Melindungi Si Lemah Renungan Harian 20 Oktober 2018

20 October 2018

Bacaan : Yesaya 47 : 10 – 15  |  Pujian: KJ 467 : 1, 2
Nats: “Engkau tadinya merasa aman dalam kejahatanmu, katamu: “Tiada yang melihat aku!” Kebijaksanaanmu dan pengetahuanmu itulah yang menyesatkan engkau, sehingga engkau berkata dalam hatimu: “Tiada yang lain di sampingku!“” [ayat 10]

Kalau anda suka menonton acara televisi tentang kehidupan binatang, anda akan menyadari  keseruan kehidupan binatang di alam liar.  Berbagai macam binatang berlomba untuk mempertahankan hidup, dimana berlaku hukum rimba. Hukum rimba ini menyatakan bahwa siapa yang kuat maka dia akan menang. Kehidupan di alam liar selalu ditentukan oleh siapa yang kuat beradaptasi, bukan hanya siapa yang kuat secara fisik.

Dalam dunia binatang, harimau ditetapkan sebagai raja hutan memiliki fisik yang kuat. Ketika berburu harimau seringkali terlihat berhasil menakhlukkan buruannya berupa rusa, kerbau (wildebeest) hingga jerapah. Binatang-binatang tersebut akan dikejar dengan kecepatan yang luar biasa, jika tertangkap akan dicekik dengan rahangnya yang kuat, dilumpuhkan lalu dimakan. Hampir pasti  bahwa rusa, wildebeest, kalah dibanding harimau, singa atau macan tutul. Tetapi kadang-kadang kita juga melihat bahwa ada singa atau harimau dikalahkan oleh binatang-binatang yang biasanya disebut lemah tersebut.  Ketika itu terjadi, muncul perasaan senang dalam diri kita bahwa mereka yang lemah tersebut memenangkan pertarungan.

Posisi Israel dalam bacaan kita sedang lemah. Mereka dibiarkan oleh Tuhan ada dalam cengkeraman Babel sebagai konsekwensi atas kesalahan mereka. Namun Tuhan berbalik akan menghukum Babel karena Babel yang sedang berkuasa bertindak sewenang-wenang. Israel yang lemah itu menjadi sangat menderita. Tuhan akan membuat Babel segera runtuh dengan segala kesombongannya.

Siapa yang berkuasa bisa cenderung menyalahgunakan kekuasaannya. Maka ada pernyataan: “power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely” (kekuasaan cenderung koruptif, kekuasaan yang absolut pasti koruptif). Semestinya, siapapun yang berkuasa,  harus memastikan bertindak adil termasuk melindungi yang lemah. Hal ini berlaku tidak hanya bagi penguasa politis tetapi juga  dalam pola hubungan antar manusia. Yang kuat semestinya melindungi dan membantu yang lemah. Demikianlah kehendak Tuhan. [dn]

“Bertindaklah adil sejak dalam pikiran”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak