Ber-Emosilah Dengan Tepat Khotbah Minggu 15 Maret 2020

1 March 2020

Minggu Pra Paskah III
Stola   Ungu

Bacaan 1         : Keluaran 17 : 1 – 7
Bacaan 2         : Roma 5 : 1 – 11
Bacaan 3         : Yohanes 4 : 5 – 42

Tema Liturgis : Pengorbanan Yesus Kristus Memberi Hidup pada Umat-Nya
Tema kotbah : Ber-Emosilah dengan Tepat

Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Keluaran 17 : 1 – 7

Peristiwa dalam bacaan kita ini, menerangkan perihal kemarahan umat Israel akan kebutuhan dasar hidupnya yang tidak terpenuhi. Kebutuhan akan pangan (minuman), yang tidak terpenuhi membuat mereka bertengkar dengan Musa dan lupa akan kekuasaan Tuhan-nya “Mengapakah kamu mencobai TUHAN?”. Situasi yang dihadapi oleh Musa semakin sulit ketika umat Israel menekan Musa dengan memperbandingan hidup yang serba cukup ketika masih di Mesir meskipun mereka sebagai bangsa buangan tidak berada di wilyahnya sendiri. Niat baik TUHAN yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir melalui Musa masih belum dipahami dengan baik oleh bangsa Israel. Mereka senantiasa bersungut-sungut apabila ada hal yang tidak berkenan dan tidak sesuai dengan harapan yang dibayangkan oleh umat Israel (lih Kel. 16 makanan telah habis, mulailah orang Isarel bersungut-sungut lagi Kemudian Tuhan memberi mereka “manna”). Umat Israel tidak hanya melontarkan kata yang mendesak Musa untuk melakukan sesuatu, akan tetapi oleh karena kemarahannya mereka juga hampir melempari Musa dengan batu (ay. 4). Wajarlah seketika itu Musa berseru kepada Tuhan agar mendapatkan pembelaan dariNya. Memang benar Tuhan mendengarkan seruan Musa dan dengan disaksikan oleh para tua-tua Israel – dengan tujuan bisa menenangkan umat yang lain dan umat menjadi percaya – Musa memukulkan tongkatnya ke gunung batu dan keluarlah air (ay. 6).

Tindakan Musa dan juga umat Israel terlihat wajar dalam ketertekanannya, mereka mencoba menemukan jalan keluarnya dengan menuntut Musa dan Musa berseru kepada Tuhan. Akan tetapi menjadi berbeda apabila hal tersebut berulang-ulang dilakukan, maka dari peristiwa Musa dengan umat Israel ada tiga hal yang menjadi perhatian:

  1. Umat Israel masih belum sungguh mengenal Tuhannya yang menutun mereka keluar dari tanah Mesir, mereka masih mempertanyakan kuasa-Nya.
  2. Umat Israel masih belum bisa lepas dari kenyamanan ketika masih berada di Mesir sebagai orang terjajah, padahal mereka dibawa ke tanah miliknya dan menjadi orang merdeka.
  3. Umat Israel memiliki sifat angkuh dan penuntut.

Roma 5 : 1 – 11

Dalam suratnya kepada Jemaat di Roma, Paulus secara eksplisit menerangkan kesimpulan mengikut Kristus dari refleksi iman Paulus. Oleh karena itu dengan mudah memahami apa yang disampaikan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Jemaat di Roma terdiri atas orang bukan Yahudi yang baru mengenal Kristus dan juga ada orang Yahudi Kristen yang kembali ke Roma setelah beberapa tahun tidak berada di Roma – sebelum Paulus datang pengikut Kristus sudah lama hidup di Roma -. Di antara dua kelompok jemaat tersebut sering terjadi perselisihan, saling berebut benar dalam berimannya. Selain tantangan perselisihan dari dalam sesama pengikut Kristus, tantangan datang dari luar yaitu dari  kekaisaran Romawi. Barangsiapa yang berani menyebut Tuhan kepada pribadi selain Kaisar, harus dihukum mati. Oleh karena itu, dalam penulisannya Paulus membagi berbagai bagian dalam surat yang dikirimkannya. Roma 5 masuk dalam bagian “hidup baru karena bersatu dengan Kristus”.

Dalam ayat 1, merupakan pernyataan dukungan sebagai pengikut Kristus. Sebagai pengikut Kristus, umat hidup dalam damai sejahtera dengan Allah, yang sudah didamaikan oleh Yesus Kristus melalui pengorbanan-Nya (ayat 6-11). Hidup yang sebelumnya dalam kuasa dosa berubah menjadi hidup dengan anugerah. Sedangkan dalam menghadapi tantangan perselisihan sesama pengikut Kristus, Paulus menjawabnya dengan kesatuan umat Tuhan yang sama-sama menerima kasih karunia tidak dibeda-bedakannya antara satu dengan yang lainnya (ayat 2). Kemudian dalam menjawab tantangan dari Kekaisaran Romawi, Paulus menanggapinya dengan refleksi iman perihal sengsaranya dalam mengikut Kristus, bahwasanya dalam kesetiaan mengikut-Nya, Allah tidak pernah meninggalkan melainkan menguatkan dan memberikan pengharapan yang pasti bagi setiap umat-Nya (ayat 3-5). Dari hal tersebut Roma 5 menerangkan perihal hidup baru bersama Kristus, yang dapat mempersatukan umat dari berbagai latar belakang dan mendapatkan pengharapan ketenangan dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Yohanes 4 : 5 – 42

Bacaan Injil kita saat ini, menujukkan bagaimana Yesus melampaui kebiasaan-kebiasaan yang sudah ada sejak lama. Jelas sekali bahwa orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria, karena mereka menganggap orang Samaria tidak setia kepada Allah Israel, bahkan mereka tidak memakai cangkir dan mangkuk orang Samaria. Keterkejutan perempuan Samaria terhadap permintaan Yesus sangat beralasan karena dia mengetahui bagaimana relasi orang Yahudi dan orang Samaria (ayat 7-9). Kehadiran Yesus bagi perempuan Samaria merupakan keberuntungan yang tidak dapat tergantikan. Perjumpaan tersebut membuat perempuan Samaria mengenal siapa Yesus , melalui percakapan yang dilakukan. Kehadiran Yesus tidak hanya diperuntukkan oleh sekelompok orang saja melainkan kepada seluruh manusia yang berkenan menerima-Nya, seperti perempuan Samaria. Kehadiran-Nya membawa kelegaan bagi setiap orang yang meneriman-Nya “Dia akan memberikan air hidup” (ayat 10-15).

Respon yang sebaliknya ada dalam benak para murid, mereka terheran Yesus berbicara dengan seorang perempuan Samaria (ayat 27) – karena tidak biasa dilakukan oleh orang laki-laki dijamannya –  dan mereka menguasai dirinya dengan pemahamannya sendiri bukan dari sudut pandang Yesus, meskipun mereka sudah mengikut Yesus. Praduga dari para murid, dijawab oleh pernyataan Yesus bahwa merekapun masih belum memahami kehadiran Yesus sepenuhnya (ayat 31-34). Respon yang berbeda pula yang dilakukan oleh perempuan Samaria, setelah dia mengenal Yesus, dia mewartakan ke seluruh orang yang ditemuianya perihal siapakah Yesus. Dua respon yang berbeda inilah yang menjadi penekanan si penerima Yesus dengan sungguh dan si penerima Yesus yang sebaliknya. Perlu diketahui bahwa dalam ayat 18, menegaskan bahwa Dia Sang Maha Mengetahui yang tersembunyi sekalipun termasuk hati manusia.

Benang Merah Tiga Bacaan :

Mengenal dengan sungguh Sang Pemilik Hidup yang membawa kita ke dalam pengharapan. Dengan menyadari kelemahan kita, bahwasanya manusia dengan mudah bersungut-sungut karena kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan keinginannya dan membuat manusia semakin menjauhkan diri dengan Sang Pemilik Hidup.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Ada 4 (empat) bentuk perasaan Emosi yang biasa disebut basic emotion;

  1. Gembira. Pada umumnya, perasaan gembira diekspresikan dengan senyuman atau tertawa. Dengan perasaan gembira seseorang dapat merasakan cinta dan kepercayaan diri.
  2. Marah. Emosi marah terjadi saat individu merasa dihambat, frustasi karena tidak mencapai yang diinginkan, dicerca orang, diganggu atau dihadapkan dengan sesuatu yang berlawanan dengan keinginannya dll.
  3. Takut. Perasaan takut merupakan emosi yang menunjukkan adanya bahaya.
  4. Sedih. Seseorang akan merasa sedih apabila terpisah atau berpisah dengan yang lain, terlebih berpisah dengan orang yang dikasihinya. Peristiwa terasing, ditinggalkan, ditolak atau tidak diperhatikan dapat membuat individu bersedih.

Dari empat bentuk perasaan emosi tersebut, bapak ibu dan saudara lebih sering pada perasaan yang mana?. Tentunya kita semua pernah mengalami semuanya.

Isi

Jemaat yang terkasih, dalam keseharian kita tidak asing dengan istilah kelola emosi, redam emosi, jangan emosi dan banyak hal lainya yang berhubungan dengan kata emosi. Secara jelas penggunaan kata emosi biasanya merujuk ke arah negative, padahal bentuk perasaan emosi ada 4 (empat) senang, marah, takut, dan sedih. Memang kita harus bisa mengelola setiap perasaan emosi yang ada dalam diri kita, dari keempatnya apabila tidak bisa kita kelola akan berdampak tidak baik bagi diri dan sekitarnya. Dan jelas tidak mungkin kita menghilangkan salah satu saja perasaan emosi tersebut. Kisah bangsa Israel di dalam bacaan pertama ayat 2 dan 3, bagaimana bangsa Isarel tidak bisa menahan perasaan emosi marah juga takut (kehausan). Perasaan marah dan takut yang tidak dikendalikan membawa diri mereka melupakan penyertaan Tuhan yang senantiasa mencukupi kebutuhan, menjaga dan menolong mereka sepanjang perjalanan keluar dari Mesir sampai pada persinggahan di Rafidim. Meskipun demikian melalui perantara Musa, Tuhan tetap menyayangi bangsa Israel dan tentunya dengan konsekuensi yang harus ditanggung oleh bangsa Israel di kemudian waktu.

Jemaat yang terkasih, mengelola perasaan emosi tentunya sudah dialami oleh Paulus dalam perjalan imannya. Oleh karena itu, Paulus mengirimkan surat refleksi imannya kepada jemaat di Roma perihal tantangan hidup berjemaat dan tantangan hidup dalam kekuasaan kaisar Romawi. Kesetiaan dalam iman, memupuk emosi kegembiraan mengikut Kristus dan mengelola emosi yang negatif senantiasa mendekatkan mereka dalam pengharapan dalam Yesus Kristus. Oleh karena Allah dalam diri Yesus Kristus tidak pernah meninggalkan melainkan menguatkan dan memberikan pengharapan yang pasti bagi setiap umat-Nya (ayat 3-5). Demikian pula dalam fokus pembicaraan dalam bacaan Injil kita, respon perempuan Samaria ketika berjumpa dengan Yesus, menunjukkan pengelolaan emosi dengan respon yang positif. Sehingga apa yang didapatkannya dari Yesus ingin segera disampaikan kepada orang banyak dan banyak orang yang mengenal Yesus dari perempuan tersebut. Berbeda dengan para murid, mereka lebih mendahulukan emosi negatif dan menerka apa yang dilakukan oleh Yesus dengan keterbatasan pola pikirnya. Dengan demikian pesan Yesus mengenai tugas yang harus dilakukan oleh para muridpun tidak dapat dicerna dengan baik dan Yesuspun harus mengingatkan para murid berulangkali.

Jemaat yang terkasih, kehidupan kitapun sarat akan perasaan emosi. Setiap peristiwa dalam hidup kita menimbulkan reaksi emosi kita dan bertanggungjawab terhadap peristiwa yang akan terjadi dari setiap perasaan emosi yang kita curahkan. Kisah bangsa Israel, kisah jemaat di Roma, dan kisah perempuan Samaria beserta para murid, semuanya memainkan peranan emosinya dan tanggungjawab atas respon emosinya. Kitapun demikian, bagaimana kita mengelola emosi atas peristiwa yang kita alami. Apakah kita semakin menjauh kepada Tuhan atau menjadikan kita semakin mengenal Tuhan dalam setiap peristiwa  ataukah selalu bersungut-sungut seperti bangsa Israel, selalu menduga-duga dengan negatif, atau mewartakan Yesus seperti perempuan Samaria. Yang jelas kita tidak bisa memilih untuk mengingkari kasih Tuhan yang selalu ada bagi kita, tetapi melupakan-Nya itu merupakan pilihan.

Penutup

Jemaat yang terkasih, dalam masa pra paskah III ini, mari bersama kita senantiasa mengenal Tuhan yang menjadi sumber hidup kita, yang mendamaikan kita dan membawa kita dalam pengharapan. Dengan kita menata dan mengelola 4 (empat) perasaan emosi dalam keheningan, agar kitapun semakin sadar bahwa Roh Tuhan ada dalam diri kita membawa kita untuk mewartakan kasih setia-Nya. Mari meluangkan diri sejenak untuk berefleksi dalam keheningan merasakan kasih Tuhan yang tidak pernah tidak menyapa kita. Dan selalu ingat bahwa di dalam Tuhan tidak ada yang dapat disembunyikan, Dia mengetahui kita. Amin (GFC).

Pujian  : KJ. 28  “Ya Yesus, Tolonglah” ; KJ. 157  “Insan, Tangisi Dosamu”

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka

Wonten 4 (sekawan) raos Emosi ingkang limrah kasebut basic emotion;

  1. Gembira/Bingah. Limrahipun raos bingah mawi ekspresi mesem utawi gumujeng. Bingah ndadosaken individu ngraosaken katresnan lan mbombong manah.
  2. Marah/Duka. Bab punika kakadosan amargi ngraosaken kawontenan ingkang dipunhambat, frustasi utawi kuciwa amargi kasunyatanipun benten kaliyan ingkang dipun ajeng-ajeng, dipunremehaken, dipun ganggu lan ngadepi perkawis ingkang mboten sami kaliyan pemanggihipun.
  3. Takut/wedi/ajrih. Raos wedi punika nedahaken woten bebaya ingkang ngacam gesangipun.
  4. Sedih/ Tiyang ngraosaken sedih menawi kapethatan katresnan kaliyan tiyang ingkang dipuntresnani, ngraosaken piyambakan, mboten dipun tampi utawi dipun tolak, rumaos mboten dipun tresnani, lsp.

Saking sekawan raos emosi punika, bapak, ibu, lan para sederek, asring ngraosaken emosi ingkang pundi?. Tamtunipun kita sedaya sampun nate ngraoskaen sedaya bentuk emosi punika.

Isi

Pasamuwan ingkang kinasih, ing pigesangan kita asring mireng istilah kelola emosi, redam emosi, jangan emosi, lan lintunipun ingkang magepokan kaliyan emosi. Asring emosi punika dihubungaken kalian bab ingkang negatif, nanging sejatosipun wonten 4 (sekawan) bentuk perasaan emosi, bingah, duka, wedi, sedih. Tamtunipun kita sedaya kedah saged ngatur bentuk emosi, matemah mboten nuwuhaken dredah sae kagem diri pribadi lan sakiwo tengen kita.

Cariyos bab bangsa Israel ingkang kaserat wonten ing waosan I, ayat 2 lan 3, nedahaken bilih bangsa Israel mboten saged ngatur emosi duka lan ajrih. Raos duka lan ajrih punika mboten saged dipun kedhaleni matemah ndadosaken bangsa Israel kesupen bab kasaenanipun Gusti Allah, ingkang sampun mitulungi sak-uruting lampah saking Mesir dumungi Rafidim. Senajan kados mekaten tumindakipun Bangsa Irsael, Gusti Allah tetep nresnani bangsa Israel lumantar Musa ingkang dados talanging pakaryan Gusti Allah dumateng bangsa Isarel. Lan tamtunipun karana tumindak ingkang kados punika, bangsa Israel nampi konsekuensi ing lintu wekdal.

Pasamuwan ingkang kinasih, ngatur utawi ngelola emosi tamtunipun sampun dipunalami kaliyan Paulus ing saklebeting pitados Gusti. Mila, Paulus ngirim serat dumateng pasamuwan ing Roma bab tantangan gesang  kaliyan sesami sederek ingkang pitados Gusti, lan tantangan gesang kaliyan panguwasan kaisaran Romawi. Tansah setya ing Gusti, tansah suka bingah nderek Gusti Yesus, lan saged ngatur emosi ingkang ala matemah saged tansah rumaket dumateng Gusti lan nggadahi pangajeng-ajeng ing Sang Kristus. Mila kita kedah enget bilih Gusti Allah ing Gusti Yesus mboten nate nilar umatipun lan tansah maringi pangajeng-ajeng dumateng umat ingkang setya (ayat 3-5).

Ing waosan Injil nedahaken respon tiyang estri Samaria ingkang kepanggih kaliyan Gusti Yesus. Tiyang estri Samaria punika nedahaken respon ingkang positif dateng Gusti Yesus. Temahan sedaya cariyos ing pepanggihanipun kaliyan Gusti Yesus punika disebaraken ing tiyang ingkang dipunpanggihi ing sak dawanipun lampah lan kathah tiyang ingkang pitados Gusti sak sampunipun mireng cariyos tiyang estri Samaria punika bab Gusti yesus. Anaging perkawis punika benten kaliyan respon para sakabat, nalika mangertos Gusti Yesus wicanten lan ngandika kaliyan tiyang estri Samaria punika, respon negatif ingkang wonten ing saklebeting pamikiran dan manahipun para sakabat. Mila kathah tugas tanggel jawab ingkang kedhah dipun tindakaken kaliyan para sakabat nanging luput mboten dipun tindakaken. Karana punika ndadosaken Gusti Yesus kedah ngambali malih paring pitedah dumateng para sakabat.

Pasamuwan ingkang kinasih, pigesangan kita mboten saged lepas saking  emosi. Sedaya lelakon ing pigesangan kita tamtu nuwuhaken reaksi emosi lan kita kedah gadhahi tanggeljawab kaliyan sedaya dampak saking emosi kita. Lelakoning bangsa Isarel, lelakoning pasamuwan ing Roma, lan cariyos bab tiyang estri Samaria kalian para sakabat, sedaya nuwuhaken emosi ingkang kedah dipun tanggeljawabaken. Kita sedaya tamtunipun sami, kados pundi kita sami mengatur utawi mengelola emosi nalika wonten prastowo ing pigesangan kita, punapa kita sami nebih saking Gusti? Punapa kita sansaya celak kaliyan Gusti? Punapa kita kadhos bangsa Israel ingkang sami nggrundel, mikir negatif, utawi malah mawartoasken kasaenane Gusti kadhos wong wadon Samaria. Ingkang baku punika kita boten saged selak kaliyan kasaenanipun Gusti, nanging nglali dumateng Gusti punika pilihan.

Panutup

Pasamuwan kagungane Gusti, ing masa pra paskah III punika, sumangga kita sami tansah nyelak lan wanuh dumateng Gusti Allah ingkang nggadhahi gesang lan maringi gesang dumateng kita. Gusti Allah sampun ngrukunaken kita lan maringi kita pangajeng-ajeng, karana punika sumangga kita sami nata lan ngelola 4 (sekawan) perasaan emosi dhiri kita. Ing saklebeting ening diri matemah kita saged wastani bilih Rohipun Gusti tansah wonten ing saklebeting diri kita lan ngajak kita sami dadhos paseksinipun. Mangga sami methingaken wekdal kagem Gusti Allah, ing  suasana ening, kita sami ngraosaken kasaenanipun Gusti ingkang mboten nate kendat ing pigesangan kita. Lan kita tansah enget bilih ing Gusti mboten wonten ingkang mboten ketingal, Gusti mangertosi kawontenan kita lan ing saklebeting manah kita. Amin (GFC).

Pamuji : KPJ. 117  “Kala Kula Dhawah”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak