Pemahaman Alkitab Agustus 2020

Pemahaman Alkitab Agustus 2020 (I)
Bulan Pembangunan GKJW

Bacaan            :  Keluaran 4 : 1 – 17
Tema Liturgis : 
Hidup Menurut Jalan Yang Ditunjukkan Tuhan
Tema PA          :  Membangun GKJW Seturut Kehendak Allah

Pengantar :

Abba Eban, orang Yahudi, ahli sejarah, filsuf dan seorang negarawan, pernah menduduki jabatan sebagai Menteri Luar Negeri Israel tahun 1966-1974, menulis buku “My People, The Story of The Jews”, New York 1968. Pada bagian yang menceritakan “Kelahiran Sebuah Bangsa”, ia menulis bahwa awal abad 17 SM. Sejumlah suku Hiksos, termasuk rumpun Semit, menyerbu Mesir dan menaklukannya. Mereka masuk dari arah Utara dan Timur. Mereka belum membiasakan diri dengan kebudayaan Mesir, sehingga mungkin sekali mereka sangat toleran terhadap suku-suku Israel yang merantau ke lembah Gosyen, dan mengijinkan mereka hidup dengan lembaga-lembaga dan adat-istiadat Israel. Bahkan memberi tempat dan kedudukan kepada orang asing seperti Yusuf, sewaktu bangsa Mesir mengalami kemunduran.

Yang membedakan orang-orang Israel dengan orang-orang Mesir adalah pandangan keagamaan, yang juga nampak dalam bidang kemasyarakatan dan kebudayaan. Ikatan dengan Kanaan begitu kuat, bandingkan Kejadian 43: 32 “Lalu dihidangkanlah makanan, bagi Yusuf tersendiri, bagi saudara-saudaranya tersendiri dan bagi orang-orang Mesir yang bersama-sama makan dengan mereka itu tersendiri; sebab orang Mesir tidak boleh makan bersama-sama dengan orang Ibrani, karena hal itu suatu kekejian bagi orang Mesir.”

Kedudukan aman orang-orang Israel di Mesir hilang di saat pemerintahan Ramses II (sekitar tahun 1250 SM) dan kekuasaan bangsa Hiksos dipatahkan pada awal abad 16 SM. Saat itu rasa kebangsaan (nasionalis) orang-orang Mesir bangkit dan rasa toleran berkurang. Kemerdekaan orang-orang Israel yang merantau di lembah Gosyen dirampas, sehingga mereka dianggap sebagai budak semata yang dipaksa melakukan kerja rodi untuk membangun kota-kota baru (Keluaran 1:11). Waktu itu keberadaan orang-orang Israel di Mesir mengalami perendahan dan kesengsaraan yang paling hebat. Dalam keadaan seperti inilah tampil dari antara mereka seorang pemimpin yang meletakkan dasar, baik bagi Israel sebagai bangsa maupun bagi agama Israel.

Gerhard von Rad menceritakan mengenai Musa, bahwa dia bukan seseorang yang luar biasa pada waktu sebelum Tuhan Allah memanggilnya. Ia mendapat pendidikan yang mengagumkan di Mesir; akan tetapi penulis-penulis Alkitab tidak menggambarkan Musa sebagai seorang yang memiliki kesalehan yang khusus. Ia menjadi gembala seperti banyak gembala yang lain; satu-satunya yang membedakan dia dari mereka ialah bahwa ia harus lari ke tanah Midian dan dengan begitu ia terpisah dari bangsanya sendiri (Keluaran 2:11 dyb.) Penulis Alkitab mencocokkan peristiwa ini dengan maksud pemeliharaan Allah, karena di dalam pelariannya di tanah Midian itu panggilan Allah datang kepada Musa.

Stefan Leks, dalam bukunya MENUJU TANAH TERJANJI, Nusa Indah, 1978 mengulas bahwa orang Mesir kuno hidup dalam pelbagai kekuatan gaib yang menurut mereka mengancam kehidupan manusia di bumi. Kekuatan-kekuatan itu tidak berwujud dan tidak kelihatan, namun menakutkan. Oleh karena itu, orang-orang Mesir kuno selalu ingin menangkap, menguasai kekuatan-kekuatan itu, supaya keselamatan mereka sendiri jangan terancam bahaya.

Keyakinan adanya kekuatan gaib ini menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ilmu sihir. Banyak orang Mesir kuno mempelajari cara-cara yang paling jitu untuk menaklukkan kekuatan gaib tersebut. Sebagian orang Mesir sungguh-sungguh mahir dalam ilmu sihir, sehingga tidak mengherankan bahwa Firaun sendiri dikelilingi para ahli sihir yang secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi jalan sejarah Mesir. Ahli-ahli sihir Mesir ini adalah kelompok yang akan dihadapi Musa jika dia kembali ke tengah-tengah masyarakat Mesir.

Sri Wismoady Wahono, dalam DI SINI KUTEMUKAN, BPK-GM, 2001 juga mengulas bahwa sekalipun Allah telah memperkenalkan diri-Nya dalam semak yang sedang terbakar kepada Musa, Musa merasa sangat takut karena dia mengingat kembali pembunuhan seorang Mesir yang dia lakukan. Musa sangat kecil hati. Namun, teofani (penampakan Allah) secara terus-menerus kepada Musa memberanikan dan menguatkannya, sehingga imannya bertumbuh semakin kuat daripada sebelumnya.

 

KOMENTAR :

Keluaran 4 adalah cerita tentang keberatan Musa. Keberatan pertama, bahwa orang sebangsanya tidak dapat menerima dirinya. Maka Tuhan Allah menampakkan tanda pertama, ayat 2-5 tongkat menjadi ular dan ular menjadi tongkat kembali. Bagian ini tentu ada kaitan dengan ulasan Stefan Leks di atas. Cerita ini tidak menyangkal kemampuan orang Mesir, namun kemampuan itu tidak sebanding dengan karunia yang diterima Musa. Memang karunia ini baru dipergunakan oleh Musa nanti dalam konteks yang berbeda (Kel 7: 9-12). Tanda kedua, ayat 6-8 tangan berkusta. Jika dengan tanda pertama, orang Israel tidak percaya, maka Musa harus menunjukkan tanda kedua. Jika dengan kedua tanda itu orang Israel belum percaya, maka ada tanda ketiga, yaitu air menjadi darah (ayat 9) harus Musa perlihatkan kepada bangsa Israel.

Keberatan kedua, bahwa Musa tidak fasih bicara. Keengganan menerima perutusan Tuhan Allah adalah kekurangan dirinya dalam hal bicara. Bebicara adalah bekal untuk menyampaikan maksud Tuhan Allah kepada bangsa Israel dan juga kepada bangsa Mesir. Oleh sebab itu Tuhan Allah menjawab Musa dalam ayat 11-12. Tuhan Allah menjanjikan bantuan dalam penyampaian warta dan pertolongan mengenai isi wartanya. Tuhan Allah tetap menyatakan dukungan bagi Musa yang masih ragu-ragu. Akan tetapi dari pihak Musa masih ada usaha untuk menghindar. Ayat 13 menerangkan tentang keberanian, tetapi keberanian yang sesuai dengan kecondongan manusia untuk lari dari tanggung jawab dan menyerahkan kepada orang lain. Tuhan Allah menjadi marah, tetapi kemarahan-Nya cukup mengherankan, segera reda. Akhirnya, Harun ditunjuk menjadi nabi bagi Musa (ayat 14-15) dan Musa bertindak sebagai pengganti Tuhan Allah, Harun menjadi penyambung lidah ilahi (ayat 16). Tongkat adalah tanda yang diberikan kepada Musa untuk membuktikan bahwa dirinya menerima tugas dan untuk meyakinkan bangsanya agar mereka percaya. Ayat 17, tongkat dikaitkan dengan tanda dan mujizat.

Bahan Diskusi:

  1. Apakah ada tokoh-tokoh yang dipanggil Tuhan Allah untuk memimpin pembangunan GKJW? Apakah tokoh-tokoh tersebut juga seperti Musa?
  2. Apakah saudara juga merasa dipanggil oleh Tuhan Allah untuk tugas membangun GKJW?
  3. Hari/bulan pembangunan GKJW dikaitkan dengan peristiwa pencerahan setelah awan kelabu yang dialami GKJW pada zaman Jepang. Setelah 74 tahun berjalan (1946-2020), Apakah saat ini masih ada Majelis Jemaat yang ragu-ragu untuk melaporkan kepada Majelis Daerah dan Majelis Agung jumlah persembahan warga dan hasil tegal sawah selama satu tahun di Jemaat (Induk dengan kelompok dan pepanthannya) secara apa adanya? Mengapa?
  4. Mengapa sesanti Patunggilan Kang Nyawiji menjadi lawan/musuh sentralisasi? Apakah perlawanan/permusuhan itu sesuai dengan tema saat ini “HIDUP MENURUT JALAN YANG DITUNJUKKAN TUHAN”?

(BMKacung).

 


 

Pemahaman Alkitab Agustus 2020 (II)
Bulan Pembangunan GKJW

 

Bacaan :  Efesus 5 : 1 – 21
Tema Liturgis : 
Hidup Menurut Jalan yang Ditunjukkan Tuhan
Tema PA : 
Tanggung jawab dalam Membangun Tubuh Kristus melalui GKJW

Pengantar :

Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus terdiri dari dua bagian, yakni pengajaran pada Efesus 1:1 – 3:21, dan nasehat atau teguran yang meliputi Efesus 4:1 –  6:20. Perikop Efesus 5:1 – 21 berada pada bagian yang berisi nasehat atau teguran. J. L. Ch. Abineno memberi judul TENTANG HIDUP JEMAAT, sedang Ralph P. Martin memberi judul TINGKAH LAKU ORANG KRISTEN DALAM DUNIA. Perikop dapat dibagi ke dalam dua bagian: Ef 5:1-7 dan 5: 8-21.

Sebelum mengupas perikop, sebaiknya sejenak mengulas bahwa dalam Surat Efesus teologi mengenai Gereja sebagai tubuh Kristus lebih menonjol. Paham “tubuh Kristus” memainkan peranan yang cukup penting dalam ekklesiologi (paham tentang gereja) Paulus, khususnya Efesus dan Kolose. Kata Yunani sooma (tubuh) hampir selalu dipakai untuk Gereja. Ungkapan tubuh Kristus dalam Efesus dan Kolose agak berbeda dengan Roma 12 dan 1 Korintus 12. Paham “tubuh” dalam Efesus juga Kolose untuk Gereja mempunyai lima ciri khusus:

  1. Sekalipun yang dimaksud secara konkrit adalah umat penerima surat, namun berpangkal pada situasi konkrit itu selalu dihubungkan dengan Gereja secara universal.
  2. Juga dihubungkan dengan Bait Allah, yakni bangunan, pertumbuhan, manusia baru, juga kesatuan suami isteri.
  3. Juga dihubungkan dengan “perkembangan” tubuh yang khas Efesus, bukan jemaat yang menanti kedatangan Kristus (harapan eskatologi) karena saat ini keselamatan telah terlaksana. Bandingkan dengan perkembangan tubuh manusia dari bayi sampai dewasa, sedang terlaksana sekarang bukan nanti.
  4. Yang paling khusus (menonjol) bahwa Kristus berfungsi sebagai kepala. Ungkapan kepala tubuh harus dipahami menurut kedudukan Kristus dalam karya keselamatan. Yang ditekankan adalah hubungan kepala-tubuh, menunjuk kesatuan Kristus dan Gereja dalam karya keselamatan. Kepala bukan hanya sebagai Tuhan, tetapi terutama sebagai sumber hidup, tumbuh dan berkembangnya Gereja.
  5. Juga ditekankan kesatuan tubuh, tetapi bukan kesatuan pelayanan, maupun keanekaragaman fungsi, melaikan kesatuan Yahudi dan non Yahudi dalam iman kepada Kristus.

Dengan demikian paham tubuh bukan metafora, tetapi sebuah eklesiologi, ide dasarnya diambil dari paham kosmis dalam masyarakat setempat yang dirakit dengan teologi Paulus yang bersifat historis, yakni sejarah keselamatan dalam Kristus.

Komentar :

Berdasarkan paham “tubuh Kristus” dalam ekklesiologi Paulus ini, maka nasehat mengenai hidup warga jemaat dalam persekutuan gerejawi beralih kepada tingkah laku warga jemaat dalam dunia sekitar mereka. Dalam Efesus 5:1-7 dipergunakan berbagai sapaan kepada warga jemaat : penurut Allah, anak-anak yang kekasih, orang-orang kudus. Disini Paulus meminta kepada warga jemaat di Efesus menjadi penurut/peniru Allah, menjadi anak-anak yang kekasih/terkasih dan menjadi orang-orang kudus. Dengan kata lain menjadi orang yang memberlakukan kasih seperti Kristus telah melakukan kepada warga jemaat. Hidup memberlakukan kasih itu hidup yang mau mengorbankan diri sebagai persembahan dan kurban yang berbau harum bagi Tuhan Allah. Cara hidup demikian ini menutup seluruh rangkaian kejahatan yang ada dalam ayat 3 sampai ayat 6 yang tidak bersesuaian dengan kehidupan orang-orang kudus. Selanjutnya hidup penuh syukur karena warga jemaat memiliki warisan dalam Kerajaan Allah. Maka, sangat penting bagi warga adalah tidak disesatkan oleh ajaran yang berlawanan dengan hidup kudus dan tidak mengambil bagian dalam kejahatan, karena hal itu mendatangkan murka Allah. Anti virus yang handal untuk mencegah perilaku jahat adalah tidak berkawan dengan mereka yang jahat.

Sebagai “tubuh Kristus” warga jemaat di Efesus yang dahulunya tidak mengenal Tuhan Allah melalui Kristus, jadi hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang menjadi terang dalam Tuhan. Mereka menjadi anak-anak terang. Semua harus diuji, apakah perilaku warga jemaat di Efesus bertujuan untuk membuat Tuhan Allah berkenan. Di sini bukan masalah legalitas semata, tetapi lebih kepada rindu menjadi serupa dengan Kristus.

Selanjutnya dikaitkan dengan hidup baru, hidup dalam Roh Kudus/Kristus. Ayat 15-21 meliputi apa yang dilakukan dalam hidup baru tersebut dan bagaimana menjaga/memelihara hidup baru tersebut. Paulus menekankan bahwa hidup baru adalah hidup seksama. Seksama merupakan terjemahan dari kata Yunani ‘akribos’ yang artinya : akurat, tajam, mendalam, utuh, hati-hati. Hidup seksama adalah perilaku menghindar dari malapelata. Perhatikan, mengapa ada gedung sekolah yang baru dibangun roboh, ada jembatan dibangun dan baru saja diresmikan sudah patah dan rontok? Hal ini terjadi karena dalam perencanaan, dalam menentukan ukuran dan bahan dan pengerjaannya tidak seksama, tidak akurat, tajam, mendalam, utuh, hati-hati.

Jika sudah hidup baru, tidak boleh sebagai orang bebal, tetapi sebagai orang arif. Orang arif adalah orang yang menggunakan kesempatan. Orang yang mampu menggunakan kesempatan adalah orang mempunyai kejelian. Orang yang jeli adalah bukan orang bodoh (gemblung) orang yang begegeg makutha waton. Orang yang jeli juga bukan orang mabuk anggur. Orang mabuk itu tidak mampu mengendalikan diri.

Semua nasehat Paulus kepada warga jemaat di Efesus ini dalam rangka mewujudkan kehidupan jemaat sebagai ‘tubuh Kristus’.

 Bahan Diskusi :

  1. Apakah Efesus 5:2 adalah hal yang paling penting bagi saudara? Apakah hubungan ayat ini dengan Pembangunan GKJW sebagai tubuh Kristus?
  2. Jika membaca Efesus 5:10, Apakah melaporkan keuangan jemaat : persembahan dan hasil tegal sawah induk dengan kelompok dan pepanthan dalam setahun secara tidak apa adanya (maksudnya tidak jujur) kepada Majelis Daerah dan Majelis Agung membuat Allah tersenyum?
  3. Dari Efesus 5:17, apakah saudara sudah mempergunakan apa yang telah Tuhan Allah berikan kepada saudara untuk membangun GKJW, supaya GKJW semakin mampu berkiprah untuk bersekutu, bersaksi dan melayani di bumi Jawa Timur? (BMKacung).
 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •