Bacaan Alkitab: Yohanes 17:1-26
Tahun Gerejawi: Bulan Ekumene
Tema: Antar Denominasi
Tujuan:
- Remaja dapat menafsirkan doa Tuhan Yesus untuk murid-muridNya.
- Remaja dapat menjelaskan bahwa gereja- gereja memiliki tugas panggilan yang sama.
- Remaja dapat membiasakan diri untuk merawat persatuan dalam kepelbagaian.
- Remaja dapat menyebutkan nama nama gereja lain.
Ayat Hafalan: “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapadi dalam Aku dan Aku didalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku”. (Yohanes 17:21)
Lagu Tema: Rukun cinta satu sama lain.
Penjelasan Teks
Setelah perikop sebelumnya bercerita tentang kehidupan Tuhan Yesus, di perikop ini dan selanjutnya adalah kisah tentang tanda-tanda pewahyuanNya menuju hari-hari terakhir sampai ke periode kemuliaanNya (kematian dan kebangkitan). Bagian perikop ini adalah doa panjang yang ditujukan Tuhan Yesus kepada Bapa dengan motif sentral doa kesatuan, persatuan yang mencontohkan pernyertaan Bapa kepada Anak. Doa ini juga disebut perluasan dari Doa Bapa Kami (Matius 6). Dalam posisiNya antara surga dan dunia, antara BapaNya dan muridNya, Tuhan Yesus berdoa bagi kaum beriman sekarang dan di masa yang akan datang. Sama seperti persatuan Sang Bapa dan Anak, maka Roh hadir diantara para murid untuk mempersatukan mereka. Dan penggerak dalam persatuan itu adalah kasih yang berakar pada Tuhan Yesus. Sebab siapa dan apa yang dilakukan Allah, bisa kita jumpai melalui kasih Tuhan Yesus bagi dunia.
Langkah-langkah Penyampaian:
Pendahuluan
Anthony de Mello dalam bukunya yang berjudul Burung Berkicau berkisah, pada bulan Oktober 1917 terjadilah Revolusi Rusia yang menjadi dimensi baru dalam sejarah manusia dan dalam waktu yang sama terjadi Sidang Sinode Gereja Ortodoks Rusia yang membahas perdebatan sengit mengenai warna pakaian yang harus digunakan dalam upacara ibadat. Ada yang menegaskan seharusnya berwarna putih dan kelompok lain meneriakkan warna ungu dengan tak kalah kerasnya. Kisah itu menggambarkan betapa sering gereja hanya sibuk membicarakan dan memperdebatkan hal-hal kecil dan melupakan hal-hal besar yang seharusnya menjadi perhatian dan campur tangan gereja.
Cerita:
Jumlah denominasi gereja-gereja di Indonesia yang tidak sedikit diwadahi empat persekutuan gereja-gereja. Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Persekutuan Gereja-Gereja Pantekosta di Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injil Indonesia (PGLII) dan FUKRI ( Forum Umat Kristiani di Indonesia). Greja Kristen Jawi Wetan sendiri adalah anggota dari PGI. Selain itu, delapan poros besar aliran gereja di Indonesia adalah Katolik, Protestan, Ortodoks, Injili, Pentakosta, Karismatik, Bala Keselamatan, Adven Hari Ketujuh dan Baptis. Total yang terdaftar dalam persekutuan gereja ini adalah 221 denominasi (belum termasuk yang tidak terdaftar). Apa yang membedakan mereka ? Perbedaan-perbedaan yang dimiliki gereja itu terkait : ajaran, bentuk dan ekspresi peribadatan, pegangan etis, tata gereja dan budaya, sejarah yang melatarbelakangi lahirnya gereja.
Mungkin kita beranggapan, jumlah gereja yang banyak menunjukkan pertumbuhan orang Kristen. Padahal di sisi lain data menunjukkan bahwa bertambahnya jumlah denominasi tidak serta merta menunjukkan pertambahan jumlah orang Kristen. Mungkin, perpindahan warga dari gereja satu ke gereja baru/lain menjadi alasan utama. Jika begitu, mengapa gereja begitu mudah terpecah ? Gereja tampaknya tidak bersatu, mudah terpecah untuk membuat gereja baru. Apakah tidak mungkin disatukan dibawah satu atap?
Sejak Dewan Gereja Indonesia (sebelum PGI) terbentuk di tahun 1950, pergumulan DGI adalah bagaimana membentuk keesaan Gereja. Tetapi dalam perjalanannya, penyatuan organisatoris gereja dirasa tidak mungkin dilakukan karena masing-masing mempertahankan identitas dan gereja mulai cenderung lebih mengutamakan “keesaan rohani dalam Kristus”. Perbedaan yang cukup prinsip dan akar sejarah yang khas menjadikan DGI tidak lagi berorientasi menyatukan gereja dalam satu nama dan merubah nama menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Makna persekutuan yang dimaksud adalah semangat saling melayani satu sama lain, berpartisipasi dalam kesusahan, penderitaan dan pergumulan jemaat yang lain. Kata persekutuan juga mewadahi semangat kemajemukan gereja-gereja yang tumbuh dan berkembang di bumi Indonesia.
Di tengah keberagaman ini tidak bisa dipungkiri gereja rentan mengalami konflik melalui sikap saling menghakimi (menganggap yang lain/berbeda sebagai kelompok sesat) atau berkompetisi memperbanyak jumlah warga jemaat melalui perpindahan warga dari gereja yang satu ke gereja lain. Konflik ini semakin menunjukkan betapa orang Kristen tidak lagi menjadi persekutuan yang saling melayani tetapi sebaliknya berubah menjadi organisasi yang memperkaya dan memperbesar diri/nama masing-masing. Gereja mulai melupakan panggilan mula-mula yaitu untuk bersekutu, bersaksi dan melayani. Padahal, bersaksi demi siapakah gereja sejatinya ?
Di tengah situasi yang demikian, melalui Yohanes 17 : 6-10 Tuhan Yesus mengingatkan semua orang yang percaya kepadaNya melalui doa bagi para murid dalam persekutuannya untuk dapat melanjutkan karya penebusanNya di dunia.
Melalui ayat 11-19 Tuhan Yesus meminta kepada Allah Bapa untuk memberikan kepada para muridNya keempat hal ini : kesatuan, ketekunan, sukacita dan kekudusan. Ayat 11 “Supaya mereka menjadi satu seperti Kita”. Kesatuan yang dimohonkan Tuhan Yesus adalah cerminan dari kesatuan antara ketiga Pribadi dalam Trinitas. Supaya para murid bisa bersatu menyuarakan kebenaran kehendak Tuhan bagi dunia, menghadapi tantangan bersama (saling menguatkan dan mendukung) dengan demikian mereka mengambil bagian dalam sukacita (ayat 13).
Belajar dari bagian perikop ini, kita bisa memahami kehendak Tuhan bagi murid yang juga adalah gerejaNYa. Yaitu bersatu, bertekun, bersukacita dan memperjuangkan kekudusan demi kemuliaan namaNya. Mewartakan kasih Kristus kepada dunia. Dan jika demikian, gereja sejatinya tidak memiliki perbedaan. Hanya saja, seringkali kita terlupa untuk bersatu karena perbedaan budaya, aliran, dogma dan sejarah yang sejatinya dipakai Tuhan untuk mengkomunikasikan kasihNya kepada dunia yang beragam.
Di tengah keberagaman gereja, gereja harus menjalin dialog dan kerjasama untuk menjadi berkat bagi dunia. Sebab, jika melakukan kegiatan bersama dapat membawa perubahan dan lebih berdampak, mengapa gereja harus melakukan sendiri-sendiri? Gereja tidak perlu memperdebatkan perbedaan yang ada, sebab persoalan yang lebih besar harus ditanggungjawabi bersama.
Maka, dari hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah mari mengenal saudara seiman yang terdekat dan membuat kegiatan bersama bagi kebaikan lingkungan dan masyarakat. Bersatu dan bersaksilah!
Aktivitas:
Mewarnai kertas yang bertuliskan Ut Omnes Unum Sint yang telah diperbanyak dan dibagikan (sesuai kreasi remaja menerjemahkan keragaman).

Istilah Ut Omnes Unum Sint berasal dari bahasa Latin. Istilah ini menjadi popular sebab diterbitkan dalam surat penggembalaan Paus Paulus II. Ut Omnes berarti supaya semua, Unum berarti satu dan Sint berarti menjadi. Terjemahan tulisan diatas adalah SUPAYA MEREKA MENJADI SATU. Ungkapan ini mengingatkan gereja untuk berjuang menjadi satu bagi kemuliaan Kristus.