Nikmati Proses Penghayatanya, Jangan Sampai Menjauh Renungan Harian 28 Agustus 2019

28 August 2019

Bacaan : Yehezkiel 20 : 33 – 44 | Pujian : KJ 439
Nats : “ … Di sana kamu teringat-ingat kepada segala tingkah lakumu, dengan mana kamu menajiskan dirimu, dan kamu akan merasa mual melihat dirimu sendiri karena segala kejehatan-kejahatan yang kamu lakukan … “ (ayat 43)

Saya teringat ketika masih duduk di kelas 4 SD, pada waktu pelajaran matematika tentang perhitungan volume bangun ruang. Dan saya sulit untuk menghafal rumus-rumus penghitungan volume, khususnya kerucut (⅓ Π r.r.t) dan prisma (luas alas x tinggi) oleh karena kelemahan saya, guru mengutus saya untuk menulis 2 rumus itu masing-masing sebanyak 10 lembar. Dan jika saya tidak menyelesaikan tugas tersebut dalam satu minggu, maka jumlah akan bertambah dua kali lipat.

Tentu saat itu, saya merasa hal tersebut adalah murni sebuah “hukuman! Dan pastilah saya menulis rumus-rumus tersebut dengan sangat terpaksa. Akan tetapi “hukuman” menulis 10 lembar itu ternyata berdampak besar, karena hingga sekarang saya masih ingat tulisan rumus itu, meskipun dalam prosesnya harus mengalami ketidaknyamanan untuk menuju sebuah kebaikan.

Yeh. 20:33-34 merupakan sebagian bentuk pendidikan Tuhan untuk orang Israel yang mengalami kelemahan secara iman karena sering terpikat untuk menyeleweng kepada ilah lain. Bagaimana Tuhan memperlakukan umatNya agar mereka sadar dan berubah? Tuhan mendidik umat melalui sarana pembuangan sebagai filter permurnian umat. Ay. 37 – 38 dengan jelas menceritakan bahwa domba – domba yang lulus akan masuk ke kandang, sedangkan domba yang tidak lulus akan ditinggal di luar. (ay.39) Tuhan seakan-akan mempersilahkan mereka untuk menyembah ilah lain. Hal ini sebagai ukuran sejauh mana kesungguhan mereka untuk melekat bersama satu-satunya pemilik hidup, yaitu Tuhan Semesta Alam. Keseriusan berefleksi itulah yang menjadi upaya untuk terus berbenah, mengendalikan diri, menjaga kesetiaan – tentunya membutuhkan perjuangan untuk mengalami hal tersebut (ay.43). Mari menikmati proses secara serius dan belajar melihat ketidaknyamanan sebagai pendidikan dari Tuhan. (gus).

“Hati yang sudah diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan pasti tidak akan lagi berani bermain-main dengan dosa”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak