Pemahaman Alkitab September 2019

5 August 2019

September 2019 (I)
Bulan Kitab Suci

 

Bacaan :  Ulangan 7 : 12 – 26
Tema Liturgis
:  Firman Allah Menerangi dan Menuntun Umat Kepada Kebenaran
Tema PA
:  Jatuh Bangun dalam Memelihara Perjanjian dengan Tuhan.
Tujuan PA  :

  1. Jemaat dapat menyadari kerapuhan hidup yang ditandai dengan serangkaian pengalaman kegagalan, baik dari pengalaman diri maupun pengalaman umat pilihan, bangsa Israel.
  2. Jemaat diajak untuk mampu memandang setiap peristiwa dalam kehidupan sebagai sarana Tuhan Allah memelihara umat-Nya.

 

Pengantar Ke Metode PA :

Pemahaman Alkitab di bulan September kali ini menggunakan metode Shared Christian Praxis (Berbagi Praksis Kristiani) yang secara garis besar dimaknai sebagai sebuah upaya mendialogkan pengalaman iman dari berbagai konteks. Konteks pertama adalah pengalaman iman masa kini yang kemudian dipertemukan dengan teks Alkitab. Hasil perjumpaan/percakapan ini kemudian dibawa kembali dalam penerapan/aplikasi kehidupan sehari-hari. Harapannya akan didapatkan suatu refleksi otentik peserta PA dalam rangka menggumuli perjalanan iman mereka. Selamat ber-PA !

Pertanyaan Diskusi:

  1. Jemaat diajak untuk mendefinisikan arti kata kegagalan dalam kehidupan keseharian mereka. Hal ini dapat dijelaskan dengan contoh-contoh riil yang ada.
  2. Jemaat diajak untuk memperdalam/menganalisa lagi penyebab dan akibat dari kegagalan Apakah itu disebabkan dari faktor internal ataukah ada faktor eksternal?
  3. Diskusi diakhiri untuk sejenak dengan sebuah pertanyaan retoris, ‘’Apakah orang yang gagal itu pertanda tidak diberkati oleh Tuhan?’’

 (Catatan : durasi diskusi awal ini hendaknya tidak terlalu lama, dijaga arah diskusinya dan diupayakan peserta dapat berperan aktif berbagi pengalaman imannya. Oleh karena itu diperlukan ketrampilan dan keluwesan pelayan PA untuk memandu proses diskusi ini.)

 Penjelasan Teks :  ULANGAN 7 : 12 – 26

  • Kitab Ulangan atau dalam terjemahan Yunaninya bernama kitab Deuteronomi adalah suatu kitab yang secara harafiah berarti hukum kedua. Sebagai salah satu bagian dari lima kitab Taurat (Pentateukh), kitab Ulangan ini lebih dipahami sebagai sebuah kompilasi atau penyampaikan kembali ajaran-ajaran Musa di Gunung Sinai.
  • Pesan utama dalam kitab Ulangan ini adalah mengenai tema perjanjian Allah dengan umat pilihan-Nya, Israel. Perjanjian (Ibr: Berith) berarti suatu istilah hukum untuk persetujuan timbal balik antara dua rekanan yang sejajar. Menjadi sangat menarik bahwa ketika dibawa dalam tataran Teologis, digambarkan bahwa Tuhan Allah, Sang Penguasa Langit dan Bumi berkenan mengikat suatu perjanjian dengan sekelompok umat manusia yang memiliki relasi kekerabatan mulai dari Bapa Abraham, Ishak dan Yakub (Israel) hingga keturunan 12 anak Israel. Dan di sepanjang kitab Ulangan ini akan berkali-kali ditemukan pola perjanjian yaitu : 1) adanya judul yang menyatakan Raja Sang pembuat perjanjian, 2) latar belakang sejarah yang mengisahkan tindakan baik dari Sang Raja pembuat perjanjian kepada bangsa yang menerima perjanjian tersebut. 3) Adanya tuntutan atau syarat permintaan Raja yang harus dipenuhi, 4) dimuatnya daftar saksi perjanjian atau tuntutan syarat untuk mengumumkan perjanjian tersebut secara teratur, dan 5) adanya kutuk dan berkat sebagai konsekwensi pelanggaran atau pemenuhan perjanjian.
  • Dalam perikop Ulangan 7 : 12-26 unsur-unsur pakta perjanjian itu tercantum dan dapat ditemukan dengan jelas. Penjelasannya sebagai berikut :
    • Pernyataan Tuhan Allah sebagai Raja yang menjanjikan berbagai macam berkat seperti : memberikan keturunan, hasil bumi dan ternak yang melimpah, bebas dari sakit penyakit, dsb. (ayat 13-15)
    • Bukti sejarah penyertaan Tuhan Allah dalam membebaskan bangsa Israel dari penindasan bangsa Mesir dan membawa mereka ke negeri perjanjian, Tanah Kanaan. (ayat 18-19)
    • Tuntutan/syarat yang harus dipenuhi supaya perjanjian itu dipenuhi adalah dengan cara bangsa Israel harus menyingkirkan segala berhala dan ikatan perjanjian dengan bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan Allah serta berupaya untuk tidak terkooptasi dengan semuanya itu. (ayat 16 dan 25-26)
    • Adanya daftar saksi perjanjian yaitu para bangsa yang secara bertahap diserahkan menjadi tawanan dibawah kendali bangsa Israel. (ayat 22-24)
    • Konsekwensi berkat dan kutuk yang termuat baik ketika bangsa Israel bersedia setia kepada Tuhan Allah (ayat 12) maupun ancaman jerat kutuk ketika bangsa Israel melawan kepada Tuhan Allah (ayat 16, 25 dan Pasal 8 : 19-20)
  • Disepanjang perjalanan bangsa Israel, terbukti nyata bahwa menjaga perjanjian kesetiaan dengan Tuhan Allah merupakan suatu perkara yang tidak mudah. Acap kali ditemukan peristiwa kejatuhan ketika mereka menyeleweng dengan beribadah kepada ilah lain. Hal ini dapat ditemukan dalam masa pra kerajaan (kitab Hakim-hakim, Yosua), pada era kepemimpinan para Raja (kitab 1-2 Samuel, 1-2 Raja-Raja dan 1-2 Tawarikh) dan pada masa pembuangan (melalui seruan para nabi-nabi seperti Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel).

Refleksi

  • Jemaat peserta PA diajak untuk kembali mendialogkan pengalaman kegagalan mereka dengan kesaksian Alkitab tentang Janji Berkat Tuhan Allah serta kenyataan sejarah jatuh bangunnya bangsa Israel sebagai umat pilihan.
  • Jemaat diajak menyadari bahwa sebutan umat pilihan bagi bangsa Israel bukan berarti secara otomatis akan dilimpahi berkat dan dijauhkan dari segala hukuman, status umat pilihan berarti dijadikan contoh, baik dalam hal yang positif (menjaga kesetiaan kepada Tuhan Allah) maupun dalam hal negatif (saat menyeleweng kepada ilah lain).
  • Upaya kita untuk menjaga kesetiaan kepada Allah yang diganjar dengan limpahan berkat (1), itu hanya sebagai salah satu konsekwensi yang ada. Sebab dalam varian yang lain, ditemukan juga adanya fakta bahwa sudah berupaya setia namun penderitaan dan kegagalan terus menerus datang (2), atau bahkan yang tidak setia namun tetap aman dari segala kegagalan dan derita (3). Terhadap konsekwensi-konsekwensi tersebut, jemaat diajak untuk tidak secara cepat menghakimi diri sendiri, sesama terlebih kepada Tuhan. Justru jemaat diajak untuk dapat terus melihat tanda Kasih dan Kesetiaaan Allah dalam menjaga perjanjian terhadap umat ciptaan-Nya. Kepada yang diberkati menjadi bukti, kepada yang tetap setia sekalipun menderita menjadi ajang kesaksian dan kepada yang masih mbalela dipandang bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat.
  • Jemaat peserta PA dapat diajak untuk mencermati teks 1 Korintus 10: 13 sebagai penutup diskusi: ’Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.  Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.’’

*** selamat ber-PA *** (argo)


September 2019 (II)
Bulan Kitab Suci

Bacaan:  Yohanes 10 : 11 – 21
Tema liturgis
:  Firman Allah Menerangi dan Menuntun Umat Kepada Kebenaran
Tema PA
:  Tanggung Jawab Pengikut Kristus
Tujuan PA
:

  1. Jemaat dihantarkan untuk dapat memahami adanya relasi Yesus sebagai Gembala yang Baik dan jemaat selaku domba kepunyaan-Nya
  2. Jemaat menyadari hakekat dan tanggung jawabnya sebagai kawanan domba milik Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari

Penjelasan Teks  :  YOHANES 10 : 11 – 21

Injil Yohanes adalah satu satunya Injil yang menggunakan sudut pandang/perspektif yang berbeda dengan ketiga Injil sinoptik yang lain (Matius, Markus dan Lukas). Injil-Injil sinoptik dianalogikan seperti laporan tiga wartawan dengan gaya penulisannya masing-masing atas suatu peristiwa yang sama. Sedangkan penulis Injil Yohanes (dalam tradisi Gereja dilambangkan dengan burung rajawali) menggunakan sudut pandang bird eye, artinya melihat suatu peristiwa dengan cara pandang yang lebih luas sekaligus juga fokus membidik pesan dari suatu peristiwa yaitu kisah Yesus dari Nazaret. Melalui berbagai metafora namun juga sekaligus fokus hendak menjalaskan Yesuslah Mesias, Anak Allah.

Yesus Kristus yang disaksikan oleh penulis Injil Yohanes diperkenalkan dengan metafora/gambaran dengan ungkapan khas ‘’Aku adalah’’. Ditarik dari tradisi Perjanjian Lama, ungkapan ‘’Aku adalah/Akulah’’ adalah juga cara Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada umat pilihan, bangsa Israel. (bdk. Kitab Keluaran 3: 13-15 ‘’AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu’’) Ungkapan ini berarti Tuhan Allah adalah yang sekarang ada, yang akan ada, dan yang menyebabkan ada serta yang akan menggenapi rencana-Nya untuk seluruh umat dan ciptaan-Nya. Maka dengan fokus yang sama, penulis Injil Yohanes bermaksud memakai ungkapan ‘’Aku adalah’’ dalam diri Yesus untuk menghubungkan-Nya dengan hakikat Allah dan untuk menggambarkan tindakan-Nya bagi manusia.

Secara spesifik dalam Injil Yohanes 10: 11-21, Tuhan Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai jalan supaya melalui-Nya, umat Allah dapat berjumpa dengan Tuhan Allah dan dapat menjadi umat-Nya. Melalui ungkapan ‘’Akulah Gembala yang Baik’’, Tuhan Yesus digambarkan melalui suatu profesi yang sudah lazim dikenal pada waktu itu. Gembala meskipun suatu profesi yang rendah namun dimaknai tinggi karena tanggung-jawab besar yang diembannya yaitu menjaga kawanan kambing-domba miliknya.

 

Refleksi : RELASI ANTARA GEMBALA-DOMBA

Dalam teks Injil Yohanes 10 : 11-21 ditekankan adanya suatu relasi yang kuat antara Yesus Sang Gembala dengan kita sebagai domba kepunyaan-Nya. Disini kita dapat melakukan identifikasi baik terhadap gambaran Gembala maupun gambaran domba supaya semakin dipahami relasi yang terjadi.

Indentifikasi pertama meliputi gambaran tentang Gembala. Di dalam teks diperbandingkan antara Gembala yang Baik dengan orang upahan. Sebutan orang upahan disini dimaksudkan kepada para pemimpin Israel dan para pengajar Taurat yang kesannya mengajarkan hukum Allah namun sejatinya justru semakin menjauhkan umat dari Allah. Orang upahan ini tidak memiliki tanggung jawab yang baik sebab ketika dalam kondisi terdesak, mereka justru lari untuk menyelamatkan diri. Ini berbeda dengan Sang Gembala yang Baik, sebagai gambaran Sang Pemilik domba, yang bahkan rela mempertaruhkan nyawa bagi domba-dombaNya. (ayat 12-13).

Identifikasi kedua yaitu mengenai domba yaitu personifikasi dari kita, umat-Nya. Dituliskan disini ada semacam tanggung jawab yang menjadi bagian para domba, yaitu mengenal Gembala-Nya dan mendengarkan suara-Nya. (ayat 14, 16).

Maka dapat dipahami alih-alih relasi yang hanya satu arah ternyata justru ada relasi timbal balik antara Sang Gembala dengan domba-Nya. Bukan hanya Gembala yang harus aktif memperhatikan keberadaan kawanan domba dan domba tinggal secara pasif mengikut mau dibawa kemanapun. Namun domba juga perlu secara aktif mendengarkan dan juga merespon suara panggilan Sang Gembala. Sehingga jikalau domba hilang terperosok dalam jurang, dia bisa segera ditemukan ketika Gembala dan domba saling ada ‘komunikasi’ di antara mereka.

 

Penerepan Masa Kini

Dibawa dalam aplikasi kehidupan masa kini utamanya dalam kehidupan berjemaat, terkadang ada suatu tuntutan bahwa para pejabat khusus gerejawi (pendeta, penatua, diaken dan Guru Injil) harus berlaku bagaikan Gembala yang mampu memperhatikan keberadaan domba melalui pelayanan, perkunjungan dan perhatian yang lain. Jika warga jemaat kurang mendapatkan pelayanan maka mereka akan menyitir bagian ayat sbb: ‘gembala yang baik itu seharusnya mengenal domba-dombanya’. Padahal perlu disadari bahwa baik para pejabat khusus maupun warga jemaat semuanya pada hakekatnya adalah sama-sama sebagai domba. Ada domba yang dipercaya untuk memimpin dan ada domba yang dipimpin. Dan keseluruh domba ini perlu secara aktif merespon suara Sang Gembala Agung. (‘dan domba-dombaKu mengenal suara-Ku’) Sehingga adalah suatu hal yang tidak patut bila ada domba yang ditunjuk sebagai pemimpin kemudian sok berlagak macak sebagai Gembala, ataupun juga ada domba yang hanya pasif anut grubyug tanpa memiliki kesadaran secara aktif bahu membahu bersama pemimpinnya menjalankan tugas dan tanggung jawab yang ada.

Pertanyaan Diskusi

  1. Jikalau situasi memungkinkan dan mendukung yaitu jika ada pejabat khusus gereja yang pada saat PA ini hadir sebagai jemaat/tidak melayani, mereka diberikan kesempatan untuk sharing suka-duka pelayanan yang selama ini dijalani. Juga kepada sejumlah warga jajar yang hadir diberikan kesempatan untuk menceritakan keluh kesahnya.
  2. Pada bagian selanjutnya (dengan dituntun semangat untuk tidak saling menghakimi) para peserta PA kemudian diajak menginventarisir permasalahan dalam pelayanan gereja sekaligus mencoba menganalisa apa akar permasalahan yang ada. (supaya diskusi terfokus, pelayan dapat memilih satu atau dua permasalahan saja)
  3. Pada bagian akhir, peserta PA diajak untuk mencari solusi pemecahan dari permasalahan yang ada dengan diterangi suatu konsep ‘What Would Jesus Do’ atau ‘apa yang akan Yesus lakukan’ bila menghadapi permasalahan seperti ini. Metode pemecahan masalah ini juga senada dengan konsep bird eye dari Injil Yohanes ini, melihat secara luas namun juga sekaligus fokus pada satu titik. Sehingga diharapkan melalui diskusi ini menjadikan jemaat semakin gemar menggumuli Kitab Suci. Selamat ber-PA ! (argo)

Renungan Harian

Renungan Harian Anak