Pemahaman Alkitab Mei 2020 (I)
Masa Raya Unduh-undhuh
Bacaan : Amsal 3 : 5 – 12
Tema Liturgis : Penggenapan Karya Allah Memampukan Orang Percaya untuk Bersyukur.
Tema PA : Terampil untuk Bersyukur Atas Berkat Tuhan
Pengantar :
Kitab Amsal adalah kitab yang berisikan tentang kumpulan ucapan-ucapan bijak. Kitab ini tidak berbicara mengenai sejarah, hukum, serta kehidupan Israel, tetapi lebih banyak berbicara mengenai hal-hal pengajaran dan petunjuk praktis tentang bagaimana menjadi bijak sehingga dapat memperoleh hidup yang baik. Kitab Amsal tidak hanya menekankan untuk pencarian hikmat secara teoritis, tetapi memberikan pedoman-pedoman praktis dalam kehidupan ini /the skill of living. Oleh karena itu dalam studi Perjanjian Lama, kitab Amsal dikategorikan dalam bentuk sastra atau ‘genre’ sebagai kitab hikmat. Kitab yang memberikan petunjuk penting bagi seseorang untuk hidup.
Teologi Kitab Amsal
Dalam kitab Amsal nampak dominasi teologi Deuteronomi yang sangat kental, yang menjanjikan berkat bagi yang setia dan kutukan kepada yang tidak setia. Dengan demikian ajaran dalam Kitab Amsal dapat diringkas sebagai suatu pedoman untuk sukses dalam hidup, di mana hidup dipandang sebagai berkat Ilahi. Kitab Amsal dengan jelas mengungkapkan bahwa hikmat itu berasal dari Tuhan dan diperoleh seseorang melalui hidup takut akan Tuhan (Amsal 1:7). Dalam kaitan dengan Amsal 1:7, C. Hassell Bullock mengungkapkan, “Motto ini berfungsi sebagai kompas bagi kitab tersebut yaitu : Takut akan Tuhan merupakan dasar pengetahuan”. “Permulaan” (1:7) bisa berarti sementara/temporal (pertama dalam urutan) atau bermakna kualitatif (pertama dalam arti pentingnya)[1]. Jadi dalam kitab Amsal hikmat dan takut akan Tuhan tak terpisahkan. Orang yang berhikmat hanyalah orang yang takut akan Tuhan.
Penjelasan Teks : Amsal 3 : 5 – 12
Mengungkapkan pentingnya penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Hal ini nampak dalam beberapa kalimat perintah, seperti: percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu (5), kata “dengan segenap hatimu” menunjukkan kontras antara hikmat manusia pada umumnya dengan hikmat Ilahi yang merupakan dasar seluruh kitab ini. Dalam bahasa Ibrani hati secara simbolis tidak terlalu banyak dipakai untuk menggambarkan tempatnya emosi, melainkan lebih sebagai tempatnya akal budi dan kehendak. Penegasan dari ayat 5, supaya manusia dalam hidupnya menyerahkan kehidupannya yang terdalam kepada Allah. Jangan berusaha untuk bebas dari (tidak bergantung pada) Dia.
Kata “meluruskan” dalam ayat 6, tidak hanya berarti memberikan bimbingan tetapi lebih banyak menjanjikan kuasa bagi manusia untuk senantiasa berproses, melangkah maju. Takutlah akan Tuhan dan berpalinglah dari kejahatan (7), muliakanlah Tuhan dengan hartamu (9), kata muliakanlah, termasuk verb piel imperative masculine singular. Berarti kata muliakanlah disini adalah kata perintah maskulin tunggal yang dipertegas. Memiliki arti yang sangat dalam/tegas karena konyugasi piel. Menurut Robert L. Alden[2], muliakanlah Tuhan dengan hartamu bukan merupakan perintah yang mendetail, artinya harus berupa binatang korban, seberapa banyak padi yang diberikan, dimana seharusnya diberikan, dimana seharusnya mereka membawa barang tersebut, dimana barang tersebut dibakar. Yang dimaksudkan di sini adalah perintah menghormati Tuhan dan membawa persembahan merupakan sebuah tambahan. Oleh karena itu “muliakanlah” berarti memanfaatkan seluruh harta hanya untuk Tuhan.
Orang yang menyerahkan diri kepada Tuhan haruslah menyerahkan diri kepada-Nya sebagai sumber hikmat ataupun tuntunan dan bukannya bergantung kepada pengertian atau kebijakan diri sendiri. Dari ayat-ayat ini mengungkapkan bahwa perintah dan larangan ini tidak bermaksud melarang dan mempergunakan akal sehat untuk mencari yang benar dan salah, namun perintah dan larangan ini diberikan oleh karena pola pikir manusia yang seringkali dipengaruhi oleh lingkungan dan hawa nafsu sendiri. Orang yang menyerahkan diri kepada Tuhan harus bersedia tunduk dan taat kepada hikmat Tuhan atau kehendak Tuhan. Akibat dari penyerahan dan ketaatan kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberikan tuntunan yang pasti dan benar dalam langkah hidup seseorang serta membuang segala hambatan atau memberi kekuatan untuk mengatasi hambatan yang dialaminya.
Di tengah kehidupanya manusia tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi atas hidupnya. Hal ini menunjukkan betapa terbatasnya manusia, dan pentingnya menyerahkan diri kepada Tuhan, Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan ini. Hal yang menarik dari aspek penyerahan diri kepada Tuhan adalah muliakanlah Tuhan. Istilah buah yang pertama ini mempunyai pengertian yang terbaik. Orang yang menghormati dan menaati Tuhan melalui persembahannya akan diberkati dengan berlimpah. Kelimpahan dari Tuhan atau berkat Tuhan tidak menjadi motif yang utama dari persembahan melainkan hal itu merupakan reward bagi mereka yang memberikan persembahan bagi Tuhan.
Dari sini kita mendapatkan pencerahan bahwa sesungguhnya masa krisis bukan menjadi halangan untuk memberikan persembahan. Karena memberikan persembahan merupakan salah satu aspek dari penyerahan diri kepada Tuhan. Tetap memberi persembahan pada masa krisis menjadi bukti bahwa hidup seseorang hanya berserah kepada Tuhan dan berkat-Nya. Dan setelah itu Tuhan akan berkarya sesuai dengan kehendakNya.
Masa krisis tidak menghalangi seseorang untuk kehilangan gaya hidup berbagi kepada sesama. Masa krisis tidak menghentikan seseorang untuk bermurah hati kepada sesamanya yang membutuhkan. Hidup dengan berbagi justru membawa seseorang untuk menerima kelimpahan dan sukacita yang datang dari Tuhan.
Penutup
Tidak ada seseorang yang benar-benar miskin sehingga ia tidak mampu memberi. Tidak ada pula seseorang yang begitu kaya sehingga ia tak butuh diberi.” (Kutipan dari buku I Don’t know lah; Inspirasi Hidup di Tengah Kekonyolan)
Dari kutipan di atas, menunjukkan bahwa setiap kita menerima banyak anugerah dalam kehidupan ini. Akan menjadi seimbang jika kitapun mau berbagi berkah kepada orang lain melalui apa yang mampu kita berikan. Sebab, sesungguhnya kita menerima untuk memberi. Dan dengan memberi kita berbagi. Dengan berbagi, kita peduli. Kita tak akan pernah kekurangan jika kita berbagi. Sebaliknya, kehidupan akan terasa jauh lebih berlimpah rejeki dan bermakna karena digunakan untuk kebaikan dalam hidup.
Bulan ini merupakan masa raya undhuh-undhuh, seluruh jemaat di GKJW merayakan sukacita atas berkat Tuhan yang sudah kita terima maupun yang kita yakini akan kita terima. Kesetiaan kita untuk merayakan undhuh-undhuh merupakan kesempatan bagi kita untuk menjadi berkat bagi seluruh ciptaan, sebab melalui undhuh-undhuh kitapun ikut berkontribusi aktif dalam persekutuan se-GKJW, persekutuan bersama dalam kehidupan berbangsa demikian juga di kancah internasional. Karena sesungguhnya persembahan kita termasuk melalui undhuh-undhuh memiliki arti besar bagi keberlangsungan persekutuan yang jauh lebih besar.
Panduan Diskusi :
- Bagaimanakah pengalaman iman saudara dalam memahami bahwa pertolongan yang didasari dengan kasih dan ketulusan merupakan tindak belas kasih yang paling tinggi? Bagikanlah pengalaman tersebut sehingga satu dengan yang lain dapat saling berbagi tentang pengalaman iman.
- Apa sajakah yang mendukung keterampilan untuk bersyukur sehingga rasa syukur kita semakin kuat? (via).
—
Sumber:
[1] C. Hassell Bullock, Kitab-kitab Puisi Dalam Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2003), 226.
[2] Robert L. Alden, Proverbs a Commentary on an Ancient Book of Timeless Advice, (USA: Library of Conggress Catalog Card, 1983), 38
Pemahaman Alkitab Mei 2020 (II)
Masa Unduh-Unduh
Bacaan : 1 Petrus 3 : 8 – 12
Tema Liturgis : Penggenapan Karya Allah Memampukan Orang Percaya untuk Bersyukur.
Tema PA : Sharing is Caring
Pengantar
Surat Petrus dibagi menjadi dua, yakni surat Petrus yang pertama dan surat Petrus yang kedua. Surat Petrus yang pertama termasuk dalam surat Perjanjian Baru dikenal sebagai surat umum, disebut demikian karena ditujukan kepada Gereja secara luas yang memiliki jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan surat Paulus ataupun surat yang ditujukan pada komunitas tertentu. Selanjutnya surat Petrus disebut sebagai surat umum atau Katolik karena diterima sebagai tulisan suci oleh semua Gereja.
Dari bahasa yang dipakai dalam menuturkan pesannya, surat Petrus merupakan surat yang penuh dengan nuansa kehangatan. Dengan gaya bahasa yang menggugah hati dan memberikan dorongan serta kekuatan bagi pembacanya. Fokus pada surat Petrus yang pertama adalah memberikan kekuatan bagi gereja mula-mula yang kala itu menghadapi beragam penderitaan. Sedangkan dalam surat Petrus yang kedua, ia menulis dengan tujuan melawan beragam ancaman serta perbuatan orang-orang yang mengancam gereja.
Surat ini ditulis kepada orang Kristen yang berada di kawasan Asia Kecil (1 Petrus 1:1), disebutkan di situ penerima surat ini adalah orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia dan Bitinia. Surat Petrus yang pertama ditulis pada tahun 67 M manakala terjadi penganiayaan kepada pengikut Kristus oleh Kaisar Nero, pada masa penindasan terhadap gereja-gereja. Situasi itu digambarakan dalam beberapa ayat misalnya orang Kristen berada dalam berbagai pencobaan (1:6), mereka difitnah sebagai pelaku kejahatan (3:16), mereka mengalami siksaan berat (4:12) dan beragam kondisi lainnya.
Penjelasan Teks : 1 Petrus 3 : 8 – 12
Bila kita memperhatikan perikop sebelumnya (1 Petrus 3:1-7), nampaklah penempatan 1 Petrus 3:8-12 bukan suatu kesatuan atau kelanjutan. Perikop sebelumnya berupa nasihat bagi kehidupan keluarga, sedangkan bila kita memperhatikan ayat 8 kita akan melihat transisi yang tidak berkelanjutan. Jelas bagi kita bahwa ayat 8-12 dimaksudkan sebagai pesan bagi gereja atau orang-orang Kristen dalam menghadapi beragam penderitaan pada masa itu.
Ayat 8
Tema tentang kesatuan bukanlah hal baru dalam kitab Perjanjian Baru. Melalui Injil, juga surat-surat Paulus tema tentang kesatuan menjadi pokok pewartaan yang penting. Seluruh Perjanjian Baru diwarnai dengan ajakan tentang kesatuan, bahkan lebih dari sebuah ajakan. Demikian juga Rasul Petrus mengingatkan pengikut Kristus kala itu agar tetap menjaga kesatuan. Kesatuan persekutuan adalah hal yang penting. Kita ingat misalnya ketika Yesus hendak ditangkap, ia berdoa kepada Bapa agar umat menjadi satu (Yoh 17:21-23). Demikian pula Rasul Paulus misalnya dalam 2 Filipi 2:2 mengingatkan umat Filipi supaya sehati sepikir. Dalam ayat 8, Petrus memulai dengan seia sekata. Pesan ini tentu bukan dalam rangka pengingkaran terhadap keberagaman, namun lebih pada pesan agar di dalam kesatuan itu tidak ada yang dengan sengaja memecah belah. Pesan Rasul Petrus agar umat seia sekata dan seperasaan menjadi penting di tengah berbagai pencobaan yang sedang dialami oleh umat kala itu.
Selanjutnya Petrus juga mengingatkan agar umat mengasihi saudara-saudara. Kata kasih yang dipakai dalam ayat ini berasal dari bahasa Yunani φιλάδελφοι (philadelphoi). Jika kita merujuk pada tersebut, memang kasih yang dimaksud adalah kasih kepada saudara (kasih philia). Yang dimaksud saudara-saudara dalam teks tersebut menunjuk pada saudara dalam lingkup umat. Umat kala ada dalam situasi sepenanggungan, yakni dalam penderitaan, tak ada pilihan bagi mereka kecuali saling memperhatikan sebagai rekan sepenanggungan. Selama diri sendiri menjadi hal penting dalam dunia maka laku seperasaan (perasaan simpati) tidak akan terwujud. Perasaan simpati bergantung pada kerelaan melupakan diri sendiri dan mengidentifikasi diri dengan berbagai penderitaan dan kesedihan orang lain. Perasaan simpati dapat dirasakan ketika sesungguhnya hanya Kristuslah yang memerintah atas hati kita.
Ayat 9
Selanjutnya Petrus mengingatkan umat agar tetap mengasihi mereka yang membenci bahkan menganiaya, dengan tidak membalas pula dengan kejahatan. Kita ingat nasihat Yesus dalam Matius 5:43-44 “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiyaya kamu.” Pesan ini nampaknya menggema di benak pada murid, termasuk diantaranya Petrus. Maka di tengah penganiyaan yang dialami oleh umat Tuhan kala itu, Petrus mengingatkan umat agar tetap memiliki kasih. Tidak membalas kejahatan mereka dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, melainkan memintakan berkat bagi mereka. Tentu nasihat ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Ketika orang lain berbuat jahat kepada kita, kita justru dipanggil untuk mendoakan atau memintakan berkat bagi mereka. Barangkali ini tidak lazim bagi dunia, namun inilah yang Kristus teladankan bagi kita.
Karena sesungguhnya kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama berjalan beriringan, tak terpisahkan satu dengan yang lain, yang satu tidak dapat ada tanpa yang lain. Realitas kekristenan sesungguhnya dapat terlihat dari bagaimana seseorang atau Gereja mengasihi sesamanya ataukah tidak? Adanya kesadaran bahwa setiap orang Kristen adalah mahkluk ciptaan, menyadari akan kebergantungannya kepada Allah, Sang Pencipta secara mutlak. Ketika orang Kristen ingat akan kebergantungannya kepada Allah dan selalu meneladani Kristus, maka sudah selayaknya manusia bersikap rendah hati.
Ayat 10-12
Pada bagian ini Petrus mengutip Mazmur 34:13-17. Ada tiga hal yang ditekankan pada bagian ini, yakni pentingnya menjaga lidah/perkataan, menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, serta mencari perdamaian serta mendapatkannya. Meskipun di tengah beragam perlakuan buruk dari orang lain, umat Tuhan dipanggil untuk tetap mengupayakan perdamaian, menjaga lidah serta perkataannya di tengah membangun relasi dengan yang lain.
Penutup
Tetap berlaku baik di tengah perlakukan yang tidak baik kepada kita tentu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Tetapi bagaimanapun itulah panggilan kita umat beriman. Meskipun umat Kristen mula-mula menghadapi beragam penderitaan, mereka dipanggil untuk tetap menjadi satu dalam rangka saling menguatkan dan berlaku baik kepada siapapun juga, termasuk orang yang membenci mereka. Hal itu tentu mustahil dilakukan, manakala di dalam hati kita tidak ada rasa syukur atas berkat keselamatan yang diberikan Tuhan kepada kita.
Dalam waktu-waktu ini GKJW mengajak kita untuk menghayati tentang rasa syukur. Keselamatan adalah anugerah terbesar yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Bila kita menyadari dan merasakannya, maka meskipun di tengah beragam rintangan, hambatan bahkan penderitaan sebagai umat Tuhan, kita tetap dipanggil untuk hidup dan menghidupi kasih yang berlimpah dengan rasa syukur.
Panduan Diskusi:
- Menurut saudara apa pentingnya menjaga kesatuan umat? Dan bagaimana cara untuk menjaga kesatuan umat?
- Apa yang dapat dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan di tengah situasi dan kondisi yang seringkali menghimpit dan menekan kehidupan umat Tuhan?
- Untuk membiasakan diri menuliskan hal-hal yang dapat disyukuri, jemaat dapat membuat gratitude jar. Adapun fungsinya adalah menyimpan kertas-kertas bertuliskan segala yang kita syukuri. Mulai dari apa yang kita lihat, dengar, rasakan, dapatkan, miliki serta apapun yang membuat kita bersyukur. Kertas tersebut secara rutin kita masukkan, setelah penuh dapat kita pindah di tempat lain dan menjadi dokumen pribadi. Percayalah, kita akan terpukau dan kagum oleh segala anugerah dalam hidup ini. (via)