Bacaan : Daniel 4 : 28 – 37 | Pujian: KJ 363
Nats: “Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga…yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak” [ayat 37]
Renungan ini ditulis di tengah-tengah gegap gempita piala dunia yang tengah diselenggarakan di Rusia. Sebagian besar di antara kita mungkin juga turut antusias mengikuti pertandingan-pertandingan antara negara-negara peserta. Kalau saya sih tak terlalu ngoyo turut menonton, jagoan saya Belanda gak ikut main sih! Tapi, yang menarik dari Piala Dunia tahun ini adalah kenyataan bahwa tim-tim besar, kuat dan favorit macam Argentina, Jerman dan bahkan juara Eropa, Portugal, justru kalah di masa-masa awal kompetisi. Sedangkan Kroasia, tim non-unggulan yang belum pernah menjadi finalis di turnamen ini malah bermain apik sehingga pantas untuk menantang Perancis di laga final. Sungguh di luar dugaan banyak orang.
Nebukadnezar, juga pernah mengalami pahitnya salah duga. Sebagai Raja Babel, negri terbesar dan terkuat di dunia saat itu, ia dengan mudahnya menduga bahwa kekuatan dan kemasyuran Babel adalah hasil dari kekuasaan dan kebesarannya. Namun, segera setelah sesumbarnya itu, Tuhan turun tangan. Ia membuat Nebukadnezar kehilangan akal, kekuasaan dan kemegahannya dalam sekejap mata. Saat dirinya tersadar kembali, Nebukadnezar lalu mengakui kebesaran Tuhan yang adil dan mampu merendahkan dirinya yang congkak. Tulisan bernuansa apokaliptis ini memang bukan semata-mata catatan historis, namun terutama bertujuan untuk menghadirkan kisah yang menyampaikan pesan tertentu. Dalam hal ini menyatakan bahwa kecongkakan hanya akan bermuara pada kerendahan, bahkan dugaan dari Raja dari Negara terkuat pun salah.
Mudah untuk jatuh pada kecongkakan saat kita terbiasa mengandalkan kekuatan, kekayaan atau kemampuan diri sendiri untuk menghadapi segala sesuatu. Dengan begitu kita merasa cukup mampu, cukup kuat atau cukup pintar. Congkak! Tapi hari ini, mari belajar dari kekalahan Argentina, Jerman atau Portugal, dan tentu saja dari Nebukadnezar, bahwa dugaan dan harapan kita tak selalu nyata. Karena itu, mari andalkan Tuhan saja dalam segala sesuatu. Go Kroasia! [Rhe]
“Kesombongan menghalangi pandangan kita akan kebenaran.”