Pemahaman Alkitab (PA) Agustus 2019 (I)
Bulan Pembangunan GKJW
Bacaan : Yosua 7 : 1, 10 – 26
Tema Liturgis : Membangun Diri Dalam Kasih Menuju Kemandirian dan Menjadi Berkat
Tema PA:Tanggung Jawab Bersama Dalam Suatu Persekutuan
Keterangan Teks:
Kitab Yosua disebut demikian, karena sesuai dengan nama tokoh utama yang diangkat di dalam kitab ini, yakni Yosua bin Nun. Dimana dulunya, Yosua merupakan seorang pembantu dari nabi besar bangsa Israel, yakni Musa. Namun setelah beberapa lama, kemudian Yosua pun menggantikan posisi Musa, untuk memimpin bangsa tersebut. Secara garis besar, kitab Yosua ini bertemakan perebutan tanah di sebelah barat sungai Yordan. Dimana di dalam penulisannya, kitab ini dapat dibagi ke dalam tiga bagian besar yaitu perebutan tanah Kanaan (1-12), pembagian tanah (13-21), kembalinya suku-suku dari seberang sungai Yordan dan pidato perpisahan Yosua kepada bangsa Israel (22-24).
Pada bagian yang kita baca pada saat ini, yakni 7:1; 10-26 termasuk ke dalam bagian narasi kisah perebutan tanah. Dimana bangsa Israel pada waktu itu, tengah berusaha merebut sebuah kota yang bernama Ai, yang terletak di dekat Bet-Awen, sebelah Timur Betel (7:2). Sekalipun Ai hanyalah sebuah kota yang penduduknya kecil dan tidak sebanding dengan besarnya bangsa Israel, namun ternyata mereka dapat memukul mundur serta mengalahkan serangan dari bangsa Israel (7:3-5). Dimana dalam narasi yang kita baca selanjutnya, kitab Yosua memberikan kesaksian bahwa penyebab utama dari kekalahan tersebut adalah ketidaktaatan bangsa Israel kepada perintah Allah (7:6-12). Pelanggaran terhadap perjanjian yang telah diperintahkan oleh Allah tersebut, menyebabkan Allah tidak berkenan untuk menyertai dan memberikan kemenangan kepada mereka.
Akhan merupakan seseorang di antara bangsa Israel, yang telah melanggar perintah Allah itu. Ia melakukannya, dengan cara mengambil barang-barang yang dikhususkan bagi Allah, baik barang-barang yang akan dimusnahkan, maupun yang akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan Tuhan (Bdk. 6:16-19). Secara khusus dosa ini ia lakukan, ketika Akhan bersama orang-orang Israel yang lain berhasil merobohkan tembok Yerikho dan merebut kota tersebut. Selama tujuh hari, Akhan bersama orang-orang Israel yang lain, benar-benar menuruti Perintah Tuhan, berserah penuh kepada Tuhan. Namun ketika Tuhan telah benar-benar menyerahkan kota tersebut kepada bangsa Israel, Akhan justru melanggar perintah Tuhan.
Dengan demikian, pada titik ini kita dapat melihat bagaimana dosa menyelinap di antara kemenangan iman. Bagaikan ragi, dosa tersebut jika dibiarkan maka akan dengan cepat mencemari semuanya. Berdampak besar terhadap hilangnya penyertaan Allah dan berkat Allah dalam kehidupan manusia. Jika dosa tersebut – lagi-lagi – hanya dibiarkan, tidak ditegur, dan tidak diselesaikan, maka lebih jauh lagi akan berdampak bukan hanya pada hilangnya penyertaan Allah saja, namun bahkan mendatangkan hukuman dari Allah itu sendiri (7:13). Baik hukuman yang harus ditanggung secara pribadi, maupun hukuman yang ditanggung pula secara komunal. Dengan demikian, perbuatan dosa yang mendatangkan murka Allah tersebut, bukan lagi semata-mata menjadi tanggung jawab pribadi. Namun lebih jauh daripada itu, perbuatan dosa juga menjadi tanggung jawab bersama – sebagai suatu persekutuan – untuk dapat bersama-sama mencegah, menegur, hingga menyelesaikannya.
Pertanyaan untuk Digumuli:
- Sebagai sebuah persekutuan, tentu kita memiliki tanggung jawab bersama untuk dapat mencegah, menegur, hingga menyelesaikan suatu perbuatan dosa, yang muncul di dalam suatu persekutuan. Namun sebagai masyarakat Jawa, seringkali kita terbentur dengan rasa sungkan untuk menegur. Bahkan sekalipun kita tahu bahwa yang dilakukan saudara kita adalah salah dan merupakan perbuatan dosa dimata Tuhan, seringkali kita sengaja menutup mata. Biasanya disertai dengan alasan, agar tidak geger, dosa ditanggung sendiri, dlsb, karena lebih mengutamakan prinsip hidup harmonis. Lalu jika demikian, apa yang seharusnya kita lakukan?
- Ketika seseorang diketahui jatuh ke dalam dosa, maka biasanya ia akan mendapatkan pamerdi atau penggembalaan khusus dari Gereja. Dalam masa pamerdi tersebut, ia akan dituntun untuk menyadari kesalahan/dosanya, hingga berani mengakuinya dihadapan Tuhan, dengan disaksikan oleh warga jemaat/Majelis Jemaat. Lalu sebagai warga jemaat, saudara seiman dan juga patunggilan kang nyawiji, sikap yang bagaimanakah yang seharusnya kita tunjukkan kepada saudara kita tersebut? Bolehkah kisah hidupnya kita ceritakan kepada orang lain, dengan dalih supaya orang lain belajar dari kesalahannya? (YA).
Pemahaman Alkitab (PA) Agustus 2019 (II)
Bulan Pembangunan GKJW
Bacaan: Matius 20 : 20 – 28
Tema Liturgis : Membangun Diri Dalam Kasih Menuju Kemandirian dan Menjadi Berkat
Tema PA : Menjadi Hamba yang Berguna
Keterangan Teks :
Jika kita melihat secara menyeluruh pada Injil Matius yang kita baca pada saat ini, maka kita akan dapat melihat bahwa Injil Matius sangatlah berwarna Yahudi. Hal ini dapat dipahami, sebab perhatian utama dari sang penulis kitab ini ialah bagaimana ia menghadirkan sosok Yesus dari Nazaret, dalam lingkup tradisi umat pilihan Allah. Namun tidak berhenti pada titik itu saja, sang penulis Injil Matius pun juga ingin menunjukkan kepada para pembacanya, bagaimana Tuhan Yesus memperbarui ikatan dengan tradisi-tradisi tersebut, yang membawa kepada pemenuhannya. Dari permulaan sampai akhir, kita akan disajikan dengan berbagai ketegangan yang terjadi antara tradisi dan pembaruan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tidak ada bagian dari ketegangan itu yang terabaikan. Interaksi antara keduanya melahirkan kehidupan dan pandangan baru yang segar.
Secara khusus pada bagian teks yang kita baca, kita dapat melihat bagaimana pembahasan mengenai status dalam Kerajaan Allah yang akan datang, kembali dimunculkan oleh sang penulis Injil Matius (lih. 18:1-5). Nampaknya status dalam kerajaan Allah tersebut, sangatlah penting menurut para murid (lih. 18:1-5), ibu anak-anak Zabedeus beserta anak-anaknya (lih. 20:20-28). Mereka seakan-akan begitu mendambakan kehormatan, kekuasaan, kenyamanan, dsb. Dimana menurut pemikiran mereka – serta di dalam struktur sosial yang berlaku pada saat itu – hal tersebut hanya akan bisa didapatkan, dengan cara menempati posisi yang cukup tinggi/lebih spesial dibandingkan dengan yang lain.
Namun bagi Tuhan Yesus, justru siapapun yang ingin menjadi yang terbesar di antara yang lain, maka hendaklah ia menjadi pelayan (lih. 20:26). Barangsiapa yang ingin menjadi yang paling terkemuka di antara yang lain, maka hendaklah ia menjadi hamba (lih. 20:27). Kata “pelayan” pada 20:26 dalam bahasa Yunani memakai kata υπηρέτης (Baca: Huperetes) yang berarti penolong, pelayan, atau asisten yang menjalankan tugas atas mandat atau otoritas atasannya. Kemudian pada 20:27 disusul dengan kata “hamba” yang dalam bahasa Yunani menggunakan kata δοῦλος (Baca: Doulos), mengisyaratkan penekanan khusus yang begitu mendalam, dibanding kata sebelumnya.
Kata Doulos itu sendiri berarti budak belian yang terikat seumur hidup dengan sang tuannya. Dimana tujuan hidup utamanya adalah untuk melayani sang tuan, menjadi alat bagi sang tuan, untuk mengerjakan segala pekerjaan yang dipandang baik oleh sang tuan. Seorang hamba/budak, tidak lagi mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Namun segala keberadaan dirinya, telah ia serahkan kepada sang tuan, semenjak sang tuan berkenan untuk membayar/menebus dirinya.
Realitas Kehidupan Masa Kini dan Penerapannya:
Pelayanan diakonia memang menjadi suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bergereja di tengah-tengah dunia. Keberadaan Gereja sudah seharusnya dapat memberikan manfaat kehidupan yang baik, dengan mau memberi diri bagi sesama manusia. Hal ini Gereja lakukan, dengan cara mencontoh kerasnya perjuangan hidup, dari Tuhan Yesus Sang Guru Agung. Selama Tuhan Yesus hidup, Ia selalu dikelilingi oleh kaum miskin, lemah dan tersingkirkan, serta mau berjuang untuk kehidupan mereka. Ia begitu peduli pada kehidupan manusia serta mau membangun solidaritas dengan cara melepaskan segala keagungan dan kemuliaan yang dimilikinya, untuk melayani mereka yang miskin dan tersingkirkan. Ia tidak lagi berada di tempat yang begitu tinggi dan tak terjangkau, namun berada begitu dekat dengan mereka yang membutuhkan.
Jika Tuhan Yesus saja mau untuk melepaskan segala keagungan dan kemuliaannya, maka ini bukan hanya terbatas dan berhenti pada diri-Nya saja. Namun hal ini juga patut dipahami sebagai sebuah ajakan Tuhan Yesus kepada para muridnya agar mau untuk bertindak serta beraksi bagi sesama, persis seperti yang ia lakukan dan perjuangkan selama ini (lih. 20:28).
Jika Tuhan Yesus saja mau melepaskan segala keagungan dan kemuliaannya, lalu merendahkan diri-Nya untuk melayani, maka maukah para pengikutnya pada masa kini, juga melakukan hal yang sama seperti yang Ia lakukan? Yakni menjadi pelayan dan bahkan hamba/budak untuk melayani orang lain. Ajakan untuk mau melepaskan kehormatan, keegoisan diri dan kemuliaan yang dimiliki, bukan berarti menurunkan derajat diri, melainkan suatu sikap yang mau duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan mitra yang dilayani.
Sikap inilah yang perlu dimiliki oleh setiap pengikut Tuhan Yesus, agar dalam melakukan pelayanan kita tidak kehilangan orientasi. Terkadang karena kita terlalu sering memikirkan dan mengejar penghormatan dari yang lain, kita menjadi lupa bahwa posisi kita sebenarnya bukan berada jauh diatas, dengan segala kemewahan atau kehormatannya. Namun posisi kita sebenarnya berada di bawah, sejajar dengan mereka yang kita layani.
Dalam dunia masa kini, Gereja yang notabene adalah murid dari Sang Guru Agung, benar-benar dituntut peran aktifnya dalam memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Terlebih lagi dengan fokus perhatian yang terutama yaitu kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkirkan. Sekalipun dalam hal ini, juga tidak bermaksud menyisihkan mereka yang diberkati Tuhan dengan kecukupan materi dan kedudukan yang tinggi.
Pertanyaan Diskusi:
- Langkah konkret apa yang bisa kita lakukan, agar kita dapat benar-benar menjadi hamba Allah di tengah-tengah masyarakat tempat kita tinggal?
- Apakah program-program diakonia yang ada di GKJW (setempat) pada saat ini sudah cukup memadai untuk menolong mereka-mereka yang membutuhkan bantuan?
- Sejauh mana warga masyarakat yang berlainan agama/kepercayaan, namun benar-benar membutuhkan bantuan, dapat merasakan pelayanan yang kita lakukan? (YA).