Bertanggung Jawab Atas Panggilan Khotbah Minggu 4 Oktober 2020

21 September 2020

Minggu Biasa – Perjamuan Kudus Ekumene.
Stola Putih

Bacaan 1         :  Keluaran 20 : 1 – 4, 7 – 9, 12 – 20
Bacaan 2         : 
Filipi 3 : 4b – 14   
Bacaan 3         : 
Matius 21 : 33 – 46

Tema Liturgis :  Kesetiaan kepada Leluhur Bangsa
Tema Khotbah
: Bertanggungjawab atas Panggilan

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Keluaran 20 : 1 – 4, 7 – 9, 12 – 20
Taurat tidak diberikan sebagai sarana untuk mencapai keselamatan. Taurat diberikan kepada bangsa yang sudah selamat (19:4; 20:2) untuk mengajar mereka tentang kehendak Tuhan supaya mereka dapat memenuhi maksud Allah bagi mereka sebagai sebuah “kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (19:6). Penyataan tersebut diberikan “bukan untuk memberikan kehidupan tetapi untuk menuntun kehidupan” (P. Fairbairn, The Revelation of Law in Scripture, hlm. 274).

Pembagian Taurat menjadi hukum Moral, Sosial atau Sipil dan Seremonial atau Religius, meskipun cocok namun menyesatkan. Taurat itu satu dan seluruh Taurat itu bersifat rohani, entah membahas masalah panen atau masalah penjahat atau masalah penyembahan. Tafsiran Calvin membahas semua peraturan selanjutnya di bawah salah satu dari Kesepuluh Hukum. Ini merupakan ilustrasi yang sangat bagus dan dapat dibenarkan tentang kesatuan dan semangat Taurat. “Yang disebut hukum seremonial dengan demikian, dalam aspeknya yang lebih langsung dan primer adalah peragaan berbagai upacara dan penetapan simbolis akan kebenaran yang dituntut oleh Dasa Titah dan sebuah sarana disiplin melalui mana hati orang dapat dibuat menjadi sesuai dengan kebenaran itu sendiri” (Fairbairn, Typology, II, 157).

Dasa Titah atau Kesepuluh Firman (Ul. 4:13) diberikan langsung kepada Israel melalui sebuah suara yang dapat didengar dan dahsyat, suara Yehovah sendiri, yang berbunyi bagaikan sangkakala yang terdengar banyak orang (Kel. 19:16; 20:18). Karena pengalaman tersebut, bangsa itu memohon agar Allah tidak lagi berbicara langsung tetapi melalui Musa saja. Maka sisa Taurat tersebut diberikan kepada Musa sebagai perantara, namun intinya sudah disampaikan sebelumnya. Semua Perintah tersebut diulang kembali dengan sedikit perubahan yang tidak berarti di Ulangan 5:6-18. Hal ini merupakan bahan bagi para kritikus untuk berbeda pandangan mengenai usia dan keaslian relatif dari kedua bagian Alkitab ini. Juga ada yang telah berusaha menemukan sebuah “Dasa Titah ritual” di Keluaran 34 namun gagasan tersebut kurang diterima. Sekalipun beberapa kritikus menolak pandangan bahwa Musa ada hubungannya dengan Kesepuluh Hukum, atau bahwa titah-titah ini dikenal oleh Daud, Elia atau bahkan Yeremia, sebagian besar sarjana modern telah dapat menerima apa yang dikatakan Alkitab dan percaya bahwa semua Titah ini berasal dari zaman Musa.

Terdapat berbagai cara untuk menggolongkan perintah-perintah ini. Gereja-gereja Lutheran dan Roma Katholik mengikuti AGustinus dengan menjadikan ayat 2-6 menjadi perintah yang pertama dan kemudian memisahkan ayat 17, tentang menginginkan milik orang lain, menjadi dua perintah. Yudaisme modern menjadikan ayat 2 perintah pertama dan ayat 3-6 perintah yang kedua. Pembagian yang paling dini, yang dapat dirunut balik hingga zaman Yosefus pada abad pertama Masehi, menganggap 20:3 sebagai perintah pertama dan 20:4-6 sebagai perintah yang kedua. Pembagian ini memperoleh dukungan penuh dari gereja mula-mula, dan dewasa ini masih dianut oleh gereja Ortodoks Timur dan sebagian besar gereja Protestan. (dikutip dari: https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=2&chapter=20 &verse=1)

Filipi 3 : 4b – 14
Sebagai orang Ibrani sejati, Paulus sangat mengutamakan moralitas dan keagamaan. Akibatnya ia malah menjadi musuh Kristus, musuh Injil (ayat 4-6). Semua yang diunggulkannya itu ternyata sia-sia, karena tidak mampu membuat Allah memperhitungkannya benar. Tak seorang pun benar karena usahanya sendiri. Itu sebabnya kepada mereka yang datang mengabarkan “injil” sunat (ayat 1b-3), Paulus menegur keras. Pengenalan akan Kristus Yesus membuat semua hal-hal lahiriah yang diandalkannya dulu seumpama sampah (ayat 8).

Dulu, kini, kelak. Tiap orang memiliki tiga aspek waktu perjalanan hidup: dulu, kini, kelak. Seperti Paulus, mari kita tinggalkan yang di belakang! Serahkanlah kebaikan maupun kejahatan itu kepada Yesus Kristus yang menyelamatkan! Marilah kita mengejar harta sorgawi yang Tuhan peruntukkan menjadi masa depan kekal kita (ayat 12-16). Mari kita jalani masa kini kita dengan kerinduan untuk mengenal Kristus, mengalami penuh kematian dan kuasa kebangkitan Kristus (ayat 10-11). Dengan kata lain, marilah kita jalani hidup yang sepenuhnya bersumber dan bergantung pada hidup dan karya penyelamatan Yesus Kristus. (Dikutip dari: https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=50&chapter=3&verse=4)

Matius 21 : 33 – 46
Dihancurkan atau diperbarui?

Peribahasa “sokong membawa rebah” berarti orang yang seharusnya kuat memegang sesuatu aturan, melemahkan aturan itu. Peribahasa ini tepat untuk menggambarkan para penyewa kebun anggur dalam cerita Tuhan Yesus.

Tuan tanah membuka kebun anggur lengkap dengan semua fasilitas yang memadai. Kemudian ia menyewakannya kepada para penyewa untuk merawat dan mengelola kebunnya supaya menghasilkan buah anggur (ayat 33). Menjelang musim panen, si tuan tanah meminta bagiannya (ayat 34). Akan tetapi, bukan bagian yang didapatkan melainkan siksaan yang dialami para utusan (ayat 35-36). Tidak puas dengan siksaan, mereka pun membunuh ahli waris kebun anggur itu (ayat 37). Mereka kini menunjukkan sikap pemberontakan.

Apa kesalahan dari para penyewa kebun anggur? Pertama, tidak memenuhi tanggung jawabnya. Kedua, melakukan penganiayaan terhadap orang tak bersalah. Ketiga, membunuh anak tuan tanah. Siapa yang Tuhan Yesus maksud dengan para penyewa itu? Para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi mengerti bahwa merekalah yang dimaksud (ayat 45). Apa maksud cerita Tuhan Yesus itu? Ia akan mengalihkan anugerah-Nya kepada orang-orang bukan Yahudi yang menyambut Injil dan hidup sesuai Injil (ayat 41, 43). Seharusnya imam kepala dan tua-tua agama berperan untuk membawa umat Allah mengenal Dia yang diutus Allah. Akan tetapi, mereka justru menyalibkan Tuhan Yesus (ayat 42). Injil keselamatan melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus akan membawa dua akibat: yang menolak akan binasa, yang menerima akan dirombak dan diperbarui (ayat 42-44).

Jangan merasa aman karena memiliki status dan melaksanakan simbol-simbol rohani. Tuhan menuntut buah kehidupan yang sepadan dengan pengakuan iman. Tanda kesejatian kerohanian adalah hidup yang menawarkan sifat dan kehendak Tuhan (Dikutip dari https://alkitab.sabda.org /commentary.php?book=40&chapter=21&verse=33).

Benang Merah Tiga Bacaan:
Dalam kehidupan bersama dengan orang lain, kita tidak bisa menghindar dari aturan. Aturan itu bisa tertulis atau tidak tertulis. Bisa pula aturan yang resmi ada pula kesepakatan-kesepakatan ringan. Aturan itu menolong kehidupan bersama menjadi lebih teratur. Aturan membutuhkan ketaatan dan kesetiaan untuk dipraktikkan. Itulah pentingnya Hukum Taurat bagi umat Tuhan.

Ketika kasih dan ketaatan terhadap aturan/kesepakatan dilanggar akan mengakibatkan hal buruk. Antara penyewa dan penggarap kebun pastilah diikat oleh kesepakatan/aturan; setidaknya tentang pengaturan besarnya upah. Ternyata para penggarap telah menyalahgunakan kewenangannya sehingga menyiksa dan bahkan membunuh utusan pemilik kebun.

Namun inti hidup orang percaya tidak ditambatkan pada hukum, tetapi pada kasih Tuhan (Filipi 3:9).

Rancangan Khotbah :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

  1. Jemaat Karangrejo sedang giat-giatnya bertumbuh. Salah satu yang ingin dikembangkan adalah adanya kelompok paduan suara dewasa. Setelah matang dibahas oleh komisi yang membidangi, maka dipilihlah Pak Drembo sebagai motor penggerak dan sekaligus pelatihnya. Pertimbangan dipilihnya Pak Drembo sedikitnya ada empat pertimbangan, yaitu: Pertama, Pak Drembo dikenal sebagai sosok yang ringan tangan. Kedua, ia sosok yang dikenal cukup dekat-akrab dengan semua kalangan. Ketiga ia juga dikenal sebagai sosok yang tanpa pamrih dalam melayani. Keempat memang hobinya adalah bernyanyi selain menguasai alat musik organ. Dengan pertimbangan-pertimbangan itu jemaat berharap kehidupan dan semangat bersekutu di Jemaat Karangrejo semakin baik.
  2. Tidak sia-sia gereja memberi kepercayaan kepada Pak Drembo untuk membentuk paduan suara dewasa. Hanya dalam waktu 6 bulan Paduan Suara Jemaat Karangrejo sudah bisa ikut menyemarakkan perayaan Natal. Juga tampak jelas betapa giat dan bersemangatnya Pak Drembo dalam mengajak warga untuk berlatih menyanyi dengan benar.
  3. Namun, memasuki bulan Februari dan bulan berikutnya jumlah peserta paduan suara mengalami penurunan drastis. Dari penelusuran tentang sebab penurunan itu ditemukan hal yang mengejutkan. Anggota paduan suara yang memiliki suara istimewa dan juga memiliki kemampuan bermain musik yang amat baik oleh Pak Drembo justru diperlakukan tidak baik. Misalnya, sedikit terlambat datang saja sudah dihujani kata-kata sindiran yang pedas yang tak masuk akal, sementara jika orang lain yang terlambat dibiarkan saja. Intinya Pak Drembo tak ingin bahwa di jemaat ada orang yang lebih baik dalam hal seni suara daripada dirinya. Akibatnya, dalam perayaan Paskah kelompok paduan suara ini tak mampu mempersembahkan pujian, karena jumlah pesertanya terlalu sedikit; selain itu telah terjadi kerenggangan hubungan di antara kelompok paduan suara. Tujuan utama yang dibebankan oleh jemaat ke atas pundak Pak Drembo: paduan suara yang baik dan persekutuan yang makin baik menjadi berantakan. Pak Drembo mengutamakan keunggulan nama dirinya sendiri sehingga jemaat menjadi korban. Ia telah jatuh ke dalam sikap: lupa diri!
  4. Kebun anggur itu bisa diibaratkan Jemaat Karangrejo. Pemilik utama jemaat adalah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus telah mempercayakan kepada majelis jemaat agar kebun itu dikelola dengan baik. Adalah wajar jikalau pemilik kebun anggur itu menantikan buah-buah persekutuan: aktivitas yang dinamis, relasi sesama warga jemaat yang kental dan bersahabat, kiprah jemaat terhadap masyarakat sekitar yang terencana dan terwujud dengan baik; warga jemaat yang hidup dalam kerendahan hati, dsb.
  5. Apa jadinya ketika tipe dan karakter seperti Pak Drembo juga terjadi pada majelis jemaat, yaitu sibuk dengan diri sendiri bahkan lebih mengutamakan citra diri daripada bertekun melakukan tugas dan panggilannya. Lebih-lebih ketika ada warga jemaat yang dengan tulus hati mengingatkan, tetapi justru ditanggapi secara negatif. Atau ada penatua/diaken yang merasa paling hebat di antara penatua/diaken yang ada. Entah disadari atau tidak sikap seperti itu pada hakikatnya adalah mematikan benih-benih potensi yang sebenarnya bisa bermekaran dan akan menyemarakkan kehidupan persekutuan dan berbagai kegiatan lainnya. Pak Dadap yang memiliki keahlian bermain biola bisa menjadi berkat di tengah persekutuan jemaat ketika beliau mendapat ruang yang cukup untuk mengembangkannya. Tidak sedikit anak-anak yang sebenarnya ingin belajar bermain biola; tetapi karena beliau tidak tahan terhadap sindiran-sindiran pedas Pak Drembo sehingga menghentikan latihan biola gratis yang diberikannya kepada anak-anak jemaat. Atau Bu Melati yang kemampuan hebatnya dalam merangkai bunga direndahkan oleh seorang penatua. Tentu, tak hanya Pak Dadap dan Bu Melati yang mengalami hal itu.
  6. Setidaknya dalam hal ini gereja diingatkan kembali tentang tanggungjawabnya dalam memikul kepercayaan yang telah diberikan Kristus. Mempraktikkan pola pelayanan yang mematikan potensi warga jemaat itu tak beda dengan para penggarap yang justru menganiaya dan membunuh orang-orang utusan tuan tanah yang ingin mengecek buah garapan kebun anggurnya. Hal utama yang perlu dilakukan terus menerus –utamanya – mereka yang dipanggil secara khusus untuk menjadi pejabat khusus gereja – yaitu menggali lebih dalam pengenalannya akan Kristus (Filipi 3:10-11). Kehausan mengenal Kristus lebih dalam akan menghindarkan diri dari kepongahan, tetapi kerendahan hati dan sedih jika tak melakukan apa-apa demi pertumbuhan rohani bersama. Amin. (smdjn)

Nyanyian  : KJ. 441  Ku Ingin Menyerahkan


Rancangan Khotbah  :  Basa Jawi

  1. Pasamuwan Karangrejo saweg sami giyat lan tumemen anggenipun masamuwan. Salah setunggal kegiatan ingkang kepingin pun gesangaken inggih punika koor warga dewasa. Sasampunipun kabahas mateng ing komisi ingkang mandhegani, lajeng katetepaken Pak Drembo minangka penggerak lan ugi pelatihipun. Paling sekedhik wonten sekawan alasan anggenipun komisi milih Pak Drembo. Sepisan Pak Drembo piyantun ingkang enthengan. Kalih, piyambakipun piyantun ingkang ketingal raket kaliyan sedaya warga pasamuwan. Katiga, piyambakipun piyantun ingkang tulus lan tumemen anggenipun leladi. Sekawan, piyambakipun pancen hobinipun musik. Kanthi panimbang-panimbang kalawau majelising pasamuwan gadhah pangajeng-ajeng supados swasana patunggilan ing Pasamuwan Karangrejo saged langkung guyub lan tambah dewasa.
  2. Boten muspra anggenipun pasamuwan pitados dhateng Pak Drembo. Nyatanipun boten ngantos 6 wulan, koor dewasa pasamuwan sampun saged ngetingalaken wohipun. Pahargyan Natal ketingal regeng antawisipun amargi wonten koor dewasa ingkang sae swantenipun. Ugi cetha sanget anggenipun Pak Drembo temen ngajak warga sami nyengkuyung wontenipun koor dewasa pasamuwan.
  3. Naging, mlebet ing Wulan Februari lan wulan salajengipun lha kok susut sanget anggenipun sami tumut sinau koor. Sasampunipun dipun tlesih mulabukanipun, dipun panggihaken bab ingkang ngagetaken. Sedherek-sedherek kelompok koor ingkang gadhah swanten sae lan ugi saged nyepeng alat musik dening Pak Drembo malah dipun siriki. Upaminipun, nalika telat sekedhap kemawon wayahipun sinau koor, langsung dipun sindir mawi tembung ingkang nyerikaken manah. Nanging menawi tiyang sanes ingkang telat boten dipun sindir. Intinipun Pak Drembo boten kepingin wonten tiyang sanes ingkang ngungguli piyambakipun dadosa ing bab musik lan kasregepan. Pungkasanipun, ing pahargyan Paskah kelompok koor punika boten saged ngedalaken pepujian, awit ingkang tumut sinau sekedhik sanget. Kejawi punika pasamuwan ingkang saderengipun sami rukun, samangke wiwit tuwuh pasulayan, mirungganipun ing salebeting kelompok koor. Cita-cita ingkang dipun pitadosaken dhateng Pak Drembo supados pasamuwan gadhah kelompok koor lan ugi supados sesambetan antawising warga tambah raket nyatanipun malah ambyar! Pak Drembo nyatanipun langkung remen ngegungken dhiri, matemah pasamuwan dados korban. Piyambakipun “lupa dhiri”.
  4. Kebon anggur punika kadosdene Pasamuwan Karangrejo. Ingkang kagungan kebon anggur inggih Gusti Yesus Kristus. Gusti Yesus sampun maringi tugas/timbalan mirunggan dhateng majelising pasamuwan supados purun ngrimati kebon angguripun Gusti kanthi sae. Limrah menawi ingkang kagungan kebon anggur kagungan pengajeng-ajeng bilih kebonipun badhe ngedalaken woh ingkang kathah: pasamuwan ingkang dinamis, sesambetan ing antawising warga sae lan sumanak, pasamuwan cetha peranipun dhateng masyarakat lan warganing pasamuwan gesang kalambaran sikap andhap asor.
  5. Badhe dados pupunapa pasamuwan menawi sikap kados Pak Drembo punika dipun cakaken dening majelis pasamuwan? Sedaya sami sibuk piyambak-piyambak lan namung ngugemi tanggel-jawabipun ing wayah pangabekti Minggu kemawon katimbang kanthi temen nindakaken tanggel-jawabipun? Langkung-langkung nalika wonten warga pasamuwan ingkang ngengetaken malah dipun tanggapi secara negatip. Pupunapa malih menawi wonten penatua-diaken ingkang rumaos paling pinter lan rumaos paling dipun betahaken dening pasamuwan. Sikap kados mekaten punika sajatosipun nyelaki timbalan awit badhe murugaken pejahipun winih-winih sae kagunganipun Gusti. Awit menawi dipun rimat kanthi temen warga pasamuwan punika kadosdene winih ingkang sae, temtu badhe ngedalaken woh ingang saged dados regenging gesanging pasamuwan, malah ugi saged dados berkah kangge sedherek kiwa-tengen greja. Pak Dadap ingkang ahli ngungelaken biola saged dados berkah menawi majelis pasamuwan maringi kesempatan ingkang sae. Boten sekedhik lare-lare ingkang kepingin sinau biola. Nanging amargi Pak Dadap boten tahan ngadhepi sindiran-sindiran ingkang tansah pun tampi saking Pak Drembo lajeng mupus. Dereng malih Bu Melati ingkang ahli merangkai kembang nyatanipun dipun remehaken dening pinisepuhing pasamuwan. Kamangka ing Pasamuwan Karangrejo boten namung Pak Dadap lan Bu Melati ingkang ngalami lan ngraosaken manah ingkang kados mekaten.
  6. Saking waosan punika paling boten pasamuwan kaemutaken supados lampahipun leres: tanggel-jawab ingkang dipun paringaken dening Gusti supados katindakaken kanthi temen. Pola peladosan ingkang murugaken winih kasaenan pasamuwan sampun ngantos pejah nanging gesang malah ngrembaka. Awit menawi boten, ateges para pelados kadosdene panggarap ingkang damel kuciwaning ingkang kagungan siti. Bab ingkang paling utami ingkang perlu tansah dipun lampahi -mirungganipun majelis pasamuwan ingkang secara mirunggan kaberkahan nampi timbalan lelados – inggih punika semangat wanuh langkung lebet dhateng Sang Kristus (Filipi 3:10-11). Ngorong wanuh dhateng Sang Kristus badhe nebihakan kita saking nepsu gumunggung, nanging andhap asor lan rumaos prihatos menawi boten nglampahi pupunapa-pupunapa kangge gesanging karohanen kita lan sesami warganing pasamuwan. Amin. (smdjn).

Pamuji :  KPJ. 70  Amung Godhong

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak