Bacaan : Kejadian 6 : 5 – 22 | Pujian : NKB. 170 : 1, 2
Nats: “Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjianKu, … ” (Ay. 18)
Secara umum, orang beragama pasti memiliki kepercayaan bahwa Allah itu pengasih dan penyayang. Akan tetapi, di sisi lain ada pula orang beragama yang menganggap bahwa Allah itu jahat dan kejam. Lalu mana yang benar? Bagi saya, sulit untuk menjawabnya. Namun yang pasti ialah bahwa kedua pendapat tersebut lahir dari sebuah pengalaman nyata, bukan berdasarkan teori belaka.
Sebagai manusia, memang tidak mudah untuk mengerti dan memahami rencana Allah, sehingga kita seringkali mengalami kebingungan atasnya. Seperti halnya dalam kisah di Kejadian 6:5–22, yang menceritakan tentang penyesalan Allah atas seluruh ciptaanNya (manusia) yang telah rusak dan jauh dari kebenaran, sehingga Ia berencana untuk memusnahkannya (ayat 7). Waoow … luar biasa, nyatanya Allah bisa menyesal dan lebih dari itu, Allah juga ingin memusnahkan seluruh ciptaanNya. Bukankah ini tindakan yang amat kejam?
Bagi saya tidak, sebab Allah ternyata masih memiliki cinta yang besar kepada ciptaanNya, yaitu Nuh dan keluarganya beserta seluruh hewan yang masuk dalam bahtera. Ia mengadakan sebuah perjanjian dengan Nuh demi kehidupan yang lebih baik (ayat 18). Artinya, pemusnahan yang dilakukan oleh Allah bukan dalam rangka untuk memutus hubungan antara Pencipta dan Ciptaan, melainkan untuk memperbaharui hubungan yang telah rusak antara Pencipta dan Ciptaan. Allah adalah cinta dan berdasarkan cinta itulah Allah menciptakan kehidupan, bukan kebinasaan atau kematian.
Memang sih masih tidak mudah untuk diterima, bagaimana mungkin Allah mewujudkan cinta kasihNya kok melalui tindakan yang kejam? Bagi saya, sah-sah saja, toh manusia kadang-kadang butuh ditegur agak keras biar sadar. Namun, apakah benar Allah melakukan tindakan kejam? Agaknya tidak deh. Bagi saya, Allah tidak kejam apalagi jahat, melainkan Ia sedang melakukan pekerjaan yang belum dimengerti. Itu saja. Jadi, bila masih merasa kaget atau bingung ya boleh-boleh saja, asal tidak sampai memutus hubungan dengan Allah, sebab rencana Allah pasti memperbaharui-menghidupkan bukan merusak-membinasakan. (7us)
“Allah, pasti akan dan selalu baik”