Pemahaman Alkitab Juli 2019

10 June 2019

Pemahaman Alkitab (PA) Juli 2019 (I)

Bulan Keluarga

Bacaan  : Kejadian 24 : 34 – 41, 50 – 67
Tema Liturgis  : Kehadiran Kristus Di Tengah Keluarga yang Membawa Keselamatan
Tema PA : Merencana Kebaikan Bersama Tuhan

Keterangan Teks

Abraham yang sejak awal bersedia memenuhi panggilan Tuhan dengan keluar dari negeri dan sanak saudaranya berusaha menjaga panggilan itu dengan setia walaupun kenyataan di depannya seringkali berbeda dengan harapan. Ia menerima janji bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, namun tak kunjung memiliki anak sampai dengan usia lanjut. Setelah Ishak lahir dan bertumbuh dewasa, belum juga ia beristri sementara Sara, ibunya sudah meninggal. Pergumulan tentang bagaimana keturunannya akan menjadi banyak muncul kembali. Kali ini nampak bahwa ia lebih berhati-hati dan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan sembarangan membuat keputusan.

Abraham pernah keliru mengambil langkah ketika mengambil Hagar, hamba istrinya, dengan harapan akan memenuhi janji Allah yang akan menjadikan keturunannya seperti bintang di langit dan pasir di laut. Namun, ternyata Tuhan tidak merestui langkahnya, sehingga kehati-hatian itu nampak dalam rencana dan penataan masa depan hidup keluarga Ishak, anaknya. Karena itulah, ia menyuruh hambanya, untuk kembali ke negerinya dan sanak saudaranya untuk mencarikan isteri bagi Ishak.

Mengapa harus jauh-jauh pulang ke negerinya? Apakah tidak ada gadis di Kanaan yang bisa dipinang bagi Ishak? Kemungkinan larangan mengawinkan Ishak dengan perempuan Kanaan dalam rangka menutup kemungkinan percampuran keyakinan. Dalam upaya membangun hidup berkeluarga, nampak adanya keyakinan yang perlu menjadi dasar kuat pendiriannya. Paling tidak, keyakinan itu tumbuh dalam diri Abraham dan hambanya, yang mengandalkan Tuhan dalam upaya pembangunan keluarga Ishak dan mempercayakan keberhasilan misi mencari pasangan Ishak dalam tangan Tuhan dengan mengusulkan suatu tanda untuk mengetahui pilihan yang Tuhan kehendaki. Singkat cerita, misi hamba Abraham ini diberkati Tuhan dan berhasil baik dengan membawa pulang Ribka untuk Ishak dan Ishak pun menerima dan mencintainya.

Realitas Kehidupan Masa Kini dan Penerapanya :

  1. Keluarga masa kini sedang digempur oleh berbagai tantangan yang berpotensi membuat rapuh, baik dari dalam maupun dari luar. Jawa Timur merupakan provinsi di Indonesia dengan jumlah tertinggi terkait perceraian selama tahun 2017 yaitu sebesar 87.475 kasus. Sekalipun tidak ada info pasti berapa jumlah pasangan Kristen di dalamnya, namun kondisi ini cukup menjadi keprihatinan bersama. Mereka yang sebelum perkawinan telah menerima pembinaan / katekisasi sebagai persiapan, dan ketika perkawinan mengakui bahwa pasangan anugerah Tuhan serta berjanji untuk saling setia, namun ketika dalam perjalanan seperti menyangkal bahwa semua pada masa lalu itu keliru. Akibatnya, pasangan itu kemudian memutuskan untuk berpisah.
  2. Membangun kehidupan keluarga sebenarnya proses membangun kepercayaan kepada Tuhan terus dan terus, bukan saja diawal membuat keputusan untuk kawin, namun di sepanjang perjalanan perkawinan. Realitanya sekarang, perceraian diawali dari alasan klise berkaitan dengan ketidakcocokan, kesalah pahaman dalam komunikasi dan ketidakmampuan mengelola emosi diri. Banyak pasangan yang merasa cukup dengan berdoa memohon Tuhan memulihkan situasi keluarga yang gambarnya mulai berbeda dengan awal mula dibangun. Lebih parah lagi, banyak pasangan itu saling memohon supaya Tuhan yang memulihkan pasangannya, yang menurutnya menjadi sumber persoalan.
  3. Di tengah realita hidup itu, panggilan bagi setiap pribadi dalam keluarga masih sama : setia mengandalkan Tuhan. Kesetiaan bukan instan, namun butuh perjuangan. Kesetiaan itu bukan pasif, namun aktif bergerak dan mengupayakan. Perjuangan ini seringkali terlewatkan karena memang terasa berat. Mengapa? Karena masing-masing anggota keluarga harus mengalahkan ego dirinya yang merasa “saya yang benar” dan “dia yang salah”. Oleh sebab itu, setiap keluarga dipanggil untuk belajar setia menjalani hidup dengan tidak sekedar bertanya “apa yang saya inginkan atas hiruk pikuk situasi keluargaku?” namun sungguh-sungguh merenung “apa yang Tuhan ingin saya lakukan atas hiruk pikuk situasi keluargaku?”.
  4. Hamba Abraham mengajak kita belajar bahwa untuk mencapai setiap usaha baik membutuhkan keterlibatan Tuhan di dalamnya. Urusan hidup berkeluarga bukan sekedar urusan aku dan dia, namun sebaiknya juga menjadi urusan Tuhan juga melalui apa yang ia rencana dan lakukan.

Pertanyaan Reflektif  :

  1. Jika melihat kehidupan keluarga dewasa ini, persoalan apakah yang berpotensi menghancurkan hidup berkeluarga? Menurut saudara, dalam menghadapi persoalan yang demikian seperti apa bentuk mempercayakan keberhasilan ke dalam tangan Tuhan?
  2. Dalam rangka menguatkan setiap keluarga dan menolong orang muda mempersiapkan hidup berkeluarga, menurut saudara, apa yang bisa kita (gereja) lakukan bersama-sama untuk itu?

Penutup

Sejatinya, tidak ada pasangan yang sempurna dan cocok. Masing-masing anggota dalam keluarga selalu bertumbuh bersama untuk mengenali dan menerima dirinya lalu mengenali dan menerima pasangan maupun anggota keluarga lain. Dalam bertumbuh itu, setiap orang perlu mempercayakan hidupnya pada Tuhan. Doa memang penting, namun itu saja belum cukup. Seperti hamba Abraham, kitapun dipanggil untuk berjuang. Perjuangan itu sebaiknya nampak dalam upaya kita membangun diri untuk terus bertumbuh, mengenal diri sendiri – berdamai dan menerima keberadaan diri – lalu bersama-sama belajar mengelola diri. Keluarga saat ini perlu belajar dan berlatih untuk mengelola emosi dengan tepat, menyampaikan perasaan, berani berbicara terbuka. Kehendak baik Tuhan perlu disambut dengan perjuangan untuk belajar bertumbuh merencanakan kebaikan keluarga dengan terus belajar. Percaya bahwa Allah menuntun perlu diwujudkan dengan kesungguhan laku. (KRW).

 

Pemahaman Alkitab (PA) Juli 2019 (II)

Bulan Keluarga

Bacaan  : Lukas 8:4-10
Tema Liturgis  : Kehadiran Kristus Di Tengah Keluarga yang Membawa Keselamatan
Tema PA  : Menjadi Tanah yang Baik

Keterangan Teks

Makna dari perumpamaan dalam bacaan kita telah dijelaskan oleh Yesus dalam bacaan selanjutnya. Kepada banyak orang yang berbondong-bondong mengikutinya, Yesus menegaskan mengenai firman Tuhan yang tinggal dalam kehidupan manusia. Dengan menggunakan dunia pertanian yang akrab dengan kehidupan pada saat itu, Tuhan Yesus memberikan pelajaran yang diasumsikan akan mudah dimengerti oleh banyak orang. Melalui perumpamaan ini, seolah menegaskan bahwa Firman Tuhan itu memiliki posisi sentral dan penting dalam kehidupan, sebagaimana benih yang ditabur menjadi tumbuh dan akhirnya berbuah lebat serta berguna bagi kehidupan manusia.

Keberlangsungan kehidupan benih itu tidak hanya bergantung pada kualitas benihnya, namun juga kondisi tanahnya. Tiga jenis tanah di awal : pinggir jalan, berbatu dan semak duri merupakan kondisi yang tidak siap menjadi lahan benih itu bertumbuh subur dan akhirnya berbuah. Kesemuanya berakhir dengan kematian benih sekalipun ada yang bisa bertahan sebentar karena ”dimakan sampai habis, dihimpit sampai mati, layu dan menjadi kering”. Sementara, jenis tanah terakhir memungkinkan benih itu untuk tumbuh dengan suburnya dan berbuah. Inilah tanah yang memang sejak semula telah siap untuk ditaburi benih. Tanah yang sudah steril dari batu, semak dan kering / padat oleh injakan orang. Tanah yang gembur dan telah diolah sehingga siap menerima benih-benih yang diharapkan tumbuh dan berbuah.

Keluarga dipanggil untuk hidup sebagaimana tanah yang siap menjadi lahan benih-benih ditaburkan. Bagaimana hal itu mungkin? Ya, dengan menyingkirkan segala hal yang menganggu seperti batu-batu dan semak duri, maupun menggemburkan tanah supaya tidak padat seperti diinjak orang. Itulah gambaran keluarga yang terbuka terhadap firman Tuhan, mengerti dan menerjemahkan firman itu menjadi tindakan. Keluarga yang terbuka untuk terus belajar mengenal diri dan berusaha memperbaiki di bawah terang Firman Tuhan.

Realitas Kehidupan Masa Kini dan Penerapanya :

  1. Tantangan setiap keluarga berbeda-beda, bahkan semakin bertambahnya usia perkawinan akan menghadapi pergumulan yang berbeda. Ada keluarga yang bisa melewati pergumulan itu dengan baik dan penuh perjuangan yang ia lakukan dengan sabar karena keyakinan bahwa Tuhan menemaninya berjuang. Namun, ada juga keluarga yang menyerah menghadapi segala tantangan yang datang. Firman Tuhan yang menguatkan perjuangan setiap orang dalam situasi sulit bagaikan buah dari benih yang ditaburkan dan jatuh ke tanah yang baik. Keluarga sejatinya menjadi lahan gembur yang terbuka terhadap benih firman Tuhan yang ditaburkan pada anggota keluarga dan disirami setiap saat sejak kecil sampai dengan dewasa.
  2. Sering dijumpai relasi anggota keluarga yang kering dan hubungan yang penuh syarat karena di satu sisi orang tua merasa menjadi pihak yang paling tahu dan menuntut kepatuhan anak-anaknya. Di sisi lain, anak-anak yang bertumbuh dewasa merasa jauh lebih tahu sehingga relasi orang tua dan anak-anak mengalami ketegangan. Pada titik ini, sebenarnya anak-anak dan orang tua menjadi pribadi yang terus belajar untuk mengerti dan menjadikan firman Tuhan sebagai dasar semua tindakan. Perilaku hidup anggota keluarga tidak didasarkan pada pemahaman bahwa orang tua selalu benar dan anak harus manut apa kata orang tua apapun alasannya ataupun sebaliknya, namun seluruh anggota keluarga (anak dan orang tua) menundukkan diri di bawah kebenaran Firman Tuhan sebagai dasar tindakannya. Orang tua punya tanggung jawab untuk meyakinkan anak-anak dan menjadi teladan bahwa sebuah tindakan yang benar harus diperjuangkan karena dengan cara itulah mereka menerjemahkan pemahaman dan pengertiannya akan Firman Tuhan.
  3. Di tengah kesibukan keluarga-keluarga Kristen sekarang, upaya menggemburkan tanah supaya subur dan siap menjadi lahan tumbuhnya taburan benih supaya subur dan berbuah adalah sebuah panggilan yang tidak boleh ditunda. Kegiatan menggumuli Firman Tuhan bersama keluarga tidak bisa digantikan dengan cukup berbagi ayat Alkitab melalui media sosial (WA, FB, dll.). Keluarga perlu serius membekali diri menghadapi segala tantangan dengan sungguh-sungguh menyediakan waktu untuk mengerti dan belajar Firman Tuhan serta berusaha melakukannya setiap waktu.

Pertanyaan Reflektif  :

  1. Kesibukan anggota keluarga dengan berbagai urusan seringkali membuat waktu membaca Firman Tuhan menjadi terlewatkan. Menurut saudara, bagaimana cara yang mungkin diupayakan dalam menerima dan menggumuli Firman Tuhan itu? Bagikan pengalaman yang mungkin sudah saudara lakukan selama ini!
  2. Apa yang bisa keluarga lakukan supaya ia menjadi keluarga sebagai lahan yang siap ditaburi benih?

Penutup

Keluarga merupakan tempat pertama dan utama Firman Tuhan ditanamkan dan diterjemahkan dalam laku keseharian. Orang tua dan anak-anak adalah pribadi yang bersama-sama tumbuh dalam Firman Tuhan dan siap berbuah oleh karenanya. Karena itu, di tengah situasi istimewa yang terjadi pada masing-masing keluarga, orang tua sebagai pihak yang dihadirkan Tuhan ke dunia lebih dahulu sebaiknya secara sungguh-sungguh merencana langkah khusus dan khas keluarganya supaya aktivitas menggumuli Firman Tuhan sebagai benih yang ditaburkan itu tetap terjaga. Dengan latihan mengerti dan belajar mengungkapkan dalam perilaku benih itu diharapkan akan berbuah berlipat kali ganda dalam laku kehidupan. (KRW)

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak