Iri Tanda Tak Murni Renungan Harian 20 Oktober 2020

20 October 2020

Bacaan : Bilangan 12 : 1 – 9 | Pujian : KJ. 239
Nats:
Kata mereka: “Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” (Ay. 2a)

Iri hati tentu bukanlah keadaan yang asing. Jika bertanya dengan jujur : “Siapa yang tidak pernah merasakan iri?” Besar kemungkinan semua manusia pernah mengalami iri hati. Hal demikian wajar terjadi sebab ketika hidup bersama-sama dengan orang lain, kita terbiasa untuk membanding-bandingkan. Kita melihat si A begini, si B mendapat itu dan kita menginginkan hal yang sama. Ketika kita tidak mendapatkannya, kita merasa iri.

 Biasanya, iri hati akan menuntun kita pada bermacam-macam pikiran untuk menjatuhkan. Lihat saja Miryam dan Harun. Iri hati membuat mereka mencari-cari hal yang bisa dipersalahkan dan dipertanyakan dari Musa. Mulai dari pernikahan Musa (yang sebenarnya tidak cacat dalam segi hukum dan agama), sampai kepada status kenabian Musa. Mereka bertanya bukan dalam rangka untuk memberikan kritik demi kebaikan, melainkan celaan untuk menjatuhkan. Namun ternyata Tuhan tidak bisa dibohongi. Meskipun celaan Harun dan Miryam telah dibungkus rapi dalam sebuah pertanyaan yang nampak kritis, Tuhan tetap mengetahui motivasi mereka yang jahat. Tuhan murka kepada mereka karena tidak dapat mengendalikan ambisi dan iri hati, kemudian menjatuhkan sesamanya sesuka hati. Dalam murka-Nya di depan Miryam dan Harun, Tuhan membela Musa yang setia (ay. 7). Sebab Ia berkenan dengan kelembutan hati dan kesetiaannya.

Kritik dan kritis sebenarnya bisa sangat positif untuk menolong kita melihat kekurangan dan kesalahan, serta memacu kita untuk memperbaikinya. Maka kritik dan kritis yang didasarkan pada penyampaian kehendak Tuhan sangatlah diperlukan. Bahkan, nabi-nabi dikirim Tuhan untuk pekerjaan yang demikian. Namun, jangan berani-berani menyusupkan ambisi pribadi dan iri hati. Sebab jika demikian, kritik kita menjadi tidak murni. Kritis kita menjadi tidak tepat lagi. Dan yang pasti Tuhan pun tidak berkenan. Maka, dalam setiap kritik dan pendapat yang akan kita buat, perlulah selalu kita meneliti diri kita sembari bertanya, “Sungguhkan semua ini kusampaikan demi kehendak Tuhan?” (vin).

 “Tuhan tidak bisa dibohongi sebab Ia melihat hati, maka marilah tetap kritis dengan motivasi yang murni.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak