maka setiap orang akan menjalani hidup sekehendak dan semaunya sendiri. Orang Kristen diajak oleh Rasul Paulus untuk hidup seolah-olah mereka telah terlepas dari dunia ini, bersikap bebas terhadap dunia ini dan menjauhkan diri dari dunia. Sehingga tidak mengherankan apabila Paulus memberikan nasehat yang konkrit sekali karena perbuatan yang konkrit itu menjadi tanda dan akibat dari sikap hidup serta arah hidup yang satu, menjadi tanda bahwa utuh dan konkretnya ketaatan Kristen tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lainnya. Di satu sisi orang Kristen tidak melarikan diri dari dunia, tapi juga tidak mencintainya.
Markus 1 : 14 – 20
Kemuridan adalah pusat perhatian Injil Markus. Dalam Injil Markus, sejak penampilan Tuhan Yesus yang pertama, Dia selalu ditemani oleh para murid-Nya. Dalam ayat yang ke 14 diberitakan bahwa pemerintahan Allah telah mendekati dunia ini, sehingga Tuhan Yesus memanggil para murid Kristus untuk menghimpun manusia memasuki Kerajaan Allah itu. Dalam memanggil pada murid, Tuhan Yesuslah yang mengambil prakarsa. Peranan para murid ialah menyambut Kerajaan Allah. Panggilan menjadi murid Yesus mengandung arti bersedia untuk mengikut dan menderita bersama dengan Dia. Bagi Markus, murid yang rela menyerahkan diri dan menerima salib merupakan gambaran murid yang benar dan seharusnya. Hal ini dinampakkan dalam narasi bacaan saat ini ketika orang-orang yang dipanggil menjadi murid-Nya meninggalkan jalannya yang artinya meninggalkan kenyamanan kehidupan yang selama ini dijalani. Pertobatan dan kepercayaan diwujudkan secara konkrit dengan mengikut Yesus, berpaling dan berfokus pada Yesus yang memanggil.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Panggilan manusia untuk ikut serta menjadi rekan kerja-Nya serta untuk menghayati panggilan-Nya senantiasa terjadi disepanjang sejarah manusia. Tuhan datang, menjumpai dan mengajak manusia, menuntut sebuah respon. Sekalipun semua dimulai dari Allah yang datang dan menyapa, dibutuhkan kesigapan untuk menyambut dan mengikuti-Nya.
Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Pernahkan saudara melihat orang yang menggunakan headset/ earphone ketika sedang berkendara atau mengemudi di jalan? Apakah itu ketika bersepeda atau sedang mengendarai kendaraan bermotor baik sepeda motor atau mobil. Dikutip dari tirto.id, Nicky Hayden, mantan juara Moto GP 2006 meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan mobil di Pantai Rimini, Cesena, Italia. Setelah melihat rekaman CCTV, Kepolisian Rimini membeberkan penyebab kecelakaan pembalas berusia 35 tahun itu yang diduga karena mendengarkan musik dengan menggunakan earphone. Hayden terlihat menerobos lampu merah dan tidak memperhatikan kendaraan lain sehingga kecelakaan tidak terelakkan. Hayden adalah korban kesekian dari pelanggaran keselamatan mengemudi akibat menggunakan fitur penjejal telinga (earphone) yang berakibat terganggunya fokus mengemudi.
Kisah Hayden ini mengajak kita untuk memilih fokus yang benar ketika kita berhadapan atau bertindak pada sesuatu. Terkadang kita perlu diajak untuk meletakkan dulu kegiatan yang membuat kita terdistraksi/teralihkan dari fokus yang seharusnya kita lakukan. Mengalihkan pandangan dan sikap pada hal yang benar dan seharusnya menolong kita untuk mampu melakukan hal dengan tepat dan selamat.
Isi
Mengalihkan pandangan atau menolehkan pandangan pada hal yang benar dan tepat rupanya dilakukan oleh tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita di kitab Yunus, yakni baik sosok Yunus sendiri maupun masyarakat Niniwe. Yunus mengalihkan fokus pelayanannya dan memenuhi panggilan Tuhan untuk pergi ke Niniwe ketika dia sadar bahwa bangsa Niniwe pun berhak untuk menerima kasih dan keselamatan dari Allah. Ketika selama ini dia teralihkan karena sikap eksklusifnya, namun pandangannya terbuka ketika fokus hidupnya diubah oleh Tuhan.
Hal serupa dinampakkan bangsa Niniwe ketika bangsa tersebut berbalik kepada Allah dan bertobat, fokus hidupnya bergeser kepada Allah. Ketika fokus mereka berada dalam posisi yang tepat, maka panggilan Allah akan dipenuhi di dalam dan melalui mereka. Secara pribadi mereka menerima panggilan Allah, melalui mereka panggilan Allah juga dinyatakan kepada pihak lain. Proses Allah menjumpai Yunus secara pribadi dan menjadikan Yunus menoleh dan berfokus pada Allah telah mengubah fokus dan jalan hidupnya. Allah senantiasa menjumpai manusia secara pribadi.
Seperti juga Tuhan Yesus ketika menjumpai dan memanggil murid-murid-Nya yang pertama, inisiator atau pemrakarsa dari pertemuan itu adalah Tuhan Yesus yang menjumpai secara pribadi para murid-Nya. Namun di sisi lain panggilan pribadi kepada para murid untuk mengalihkan fokus hidup kepada-Nya tersebut mengundang jawaban sang manusia. Pilihan itu bergantung dari sisi penerima panggilan tersebut, menerima ataukah mengabaikan panggilan itu. Apabila kita melihat bacaan, dimana para murid yang pertama meninggalkan jala adalah wujud respon terhadap panggilan Tuhan, mereka memilih untuk tidak mengabaikan panggilan-Nya. Para murid memilih untuk mengubah haluan, menoleh kepada Yesus dan mengikut panggilan-Nya. Panggilan ini perlu dihayati dengan serius dan fokus. Mengingat seperti diungkapkan Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Korintus, akhir jaman sudah dekat. Karena itu, Paulus ingin supaya perhatian orang Kristen tidak terbagi-bagi melainkan hanya memusatkan perhatiannya kepada Kristus. Sekali kita memilih untuk memalingkan wajah kita pada Kristus Yesus, maka pusatkan perhatian hanya pada-Nya, berupaya untuk mengikut-Nya dan menghayati panggilan-Nya dengan utuh.
Penutup
Yesus yang sama juga menjumpai kita, saya dan anda. Sayangnya sering kali kita terlalu sibuk dengan persoalan dan tangisan kita sehingga kita seolah selalu bergumul untuk mencari Allah. Karena itulah Dia mengundang respon kita. Apabila Yunus mereson dengan pergi ke kota Niniwe, orang Niniwe merespon dengan pertobatan dan berbalik kepada Allah, para murid merespon dengan meninggalkan jalanya dan mengikut Tuhan Yesus, bagaimanakan respon kita sebagai umat yang dijumpai-Nya? Respon itu menuntut sebuah undangan untuk berbalik pada hal yang baru, berfokus pada Dia seperti yang telah diungkap di dalam Korintus.
Dalam kehidupan iman Kristen, di tengah panggilan kita kepada dunia, saat ini kita diajak untuk merenungkan dan beraksi di tengah keberadaan dunia saat ini. Maka dalam minggu-minggu penghayatan bulan penciptaan saat ini, kitapun dipanggil untuk berfokus melihat dunia yang sakit dan rusak. Kita perlu memalingkan pandangan kita ke sekeliling dan berbuat apa yang kita bisa lakukan untuk memulihkan bumi. Ketika sebelumnya kita berfokus pada kenyamanan pribadi, saatnya kita berfokus untuk tindakan dan aksi dan membawa perubahan ke arah yang baik bagi bumi kita. Amin. (Ardien).
Nyanyian : KJ. 356 Tinggallah dalam Yesus
—
Rancangan Khotbah : Basa Jawi
Pambuka
Punapa Panjenengan nate mirsani tiyang ingkang ngagem earphone utawi headset nalika nitih sepada utawi sepeda motor? Earphone utawi headset Punika piranti kangge mirengaken suara ingkang dipun pasang wonten ing kuping. Ngutip saking tirto.id, Nicky Hayden, mantan juara Moto GP 2006 ngalami cilaka ngantos seda ing Pantai Rimini, Cesena, Italia. Sakbibaripun ningali rekaman CCTV, Kepolisian Rimini paring pawartos bab punapa ingkang dados jalaran pembalap ingkang yuswa 35 taun punika seda. Sebabipun amargi sang pembalap mirengaken musik mawi earphone. Hayden ketingal nerobos lampu abrit sarta boten ningali bilih wonten kendaraan liyan satemah kecelakaan mboten saged dipun tolak. Hayden dados salah setunggaling kurban amargi ngelanggar tata tertibing lalu lintas mawi cara ngangge piranti ingkang naminipun earphone punika. Amargi mirengaken musik nggangge piranti earphone, konsentrasi nyetiripun mboten fokus lan mbebayani diri pribadi saha tiyang sanes.
Saking carios Hayden punika, kita kaajak supados saged milih fokus ingkang leres nalika kita manggihi utawi kedah tumindak ing sajroning kahanan. Kita kedah nilar tumindak ingkang ndadosken kita boten fokus. Mirsani sarta tumindak ingkang trap kedahipun saged ndadosaken kita nuwuhaken kawilujengan.
Isi
Fokus lan kersa noleh ing pandangan ingkang trap saha leres ugi dipun lampahi dening tokoh ingkang kacariosaken ing Kitab Yunus. Yunus saged mindah fokus peladosanipun sarta ngugemi timbalanipun Gusti tindak ing kutha Niniwe nalika piyambakipun sampun kagungan pemanggih bilih Bangsa Niniwe ugi saged pikantuk katresnan saha kawilujengan saking Gusti Allah. Nalika ing dinten kepengker Yunus nggadhani sipat eksklusif, pemanggihipun kawilujengan punika namung kagunganipun tiyang Yahudi, ananging saksampunipun manahipun kabuka satemenah saged fokus dhumateng Gusti.
Perkawis ingkang sami dipun ketingalaken dening bangsa Niniwe nalika Yunus paring pawartos bab paukuman kangge bangsa Niniwe. Bangsa punika lajeng mratobat, saha ngewahi fokus gesang dhumateng Allah. Nalika fokus ing gesang ing posisi ingkang leres, timbalanipun Gusti saged kalampahan ing sajroning umat. Sacara pribadi, tokoh-tokoh punika nampi timbalanipun Gusti, lan sarana para tetiyang punika timbalanipun Gusti saged sumrambah ing tiyang sanesipun. Proses Gusti Allah anggenipun manggihi Yunus sacara pribadi satemah saged ndadosaken Yunus noleh sarta fokus dhumateng Gusti Allah ingkang sampun paring manah ugi pamikiran enggal. Gusti Allah kita tansah manggihi umatipun sacara pribadi.
Kados dene Gusti Yesus ingkang manggihi ugi nimbali para sakabatipun, inisiator utawi pemrakarsa pepanggihan inggih punika Gusti Yesus piyambak. Ananging, kita kedah mangertosi bilih timbalan sacara pribadi dhumateng para sakabat supados nderek Gusti Yesus punika mbetahaken panjawab saking pihak manungga. Pilihanipun gumantung saking para sakabat ingkang nampi timbalan, ateges saged dipun tampi ugi saged dipun tolak. Menawi kita mirsani waosan Alkitab, para sakabat sami ninggal jalanipun ateges para sakabat kersa nampi timbalanipun Gusti Yesus. Para sakabat lajeng nderek Gusti Yesus lan ngugemi timbalanIpun. Kahanan punika mbetahanen manah ingkang fokus, boten saged mangu-mangu.
Kados dene ingkang sampun kaserat ing seratipun Paulus ing 1 Korinta ingkang dados waosan kita dinten punika, bilih akhir jaman sampun celak. Amargi punika, Paulus kagungan pemanggih satemah para tiyang paring kawigatosan ing bab iman kapitadosan supados manahipun boten kabagi-bagi sarta saged ta fokus saestu dhumateng Gusti Yesus. Nalika kita sampun milih ningali Gusti Yesus, kawigatosan kita namung tumuju ing Panjenenganipun. Kita ngupaya nderek tut wingking Gusti sarta ngumeni timbalanipun kanthi utuh.
Panutup
Gusti Yesus ingkang sami ugi manggihi kita, panjenengan lan kula. Asring kita langkung sibuk kaliyan perkawis lan momotaning gesang satemah kita taksih wonten ing tataran madosi Gusti Allah. Amargi punika, sakmangke Gusti ngundang kita paring respon. Menawi Yunus paring respon kanthi cara lunga ing kutha Niniwe, tiyang Niniwe paring respon mawi mratobat, para sakabat purun nilar jalanipun lajeng nderek Gusti, sakpunika kados pundi respon kita para tiyang pracaya ingkang sampun dipun panggihi kaliyan Gusti?
Respon punika mbetahaken tumindak purun lumampah enggal. Kita tansah fokus dhumateng Panjenenganipun kados ingkang sampun dipun tuladhaaken pasamuan Korinta. Wonten ing gesang para umatipun Gusti, ing saktengahing timbalan peladosan ing donya, kita dipun ajak sami kagungan kawigatosan sarta paring aksi ing kahananing bumi. Mila, ing minggu-minggu wulan penciptaan punika kita sami kautus ningali donya ingkang sakit saha risak. Kita perlu nolehaken paningal kita sarta milai aksi ingkang saged nylametaken bumi saking karisakan. Sumangga kita boten namung fokus ing kenyamanan pribadi, ananging kita ugi ngupaya kenyamanan kangge salumahing bumi. Amin. (Ardien)
Pamuji : KPJ. 346a Ndedonga lan Makarya