Bacaan : 1 Korintus 11 : 17 – 22 ; 27 – 33 | Pujian : KJ 395
Nats : “Karena itu saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan nantikanlah olehmu seorang akan yang lain.”.[ayat 33]
Ngumpul menjadi sebuah spirit/semangat manusia sejak jaman purba. Manusia purba memulai aktifitasnya dengan mengumpulkan makanan yang disebut food gathering, mengumpulkan makanan. Dengan mencari dan mengumpulkan makanan, sebenarnya memiliki arti lebih dari hanya sekedar makanan. Dengan mencari dan mengumpulkan makanan, manusia sebenarnya sedang mengumpulkan teman, sahabat atau keluarga. Maka dari itu, adanya makanan sesungguhnya bukan hanya bermakna materialistis (masalah makanannya), namun juga ada makna sosiologis (persaudaraan kolektif-bersama-sama).
Kita melihat bagaimana situasi jemaat Korintus, disaat mereka berkumpul, di saat yang sama mereka sangat individualistis (mikir dirinya sendiri). Ngumpul tapi tidak sehati sepikir, dan anehnya, tidak sehati dan sepikir itu mereka alami karena alasan yang materialistis, dalam hal ini makanan. Nglumpuk nanging Kemaruk, senang makan sampai-sampai tidak ingat kawan. Masalah makanan ternyata t idak mempersatukan mereka, tetapi malah membuat mereka semakin egois.”Pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan” (11 :17). Kemudian Paulus melanjutkan dengan menjelaskan keburukan yang ditimbulkan ketika mereka berkumpul sebagai jemaat. la telah mendengar bahwa ada perpecahan di antara mereka dan perpecahan ini nampak pada saat mereka berkumpul (11 :18,20).
Peristiwa perjamuan ini kemudian dikenal dengan perjamuan kasih. Hal yang seharusnya paling penting adalah kasih yang saling mempedulikan yang didasarkan pada pengorbanan Kristus. Paulus mengajak mereka untuk menguji diri sendiri (11 :28 ) dan mengakui tubuh Tuhan dengan benar (11 :29). Jemaat diajak untuk menguji dirinya sendiri sehubungan dengan motivasi mereka dalam mengambil bagian dalam perjamuan itu: Apakah mereka memikirkan orang lain atau mementingkan diri sendiri?
Gereja sebagai “tubuh”/ “satu tubuh”/“’tubuh Kristus”. Mengenal tubuh (atau tubuh Tuhan) berarti secara hakiki belajar memahami hakikat gereja yang melakukan tindakan-tindakan yang membangkitkan semangat, merayakan kehidupan dan memberitakan kesaksian. Karena tubuh Kristus yang hancur dan darah-Nya yang tercurah menyatukan kita untuk saling melayani, dengan tidak memikirkan diri sendiri.[pong]
“Merga panganan aja nganti tukaran, iku ngono nora beda karo sipate kewan”