Bacaan : Kejadian 12 : 10 – 20 l Pujian : KJ 417
Nats: “Tetapi Tuhan menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram” (ayat 17)
Dalam sebuah keluarga tentu kita tidak asing dengan isitilah “Kepala Keluarga” atau “Kepala Rumah Tangga”. Istilah yang biasa disematkan kepada laki-laki, tetapi terkadang dalam beberapa situasi bisa berubah. Satu hal yang pasti adalah sang kepala keluarga memiliki sebuah tanggung jawab untuk menghidupi anggota keluarganya, perannya sangat besar di tengah keluarga. Ya…tentu setiap keluarga memiliki pergumulan dan persoalan masing – masing . Pada akhirnya keluarga bukanlah tentang “siapa” tetapi bagaimana keluarga itu menyerahkan hidupnya pada Tuhan dalam iman pengharapan.
Bagaimana keluarga khususnya kepala keluarga digambarkan dalam Alkitab, pada hari ini kita melihat keluarga Abram dan Sarai. Pada saat itu dikisahkan sedang terjadi sebuah bencana kelaparan dan membuat Abram harus mencari cara agar keluarga kecilnya bisa tetap bertahan hidup. Mesir adalah tujuan mereka untuk bertahan hidup dan berdiam disana untuk waktu yang belum pasti, akan tetapi ada satu persoalan, kecantikan Sarai. Abram yang saat itu dipenuhi ketakutan dan juga beban tanggung jawab mengambil sebuah keputusan yang tidak biasa, ia membuat hubungan suami istri menjadi hubungan kakak adik. Yang pada akhirnya Firaun mengambil Sarai menjadi istrinya, ditukar dengan berbagai ternak (ay. 16). Tetapi Abram lupa bahwa ia bukan seorang singel fighter dalam membangun keluarganya, ada Allah yang adalah Sang Kepala Keluarga bagi tiap umat-Nya.
Terkadang kita menyikapi sebuah tanggung jawab dengan sedemikian rupa, merasa bahwa kita dipercaya dan berupaya dengan segala cara untuk bisa menjalankan tugas tersebut dengan baik. Kita lupa bahwa kita manusia yang memiliki kelemahan dan keterbatasan, terlebih jika berkaitan kehidupan dan masa depan. Allah sebagai Sang Sumber Kehidupan dan Kepala Keluarga tidak akan membiarkan kita menderita daan terjebak dalam kesulitan, pertolongan-Nya akan selalu ada bagi kita. (gantrung)
“Setiap keluarga ada dalam pelukan cinta-Nya”