Minggu Palmarum
Stola Merah
Bacaan : Lukas 19 : 28 – 40.
Tema Liturgis : “Cinta Kasih Dasar Ketaatan Melakukan Kehendak Allah”
Tema Khotbah : “Memberikan Sesuatu Kepada Allah Bukan Karena Pamrih”
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah).
Lukas 19 : 28 – 40
Salah satu tradisi orang Yahudi adalah berkumpul di Yerusalem pada perayaan Paskah. Paskah adalah hari raya besar bagi orang Yahudi. Mereka memperingati karya Allah yang besar, yaitu membebaskan bangsa Israel (nenek moyang mereka) dari Mesir (tempat perbudakan). Demikian juga Yesus dan para muridNya juga melakukan perjalanan ke Yerusalem untuk merayakan Paskah di sana. Tuhan Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang keledai muda. Mengapa keledai ? Tentunya hal ini tidak bisa dilepaskan dari nubuat nabi Zakharia dalam Zak. 9 : 9. Di sana telah tertulis bahwa ada seruan untuk bersorak-sorak bagi Israel dalam menyambut kehadiran sang raja yang adil dan jaya serta lemah lembut dengan mengendarai seekor keledai muda.
Orang-orang di Yerusalem meng-elu-elukan Yesus dengan menghamparkan pakaiannya di jalan yang akan dilaluiNya. Ini merupakan ekspresi penghormatan dan kegembiraan atas kehadiran figur yang layak sebagaimana Mesias. Pakaian yang dimaksud tentunya pakaian luar mereka (semacam jubah), sehingga mereka tetap berpakaian. Orang Yahudi memang biasanya mengenakan pakaian berlapis-lapis. Mereka begitu mengagungkan dan berharap banyak pada kehadiran Yesus saat itu. Tetapi mereka berharap kepada Yesus karena ingin supaya Yesus menjadi pemimpin mereka yang melepaskan mereka dari ketertindasan secara politis (bangsa Romawi). Pemahaman mereka tentang Mesias ternyata hanya sebatas pemimpin secara politis, bukan pribadi yang membebaskan manusia dari belenggu dosa. Luapan kegembiraan orang banyak itu lebih pada kegembiraan atas harapan mereka bahwa Yesus akan melepaskan mereka dari belenggu penguasa Romawi dan mengembalikan kejayaan Israel sebagai sebuah bangsa / kerajaan.
Sikap orang banyak yang meng-elu-elu-kan Yesus itu menjadikan orang Farisi menegor Yesus. Orang-orang Farisi sama sekali tidak menginginkan ada popularitas dan kekuatan lain selain yang ada pada diri mereka. Kekuatan rakyat banyak itu bisa menjadi “ancaman” bagi orang-orang Farisi. Bisa jadi orang banyak itu akan beralih lebih taat dan menjadi pengikut Yesus dari pada kepada orang Farisi. Tetapi bagi Yesus, sorak-sorai orang banyak itu dimaknai sebagai penyambutan mereka akan kehadiran Allah yang datang sebagai Raja yang datang dengan membawa damai sejahtera bagi dunia. Untuk memuji Allah tidak perlu menggerakkan orang banyak. Atas kehendak Allah, ciptaanNya yang berupa benda matipun (seperti batu-batu di ayat 40) juga akan memuliakan Dia.
Benang merah ketiga bacaan.
Cinta kasih kepada Allah melandasi ucapan syukur yang juga bisa diwujudkan dalam perbuatan memberlakukan kebenaran dalam hidup dan menyambut kehadiran Tuhan.
RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia.
Pendahuluan
Untuk Sang Mesias
(Nats : Lukas 19 : 36)
Menghormati atau menghargai seseorang / pihak lain bisa diwujudkan dengan memberikan apa yang menurutnya berharga. Bisa juga diwujudkan dengan melakukan apa yang dia minta untuk dilakukan. Apa yang berharga pada diri seseorang tentunya tidaklah sama. Ada yang berupa barang / materi, keluarganya, waktunya, talentanya, hatinya, atau hidupnya. Sesuatu yang dianggap berharga ini bisa diberikan atau diperuntukkan bagi pihak yang dihormati / dihargai itu. Pendek kata, ada suatu perbuatan yang dilakukan untuk mewujudkan penghormatan / penghargaannya itu. Seperti itu pulalah yang dilakukan oleh orang banyak yang meng-elu-elukan Yesus saat memasuki Yerusalem menjelang perayaan Paskah orang Yahudi.
Isi
Orang banyak menghamparkan pakaiannya di sepanjang jalan yang akan dilalui Tuhan Yesus saat memasuki kota Yerusalem. Pakaian adalah salah satu barang yang berharga bagi mereka saat itu, dan paling memungkinkan untuk muwujudkan penghormatan dan bahagia mereka. Tentunya itu adalah pakaian luar (semacam jubah), sehingga mereka tetap berpakaian, bukan telanjang. Orang Yahudi memang biasanya mengenakan pakaian yang berlapis-lapis. Apapun itu, ketika seseorang rela untuk melepaskan jubahnya / pakaiannya sebagai alas jalan, maka itu merupakan bentuk penghormatan yang luar biasa.
Orang banyak itu menghayati kedatangan Yesus sebagai kedatangan Mesias bagi mereka. Orang Yahudi memiliki kerinduan yang amat besar akan kehadiran Mesias yang akan melepaskan mereka dari belenggu penjajah (Romawi). “Lebel” Mesias itu bagi mereka layak diperuntukkan bagi Yesus karena mereka telah menyaksikan berbagai mujizat dan perbuatan yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Orang banyak itu menyimpulkan bahwa semua perbuatan yang penuh kuasa itu hanya akan mampu dilakukan oleh Mesias. Sayangnya, pemahaman mereka tentang Mesias hanya sebatas yang memiliki kekuatan duniawi, seperti membuat banyak mujizat. Itulah sebabnya mereka sangat berharap bahwa Yesus, Sang Mesias itu juga akan mampu melepaskan mereka secara politis dari kuasa Romawi, serta mengembalikan kejayaan Israel sebagai sebuah bangsa.
Untuk Sang Mesias, orang banyak itu rela melakukan apapun. Termasuk memberikan keledai muda sebagai tunggangan, jika itu memang dikehendaki Mesias. Itupun barang yang berharga bagi mereka, dan sang pemilik tidak keberatan untuk diminta oleh Yesus, Sang Mesias. Bahkan mungkin juga bagi pemilik keledai, adalah sebuah kehormatan jika ada barang mereka yang dikehendaki oleh Yesus untuk digunakannya.
Apapun rela mereka berikan untuk Sang Mesias dan perjuangannya. Bukan hanya baju-baju yang rela mereka hamparkan untuk mengalasi jalan Sang Mesias, tetapi keledaipun rela diberikan. Inipun menunjukkan kerelaan mereka untuk “dipakai” oleh Sang Mesias. Kedatangan Mesias dalam hidup mereka sungguh dihayati sebagai berkat Tuhan, cinta kasih Tuhan yang ingin menyelamatkan umatNya. Karena itu perlu disambut dengan sorak-sorai dan ucapan syukur dengan memberikan apa yang berharga dalam diri mereka saat itu (menghamparkan baju-baju).
Kesalah-pahaman orang banyak ini juga menjadikan kebencian pada diri orang-orang Farisi. Mereka tidak suka dengan Yesus yang jelas sekali saat itu memiliki masa yang mengagungkan Dia. Ini bisa membayakan posisi mereka. Selama ini orang banyak itu taat pada kehendak orang Farisi, bahkan dengan aturan-aturan yang mereka buat, dan menguntungkan orang Farisi. Tetapi peristiwa Yesus memasuki Yerusalem yang begitu disanjung orang banyak itu menjadikan orang Farisi khawatir bila orang banyak itu akan beralih menjadi pengikut Yesus dan meninggalkan orang-orang Farisi itu. Kedatangan Mesias bagi orang Farisi bukanlah hal yang menggembirakan. Itulah sebabnya mereka meminta supaya Yesus menyuruh orang banyak itu diam. Tetapi Yesus justru mengatakan bahwa untuk memuliakan Allah itu bukan hanya akan dilakukan oleh manusia, tetapi ciptaan Allah lainnya, termasuk benda mati seperti batupun bisa memuliakan Allah jika dikehendaki oleh Allah. Jadi, orang-orang Farisi itu tidak berkuasa untuk mengaturnya.
Perbuatan orang banyak yang menghamparkan bajunya di sepanjang jalan menuju Yerusalem itu menunjukkan bahwa dalam pemahaman mereka memang sudah semestinya melakukan hal itu. Kehadiran Sang Mesias harus disambut dengan gembira dan sorak-sorai. Itulah kedatangan Sang Pembebas bagi Israel. Sayangnya, mereka tidak memahami arti sesungguhnya dari kedatangan Sang Mesias. Yesus adalah Sang Mesias. Benar! Mesias adalah Sang Pembebas. Benar ! Namun, Yesus yang adalah Sang Mesias itu bukan menjadi pembebas dan pemimpin mereka secara politis, tetapi lebih dari pada itu. Yesus adalah pembebas dari belenggu dosa yang menjadikan manusia bisa menikmati kehidupan kekal. Yesus, Sang Pembebas itu juga tidak hanya menyelamatkan Israel sebagai sebuah bangsa, tetapi datang untuk menyelamatkan semua orang, semua ciptaan. Jadi, peranan Yesus sebagai Mesias lebih luas dari sekedar membebaskan Israel dari pemerintahan Romawi, tetapi untuk membebaskan semua orang agar bisa menikmati hidup kekal.
Menyambut kehadiran Mesias dengan berbuat sesuatu untuk menyambutnya, bahkan memberikan apa yang berharga dalam diri kita memang tidaklah salah. Tetapi yang lebih penting adalah kita juga harus memiliki pemahaman yang benar tentang siapakah Sang Mesias itu bagi hidup kita. Jangan sampai kita salah pegertian seperti orang banyak yang meng-elu-elukan Yesus saat memasuki Yerusalem itu. Bagi orang banyak itu kehadiran Yesus ke Yerusalem adalah untuk “memproklamirkan” kekuasaan dan kepemimpinannya atas Israel. Padahal Dia datang ke Yerusalem untuk memulai saat-saat kesengsaraanNya. Oleh karena itu tidaklah heran jika akhirnya orang banyak ini juga yang nantinya akan berseru : “salibkan Dia ! …..” kepada Yesus. Hal itu terjadi karena kekecewaan mereka terhadap Yesus yang ternyata tidak menunjukkan perlawanan dan kuasaNya saat ditangkap. Orang banyak itu tentunya kecewa dan merasa “terkecoh” oleh pemahaman mereka tentang Ke-Mesias-an Yesus.
Apa yang sebelumnya telah mereka berikan (baju-baju yang dihamparkan di jalan, keledai), menjadi tidak berarti lagi. Orang banyak itu melihat figur Mesias menurut ukurannya sendiri. Ukuran manusia atau ukuran duniawi. Padahal ke-Mesias-an Yesus justru lebih bermakna rohani, yaitu sebagai pembebas manusia dari belenggu dosa.
Penutup.
Pemberian, untuk siapapun itu seharusnya memang berdasarkan cinta kasih dan bukan karena “pamrih”. Maksudnya, karena ada maksud tertentu untuk mendapatkan keuntungan dari apa yang diberikan itu. Orang banyak yang meng-elu-elu-kan Yesus rela menghamparkan pakaiannya dan memberikan keledainya, karena mereka berharap Yesus mau menjadi pemimpin mereka secara politis dan menjadi pembebas mereka dari penjajah. Saat mereka tahu bahwa harapannya tidak mungkin terwujud, dengan cepat mereka akan berubah menjadi memusuhi Yesus dan menyalibkan Dia.
Hal ini tentunya menjadi pengajaran bagi kita semua. Apapun yang kita berikan kepada seseorang, kiranya bukan berdasarkan “pamrih” tetapi karena kita benar-benar menghargainya atau ingin berterima kasih kepadanya. Demikian juga disaat kita bersyukur kepada Tuhan melalui perbuatan apapun : mempersembahkan, berbuat baik kepada sesama, dll, kiranya itu hanya berlandaskan cinta kasih dan bukan karena ingin mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Misalnya agar memberikan apa yang kita mau, atau seperti yang kita inginkan. Cinta kasih kita kepada Tuhan sajalah yang kiranya melandasi seluruh perbuatan baik kita. Amin. (YM)
Nyanyian : Kidung Jemaat 161 : 1, 3, 4.
RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi.
Pambuka
Kagem Sang Mesih
(Jejer : Lukas 19 : 36)
Paring pangurmatan dhateng tiyang sanes saged kawujudaken kanthi peparing / ngaturi punopo ingkang aji miturut kita. Saged ugi kawujudaken kanthi nindakaken punopo ingkang kakersakaken dening pihak ingkang dipun urmati puniko. Punopo ingkang aji tumrap saben tiyang puniko tamtunipun boten sami. Wonten ingkang awujud barang/materi, brayat, wekdal, talenta, manahipun utawi gesangipun. Punopo ingkang dipun anggep aji puniko saged kaaturaken dhateng sinten ingkang dipun ajeni puniko. Cekakipun, wonten tumindak kangge mujudaken pangurmatan kolowau. Inggih mekaten ingkang katindakaken dening tiyang kathah ingkang sami giyak-giyak lan Gusti Yesus dipun arak lumebet kitha Yerusalem sakderingipun riyadin Paskah tumrap tiyang Yahudi.
Isi
Tiyang kathah puniko sami mbeber jubahipun ing margi ingkang badhe kalangkungan dening Gusti Yesus lumebet kitha Yerusalem. Naliko semanten, jubah puniko salah satunggaling barang ingkang aji tumrap para tiyang puniko, lan ingkang saged mujudaken pangurmatan lan kabingahanipun. Tamtunipun puniko sandhangan ingkang wonten njawi (jubah), ateges tiyang kathah puniko taksih ageman, boten wuda. Tiyang Yahudi puniko pancen sandhanganipun tumpuk-tumpuk. Ewo semanten, naliko tiyang purun nyopot jubah / sandhanganipun kangge lemek wonten ing margi, puniko wujud pangurbatan ingkang ageng.
Tiyang kathah puniko ngayati rawuhipun Gusti Yesus puniko dados rawuhipun Sang Mesih tumrap piyambakipun. Para tiyang Yahudi ngorong dhateng rawuhipun Sang Mesih ingkang badhe nguwalaken saking rehing panindhes (Romawi). “Lebel” Sang Mesih tumrap tiyang kathah puniko saestu sembada kagem Gusti Yesus awit tiyang kathah puniko sampun nyekseni kaelokan-kaelokan ingkang sampun katindakaken dening Gusti Yesus. Tiyang kathah puniko gadhah pamanggih bilih sedaya ingkang katindakaken dening Gusti Yesus ingkang kebak panguwaos puniko namung saged katindakaken dening Sang Mesih. Emanipun, pangertosan tiyang kathah bab Sang Mesih namung winates bab gadhah kekiyatan secara kadonyan, kados dene nindakaken kaelokan. Pramilo tiyang kathah puniko saestu ngajeng-ajeng rawuhipun Gusti Yesus. Sang Mesih puniko kuwawi nguwalaken tiyang-tiyang puniko secara politis saking panguwaosipun pemerintah Romawi, sarta mulihaken kalenggahanipun Israel selaku bangsa.
Kagem / katur Sang Mesih, tiyang kathah puniko legawa nindakaken punopo kemawon. Mekaten ugi ngaturaken belo kuldinipun kagem titihan, menawi puniko pancen kakersakaken dening Sang Mesih. Belo kuldi ugi barang ingkang aji tumrap tiyang kathah, ingkang gadhah belo kuldi ugi boten kawratan menawi kakersakaken dening Gusti Yesus, Sang Mesih. Saged ugi, tumrap ingkang gadhah belo kuldi kolowau dados satunggaling kaurmatan menawi barang ingkang dipun gadhahi kakersakaken Gusti Yesus. Punopo kemawon katindakaken lan kaaturaken kanthi legawa kagem Sang Mesih kangge nindakaken perjuanganipun. Boten namung jubah ingkang kanthi legawa dipun beber ing margi ingkang dipun langkungi Sang Mesih, ananging belo kuldinipun ugi kaaturaken. Puniko ugi nedahaken anggenipun cumadhang dipun “agem” dening Sang Mesih. Rawuhipun Sang Mesih ing gesangipun tiyang kathah puniko saestu dipun ayati minangka berkahipun Gusti, katresnanipun Gusti ingkang paring kawilujengan dhateng umatipun. Pramilo kedah wonten pahargyan kanthi surak-surak lan pamuji syukur, ngaturaken punopo ingkang aji ing gesangipun (mbeber jubah).
Pangertosan ingkang lepat ing tiyang kathah puniko ugi ndadosaken para tiyang Farisi serik. Para tiyang Farisi sengit dhateng Gusti Yesus ingkang naliko semantencetha kagungan pandherek ingkang nyubya-nyubya Panjenenganipun. Puniko saged ngwatosaken tumrap kalenggahanipun para tiyang Farisi. Sakderengipun, tiyang kathah puniko sami manut dhateng para tiyang Farisi, mekaten ugi dhateng angger-angger ingkang kadamel dening tiyang Fasisi lan paring kauntungan dhateng tiyang Farisi. Ananging, naliko Gusti Yesus lumebet ing kitha Yerusalem lan dipun subya-subya dening pandherekipun, ndadosaken para tiyang Farisi kuwatos bilih tiyang kathah puniko badhe dados pandherekipun Gusti Yesus lan nilar tiyang Farisi. Rawuhipun Sang Mesih tumrap para tiyang Farisi sanes prekawis ingkang mbingahaken. Pramilo para tiyang Farisi puniko nyuwun supados Gusti Yesus ndukani tiyang kathah kolowau supados mendel. Ananging Gusti Yesus malah ngandiko bilih nguhuraken Allah puniko boten namung katindakkaken dening manungsa kemawon, nanging ugi dening titah sanesipun, kalebet sela ugi badhe nguhuraken Allah menawi puniko ingkang kakersakaken dening Allah. Para tiyang Farisi boten gadhah panguwaos kangge mranata.
Tumindakipun tiyang kathah ingkang mbeber jubahipun ing satengahing margi dhateng Yerusalem puniko nedahaken bilih ing salebeting pangertosanipun pancen sampun sakmesthinipun nindakaken mekaten. Rawuhipun Sang Mesih kedah katampi kanthi bingah lan surak-surak. Inggih puniko rawuhipun Gusti ingkang paring pangluwaran tumrap Israel. Emanipun, tiyang kathah puniko sami boten mangertos kanthi saestu ing bab tujuanipun Sang Mesih rawuh. Gusti Yesus puniko Sang Mesih. Puniko leres ! Sang Mesih puniko paring pangluwaran. Puniko ugi leres ! Nanging, Gusti Yesus, inggih Sang Mesih puniko boten paring pangluwaran lan dados pangarsa secara politis, ananging langkung dening puniko. Gusti Yesus paring pangluwaran saking rehing dosa lan ndadosaken manungsa saged nampeni gesang langgeng. Gusti Yesus ingkang paring pangluwaran puniko inggih boten namung milujengaken Israel selaku bangsa kemawon, nanging rawuhipun ugi kangge paring kawilujengan dhateng sedaya manungsa, sedaya titah. Pakaryanipun Gusti Yesus selaku Sang Mesih langkung ageng tinimbang namung paring pangluwaran dhateng bangsa Israel saking panguwaosipun Romawi kemawon, ananging kangge paring pangluwaran dhateng sedaya tiyang supados saged nampeni gesang langgeng.
Mahargya rawuhipun Sang Mesih kanthi nindakaken pahargyan, mekaten ugi ngaturaken punopo ingkang aji, pancen boten lepat. Ananging, ingkang langkung wigati inggih puniko kita ugi kedah gadhah pangertosan ingkang trep ing bab sinten Sang Mesih puniko tumrap gesang kita. Sampun ngantos kita lepat ing pangertosan kados dene tiyang-tiyang ingkang sami ngluhuraken Gusti Yesus nalika lumebet ing Yerusalem. Tumrap tiyang kathah puniko, rawuhipun Gusti Yesus ing Yerusalem inggih kangge paring pawartos ing bab panguwaosipun lan dados pangarso tumrap Israel. Estunipun, Panjenenganipun rawuh ing Yerusalem kangge miwiti kasangsaranIpun. Pramilo lajeng boten eram menawi tiyang kathah puniko salajenging badhe sami ngucap : “kasaliba, ….!” dhumateng Gusti Yesus. Puniko awit saking kuciwanipun dhumateng Gusti ingkang nyatanipun boten mbales lan boten nedahaken panguwaosipun naliko karangket. Tiyang kathah puniko tamtunipun sami kuciwa lan rumaos “kapusan” dening pangertosanipun ing bab Gusti Yesus puniko Sang Mesih.
Punopo ingkang sakderengipun sampun kaaturaken kagem Gusti (jubah-jubah ingkang dipun beber ing margi, belo kuldi), sampun dados prekawis ingkang boten wonten tegesipun malih. Tiyang kathah puniko namung ningali pribadinipun Sang Mesih miturut ukuranipun piyambak. Ukuraning manungsa utawi ukuraning ndonya. Estunipun Gusti Yesus ingkang sinebut Sang Mesih puniko gadhah pangertosan rohani, inggih puniko ingkang saged paring pangluwaran tumrap manungsa saking rehing dosa.
Panutup
Peparing kagem sintena kemawon, pancen kedah adhedhasar katresnan lan boten adhedhasar pamrih. Tegesipun, wonten tujuan tertamtu kangge nampi kauntungan saking punopo ingkang sampun kaparingaken. Tiyang kathah ingkang sami ngluhuraken Gusti Yesus kanthi mbeber sandhanganipun lan ngaturaken belo kuldinipun, nyatanipun sami gadhah pamrih supados Gusti Yesus kersa dados pangarsa secara politis lan paring pangluwaran saking rehing panindhes. Nalika tiyang kathah puniko sami ngraosaken bilih pangajeng-ajengipun boten badhe kaleksanan, tiyang kathah puniko enggal ewah dados sengit lan memengsahan kaliyan Gusti Yesus, kepara nyalib Gusti.
Prekawis punika tamtunipun dados piwucal tumrap kita sami. Punopo kemawon ingkang kita paringaken dhateng sinten kemawon, mugi boten adhedhasar pamrih, ananging saestu krana kita pancen paring pangurmatan utami pancen kepingin atur panuwun. Mekaten ugi menawi kita saos syukur dhumateng Gusti lumantar tumindak becik : atur pisungsung, tumindak sae dhateng sesami, lsp, mugi sedayanipun katindakaken adhedhasar katresnan lan boten krana pamrih dhateng Gusti. Umpaminipun, supados Gusti inggih maringi punopo ingkang kita suwun, utawi punopo ingkang dados pepinginan kita. Mugi namung awit sih katresnan kita dhateng Gustiingkang dados landhesan wonten anggen kita tansah nindakaken kabecikan. Amin. (YM).
Nyanyian : Kidung Pasamuwan Jawi 87 : 1, 2.