Aku Siap! Tuntunan Ibadah Anak 8 November 2026

26 October 2026

Tahun Liturgi: Bulan Budaya
Tema: Persiapan yang Baik Menentukan Hasilnya
Judul: Aku Siap!

Bacaan: Matius 25:1-13
Ayat Hafalan: Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya” (Matius 25:13)

Lagu Tema:

  1. Jalan Serta Yesus
  2. Oh, Sukacitaku

Alat Peraga: Dapat diunduh di di sini.

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Hal Kerajaan Sorga diumpamakan sepuluh gadis yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Kelompok gadis-gadis yang bodoh dalam perumpamaan ini, tidak memperhitungkan bahwa kedatangan mempelai laki-laki tidak terduga dan tidak bisa diprediksi. Hal ini dapat disebabkan mereka tidak tahu atau mereka tidak mau tahu dengan keadaan bahwa lampu atau pelita mereka bisa saja kehabisan minyak sewaktu-waktu. Sedangkan, kelompok gadis-gadis yang bijaksana punya perhatian dan perhitungan yang baik untuk menyambut kedatangan mempelai. Hal ini terjadi karena mereka mau mempersiapkan dan membekali diri dengan baik.

Kedua kelompok gadis-gadis ini memang tertidur saat menantikan kedatangan mempelai. Tetapi saat mereka dikejutkan oleh kedatangan mempelai, kelompok gadis-gadis yang bijaksana tidak kebingungan karena mereka sudah siap, sementara kelompok gadis-gadis yang bodoh menjadi panik dan bingung karena mereka tidak siap.

Secara umum, kita bisa memahami bahwa perumpamaan gadis-gadis yang bijak dan yang bodoh ini menggambarkan keberadaan kita sebagai umat yang menantikan Tuhan. Namun secara lebih luas, hendaknya kita menyadari bahwa dalam hidup kita, apapun bisa terjadi diluar prediksi. Hal ini bukan hanya tentang kedatangan Tuhan saja tetapi apapun yang terjadi tanpa kita perkirakan. Hal ini akan membuat kita terkejut dan bereaksi terhadap hal itu. Segala reaksi kita atau apa yang kita lakukan menggambarkan kesiapan diri kita.

Pamong dapat mengajarkan kepada anak-anak bahwa banyak hal bisa terjadi bahkan hal yang buruk dan di luar perkiraan. Sebagai anak-anak Tuhan, ada yang akan tetap menguatkan dan membuat mereka siap yaitu iman dan percaya kepada Yesus Kristus. Kita harus selalu hidup dan bertumbuh, karena semua hal yang terjadi ada dalam kendali Tuhan.

Iman dan percaya itu yang harus diwujudkan dalam perbuatan yang baik kepada sesama. Mari kita belajar memahami Firman Tuhan, sehingga semakin hari, kita semakin memahami maksud dan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Hal itu akan membuat kita lebih siap dalam menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup ini, bahkan yang terburuk sekalipun. Setiap orang yang selalu bersandar kepada Tuhan akan diberi kekuatan dan kesiapan oleh Tuhan.

Refleksi Untuk Pamong

Dalam menjalani kehidupan, ada banyak hal yang bisa saja terjadi, bahkan hal yang buruk dan di luar perkiraan. Iman pada Yesus dapat menguatkan dan membuat kita siap dalam menghadapi berbagai keadaan. Kita harus selalu hidup dan bertumbuh, karena semua hal yang terjadi ada dalam kendali Tuhan. Setiap orang yang selalu bersandar kepada Tuhan akan diberi kekuatan dan kesiapan oleh Tuhan.


TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA

Tujuan:
Melalui media gambar lampu minyak, anak dapat mengenali perbedaan antara lampu yang menyala (ada minyak) dan lampu yang mati (tidak ada minyak) dengan benar

Alat Peraga
Bahan:

  • Wadah kecil tahan panas
  • Minyak goreng
  • Air
  • Kerikil
  • Cotton bud (sebagai sumbu)
  • Korek

Contohnya dapat dilihat di sini.

Pendahuluan
Shalom, anak-anak yang dikasihi Tuhan. Bagaimana kabarnya? Apakah semua dalam keadaan sehat? Puji Tuhan, kalian dalam keadaan sehat. Ada sukacita hari ini? Coba beri senyum yang termanis ke teman-temannya.

Anak-anak yang dikasihi Tuhan, saya punya beberapa barang (pamong dapat menyebutkan barang-barang). Kita akan memasukkan air, kerikil dan cotton bud kedalam wadah ini. Kalau dinyalakan apinya, apakah kira-kira akan menyala atau tidak ya? (Pertama-tama, pamong dapat bereksperimen untuk menunjukkan bahwa lampu yang mati atau tidak menyala karena tidak ada minyak). Kenapa ya kok mati? Loh cotton bud jadinya malah gosong ya. (Menunggu respon anak-anak) Karena di dalamnya kosong, tidak ada minyaknya.

Coba kita tuangkan minyak ke dalam wadah (Pamong dapat menuangkan minyak dan meletakkan cotton bud yang baru). Apa yang terjadi? Wah, ternyata bisa menyala. Kenapa bisa begitu ya? (Menunggu respon anak-anak) Betul, karena ada minyak sehingga sumbu (atau cotton bud) ini bisa tetap menyala dan memberi terang.

Saat ini kita mau belajar dari perumpamaan gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh yang membawa pelita. Pelita itu adalah lampu kecil yang seharusnya di dalamnya ada minyak supaya memberi cahaya atau terang.

Inti Penyampaian
Paraphrase Kisah Dalam Injil)

(Gadis 1-5 adalah gadis-gadis yang bijaksana; Gadis 6-10 adalah gadis-gadis yang bodoh)

Narator : Pada suatu hari, prajurit istana yang gagah perkasa berjalan sambil membawa secarik surat pengumuman.
Prajurit : (Sambil meniup terompet) “Tet..tet..tet.. teretetet…..” “Pengumuman… Pengumuman ! Keluarga Kerajaan akan mengundang seluruh gadis di negeri ini untuk bersiap sedia menyambut kedatangan Mempelai. Sebuah pesta yang sangat meriah telah dipersiapkan. Kalian semua diundang! Hari dan tempat masih dirahasiakan, jadi WASPADALAH… WASPADALAH !”
Narator : Kelima gadis-gadis yang bijaksana segera berkumpul dengan riang, mereka tidak mau ketinggalan untuk mendengar berita yang sangat penting.
 

Gadis 1

 

:

(Seorang gadis berbicara kepada empat orang temannya.

“Wah… senangnya… kalian dengar itu? Kita semua mendapat undangan Istimewa.

Gadis 2 : “Mmm… sebuah pesta yang sangat indah, tentunya. Aku tidak sabar ingin segera datang ke pesta itu. Aku ingin sekali bisa datang dan menyambut Mempelai. Nanti kita pakai baju apa yah teman-teman?”
Narator : Di saat kelima gadis tersebut asik berbincang-bincang, datanglah seorang gadis lain yang ketinggalan berita karena tidak mendengarkan pengumuman tadi,
Gadis 6 : “Eh…Eh…Eh… ada apa sih? Kenapa semua pada sibuk, ngobrolin apa sich? Bingung dech saya.
Gadis 3 : “Kamu tidak dengar ya tadi? Kita diundang dalam pesta yang luar biasa. Dan kami akan datang dan menyambut mempelai”
 

Gadis 6

 

:

(Dengan muka bengong nan bingung)

“Oooo….begituuu…. baiklah aku akan memberi tahu teman-temanku yang lain.”

 

Gadis 4

 

:

(Para Gadis segera bergegas)

“Marilah, lekas kita berangkat, kita semua harus mempersiapkan diri dan tampil sebaik mungkin di depan Mempelai.”

Gadis 5 : “Betul betul betul… Aku harus siap sedia bila tiba-tiba Sang Mempelai datang, pokoknya tidak boleeehhhh ketinggalan!”
 

Gadis 2

 

:

(Ujar gadis lainnya tak mau kalah antusias)

“Tungguuuu, aku ikutttt”

Narator : Hari ini adalah hari yang sangat sibuk bagi para gadis. Mereka semua berdandan secantik-cantiknya, mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki dan menata rambut mereka dengan rapi. Tak satupun yang terlihat bersantai.
Gadis 1 : “Mari kita berangkat. Hari sudah mulai senja, bawalah pelita untuk menerangi kita di perjalanan nanti, dan juga buli-buli minyak, siapa tahu minyak kita habis dan pelita kita padam.”
Narator : Ternyata sebagian dari para gadis menuruti nasehat teman mereka yang bijaksana, mereka membawa pelita dan juga buli-buli minyak. Namun, sebagian gadis lainnya bersikap masa bodoh tidak mau menuruti nasehat yang baik
Gadis 7 : “Ah ga usah dengerin mereka, repot banget kita harus membawa buli minyak juga, sudah lah pasti cukup, kita hanya perlu membawa pelita kita saja.
Narator : Baik gadis yang bijaksana maupun gadis yang bodoh, mereka semua berangkat bersama. Perjalanan ternyata cukup memakan waktu dan melelahkan, hari telah larut malam.
Gadis 3 : “Akhirnya sampai juga… Hoaammm aku capai dan ngantuk sekali…
(Lalu satu per satu merekapun mulai tertidur. Tinggal terjaga beberapa orang gadis)
Gadis 4 : “Mana yach… kok Mempelai tidak datang-datang juga”

(Dan akhirnya mereka semuapun tertidur pulas)

Prajurit : (Sambil meniup terompet) “Tet..tet..tet.. teretetet…..” Mempelai Datang! Bergegaslah berjalan menuju Istana.”
Narator : Tiba-tiba suara para prajurit istana yang menggelegar membangunkan para gadis dari tidur mereka. Mereka semua terbangun dan segera mengambil pelita dan buli-buli minyak mereka. Namun apa yang terjadi dengan para gadis yang tidak membawa buli minyak? Dengan muka panik dan ketakutan mereka memohon
Gadis 8 : “Tolong kamii… kami mohon… berikanlah kami sedikit minyak dari buli-buli minyakmu.”
Gadis 5 : “Nanti tidak cukup untuk kami di perjalanan ini, carilah siapa tahu ada yang menjual minyak.” (Lalu mereka segera berangkat mengikuti para prajurit istana)
 

Penjual Minyak

 

:

(Suara seorang penjual minyak terdengar dari kejauhan)

“Minyak… Minyak… Nyakkk… Minyakk…”

 

 

Gadis 9

 

:

(Para gadis bodoh segera berlari mencari dan mengejar menjual minyak itu)

“Bang… cepat Bang… kami mau beli minyak, segera berikan minyak untuk menyalakan pelita kami yang sudah padam, kami sudah ketinggalan untuk menghadiri undangan Pesta dari Sang Mempelai.”

Narator : Seusai membeli minyak, para gadis bodoh tersebut mengejar para Prajurit Istana yang sudah tidak terlihat dengan penuh kegusaran dan perasaan menyesal. Andai saja tadi mereka mau menuruti nasehat yang bijaksana dari para gadis lainnya, pasti sekarang mereka tidak perlu terburu-buru seperti ini.

Para gadis bijaksana tiba di Istana Mempelai, mereka memasuki pintu gerbang Istana dan seketika itu juga pintu gerbang ditutup oleh para penjaga dan dijaga dengan ketat agar tidak seorangpun dapat masuk lagi ke dalamnya. Suasana di dalam Istana sungguh sangat indah, luas dan sulit diceritakan dengan kata-kata. Mereka sangat takjub terpaku dan tidak pernah dapat membayangkan sebelumnya. Mereka senang sekali… Lalu mereka semua berpesta dan menikmati jamuan istimewa pesta Sang Mempelai yang telah dipersiapkan untuk mereka dengan riang gembira, para gadis bijaksana bersukacita karena mereka dapat selalu dekat dengan Sang Mempelai yang begitu mengasihi mereka.

Sementara itu, dari luar istana terdengar kegaduhan dan suara isakan tangis, rupanya para gadis bodoh telah sampai di pintu gerbang istana dan sedang memohon-mohon kepada para penjaga,

 

Gadis 10

 

:

(Mereka tak hentinya mengetuk pintu dan memohon)

“Huhuhuhuhu… Tuan… Tuan…. Bukakanlah kami pintu… (Tok..Tok..Tok…) Tolong kami…. Biarkan kami masuk… Kasihanilah kami…. (Tok..Tok..Tok…) Hu hu hu hu….. TUHAN… TUHAN… Tolong kami….”

 

Prajurit

 

:

(Namun para penjaga berseru dengan tegas)

“Tidak bisa !!! Sudah terlambat !!! Pintu sudah ditutup, pesta sudah dimulai, bagi mereka yang siap sedia !”

Narator : Tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh para gadis bodoh itu selain tersungkur dan terus menangis di depan pintu Istana Mempelai yang sudah tertutup. Mereka menyesali kelalaian mereka untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya ketika menanti Sang Mempelai datang, sekarang semua sudah terlambat bagi mereka

Penerapan
Mempelai dalam cerita tadi adalah Tuhan Yesus, gadis-gadis ini adalah manusia. Anak-anak, hati kita juga seperti lampu. Supaya hati kita tetap terang dan senang, kita harus isi dengan ‘minyak’ yang baik. Apa itu minyaknya?”

  • Rajin berdoa.
  • Rajin datang Kebaktian Minggu Anak
  • Sayang sama Bapak dan Ibu atau anggota keluarga yang lain

Tetap selalu menjadi anak-anak Tuhan yang baik ya.

Untuk Minggu depan anak-anak diharapkan membawa makanan atau minuman. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Aktivitas

  1. Lari Estafet Minyak
    • Cara: Bagi anak dalam dua tim. Setiap tim harus membawa sendok berisi air (umpama minyak) dari titik A ke titik B yang ditentukan oleh Pamong untuk mengisi sebuah botol (lampu) sampai penuh.
    • Tantangan: Jika air tumpah, mereka harus kembali.
  2. Labirin: Mencari Jalan
    1. Bahan yang dibutuhkan:
      • Gambar mencari jalan
      • Spidol warna-warni
    2. Langkah Permainan:
      • Pamong memberikan selembar kertas aktivitas kepada masing-masing anak
      • Lalu Pamong memberikan instruksi atau arahan warna spidol apa yang digunakan untuk menemukan jalan bagi ‘5 gadis bijaksana’ dan ‘5 gadis bodoh’
      • Pamong memberikan arahan kepada anak-anak, jalan mana yang harus dilalui oleh ‘5 gadis bijaksana’ dan ‘5 gadis bodoh’

TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA

Tujuan:
Menggunakan bahan origami, Anak dapat membentuk replika lampu minyak sederhana sebagai pengingat untuk selalu siap sedia secara kreatif.

Alat Peraga
Bahan:

  • Wadah kecil tahan panas
  • Minyak goreng
  • Air
  • Kerikil
  • Cotton bud (sebagai sumbu)
  • Korek

Contohnya dapat dilihat di sini.

Pendahuluan
Shalom, anak-anak yang dikasihi Tuhan. Bagaimana kabarnya? Apakah semua dalam keadaan sehat? Puji Tuhan, kalian dalam keadaan sehat. Ada sukacita hari ini? Coba beri senyum yang termanis ke teman-temannya.

Anak-anak yang dikasihi Tuhan, saya punya beberapa barang (pamong dapat menyebutkan barang-barang). Kita akan memasukkan air, kerikil dan cotton bud kedalam wadah ini. Kalau dinyalakan apinya, apakah kira-kira akan menyala atau tidak ya? (Pertama-tama, pamong dapat bereksperimen untuk menunjukkan bahwa lampu yang mati atau tidak menyala karena tidak ada minyak). Kenapa ya kok mati? Loh cotton bud jadinya malah gosong ya. (Menunggu respon anak-anak) Karena di dalamnya kosong, tidak ada minyaknya.

Coba kita tuangkan minyak ke dalam wadah (Pamong dapat menuangkan minyak dan meletakkan cotton bud yang baru). Apa yang terjadi? Wah, ternyata bisa menyala. Kenapa bisa begitu ya? (Menunggu respon anak-anak) Betul, karena ada minyak sehingga sumbu (atau cotton bud) ini bisa tetap menyala dan memberi terang.

Saat ini kita mau belajar dari perumpamaan gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang    bodoh yang membawa pelita. Pelita itu adalah lampu kecil yang seharusnya di dalamnya ada minyak supaya memberi cahaya atau terang.

Inti Penyampaian
(Dalam menyampaikan inti penyampaian, Pamong dapat menggunakan paraphase)

Narator : Pada suatu hari, prajurit istana yang gagah perkasa berjalan sambil membawa secarik surat pengumuman.
Prajurit : (Sambil meniup terompet) “Tet..tet..tet.. teretetet…..” “Pengumuman… Pengumuman ! Keluarga Kerajaan akan mengundang seluruh gadis di negeri ini untuk bersiap sedia menyambut kedatangan Mempelai. Sebuah pesta yang sangat meriah telah dipersiapkan. Kalian semua diundang! Hari dan tempat masih dirahasiakan, jadi WASPADALAH… WASPADALAH !”
Narator : Kelima gadis-gadis yang bijaksana segera berkumpul dengan riang, mereka tidak mau ketinggalan untuk mendengar berita yang sangat penting.
 

Gadis 1

 

:

(Seorang gadis berbicara kepada empat orang temannya.

“Wah… senangnya… kalian dengar itu? Kita semua mendapat undangan Istimewa.

Gadis 2 : “Mmm… sebuah pesta yang sangat indah, tentunya. Aku tidak sabar ingin segera datang ke pesta itu. Aku ingin sekali bisa datang dan menyambut Mempelai. Nanti kita pakai baju apa yah teman-teman?”
Narator : Di saat kelima gadis tersebut asik berbincang-bincang, datanglah seorang gadis lain yang ketinggalan berita karena tidak mendengarkan pengumuman tadi,
Gadis 6 : “Eh…Eh…Eh… ada apa sih? Kenapa semua pada sibuk, ngobrolin apa sich? Bingung dech saya.
Gadis 3 : “Kamu tidak dengar ya tadi? Kita diundang dalam pesta yang luar biasa. Dan kami akan datang dan menyambut mempelai”
 

Gadis 6

 

:

(Dengan muka bengong nan bingung)

“Oooo….begituuu…. baiklah aku akan memberi tahu teman-temanku yang lain.”

 

Gadis 4

 

:

(Para Gadis segera bergegas)

“Marilah, lekas kita berangkat, kita semua harus mempersiapkan diri dan tampil sebaik mungkin di depan Mempelai.”

Gadis 5 : “Betul betul betul… Aku harus siap sedia bila tiba-tiba Sang Mempelai datang, pokoknya tidak boleeehhhh ketinggalan!”
 

Gadis 2

 

:

(Ujar gadis lainnya tak mau kalah antusias)

“Tungguuuu, aku ikutttt”

Narator : Hari ini adalah hari yang sangat sibuk bagi para gadis. Mereka semua berdandan secantik-cantiknya, mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki dan menata rambut mereka dengan rapi. Tak satupun yang terlihat bersantai.
Gadis 1 : “Mari kita berangkat. Hari sudah mulai senja, bawalah pelita untuk menerangi kita di perjalanan nanti, dan juga buli-buli minyak, siapa tahu minyak kita habis dan pelita kita padam.”
Narator : Ternyata sebagian dari para gadis menuruti nasehat teman mereka yang bijaksana, mereka membawa pelita dan juga buli-buli minyak. Namun, sebagian gadis lainnya bersikap masa bodoh tidak mau menuruti nasehat yang baik
Gadis 7 : “Ah ga usah dengerin mereka, repot banget kita harus membawa buli minyak juga, sudah lah pasti cukup, kita hanya perlu membawa pelita kita saja.
Narator : Baik gadis yang bijaksana maupun gadis yang bodoh, mereka semua berangkat bersama. Perjalanan ternyata cukup memakan waktu dan melelahkan, hari telah larut malam.
Gadis 3 : “Akhirnya sampai juga… Hoaammm aku capai dan ngantuk sekali…
(Lalu satu per satu merekapun mulai tertidur. Tinggal terjaga beberapa orang gadis)
Gadis 4 : “Mana yach… kok Mempelai tidak datang-datang juga”

(Dan akhirnya mereka semuapun tertidur pulas)

Prajurit : (Sambil meniup terompet) “Tet..tet..tet.. teretetet…..” Mempelai Datang! Bergegaslah berjalan menuju Istana.”
Narator : Tiba-tiba suara para prajurit istana yang menggelegar membangunkan para gadis dari tidur mereka. Mereka semua terbangun dan segera mengambil pelita dan buli-buli minyak mereka. Namun apa yang terjadi dengan para gadis yang tidak membawa buli minyak? Dengan muka panik dan ketakutan mereka memohon
Gadis 8 : “Tolong kamii… kami mohon… berikanlah kami sedikit minyak dari buli-buli minyakmu.”
Gadis 5 : “Nanti tidak cukup untuk kami di perjalanan ini, carilah siapa tahu ada yang menjual minyak.” (Lalu mereka segera berangkat mengikuti para prajurit istana)
 

Penjual Minyak

 

:

(Suara seorang penjual minyak terdengar dari kejauhan)

“Minyak… Minyak… Nyakkk… Minyakk…”

 

 

Gadis 9

 

:

(Para gadis bodoh segera berlari mencari dan mengejar menjual minyak itu)

“Bang… cepat Bang… kami mau beli minyak, segera berikan minyak untuk menyalakan pelita kami yang sudah padam, kami sudah ketinggalan untuk menghadiri undangan Pesta dari Sang Mempelai.”

Narator : Seusai membeli minyak, para gadis bodoh tersebut mengejar para Prajurit Istana yang sudah tidak terlihat dengan penuh kegusaran dan perasaan menyesal. Andai saja tadi mereka mau menuruti nasehat yang bijaksana dari para gadis lainnya, pasti sekarang mereka tidak perlu terburu-buru seperti ini.

Para gadis bijaksana tiba di Istana Mempelai, mereka memasuki pintu gerbang Istana dan seketika itu juga pintu gerbang ditutup oleh para penjaga dan dijaga dengan ketat agar tidak seorangpun dapat masuk lagi ke dalamnya. Suasana di dalam Istana sungguh sangat indah, luas dan sulit diceritakan dengan kata-kata. Mereka sangat takjub terpaku dan tidak pernah dapat membayangkan sebelumnya. Mereka senang sekali… Lalu mereka semua berpesta dan menikmati jamuan istimewa pesta Sang Mempelai yang telah dipersiapkan untuk mereka dengan riang gembira, para gadis bijaksana bersukacita karena mereka dapat selalu dekat dengan Sang Mempelai yang begitu mengasihi mereka.

Sementara itu, dari luar istana terdengar kegaduhan dan suara isakan tangis, rupanya para gadis bodoh telah sampai di pintu gerbang istana dan sedang memohon-mohon kepada para penjaga,

 

Gadis 10

 

:

(Mereka tak hentinya mengetuk pintu dan memohon)

“Huhuhuhuhu… Tuan… Tuan…. Bukakanlah kami pintu… (Tok..Tok..Tok…) Tolong kami…. Biarkan kami masuk… Kasihanilah kami…. (Tok..Tok..Tok…) Hu hu hu hu….. TUHAN… TUHAN… Tolong kami….”

 

Prajurit

 

:

(Namun para penjaga berseru dengan tegas)

“Tidak bisa !!! Sudah terlambat !!! Pintu sudah ditutup, pesta sudah dimulai, bagi mereka yang siap sedia !”

Narator : Tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh para gadis bodoh itu selain tersungkur dan terus menangis di depan pintu Istana Mempelai yang sudah tertutup. Mereka menyesali kelalaian mereka untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya ketika menanti Sang Mempelai datang, sekarang semua sudah terlambat bagi mereka

Penerapan
Sama seperti lampu yang membutuhkan minyak supaya bisa menyala, hati kita juga butuh ‘minyak’ setiap hari. Bagaimana caranya? Dengan berbuat baik, berdoa, dan mendengarkan orang tua. Jadi, saat Yesus datang kedua kalinya ke dunia ini, kita siap karena hidup kita telah menjadi terang.

Sebelum, saya tutup. saya akan menyampaikan bahwa kalian bisa membawa 1 barang yang mewakili talenta/hobi/kemampuan/kesenangan minggu depan. Jangan lupa dibawa ya! Semoga kalian semuanya selalu bahagia dan menjadi terang dimanapun berada. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Aktivitas
Replika Lampu Minyak

Bahan:

  1. Kertas origami berwarna cokelat atau kuning (untuk badan lampu).
  2. Kertas origami kecil berwarna merah/oranye (untuk api).
  3. Lem dan gunting.

Cara Membuat:

  1. Membentuk Badan Lampu
    Ambil kertas origami, lipat menjadi dua secara diagonal, lalu lipat sudut-sudutnya ke arah tengah hingga membentuk wadah kecil yang kokoh.
  2. Membuat Pegangan
    Potong sedikit sisa kertas dan tempelkan di sisi belakang wadah sebagai “tangkai” pegangan lampu.
  3. Menambahkan Api
    Gunting kertas merah/oranye membentuk pola tetesan air (api). Tempelkan pada sepotong kertas kecil yang digulung (sebagai sumbu), lalu rekatkan di dalam wadah.
  4. Contoh dapat di sini atau di sini.

Komitmen: Sikap Siap

Pamong dapat mengajak anak-anak untuk menuliskan komitmennya, misal: ”rajin berdoa”, “Siap Sedia”, dll.


TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA

Tujuan:
Di lembar aktivitas, Anak dapat melengkapi tabel “Jadwal Persiapan Harian” (belajar, berdoa, membantu orang tua) untuk mencapai hasil yang baik secara rutin

Pendahuluan
Halo anak-anak yang manis !

Bagaimana kabarnya? Puji Tuhan, jika kalian dalam keadaan sehat dan bahagia. Anak-anak, masih ingat tugas pada minggu lalu yaitu jurnal harian evaluasi sikap integritas. Apakah ada yang mau berbagi cerita? (Pamong dapat mempersilahkan anak-anak untuk bercerita)

Anak-anak, adakah yang siap bermain dengan Pamong pada hari ini? (Pamong dapat menunggu respon anak-anak, atau memancing untuk memiliki semangat bermain peran) Semangat ya, hari ini saya mau mengajak kalian bermain peran. Saya memerlukan 5 orang anak untuk memerankan sebagai gadis yang bijaksana, dan 5 orang anak untuk memerankan sebagai gadis yang bodoh, 1 orang sebagai prajurit, dan 1 lagi sebagai Raja (Pamong dapat menjadi narator). Hayooo siapa yang mau?

 

Inti Penyampaian
(Bermain peran)
(Dalam menyampaikan inti penyampaian, Pamong dapat menggunakan paraphase)

Narator : Pada suatu hari, prajurit istana yang gagah perkasa berjalan sambil membawa secarik surat pengumuman.
Prajurit : (Sambil meniup terompet) “Tet..tet..tet.. teretetet…..” “Pengumuman… Pengumuman ! Keluarga Kerajaan akan mengundang seluruh gadis di negeri ini untuk bersiap sedia menyambut kedatangan Mempelai. Sebuah pesta yang sangat meriah telah dipersiapkan. Kalian semua diundang! Hari dan tempat masih dirahasiakan, jadi WASPADALAH… WASPADALAH !”
Narator : Kelima gadis-gadis yang bijaksana segera berkumpul dengan riang, mereka tidak mau ketinggalan untuk mendengar berita yang sangat penting.
 

Gadis 1

 

:

(Seorang gadis berbicara kepada empat orang temannya.

“Wah… senangnya… kalian dengar itu? Kita semua mendapat undangan Istimewa.

Gadis 2 : “Mmm… sebuah pesta yang sangat indah, tentunya. Aku tidak sabar ingin segera datang ke pesta itu. Aku ingin sekali bisa datang dan menyambut Mempelai. Nanti kita pakai baju apa yah teman-teman?”
Narator : Di saat kelima gadis tersebut asik berbincang-bincang, datanglah seorang gadis lain yang ketinggalan berita karena tidak mendengarkan pengumuman tadi,
Gadis 6 : “Eh…Eh…Eh… ada apa sih? Kenapa semua pada sibuk, ngobrolin apa sich? Bingung dech saya.
Gadis 3 : “Kamu tidak dengar ya tadi? Kita diundang dalam pesta yang luar biasa. Dan kami akan datang dan menyambut mempelai”
 

Gadis 6

 

:

(Dengan muka bengong nan bingung)

“Oooo….begituuu…. baiklah aku akan memberi tahu teman-temanku yang lain.”

 

Gadis 4

 

:

(Para Gadis segera bergegas)

“Marilah, lekas kita berangkat, kita semua harus mempersiapkan diri dan tampil sebaik mungkin di depan Mempelai.”

Gadis 5 : “Betul betul betul… Aku harus siap sedia bila tiba-tiba Sang Mempelai datang, pokoknya tidak boleeehhhh ketinggalan!”
 

Gadis 2

 

:

(Ujar gadis lainnya tak mau kalah antusias)

“Tungguuuu, aku ikutttt”

Narator : Hari ini adalah hari yang sangat sibuk bagi para gadis. Mereka semua berdandan secantik-cantiknya, mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki dan menata rambut mereka dengan rapi. Tak satupun yang terlihat bersantai.
Gadis 1 : “Mari kita berangkat. Hari sudah mulai senja, bawalah pelita untuk menerangi kita di perjalanan nanti, dan juga buli-buli minyak, siapa tahu minyak kita habis dan pelita kita padam.”
Narator : Ternyata sebagian dari para gadis menuruti nasehat teman mereka yang bijaksana, mereka membawa pelita dan juga buli-buli minyak. Namun, sebagian gadis lainnya bersikap masa bodoh tidak mau menuruti nasehat yang baik
Gadis 7 : “Ah ga usah dengerin mereka, repot banget kita harus membawa buli minyak juga, sudah lah pasti cukup, kita hanya perlu membawa pelita kita saja.
Narator : Baik gadis yang bijaksana maupun gadis yang bodoh, mereka semua berangkat bersama. Perjalanan ternyata cukup memakan waktu dan melelahkan, hari telah larut malam.
Gadis 3 : “Akhirnya sampai juga… Hoaammm aku capai dan ngantuk sekali…
(Lalu satu per satu merekapun mulai tertidur. Tinggal terjaga beberapa orang gadis)
Gadis 4 : “Mana yach… kok Mempelai tidak datang-datang juga”

(Dan akhirnya mereka semuapun tertidur pulas)

Prajurit : (Sambil meniup terompet) “Tet..tet..tet.. teretetet…..” Mempelai Datang! Bergegaslah berjalan menuju Istana.”
Narator : Tiba-tiba suara para prajurit istana yang menggelegar membangunkan para gadis dari tidur mereka. Mereka semua terbangun dan segera mengambil pelita dan buli-buli minyak mereka. Namun apa yang terjadi dengan para gadis yang tidak membawa buli minyak? Dengan muka panik dan ketakutan mereka memohon
Gadis 8 : “Tolong kamii… kami mohon… berikanlah kami sedikit minyak dari buli-buli minyakmu.”
Gadis 5 : “Nanti tidak cukup untuk kami di perjalanan ini, carilah siapa tahu ada yang menjual minyak.” (Lalu mereka segera berangkat mengikuti para prajurit istana)
 

Penjual Minyak

 

:

(Suara seorang penjual minyak terdengar dari kejauhan)

“Minyak… Minyak… Nyakkk… Minyakk…”

 

 

Gadis 9

 

:

(Para gadis bodoh segera berlari mencari dan mengejar menjual minyak itu)

“Bang… cepat Bang… kami mau beli minyak, segera berikan minyak untuk menyalakan pelita kami yang sudah padam, kami sudah ketinggalan untuk menghadiri undangan Pesta dari Sang Mempelai.”

Narator : Seusai membeli minyak, para gadis bodoh tersebut mengejar para Prajurit Istana yang sudah tidak terlihat dengan penuh kegusaran dan perasaan menyesal. Andai saja tadi mereka mau menuruti nasehat yang bijaksana dari para gadis lainnya, pasti sekarang mereka tidak perlu terburu-buru seperti ini.

Para gadis bijaksana tiba di Istana Mempelai, mereka memasuki pintu gerbang Istana dan seketika itu juga pintu gerbang ditutup oleh para penjaga dan dijaga dengan ketat agar tidak seorangpun dapat masuk lagi ke dalamnya. Suasana di dalam Istana sungguh sangat indah, luas dan sulit diceritakan dengan kata-kata. Mereka sangat takjub terpaku dan tidak pernah dapat membayangkan sebelumnya. Mereka senang sekali… Lalu mereka semua berpesta dan menikmati jamuan istimewa pesta Sang Mempelai yang telah dipersiapkan untuk mereka dengan riang gembira, para gadis bijaksana bersukacita karena mereka dapat selalu dekat dengan Sang Mempelai yang begitu mengasihi mereka.

Sementara itu, dari luar istana terdengar kegaduhan dan suara isakan tangis, rupanya para gadis bodoh telah sampai di pintu gerbang istana dan sedang memohon-mohon kepada para penjaga,

 

Gadis 10

 

:

(Mereka tak hentinya mengetuk pintu dan memohon)

“Huhuhuhuhu… Tuan… Tuan…. Bukakanlah kami pintu… (Tok..Tok..Tok…) Tolong kami…. Biarkan kami masuk… Kasihanilah kami…. (Tok..Tok..Tok…) Hu hu hu hu….. TUHAN… TUHAN… Tolong kami….”

 

Prajurit

 

:

(Namun para penjaga berseru dengan tegas)

“Tidak bisa !!! Sudah terlambat !!! Pintu sudah ditutup, pesta sudah dimulai, bagi mereka yang siap sedia !”

Narator : Tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh para gadis bodoh itu selain tersungkur dan terus menangis di depan pintu Istana Mempelai yang sudah tertutup. Mereka menyesali kelalaian mereka untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya ketika menanti Sang Mempelai datang, sekarang semua sudah terlambat bagi mereka

(Setelah bermain peran, Pamong menjelaskan teks drama tadi diambil dari Injil Matius 25:1-13)

Penerapan
Anak-anak yang dikasihi Tuhan. Mempelai dalam cerita tadi adalah Tuhan Yesus, gadis-gadis itu adalah manusia. Gadis-gadis yang bijaksana adalah anak-anak Tuhan yang mau belajar mempersiapkan diri ketika akan melakukan segala sesuatu. Sedangkan para gadis bodoh itu kurang dalam mempersiapkan segala sesuatu dan cenderung ceroboh.

Anak-anak, kita bukan lagi anak kecil, yang misalnya: semua keperluan sekolah disiapkan orang tua. Kita mulai belajar mengatur waktu sendiri. Persiapan yang matang—seperti belajar sebelum ulangan atau ujian; berlatih alat musik sebelum tampil—adalah cara kita berkata kepada diri sendiri dan Tuhan: “Aku menghargai kesempatan yang diberikan padaku.”

Kadang kita berpikir, “Ah, aku berdoa saja supaya nilaiku bagus tanpa belajar.” Tapi tahu tidak? Tuhan sangat suka melihat kita berusaha. Persiapan yang baik melatih karakter kita untuk menjadi pribadi yang tekun, sabar, dan disiplin. Hasil yang bagus itu bonus. Percayalah bahwa Tuhan Yesus senang dengan anak-anak yang berhati-hati dan tidak ceroboh dalam bertindak, mempersiapkan dan mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Ketika kita mempersiapkan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, kita sedang memberikan yang terbaik untuk Tuhan dan masa depan kita sendiri.

Aktivitas
“Jadwal Persiapan Harian”

 

Persiapan yang bisa dilakukan

Rumah

 

 

Sekolah

 

 

Gereja

 

 

Hobi

 

 

Mimpi/Cita-Cita

 

 

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak