Minggu Epifani 5
Stola Hijau
Bacaan 1 : Yesaya 40 : 21 – 31
Bacaan 2 : 1 Korintus 9 : 16 – 23
Bacaan 3 : Markus 1 : 29 – 39
Tema Liturgis: Kebenaran tentang Siapa Allah yang Peduli atas Hidup Kita
Tema Khotbah: Allah yang Peduli
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 40 : 21 – 31
Yesaya 40 merupakan bagian pertama dari Deutero Yesaya. Ciri khasnya adalah menggunakan kabar gembira bahwa pembuangan sudah berakhir dan saat ini adalah kesempatan untuk membedakan kuasa dari dewa yang disembah Babel dan Yahwe yang disembah Israel. Selanjutnya, Yesaya 40:21-31 ini adalah bagian dari tiga nubuatan Yesaya yang dimulai sejak Yesaya 40:12. Nubuatan tersebut bertemakan tentang kemahakuasaan Yahwe atas segala yang terjadi. Pada ayat 21-25 adalah bait kedua dari Deutero Yesaya yang mengajak membandingkan siapa Allah dengan pertanyaan retoris “dengan siapa Yahwe dibandingkan?”. Firman yang berbunyi “Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar?” seolah mengejek para pembuat patung di Babel. Kemampuan Yahwe untuk mengalahkan Babel adalah kenyataan bahwa Yahwelah yang menciptakan bumi.
Selanjutnya, ayat 25-31 adalah bait ketiga. Bentuknya mirip dengan bait kedua, dengan pertanyaan retoris “dengan siapa hendak kamu samakan Aku?” (ay.25). Diikuti dengan perintah untuk melihat kepada bintang-bintang, yang kerap dihormati sebagai illah oleh orang-orang Babel. Sebagai seorang Nabi Yesaya memiliki keyakinan bahwa bintang-bintang adalah ciptaan yang juga tunduk kepada Yahwe. Dalam hal ini Yesaya memarahi secara langsung atas orang-orang yang Israel yang putus asa karena merasa ditinggalkan oleh Yahwe. Dengan menjawab secara langsung “Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar?” Menjadi jawaban atas putus asa mereka. Pada akhirnya, Deutero Yesaya meyakinkan pada bangsa Israel yang beriman kepada Yahwe yang kemudian mereka mendapatkan jawaban dengan jatuhnya Babel.
1 Korintus 9 : 16 – 23
Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus, khususnya pada 1 Kor. 9 ini mengemukakan tentang perjuangan yang tidak mudah orang-orang Kristen di Korintus terhadap orang-orang di sekitarnya yang memusuhinya. Paulus memberikan refleksi mengenai menjadi rasul, mengisyarakat bahwa kehidupan dirinya dapat menjadi model/contoh bagi yang kuat, supaya terus belajar menyesuaikan dengan yang lemah. Pada ayat 16-18 Paulus mengemukakan tentang pentingnya memberitakan Injil bagi seorang Rasul. Sebagai seorang rasul, Paulus memberitakan Injil sambil mencari nafkah sendiri, tidak hanya untuk menghindari skandal, melainkan untuk memperlihatkan bahwa Injil tidak bergantung pada kemakmuran jemaat. Hal tersebut dilakuan Paulus sejak permulaan memberitakan Injil, meskipun Ia menerima bantuan keuangan dari jemaat-jemaat sesudah ia meninggalkan mereka.
Pada ayat 19-23 kental sekali kesan bahwa kebebasan yang sudah Paulus alami sebagai orang Yahudi, hendaknya digunakan untuk melayani semua orang. Paulus menghormati tradisi orang Yahudi itulah sebabnya Paulus hidup di antara mereka, yaitu untuk memenangkan mereka. Artinya, memperkenalkan mereka kepada anugerah keselamatan dalam Kristus. Ungkapan “bagi mereka yang tidak hidup dibawah hukum taurat” dimaksudkan Paulus adalah bagi mereka baik orang Kristen Yahudi maupun Kristen yang berasal dari bangsa lain yang dulu Paulus sebut sebagai “yang kuat”. Selanjutnya Paulus juga menyamakan dirinya dengan yang lemah, agar kebebasannya kepada hukum Taurat jangan menjadi sandungan.
Markus 1 : 29 – 39
Markus menceritakan bahwa Yesus bergerak dengan cepat dalam melakukan mujizat satu ke mujizat lainnya. Kunjungan Yesus kepada ibu mertua mertua Simon yang sakit (29-31), kemudian menyembuhkan dengan jamahan tangannya, menjadi tanda bahwa Kerajaan Allah hadir dalam diri Yesus. Palayanan dan mujizat Yesus tidak berakhir pada hari itu. Selanjutnya pada ayat 32-34, Yesus dihadapkakn pada semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Mereka semua disembuhkannya. Setelah penyembuhan itu para pembaca Markus mendengar ungkapan yang mengherankan: tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara sebab mereka (setan-setan) mengenal siapa Dia (ay. 34). Markus nampaknya menekankan kerahasiaan akan jati diri Yesus sebagai Mesias, Markus berharap agar pembacanya (orang Kristen) akan menerima jati diri Yesus yang sesungguhnya sesuai dengan kehendak-Nya, dalam konteks seluruh hidup dan pengutusan-Nya. Orang-orang Kristen bebas untuk mewartakan Yesus sebagai Mesias dan Tuhan mereka hanya bila mereka menerima jalan penderitaan bersama dengan karya-karya-Nya yang ajaib.
Pada ayat 35-39, Yesus bangun pagi-pagi benar dan berangkat ke padang gurun sendirian untuk berdoa (ay. 35) karena Ia tahu bahwa orang banyak mencari-Nya hanya karena mukjizat-mukjizat-Nya. Mereka telah salah paham tentang terhadap Yesus, sehingga Yesus pergi ke desa-desa tetangga untuk melanjutkan pelayanan-Nya berkotbah dan menyembuhkan orang di seluruh Galilea (ay 39). Simon sendiri tidak dapat menahan-Nya dan juga tidak memahami kemana jalan yang akan dituju Yesus.
Benang Merah Tiga Bacaan
Dari ketiga bacaan di atas jelas sekali bagaimana kasih, penyertaan dan pemeliharaan Allah atas umat-Nya yang setia kepada-Nya. Mulai dari kitab (Deutero) Yesaya 40:21-31 yang menegaskan kepada bangsa Israel bahwa Allah Israel, yang membebaskan mereka dari Babel. Allah Israel itulah benar-benar Allah dan yang menjadi pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Penyertaan dan kepedulian Allah juga dirasakan oleh Paulus dalam surat 1 Kor.9:16-23 dimana Allah peduli kepada murid-muridnya yang memberitakan Injil dan kepada orang Kristen baik Yahudi maupun dari bangsa lain. Allah memelihara kehidupan mereka dan apa yang mereka butuhkan disediakan-Nya. Selanjutnya, pada Markus 1:29-39 kepedulian dan kasih Allah kepada umat percaya, nyata dialami oleh ibu mertua Petrus yang disembuhkan-Nya dari sakit. Demikianpula orang-orang yang kerasukan setan dan orang-orang sakit mereka mendapatkan kesembuhan dari Yesus.
Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Berbahagialah dan bersyukurlah! Apabila kita saat ini masih merasakan era yang dikenal New Normal, berarti kita bagian dari orang-orang yang menerima mujizat TUHAN karena survive dari pandemi Covid-19 yang muncul sejak Desember 2019.
Kisah nyata yang menakjubkan datang dari seorang perempuan bernama Angela Primachenko yang tinggal di Washington DC, Amerika Serikat. Saat pandemi virus Corona melanda ia tengah hamil 33 minggu. Angela yang didiagnosa terpapar virus Corona harus berjuang mempertahankan hidupnya melalui selang ventilator yang masuk di tubuhnya. Menariknya, selama dalam keadaan kritis, Angela tidak menyadari jika dirinya akan melahirkan. Dalam keadaan koma, dokter melakukan operasi Ceasar. Pada tanggal 6 April 2020, ketika Angela tersadar dari komanya, Angela mendapati kandungannya tidak lagi ada. Ya, benar saja, para dokter telah melakukan persalinan Ceasar terhadap kandungan Angela pada tanggal 1 April 2020 dan lahir dengan selamat seorang bayi perempuan yang diberi nama Ava. Meski Angela baru diperkenankan menemui anaknya 2 minggu kemudian, Angela merasakan bahwa hanya kuasa Tuhan saja yang bekerja pada saat-saat kritis yang dialaminya. Ia mengatakan “Betapa pentingnya mengandalkan Tuhan dalam seluruh hidup kita dan betapa pentingnya hidup dalam komunitas persekutuan doa yang akan senantiasa berdoa pada saat saya sendiri tidak diberi kesadaran untuk bisa berdoa.” Memang benar, jumlah orang yang berdoa untuk Angela semakin hari semakin banyak sampai dengan ia tersadar dari koma dan hal itu sungguh sulit dipercaya dimana di daerah lain seorang yang positif Covid-19 justru dihindari”. Momen yang mengharukan terjadi manakala Angela keluar dari Rumah Sakit Vancouver, dimana sudah banyak orang yang menunggunya dan mereka memberi tepukan dengan sangat riuh. Angela menyampaikan bahwa keyakinannya berperan besar dalam mengatasi masa-masa sulit. “Saya tidak tahu bagaimana melewatinya tanpa iman. Beriman untuk sembuh, beriman atas segala sesuatu. Saya merasa tidak berdaya dan saya takut. Tapi saat itulah iman saya tumbuh. Saya kagum kepada Tuhan. Dia sungguh baik! Terimakasih.” jelasnya.
Isi
Bagaimana Allah berkarya secara luar biasa dalam dinamika kehidupan orang beriman juga ditemukan pada ketiga bacaan kita. Kitab suci menunjukkan karya Allah kepada bangsa Israel melalui kesaksian Nabi Yesaya (Yes 40:21-31), melalui sharing kehidupan Rasul Paulus dalam memberitakan Injil (1 Kor 9:16-23), serta dalam kisah Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan banyak orang lainnya (Markus 1:29-39). Allah hadir dan turut campur tangan dalam kehidupan orang-orang percaya yang dihadapkan pada penderitaan, kekhawatiran, pengharapan dan berbagai peristiwa kehidupan. Pertanyaannya, gambaran akan Allah seperti apakah yang dapat ditemukan dalam ketiga peristiwa tersebut? Ada tiga gambaran tentang Allah setidaknya:
- Allah Maha Kuasa dan Berdaulat
Gambaran akan Allah yang penuh kuasa dan berdaulat penuh atas ciptaan-Nya dapat kita jumpai pada bacaan pertama. Digambarkan oleh nabi Yesaya, Allahlah yang meletakkan dasar Bumi (Yes. 40:21), bertakhta atas bulatan bumi (ay. 22) dan menciptakan bintang di langit (ay. 26) dan menciptakan kehidupan bumi dari ujung ke ujung (ay. 28). Jikalau nabi Yesaya menggambarkan Allah yang berkuasa menciptakan langit, bumi, bintang, dan segala isi dunia, apalah artinya manusia dengan segala kehidupannya dan semua hal yang terjadi di dunia ini, bagi Allah yang mahakuasa itu? Tidaklah heran jikalau kemudian Deutero Yesaya menyebutkan kemahakuasaan Allah dan kedaulatan Allah itu dengan kebebasan bangsa Israel dari penindasan Babel secara cuma-cuma (tanpa berperang), karena Allah memakai bangsa Persia untuk menaklukkan Babilonia.Gambaran lain Allah yang berkuasa dan berdaulat penuh atas kehendak-Nya bisa kita jumpai dari peristiwa Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus (Mrk. 1:30-31) dan Yesus yang menyembuhkan orang-orang kerasukan Roh Jahat (Mrk. 1:32-34). Kisah ini menjelaskan bagaimana kemahakuasaan Allah melalui mujizat kesembuhan yang dilakukan Yesus. Tidak hanya sakit penyakit yang disembuhkan, akan tetapi roh jahatpun diusir dari tubuh orang yang dirasukinya, dan setan itupun dilarang berbicara oleh Yesus. Kuasa Allah dinyatakan dalam kelemahan manusia, yang mengalami sakit penyakit dan dirasuki oleh setan.
Tentu, bacaan tersebut mengajak kita menyadari akan keberadaan manusia sebagai ciptaan dihadapan Allah yang berkuasa dan berdaulat atas ciptaanNya. Tentu tidak ada hal yang mustahil bagi Allah karena kemahakuasaan-Nya dan tidak ada sesuatupun yang dapat menghalangi jikalau Allah berkehendak. Manusia hanya mengikuti kehendak Allah dan manusia tidak mungkin dapat mengatur Allah yang berdaulat penuh atas kehidupan di dunia. Apapun yang dialami manusia, diinginkan atau tidak, Allah memiliki wewenang serta kuasa untuk turut campur tangan dalam kehidupan manusia. Jikalau manusia menginginkan perubahan baik terjadi dalam kehidupannya, maka ia tinggal datang dengan merendahkan diri dan hendaknya dengan rendah hati memohon belas kasihan Allah.
- Allah Penuh Kasih dan Pemurah
Dalam Injil Markus 1:29-34 gambaran akan Allah yang penuh belas kasih dan penuh kemurahan digambarkan ketika ibu mertua Petrus, juga orang-orang lain yang sakit maupun kerasukan setan disembuhkan oleh Yesus. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Allah dapat melakukan tanpa diminta oleh para murid atau tanpa orang banyak tersebut mau datang kepada Yesus? Tentu bisa, karena Allah Maha Tahu dan Allah berdaulat penuh atas kehendak-Nya. Akan tetapi, dalam kitab Markus diceritakan bahwa ternyata yang disembuhkan adalah orang–orang yang masih ada kaitannya dengan para murid yang mengikuti Yesus dan orang-orang sakit dan mau mendapatkan kesembuhan dari Yesus. Ini berarti, jikalau orang meginginkan mendapatkan kasih dan kemurahan Allah, tidak ada cara lain bagi dirinya selain mendekat kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya.Demikian halnya dengan pengalaman hidup rasul Paulus dalam 1 Kor. 9:16-23, gambaran Allah yang penuh kasih nampak pada kehidupan Paulus yang tetap terpelihara dalam memberitakan Injil. Meskipun tidak mendapatkan upah, Paulus tidak ingin memegahkan diri, karena semua yang dialaminya itu berasal dari kemurahan Allah. Jelas, kemurahan dan kasih Allah dirasakan oleh orang yang beriman kepada-Nya. Sehingga apa yang dialami Paulus ini seharusnya memberi kekuatan bagi orang-orang yang melakukan pekerjaan Allah. Ia akan menerima kemurahan Allah dan segala sesuatu yang diperlukan, Allah menyediakannya.
Gambaran Allah yang penuh kasih dan pemurah seringkali mudah dihayati manakala manusia dalam situasi tercukupi atau dalam kondisi berhasil. Akan tetapi, manakala manusia dalam kondisi sakit, menderita ataupun kekurangan dibutuhkan iman yang kuat dan kesabaran yang tanpa batas untuk mendapat anugerah kasih dan kemurahan-Nya. Meskipun kasih dan kemurahan Allah itu terkadang dirasakan terlambat, tidak sesuai dengan keinginan manusia, namun hanya dengan setia beriman dan meletakkan pengharapan kepada Allah yang penuh belas kasihan itulah, maka manusia memiliki kekuatan. Yakinlah, bahwa Allah tidak kekurangan cara untuk menolong umat-Nya yang berserah kepada-Nya (seperti pertolongan Allah kepada bangsa Israel melalui bangsa persia).
- Allah Menyertai dan Memelihara Kehidupan Umat-Nya
Gambaran tentang Allah menyertai dan memelihara umat-Nya yang percaya nampak dari pergumulan hidup umat Allah dalam ketiga bacaan tersebut. Tantangan dan pergumulan hidup bangsa Israel dalam pembuangan, pergumulan hidup Paulus dalam memberitakan Injil, serta ibu mertua Petrus dan orang banyak yang sakit, menjadikan kita dapat melihat secara jelas bagaimana Allah menyertai dan memelihara kehidupan umat-Nya dan membawanya pada kebaikan dan keselamatan. Ini berarti, sesungguhnya umat yang percaya kepada Allah tidak perlu khawatir dan ragu terhadap Allah yang dipercaya. Allah benar-benar mengetahui apa yang dibutuhkan oleh umat-Nya dan Allah pasti menyertai dan memelihara kehidupan umat-Nya. Mungkin, jawaban Allah itu tidak begitu jelas dalam kehidupan umat-Nya, akan tetapi dengan setia beriman, maka Allah yang hidup akan memberi jawaban pada waktu yang tepat. Tugas kita sebagai umat hanya tetap percaya!
Penutup
Sekarang ini, sebagai gereja atau persekutuan orang percaya yang dipanggil oleh Kasih Allah dalam Yesus Kristus, marilah kita reintropeksi diri dan pelayanan kita. Jikalau pribadi atau sebagai persekutuan/gereja kita mengalami dinamika kehidupan apakah itu pergumulan dan permasalahan hidup yang berat, tantangan yang belum sedikitpun nampak solusinya, ataupun kita diberkati dan diberi kelimpahan; ingatlah untuk tetap setia dalam panggilan orang yang beriman pada Allah. Kita bisa belajar kehidupan pada bangsa Israel dan pada dunia di sekitar kita. Kehidupan ke depanpun tidak ada yang tahu, saat ini kita bisa sehat, kuat dan gagah, esok hari kita tidak tahu, bisa saja kita sakit. Saat ini kita merasa diberkati dengan status sosial ekonomi yang baik, akan tetapi lusa kita tidak tahu apakah situasi ekonomi tetap baik atau krisis. Oleh karena itu, marilah sebagai gereja kita belajar untuk tetap setia akan tugas panggilan kita untuk mewartakan damai sejahtera Kerajaan Allah. Ketika kita berusaha, mengimani akan campur tangan Allah, niscaya kita akan diberikan jalan keluar dan berkat. Amin. (BK)
Nyanyian:
- KJ. 249 : 1, 2, 3 Serikat Persaudaraan
- PKJ. 177 : 1, 2 Aku Tuhan Semesta
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Rahajeng lan saosa sukur! Menawi kita sakpunika taksih ngraosaken mangsa ingkang naminipun new normal, tegesipun kita punika sakperangan tiyang ingkang nampeni mujizatipun Gusti Allah amargi saged uwal, wilujeng saking Pandemi Covid-19 wiwit Desember 2019 kepengker.
Wonten cariyos nyata ingkang nengsemaken saking salah satunggaling ibu ingkang naminipun Angela Primachenko ingkang manggen wonten Washington DC negara Amerika Serikat. Nalika pandemi virus Corona, piyambakipun mbobot 33 minggu. Ibu Angela ingkang dipun diagnosa positif virus Corona kedah ngupaya gesangipun damel alat ventilator ingkang dipun lebetaken dhateng badanipun. Nalika ing kondisi kritis, piyambakipun mboten sumerep menawi badhe babaran. Ing kondisi koma, para dokter nindakaken operasi Ceasar. Tanggal 6 April 2020, nalika Ibu Angela sadar saking komanipun, piyambakipun sumerep bilih kandunganipun sampun boten wonten, karana para dokter sampun nindakaken operasi ceasar ing tanggal 1 April 2020. Bayi estrinipun ingkang lair punika dipun paringi nami Ava. Ibu Angela nembe dipun ijini pepanggihan kaliyan bayinipun 2 minggu sakbibaripun lairan. Ibu Angela ngraosaken sedaya punika namung karana panguwasanipun Gusti Allah kemawon ingkang makarya nalika piyambakipun ing mangsa kritis. Piyambakipun ngendikan, “Saestu penting ndadosaken Gusti Allah pangandel gesang kita lan saestu penting gesang wonten kelompok persekutuan doa ingkang tansah ndedonga kangge kula sanajan kula mboten sadar.”
Pancen leres, jumlah tiyang ingkang ndonga kangge ibu Angela mindak dinten mindak kathah cacahipun, ngantos piyambakipun sadar saking koma. Punika saestu perkawis ingkang mboten gampil dipun pitados, ing pundi wonten papan sanes tiyang ingkang positif Corona malah dipun tebihi. Wanci ingkang ndadosaken trenyuh ing manah kalampahan nalika Ibu Angela medal saking griya sakit Vancouver. Tiyang kathah sampun ngrantos lan paring tepuk tangan kanthi rame. Ibu Angela ngendikan bilih iman kapitadosanipun ingkang saestu ageng sanget peranipun nalika mrantasi mangsa kritis. “Kula mboten saged sumerep kados pundi anggenipun nglampahi sedaya punika tanpa iman, nggadahi iman supados saras, nggadahi iman kangge ngadepi sedaya prekawis. Kula ngrumaosi mboten saged napa-napa lan kula ajrih. Nanging punika ingkang ndadosaken iman kula tuwuh. Kula saestu nggumun kaliyan Gusti. Panjenenganipun saestu sae! Matur nuwun.” pituturipun.
Isi
Pakaryanipun Gusti Allah ingkang agung salebeting gesang tiyang pitados saged kita panggihi wonten waosan kita punika. Kitab suci nedhahaken pakaryanipun Gusti Allah dhumateng bangsa Israel lumantar kesaksianipun Nabi Yesaya (Yes. 40:21-31), lumantar cariyos gesangipun rasul Paulus nalika ngabaraken Injil (1 Kor. 9:16-23), sarta cariyos Gusti Yesus ingkang paring kasarasan dhateng ibu marasepuhipun Petrus lan tiyang kathah (Mrk. 1:29-39). Gusti Allah rawuh dan campur asta wonten salebeting tiyang pitados nalika ngadhepi kasangsaran, kuwatos, kecalan pangajeng-ajeng lan sedaya prekawis pigesangan sanesipun. Pitakenanipun, gambaran Gusti Allah ingkang kados pundi ingkang saged kita panggihi wonten ketiga waosan kita kalawau?
- Gusti Allah ingkang Maha Kuwaos lan Berdaulat.
Gambaran bab Gusti Allah ingkang maha kuwaos lan berdaulat tumrap sedaya titahipun saged kita simak wonten waosan sepisan. Dipun serat kaliyan Nabi Yesaya bilih Gusti Allah punika dasaripun jagad (Yes. 40:21). Gusti ingkang jumeneng ing bumi (ay. 22) lan ingkang nitahaken lintang ing awang-awang (ay. 26), lan nitahaken sedaya pigesangan ing bumi (ay. 28). Menawi Nabi Yesaya paring gambaran bilih Gusti Allah punika ingkang nggadahi panguwaos nitahaken langit, bumi, lintang lan sedaya ingkang wonten jagad punika, lajeng manungsa lan sedaya ruwet rentening gesang wonten ing jagad punika, punapa wonten artosipun? Pun aneh menawi juru tulis deutero Yesaya lajeng ngendikan bilih kamardikan ingkang dipun tampeni bangsa Israel saking tanah Babil punika gratis (mboten mawi perang), amargi Gusti Allah kersa ngagem bangsa Persia naklukaken Babilonia. Gambaran sanesnipun bab Gusti Allah ingkang mahakuwaos saged kita panggihi nalika Gusti Yesus paring kasarasan dhateng ibu marasepuhipun Petrus (Mrk. 1:30-31). Gusti Yesus paring kasarasan dhateng tiyang ingkang kerasukan setan (Mrk. 1:32-34). Prekawis punika nedahaken bilih Gusti Allah ingkang maha kuwaos punika saged paring mujizat lumantar Yesus. Mboten namung sakit penyakit ingkang dipun sarasaken, ananging roh jahat/pepeteng ugi dipun usir saking tiyang ingkang kerasukan setan punika. Panguwaosipun Gusti Allah dipun nyatakaken wonten karingkihanipun manungsa, punapa punika sakit penyakit, mekaten ugi tiyang kerasukan roh pepeteng. Waosan punika ngajak kita ngrumaosi bab kawontenanipun manungsa ingkang dados titahipun Gusti Allah. Saestu mboten wonten prekawis ingkang mustahil kagem Gusti Allah. Mboten wonten kekiyatan ingkang saged ngalang-ngalangi menawi Gusti Allah sampun ngesakaken. Manungsa punika namung ndherek karsanipun Gusti Allah lan mboten saged ngatur Gusti Allah. Punapa ingkang dipun alami kaliyan manungsa, dipun pingini punapa mboten, Gusti Allah nggadahi kuwaos campur asta wonten salebeting pigesangan manungsa. Menawi manungsa nggadahi kepinginan sae pigesangipun, mila manungsa punika sowan wonten ngarsanipun Gusti kanthi andhap asoring manah nyuwun sih piwelasipun Gusti. - Gusti Allah punika Maha Asih lan Maha Mirah
Injil Markus 1:29-34 paring gambaran Gusti Allah ingkang maha asih lan maha mirah nalika Gusti Yesus nyarasaken ibu marasepahipun Petrus kaliyan tiyang kathah ingkang kerasukan roh pepeteng. Lajeng pitakenanipun, “Punapa Gusti Allah kersa nyarasaken tanpa dipun suwun kaliyan para sekabat utawi para tiyang kathah kalawau sanajan mboten sowan dhateng Yesus?” Tamtu kemawon saged. Amargi Gusti Allah punika pirsa lan punapa ingkang dipun kersaaken mesthi kalampahan. Ananging, Injil Markus nyariyosaken bilih tiyang ingkang dipun sarasaken punika para tiyang ingkang taksih gadhahi hubungan pasedherekan kaliyan para sekabat lan ingkang purun nyuwun kasarasan dhumateng Gusti Yesus. Tegesipun, menawi tiyang punika kepengin pikantuk sih piwelasipun Gusti Allah, mboten wonten cara sanesipun saklintunipun nyenyuwun lan tansah rumaket dhumateng Gusti Allah lumantar ndedonga lan mirengaken pangandikanIpun. Mekaten ugi wonten pengalamanipun rasul Paulus ingkang kaserat ing 1 Kor. 9:16-23. Gambaran Gusti Allah ingkang kebak katresnan ketingal wonten gesangipun rasul Paulus ingkang tansah pikantuk pangrimatan nalika ngabaraken Injil. Sanajan mboten pikantuk upah, Paulus mboten sombong, karana sedaya ingkang dipun alami kalian rasul Paulus punika awit sih kamirahanipun Allah. Pramila sedaya langkung jelas, bilih kamirahan lan katresnanipun Gusti Allah punika tansah dipun raosaken kaliyan tiyang pitados, saengga punapa ingkang dipun alami kaliyan rasul Paulus punika kedahipun saged dados kekiyatan dhateng tiyang ingkang nindakaken pakaryanipun Allah wonten jagad punika. Piyambakipun badhe nampi sih kamirahanipun Allah lan sedaya ingkang dipun betahaken, Gusti Allah kersa nyekapi, sedaya dipun cawisi. Gambaran Gusti Allah ingkang kebak katresnan lan kamirahan punika gampil nalika gesang kita tansah pikantuk kacekapan lan keberhasilan. Ananging, nalika manungsa nandang sakit, sangsara utawi kekirangan, dipun betahaken iman ingkang kiyat lan kesabaran ingkang tanpa winates supados saged pikantuk katresnan lan kamirahanipun Gusti Allah. Sanajan kamirahan lan katresnanipun Gusti Allah punika dipun raosaken telat, mboten cocok kaliyan kepenginan kita, nanging sarana iman ingkang kiyat lan pangandel kita dhumateng Gusti Allah, punika ingkang ndadosaken kita kiyat. Tansaha pitados, bilih Gusti Allah mboten kekirangan cara anggenipun paring pitulungan dhateng umat kagunganipun ingkang tansah pasrah sumarah dhumateng Panjenenganipun (kados pitulunganipun Allah dhateng umat Israel lumantar bangsa Persia). - Gusti Allah Tansah Nganthi lan Ngrimati Gesang Umat KagunganIpun.
Gambaran Gusti Allah ingkang nganthi lan ngrimati umat kagunganIpun, saged kita panggihi saking tigang waosan kita punika. Tantangan lan momotan gesang umat Israel nalika wonten tlatah pambuangan, momotan pigesanganipun rasul Paulus nalika martosaken Injil, sarta ibu marasepahipun Petrus lan tiyang kathah ingkang nandang sakit, punika ingkang nedhahaken kanthi jelas dhateng kita sedaya panganthi lan parimatanipun Gusti Allah dhumateng pigesangan umat kagunganipun mbekta kasaenan lan kawilujengan. Punika tegesipun, umat ingkang pitados dhumateng Gusti Allah mboten perlu kuwatos lan mangu-mangu dhateng Gusti Allah. Gusti Allah pirsa saestu punapa ingkang dipun betahaken kaliyan umat kagunganipun, lan Gusti Allah tansah paring panganthi lan pangrimatan dhateng umatIpun. Menawi, Gusti Allah paring jawaban ingkang boten jelas dhateng panyuwun/pandonga umatipun, ananging kanthi iman ingkang kiyat, umat kedah pitados bilih Gusti Allah mesthi paring jawaban ingkang sae ing titi wancinipun. Tugas kita namung tansah pitados!
Panutup
Sumangga, menawi sakpunika kita dados greja utawi pasamuwan ingkang pitados lan dipun timbali Gusti sami reintrospeksi dhateng diri kita piyambak lan dhateng sedaya peladosan kita. Menawi pribadi kita nggadahi dinamika pigesangan, sae punika momotan gesang ingkang awrat, masalah ingkang dereng manggihi solusinipun, kosokwangsulipun kita ingkang tansah dipun berkahi lan dipun paringi kacekapan lan kaluberan; tetepa setya wonten patunggilanipun Gusti Allah. Kita saged sinau saking bangsa Israel lan dhateng lingkungan sekitar kita. Pigesangan kita ing wanci mbenjang mboten wonten ingkang sumerep, sakpunika kita sehat, kiyat lan gagah, nanging mbenjing kita mboten sumerep, saged mawon kita sakit. Sakpunika kita rumaos dipun berkahi kaliyan status sosial ekonomi ingkang sae, nanging mbenjing kita mboten sumerep punapa situasi ekonomi tetep sae punapa krisis. Pramila, sumangga kita sinau tansah setya wonten bab tugas lan patunggilan kita anggenipun martosaken Injil, kabar kawilujengan, tentrem rahayu, sarta bab kratoning swarga. Nalika kita tansah mbudidaya, kita pitados bilih Gusti Allah tansah campur asta, Gusti Allah tansah paring solusi lan berkah kangge kita. Amin. (BK)
Pamuji :
- KPK. 63 : 1, 2, 3 Berkahing Allah
- KPJ. 357 : 1, 2 Endahing Saduluran