Bacaan : Efesus 4 : 17 – 5 : 2 | Pujian : KJ. 400 : 1, 3
Nats: “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan : Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia...” (Ay. 17)
Mukidi adalah seorang Kristen yang gemar menipu dan berbohong. Sampai-sampai orang sekampung menjulukinya sebagai Raja Bohong. Suatu hari Mukidi sakit dan merasa ajalnya sudah dekat. Ia meminta kerabat dan teman-temannya untuk datang mendekat, ia hendak menyampaikan wasiat.
Dengan nafas tersengal-sengal Mukidi berkata,“Maafkan aku, kalau selama ini aku suka berbohong dan menipu.Tetapi sekarang ajalku sudah mendekat dan tidak mungkin lagi aku berbohong. Aku menyimpan harta karun di dalam peti dan aku kubur di bawah pohon mangga di depan rumah. Uhuk….uhuk….” lalu Mukidi mati. Semua orang menuju tempat yang disebutkan Mukidi dalam pesan terakhirnya. Mereka menggali dengan benar hingga pada akhirnya ia menemukan sebuah peti. Tak sabar semua orang ingin melihat harta karun seperti apa yang disimpan oleh Mukidi. Ketika peti dibuka, ternyata hanya ada selembar kertas yang bertuliskan : “Ini adalah kebohonganku yang terakhir kali.”
Dalam Efesus 4:17-5:2, Paulus dengan jelas dan terinci menuliskan tentang bagaimana menjadi manusia baru dan bagaimana seharusnya manusia baru di dalam Tuhan. Manusia baru adalah mereka yang hidupnya memiliki karakter seperti Kristus. Setiap orang yang telah mengenal Kristus akan meninggalkan perbuatan cemar yang dipenuhi hawa nafsu. Mereka haruslah membuang kata-kata dusta dan senantiasa berkata benar. Mereka mampu mengendalikan amarah pada dirinya, agar dia tidak jatuh dalam dosa. Mereka mau bekerja dengan baik dan jujur, tidak mencuri. Terlebih seorang yang menjadi manusia baru adalah seorang yang ramah, penuh kasih mesrah dan seorang pengampun.
Banyak orang mengatakan bahwa mereka mengenal Allah, namun hanya sedikit orang yang mampu membuktikan hidupnya memiliki karakter seperti Kristus. Jika seseorang mengenal Allah, namun hidupnya masih dipenuhi dengan perbuatan cemar yang dipenuhi hawa nafsu, apalah artinya? Sebagai orang yang mengenal Allah maka kita perlu untuk terus menerus memperbaharui diri dan mengupayakan pola hidup baru untuk semakin serupa dengan Kristus. Janganlah seperti Mukidi! (YHS).
“Jika kita tetap mengenakan manusia lama, sia-sialah kekristenan kita.”