Pemahaman Alkitab September 2020 (I)
Bulan Kitab Suci
Bacaan : Yosua 3 : 1 – 17
Tema Liturgis : Firman Khalik Semesta
Tema PA : Upah Ketaatan Melakukan Firman Tuhan
Penjelasan Teks :
Kitab Yosua merupakan bagian dari sebuah kisah besar yang dimulai dari kitab Ulangan sampai 2 Raja-raja. Secara khusus kisah dalam Yosua menceritakan tentang bagaimana suku-suku Israel mengalahkan dan membagi-bagi tanah perjanjian yakni tanah Kanaan. Sekalipun tokoh utama dalam kitab Yosua ini adalah Yosua sendiri yang merupakan pemimpin bangsa Israel yang dipilih Allah setelah Musa meninggal. Akan tetapi tokoh sentral dan utama yang ingin ditegaskan adalah Tuhan Allah sendiri. Tanah Kanaan berhasil diperoleh bukan karena kehebatan Yosua melainkan tindakkan Tuhan Allah menolong dan menyelamatkan bangsa Israel. Bangsa Israel senantiasa mendapat pertolongan dari Tuhan sekalipun mereka berulang kali meninggalkan Tuhan.
Dalam bagian kitab ini diceritakan bagaimana bangsa Israel mendapatkan kembali kemurahan Tuhan melalui perjalanan mereka memperoleh tanah Kanaan. Secara khusus dalam bagian Yosua 3:1-17 digambarkan bagaimana Tuhan menolong dan menyelamatkan bangsa Israel menyebrangi sungai Yordan. Cara Tuhan menolong umat-Nya dengan menyebrangi sungai Yordan ini serupa dengan cara Tuhan menolong umat-Nya menyebrangi laut Teberau. Di mana kedua peristiwa itu hendak menunjukkan kemahakuasaan Tuhan Allah dan kedahsyatan-Nya dalam mengasihi dan menolong umat milik-Nya.
Tentu sebelum segala mukjizat besar itu terjadi ada beberapa hal yang harus dilakukan bangsa Israel. Semua perintah diberikan oleh Yosua selaku pemimpin bangsa Israel berdasarkan petunjuk atau perintah dari Tuhan Allah.
Pertama (ayat 3), para imam nantinya akan mengangkat tabut perjanjian dan menempati barisan paling depan. Tabut perjanjian ini diyakini sebagai tempat Allah hadir di tengah bangsa Israel.
Kedua (ayat 4), setelah tabut perjanjian itu diangkat dan para imam mulai berjalan maka seluruh umat Israel diminta untuk mengikutinya. Dalam susunan barisan mereka harus mengambil jarak dengan tabut perjanjian tersebut kira-kira dua ribu (2.000) hasta panjangnya atau setara dengan 900 meter (1 hasta = 45 cm/0,45 m, lihat kamus dalam Alkitab). Jarak yang dibuat sedemikian ini bukan tanpa tujuan, namun supaya umat yang jumlahnya besar itu semua bisa melihat pergerakan tabut perjanjian yang ada di bagian paling depan. Jika jarak mereka terlalu dekat sementara jumlah mereka sangat besar maka bisa jadi umat yang berada di bagian belakang tidak bisa melihat tabut perjanjian tersebut.
Ketiga (ayat 5), seluruh umat diminta untuk menguduskan diri, menyambut perbuatan tangan Tuhan yang ajaib. Setelah serangkaian perintah itu disampaikan maka mulailah bangsa Israel berjalan hendak memasuki tanah perjanjian – tanah Kanaan.
Ketika hendak menyebrangi sungai Yordan, Tuhan Allah berfirman kepada Yosua. Ada dua hal yang difirmankan oleh Tuhan, yakni: Tuhan Allah akan menggenapi janji-Nya untuk terus menyertai bangsa Israel seperti pada jaman Musa, serta bagaimana mereka harus menyebrangi sungai Yordan. Supaya dapat menyebrangi sungai Yordan dengan selamat maka yang harus dilakukan adalah para Imam yang membawa tabut perjanjian beserta Yosua diperintahkan untuk tetap berada di tempat yang kering sampai semua orang Israel mencapai seberang sungai Yordan. Pada pelaksanaannya, perintah inilah yang dilakukan oleh Yosua beserta seluruh umat Israel. Setelah para Imam yang mengangkat tabut perjanjian mencelupkan kakinya di air sungai Yordan maka seketika itu juga air yang turun dari hulu berhenti mengalir dan membentuk bendungan (ayat 15-16). Sementara para Imam tetap berdiri di tempat yang kering, maka menyeberanglah seluruh orang Israel ke tepi sungai Yordan menuju Yerikho. Dalam peristiwa ini, kunci dari berhasilnya bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan adalah ketaatan dan kesetiaan mereka dalam mengikuti semua Firman Tuhan Allah. Bangsa Israel melakukan apa yang sesuai dengan perintah atau firman Tuhan melalui perantaraan Yosua. Tanpa ketaatan dan kesetiaan yang sungguh, mukjizat Tuhan Allah yang besar mungkin tidak akan terjadi.
Bahan Diskusi:
- Dalam hidup kita sampai saat ini, sudahkah kita benar-benar taat dan setia untuk melakukan firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari? Jelaskan!
- Bagaimana pengalaman anda selama ini, ketika anda taat untuk melakukan setiap firman Tuhan, apakah ada mukjizat Tuhan yang terjadi dan anda rasakan?
- Di tengah perkembangan zaman yang semakin maju, bagaimana cara kita untuk tetap menjaga dan memelihara ketaatan serta kesetiaan kita melakukan firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari? (TPJ).
Pemahaman Alkitab September 2020 (II)
Bulan Kitab Suci
Bacaan : 1 Yohanes 3 : 11 – 18
Tema Liturgis : Firman Khalik Semesta
Tema PA : Bukan Sekedar Pendengar, tetapi Pelaku Firman!
Penjelasan Teks:
Secara umum isi kitab 1 Yohanes memperlihatkan bagaimana jemaat Kristen perdana mengatasi perpecahan antara pengikut Yesus yang sejati dan mereka yang memiliki pandangan sesat. Oleh sebab itu penekanan utamanya terletak pada dorongan terhadap jemaat supaya tetap teguh berpegang pada kebenaran bahwa Yesus, Anak Allah adalah sungguh manusia. Yesus yang adalah manusia itu benar-benar menumpahkan darah-Nya untuk menyucikan manusia dari segala dosa (1 Yohanes 1:7). 1 Yohanes disebut-sebut sebagai surat, sekalipun tidak seperti surat-surat yang biasanya, karena tidak ditemukan salam yang menyapa pihak yang dikirimi surat. Dilihat dari isi surat 1 Yohanes, maka akan ditemukan susunan sebagai berikut:
- Pasal 1:1-2:17 mengenai hidup di dalam terang
- Pasal 2:18-3:10 mengenai Anak-anak Allah dan Anak-anak Iblis
- Pasal 3:11-4:21 mengenai kasih yang berasal dari Allah
- Pasal 5:1-21 mengenai iman yang mengalahkan dunia.
Dari susunan yang demikian ini maka 1 Yohanes 3:11-18 masuk dalam bagian ketiga yang berbicara mengenai kasih yang berasal dari Allah. Pada dasarnya jemaat mengetahui makna kasih Allah karena Yesus telah menyerahkan hidup-Nya bagi mereka (3:16). Karena itu, jemaat dinasihati untuk mengasihi orang lain sebagaimana diteladankan oleh Yesus sendiri, yakni dengan cara menolong sesama. Dengan saling mengasihi, jemaat menunjukkan bahwa mereka mengikuti jejak Kristus. Ajakan untuk hidup saling mengasihi ini dimulai dari awal perikop 1 Yohanes 3:11. Di sana disampaikan bahwa jemaat diasumsikan telah mendengar berita yang sejak semula diwartakan yakni jemaat harus hidup saling mengasihi. Rujukan dari “berita” yang dimaksud pada ayat 11 adalah dari Yohanes 3:14 (lihat bagian bawah perikop 3:11; Yoh. 13:34). Inilah “berita” atau firman yang sejak semula telah diwartakan dan telah didengar serta diterima oleh jemaat. Firman untuk saling mengasihi di antara sesama anggota jemaat sama seperti Kristus yang telah mengasihi jemaat secara pribadi. “Berita” yang adalah firman Allah ini telah ada sejak semula, sehingga kali ini dalam 1 Yohanes 3:11 anggota jemaat diingatkan kembali.
Lebih lanjut ada penjelasan tentang “saling mengasihi”. Penjelasan tersebut dihubungkan dengan kisah Kain di perjanjian lama dalam hubungannya dengan saudaranya yakni Habel. Kisah hidup Kain dan Habel dalam Perjanjian Lama memberikan gambaran tentang tiadanya kasih di antara kakak dan adik itu. Diceritakan bahwa persembahan Habel diterima sementara persembahan Kain tidak. Akibatnya timbul kecemburuan dan kebencian dalam diri Kain. Kegagalan Kain untuk mengasihi adiknya melahirkan kebencian mendalam dan berakhir pada peristiwa pembunuhan. Dari peristiwa ini penulis surat 1 Yohanes memberikan gambaran bahwa saat anggota jemaat menolak perbuatan baik (seperti Kain ke adiknya) maka akan timbul kebencian dan kebencian itulah sumber terjadinya pembunuhan. Oleh sebab itu ayat 15 dituliskan bahwa “setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia.” Anggota jemaat bukan hanya diajak untuk hidup saling mengasihi, melainkan juga berkenan menerima setiap perbuatan baik dan sebaliknya dengan dasar kasih maka setiap anggota jemaat pasti mampu untuk menerima setiap perbuatan baik anggota jemaat lainnya.
Bagi penulis surat 1 Yohanes, kasih bukanlah sekedar kata benda atau kata sifat. Dalam teks bacaan ini juga sampai bagian akhir (ayat 18) yang dipakai adalah kata “mengasihi” yang merupakan kata kerja. Sebagai kata kerja “kasih” tidak dapat dipisahkan dari relasi personal dan sosial dengan manusia lainnya. Kasih dalam arti kata kerja selalu membutuhkan objek untuk dikasihi, yaitu sesama manusia. Oleh sebab itu kasih yang sejati adalah kasih yang bukan sekedar konsep dalam pikiran, atau kata-kata dalam mulut saja, melainkan kasih yang dikerjakan dan diwujudnyatakan melalui tindakan atau sikap hidup sehari-hari.
Bahan Diskusi :
- Seperti halnya anggota jemaat, penerima surat 1 Yohanes sejak semula telah mendengar “berita” untuk hidup saling mengasihi, demikian juga dengan kita sebagai orang Kristen. Sejak semula firman-Nya: “saling mengasihi” telah kita dengar bahkan sering dibacakan dalam Matius 22:37-39 tentang hukum kasih. Bagaimana dalam realita atau kenyataan hidup kita? Sudahkah kita benar-benar hidup saling mengasihi?
- Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita gagal untuk hidup saling mengasihi. Dalam pengalaman hidup kita masing-masing, apa yang terkadang menjadi penghalang bagi kita untuk mengasihi sesama kita? (TPJ).