Bacaan: Efesus 4:1-16 I Pujian: KJ 249:1-3
Nats: “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh,– yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih” (ay 16)
Lapar sering membuat orang kehilangan akal sehat dan pertimbangan-pertimbangan moral. Lapar tidak terbatas pada makanan dan minuman. Manusia dapat mengalami „lapar“ dan „haus“ akan kekuasaan dan harta. Jika sudah demikian, apa pun akan dilakukan demi meraih apa yang diinginkan. Tidak jarang menyikut kiri kanan. Sering kita mendengar keluarga, persekutuan, atau komunitas menjadi hancur karena berebut harta warisan atau berebut kekuasaan/ jabatan / posisi pimpinan.
GKJW pernah mengalami perpecahan pada masa pendudukan Jepang. Gereja sebagai tubuh Kristus terbelah-belah, berjalan sendiri-sendiri, tidak ada kekompakan. Bagaimana bisa dirasakan adanya kesatuan – paseduluran?
Dalam bacaan kita, Paulus mendorong jemaat untuk memelihara kesatuan/persaudaraan karena demikianlah pengikut Kristus dikenal. Hilangnya kasih, paseduluran, dan kesatuan adalah persoalan serius bagi persekutuan karena gereja dipanggil untuk menjadi satu tubuh di dalam Kristus.
Mereka yang secara khusus dipanggil untuk menjalankan suatu tugas tetapi justru melanggarnya, maka akan dituntut hukuman yang lebih berat dan dikecam lebih keras. Misalnya: penegak hukum yang melakukan tindakan kriminalitas, pejabat pemerintahan yang korupsi, termasuk gereja yang berselisih. Gereja seharusnya bertugas mewujudkan kesatuan dan persaudaraan, jika gereja justru berselisih dan berkonflik maka akan mendapat kecaman.
Sang Pemersatu GKJW adalah Kristus sendiri. Ketika GKJW, pasca pendudukan Jepang, menyadari kesalahan dan saling memaafkan. Lalu GKJW berkomitmen untuk mewujudkan misi-Nya yang penuh kasih. Maka seluruh warga GKJW harus ikut mewujudkannya karena orang percaya diikat dalam satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa. Jemaat diminta secara aktif memelihara dan mempertahankan kesatuan dan persekutuan. Umat harus hidup dalam kelemahlembutan, kerendahan hati, dan mau melayani. Mari merawat GKJW dengan semangat “Patunggilan Kang Nyawiji”.Amin. (YEW).
“Sebatang anak panah mudah dipatahkan, tetapi tidak demikian dengan sepuluh anak panah yang disatukan, persatuan adalah lambang kekuatan“