Bacaan : 1 Petrus 4 : 12 – 19 | Pujian : KJ. 375
Nats: “Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” (ay. 16)
Tidak ada seorangpun yang ingin hidup dalam penderitaan, bahkan dalam mimpi sekalipun. Maka tidak heran jika sebelum tidur akan muncul kalimat have a nice dream, sweet dream atau semoga mimpi indah. Tetapi hidup manusia tidak selalu berjalan sesuai yang diinginkan, karena itu Rasul Petrus mengingatkan orang Kristen agar selalu siap jika satu saat mereka akan menderita karena keyakinannya.
Surat Petrus ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang saat itu terserak di Kekaisaran Romawi. Petrus menyapa mereka sebagai pendatang (terjemahan BIS: perantauan, Inggris: strangers/orang asing). Istilah ini menunjukkan bahwa keadaan mereka akan sangat tidak mudah dalam segala hal, termasuk berkaitan dengan iman dan keyakinan sebagai orang Kristen (1 Petrus 2:11). Kekaisaran Romawi adalah salah satu daerah yang sangat kuat penyembahannya pada Kaisar. Keputusan Kaisar membawa pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan semua orang, termasuk orang Kristen, sehingga Petrus perlu menguatkan mereka. Contohnya: pengaruh kekuasaan Kaisar pada keputusan Pilatus (Yohanes 19:12-13).
Kehidupan orang Kristen sekarang tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh mereka saat itu. Kita seolah-olah adalah pendatang, orang asing di negeri sendiri. Banyak aturan yang menyulitkan orang Kristen. Tetapi seperti nasihat Petrus, jangan malu dan memilih meninggalkan Kristus namun tetaplah memuliakan Tuhan, dengan cara: tetap bersukacita (ay.13), berbahagialah tidak melakukan kejahatan (14-15), tetap setia dan taat pada rencana dan kehendak Tuhan.
Dalam dunia ini, kita semua adalah pendatang atau perantau yang menetap selamanya. Pada satu waktu semua akan kembali ke asalnya, meninggalkan segala penderitaan dan juga kesenangan dalam hidup ini. Berjuanglah bersama Tuhan, semoga setia sampai akhir. Amin. [SS]
“Jangan katakan pada Tuhan bahwa kita punya masalah yang besar, tapi katakan pada masalah bahwa kita punya Tuhan yang besar” (nn)