Ya aku mengasihi-Mu! Tuntunan Ibadah Anak 4 Mei 2025

21 April 2025

Judul: Ya aku mengasihi-Mu!
Tahun Liturgi: Minggu Paskah 3
Tema: Mengikut Tuhan dengan mengasihi dan menggembalakan domba-Nya.

Bacaan Alkitab: Yohanes 21:15-19
Ayat Hafalan: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13)

Lagu Tema: Aku cinta Yesus dalam dalam sekali (bisa dinyanyikan dengan menggunakan 3 bahasa: Bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan bahasa Inggris).

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Dalam Bacaan Alkitab yang terambil dari Injil Yohanes 21:15-19, Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul perikop “Gembalakanlah domba-domba-Ku”. Sebelum kita membahas lebih lanjut perikop ini, maka para pamong dipersilahkan untuk membaca, merenungkan dan mencermati tiap ayat yang terdapat di dalam Injil Yohanes 21:15-19 secara cermat dan mendalam.

Pertama-tama, mari kita pahami terlebih dahulu konteks bacaan Alkitab kali ini. Dalam perikop sebelumnya yaitu Yohanes 21:1-14, dikisahkan bahwa Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya untuk yang ketiga kalinya sesudah Ia bangkit di Pantai danau Tiberias. Pada waktu itu, murid-murid sedang galau dan kehilangan arah setelah kematian Tuhan Yesus. Para murid pun kembali lagi ke pekerjaan semula, sebagai nelayan.

Ketika Simon Petrus anak Yohanes, Tomas, Natanael, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain berkumpul di Pantai, dikisahkan bahwa Tuhan Yesus berdiri di tepi danau. Lalu Tuhan Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk menebar jala ke arah yang Tuhan Yesus tentukan. Para murid mendengar, melakukan, dan mereka menangkap banyak ikan. Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya “marilah dan sarapanlah.”

Sesudah sarapan, Tuhan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Pertanyaan ini diulangi dan dijawab oleh Petrus sebanyak tiga kali, dan Tuhan Yesus selalu menanggapi jawaban Petrus dengan perkataan instruksional: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Mengapa Tuhan Yesus menanyakan hal yang sama “apakah engkau mengasihi Aku” sebanyak tiga kali kepada Petrus dan memberikan respon yang sama “gembalakanlah domba-dombaKu” juga sebanyak tiga kali?

Apakah makna dibalik semua itu?

Jika kita cermati secara seksama ayat 15-17, kita bisa menyaksikan betapa Tuhan Yesus seolah tidak meyakini jawaban Petrus, sehingga Dia sampai harus menanyakan pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali. Hal ini mengingatkan kita akan peristiwa ketika Tuhan Yesus dibawa ke Mahkamah Agama. Ketika itu Petrus menyaksikan secara langsung kondisi Tuhan Yesus saat ada dalam situasi terancam nyawa-Nya. Di tengah kondisi seperti itu, Petrus tahu benar, apabila guru-Nya terancam mati, maka ia pun sebagai murid-Nya bisa mengalami nasib yang sama. Itulah sebabnya ketika ada hamba perempuan penjaga pintu yang mengenali dan bertanya kepada Petrus “bukankah engkau juga murid?”, Petrus yang digerakkan oleh rasa takut lantas menyangkalnya sebanyak tiga kali (Yohanes 18:17).

Setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Ia kembali meminta komitmen para murid-muridNya untuk melanjutkan pekabaran injil. Tuhan Yesus ingin menguji komitmen para murid. Tetapi mengapa Tuhan Yesus bertanya hanya kepada Petrus? Sebab agaknya Tuhan Yesus ingin menjadikan Petrus (arti kata Petrus = batu karang) yang pernah menyangkal diri-Nya sebagai tolak ukur. Jikalau Petrus bisa berkomitmen dan menghidupi janjinya, maka murid yang lain pun pasti bisa! Tuhan Yesus ingin mengetahui, apakah Petrus dan teman-temannya mampu mengasihi-Nya hingga rela mempertaruhkan nyawa? Apakah mereka mau berjanji dan berkomitmen untuk melanjutkan pekerjaan injil? Apakah mereka sanggup menyangkal diri dan mengabaikan kepentingan diri?

Itulah sebabnya sesudah sarapan pagi, Tuhan Yesus bertanya pada Petrus:

  • Ayat 15: Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku (agape)?” Simon mengkonfirmasi bahwa ia mengasihi Yesus (philia)
  • Ayat 16: Yesus bertanya untuk kedua kali, “Apakah engkau mengasihi Aku (agape)?” Simon mengkonfirmasi bahwa ia mengasihi Yesus (philia)
  • Ayat 17: Yesus bertanya untuk ketiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku (philia), Simon mengkonfirmasi bahwa ia mengasihi Yesus (philia)

Jika kita perhatikan Tuhan Yesus meminta kasih agape dari Petrus. Kasih agape adalah kasih Tuhan, kasih yang memberikan segalanya tanpa syarat. Simon Petrus menjawab bahwa ia mengasihi Yesus dengan kasih agape; tetapi lebih dari itu, ia ingin mengasihi Yesus dengan kasih philia. Kasih philia adalah kasih persahabatan yang membuat seseorang siap mati, mempertaruhkan nyawa, dan rela berkorban untuk sahabat yang ia kasihi. Simon Petrus agaknya ingat akan ungkapan Tuhan Yesus sebelum mati, “Tidak ada kasih yang lebih besar (agape) daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (philia).” (Yohanes 15:13).

Dengan demikian, Simon Petrus menaikkan ekpektasi Tuhan Yesus kepadanya, dengan menegaskan totalitasnya untuk mengasihi-Nya hingga mati. Setelah Tuhan Yesus bertanya sebanyak tiga kali, Simon Petrus sedih hatinya (ayat 17), karena ia merasa bahwa Tuhan Yesus meragukan kesugguhan hatinya dalam menghadirkan kasih pengorbanan secara total.

Akhirnya, Tuhan Yesus mendapat kepastian dari Simon Petrus yang berkomitmen dan rela mempertaruhkan nyawa serta berkorban untuk-Nya. Dalam kaitan tersebut, Tuhan Yesus juga memintanya untuk menjadi gembala yang menggembalakan domba-domba-Nya. Dengan demikian, menjadi murid Tuhan Yesus Kristus berarti menjadi sahabat-Nya yang mengasihi-Nya dan rela mengorbankan diri demi menggembalakan domba-domba-Nya.

Pada perkembangannya, Simon Petrus mewujudkan permintaan Tuhan Yesus. Semula Simon Petrus adalah seorang pengecut, tukang ingkar janji, tetapi setelah Tuhan Yesus bangkit, ia berubah seorang pemberani, bisa dipercaya, dan rela mati demi Kristus. Simon Petrus membuktikan bahwa ia berubah. Simon Petrus menjadi perintis berdirinya gereja yang penuh semangat memberitakan injil kepada bangsa-bangsa lain hingga menderita dan dihukum mati karena injil. Itulah bukti kasih dan komitmen Petrus kepada Yesus pasca kebangkitan-Nya (Yohanes 21:18-19).

Refleksi untuk pamong
Para pamong yang mengasihi dan dikasihi Tuhan, berikut ini pertanyaan refleksi untuk direnungkan sebelum melayani ibadah anak di Minggu Paskah 3. Pertanyaan Tuhan Yesus kepada Petrus: “Apakah engkau mengasihi Aku?” berlaku juga bagi kita. Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus? Apakah wujud kasih kita kepada Tuhan? Jika Tuhan Yesus bersedia menjadi sahabat kita dan rela mati demi kita, maka mari merespons cinta kasih-Nya dengan cara menghidupi totalitas kasih persahabatan yang siap untuk momong, ngemong, dan menggembalakan anak dan remaja yang Tuhan percayakan kepada kita.

Sebagaimana Petrus, Tuhan juga mempertanyakan komitmen kita sebagai pamong anak dan remaja. Seringkali komitmen kita luntur seiring waktu. Pada saat diteguhkan sebagai pamong, janji mengikut Tuhan dan siap sedia untuk ambil bagian dalam pelayanan begitu kuat. Tetapi seiring waktu, bisa jadi kita mulai mengabaikan tugas dan tanggungjawab sebagai pamong. Bila tiba pada situasi demikian, sekali lagi, pertanyaan Tuhan Yesus menjadi relevan: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Mari mengingat janji kita kepada Tuhan Yesus dan setia menjaga komitmen sebagai pamong.

Setiap pamong kiranya dimampukan untuk selalu mengasihi Tuhan dan tetap mempercayakan hidup sepenuhnya kepada-Nya. Dan juga setia untuk melakukan segala perintah dan kehendak-Nya secara konsisten di dalam pelayanan sebagai pamong.


TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA

Tujuan: Anak dapat mengingat ajaran untuk mengasihi Tuhan Yesus.
Alat Peraga: Jari tangan.

Pendahuluan
Anak-anak jenjang balita yang dikasihi Tuhan Yesus.

Mari kita bersama-sama mengawali ibadah hari dengan membuat bentuk hati/love (dengan menggunakan jari tangan), dipersilahkan pamong menunjukan bentuk hati menggunakan jari tangan. Jari tangan yang berbentuk hati/love ini untuk menunjukan tanda apa ya?, apakah tanda marah/benci ataukah sebagai tanda cinta/mengasihi?. Tentu saja tanda mengasihi ya!.

Mengapa kita membuat bentuk hati dengan menggunakan jari yang menunjukan tanda mengasihi? Karena Firman Tuhan hari ini berkisah tentang mengasihi Tuhan Yesus. Siapakah yang mengasihi Tuhan Yesus? Bagi setiap kita yang mengasihi-Nya, mari bersama-sama mendengarkan Bacaan Alkitab kita hari ini.

Pamong dipersilahkan mengajak para orangtua yang mengantar anak-anaknya di jenjang balita, untuk membaca secara bergantian Injil Yohanes 21:15-19 (ayat ganjil dibacakan oleh pamong dan ayatnya yang genap dibacakan oleh para orangtua).

Inti Penyampaian
Setelah selesai membacakan bacaan Alkitab, pamong mengajak anak-anak untuk berhitung 1 sampai dengan 3 dengan menunjukan jari tangan: kalau hitungan ke-1 silahkan tunjukan dengan jari telunjuk, 2 dengan jari telunjuk dan jari tengah, 3 dengan ketiga jari telunjuk-tengah dan jari manis. Lho kok jadi belajar berhitung ya?! Karena hitungan 1,2,3 ini ada kaitannya dengan bacaan Alkitab kita hari ini.

Firman Tuhan hari ini berkisah tetang Tuhan Yesus yang sedang berada bersama murid-murid-Nya. Berada dimanakah mereka? Di tepi danau. Setelah Tuhan Yesus bangkit, Ia menampakan diri kepada murid-murid-Nya di tepi danau Tiberias.

Tuhan Yesus berdiri di tepi danau dan memerintahkan murid-muridNya untuk menebar jala ke arah yang Tuhan Yesus tentukan. Para murid mendengar dan mereka melakukan lalu menangkap banyak ikan. Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya “marilah dan sarapanlah”.

Sesudah sarapan, Tuhan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Pertanyaan Yesus diulangi dan dijawab oleh Petrus sebanyak tiga kali.

Penerapan
Pamong mengajak anak balita untuk bersama-sama mengulangi jawaban Petrus. Pamong dipersilakan mengungkapkan pertanyaan Tuhan Yesus, dan ajak anak balita untuk menirukan jawaban Petrus sebagaimana table berikut ini.

Pertanyaan Yesus
(diucapkan oleh pamong)

Jawaban Petrus
(ditirukan oleh anak balita)
Keterangan
Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini? Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau! Terdapat di ayat 15
Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau! Terdapat di ayat 16
Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau! Terdapat di ayat 17

Ternyata Petrus mau menjadi sahabat Tuhan dan rela mengikut Tuhan. Kemudian Tuhan Yesus memintanya untuk menjadi sang gembala yang bertugas mengasihi dan membagikan kabar baik bagi umat manusia. Dengan demikian, menjadi murid Tuhan Yesus Kristus berarti mengasihi dan mau menjadi sahabat-Nya. Menjadi sahabat Kristus berarti siap mengikut Tuhan dan mau mengasihi sesama. Apakah anak-anak balita mau melakukan perintah Tuhan Yesus untuk mengasihi Tuhan Yesus? Ayo kita bersama-sama mengatakan “Ya aku mau mengasihi Tuhan Yesus dengan perkataan dan perbuatan yang baik seturut dengan kehendak-Nya!.”

Aktivitas
Membuat stik 3 hati agar setiap anak mengingat ajaran untuk mengasihi Tuhan Yesus.

Bahan yang diperlukan: stik eskrim/sumpit, doubletape/isolasi, 3 kertas origami berbentuk hati. Warna bebas dan ukuran kertas berbentuk hati disesuaikan dengan stik/sumpit.

Cara membuat: setiap anak mendapatkan 1 stik/sumpit dan 3 bentuk hati yang dibagian belakangnya sudah diberi dobeltape, kemudian tempelkan 3 bentuk hati tersebut pada stik/sumpit.


TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA

Tujuan: Anak dapat menunjukkan cara mengikut Tuhan Yesus dengan mengasihi melalui perkataan dan perbuatannya dalam hidup keseharian.
Alat Peraga: Tangan atau jari tangan

Pendahuluan
Anak-anak jenjang pratama yang dikasihi Tuhan Yesus

Mari kita bersama-sama mengawali ibadah hari dengan membuat bentuk hati/love (dengan menggunakan jari tangan), dipersilahkan pamong menunjukan bentuk hati menggunakan jari tangan. Jari tangan yang berbentuk hati/love ini untuk menunjukan tanda apa ya?, apakah tanda marah/benci ataukah sebagai tanda cinta/mengasihi? Tentu saja tanda mengasihi ya!.

Mengapa kita membuat bentuk hati dengan menggunakan jari yang menunjukan tanda mengasihi? Karena Firman Tuhan hari ini berkisah tentang mengasihi Tuhan Yesus. Siapakah yang mengasihi Tuhan Yesus? Apakah anak-anak pratama mengasihi Tuhan Yesus? Jika mengasihi Tuhan Yesus marilah kita tunjukan dengan menyanyiakan lagu “Aku cinta Yesus dalam-dalam sekali”

Inti Penyampaian

Selanjutnya pamong mengajak anak-anak pratama untuk membaca secara bergantian Bacaan Alkitab Injil Yohanes 21:15-19 (ayat ganjil dibacakan oleh pamong dan ayatnya yang genap dibacakan oleh anak pratama).

Setelah selesai membaca Injil Yohanes, pamong mengajak anak-anak untuk berhitung 1 sampai dengan 3 (dengan menunjukan jari tangan: kalau hitungan ke-1 silahkan tunjukan dengan jari telunjuk, 2 dengan jari telunjuk dan jari tengah, 3 dengan ketiga jari telunjuk-tengah dan jari manis). Lho kok jadi belajar berhitung ya..hehehee.., ya karena hitungan 1,2,3 ini ada kaitannya dengan bacaan Alkitab kita hari ini.

Firman Tuhan hari ini berkisah tetang Tuhan Yesus yang sedang berada bersama murid-murid-Nya. Berada dimanakah mereka? Di tepi danau. Setelah Tuhan Yesus bangkit, Ia menampakan diri kepada murid-murid-Nya di tepi danau Tiberias.

Tuhan Yesus berdiri di tepi danau dan memerintahkan murid-muridNya untuk menebar jala ke arah yang Tuhan Yesus tentukan. Para murid mendengar dan mereka melakukan lalu menangkap banyak ikan. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Marilah dan sarapanlah”.

Sesudah sarapan, Tuhan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Pertanyaan Yesus diulangi dan dijawab oleh Petrus sebanyak tiga kali.

Penerapan
Ternyata Petrus mau menjadi sahabat Tuhan dan rela mengikut Tuhan. Kemudian Tuhan Yesus memintanya untuk menjadi sang gembala yang bertugas menggembalakan domba-domba-Nya. Apa arti menggembalakan domba-domba-Nya? Artinya adalah mengasihi dan membagikan kabar baik bagi umat manusia.

Dengan demikian, menjadi murid Tuhan Yesus Kristus berarti mengasihi dan mau menjadi sahabat-Nya. Menjadi sahabat Kristus berarti siap mengikut Tuhan dan mau mengasihi sesama.

Nah, jika pertanyaan Tuhan Yesus diberikan kepada anak-anak pratama yang hadir saat ini, apakah kalian akan menjawab dengan kata-kata yang sama seperti Petrus ucapkan? Lalu jika Tuhan Yesus meneruskan pertanyaannya selanjutnya “Apa buktinya jika kau mengasihi Aku”? Apakah kalian siap menunjukkannya melalui perkataan dan perbuatan di dalam hidup keseharian? Misalnya selalu berkata-kata dengan lemah lembut/penuh kasih serta melakukan perbuatan seturut dengan kehendak-Nya.

Aktivitas
Sebagai aktivitas, anak-anak pratama diberi tugas membuat jurnal selama seminggu ke depan (dimulai setelah mereka selesai ibadah). Ajak anak untuk mendaftarkan perkataan dan perbuatan di dalam hidup keseharian yang menunjukkan kasih mereka kepada Tuhan Yesus.

Contoh: Hari Minggu, dalam kolom “Aku mengasihi Tuhan dengan perkataan:” “Mengucap Terimakasih saat menerima sesuatu. Dalam kolom “Aku mengasihi Tuhan Yesus dengan perbuatan:” “Mengampuni teman yang sudah membohongi aku.”

HARI AKU MENGASIHI TUHAN YESUS DENGAN PERKATAAN AKU MENGASIHI TUHAN YESUS DENGAN PERBUATAN
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu

 


TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA

Tujuan:

  1. Anak mengingat ajaran untuk mengasihi Tuhan Yesus.
  2. Anak menunjukkan cara mengikut Tuhan Yesus dengan mengasihi melalui perkataan dan perbuatannya dalam hidup keseharian.

Pendahuluan
Pamong memberi kesempatan kepad anak-anak Madya untuk mencari padanan kata dari “aku mengasihimu/aku cinta kamu” yang berasal dari berbagai macam bahasa daerah dan ragam negara (misalnya bahasa Jawa / bahasa Korea / bahasa Jerman).

Setelah menemukan beberapa kata dalam bahasa daerah dan bahasa dari negara lain yang memiliki arti mengasihi/cinta, maka pamong memberi penjelasan bahwa Firman Tuhan hari ini berkisah tentang ajaran untuk mengasihi Tuhan Yesus.

Selanjutnya pamong mengajak anak-anak madya untuk membaca secara bergantian bacaan Injil Yohanes 21:15-19. Ayat ganjil dibacakan oleh pamong dan ayat yang genap dibacakan oleh anak madya.

Inti Penyampaian
Firman Tuhan hari ini berkisah tentang Tuhan Yesus yang sedang berada bersama murid-murid-Nya. Berada dimanakah mereka? Di tepi danau. Setelah Tuhan Yesus bangkit, Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di tepi danau Tiberias.

Tuhan Yesus berdiri di tepi danau dan memerintahkan murid-muridNya untuk menebar jala ke arah yang Tuhan Yesus tentukan. Para murid mendengar dan mereka melakukan lalu menangkap banyak ikan. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Marilah dan sarapanlah”.
Sesudah sarapan, Tuhan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Pertanyaan Yesus diulangi dan dijawab oleh Petrus sebanyak tiga kali.

Mengapa Tuhan Yesus sampai perlu menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali kepada Petrus? Apakah makna dibalik semua itu?

(Pamong sejenak mengajak anak-anak madya untuk mengingat kembali kisah penyangkalan yang dilakukan oleh Petrus, sebanyak tiga kali.)

Jika kita cermati secara seksama ayat 15-17, kita bisa menyaksikan betapa Tuhan Yesus seolah tidak meyakini jawaban Petrus, sehingga Dia sampai harus menanyakan pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali. Hal ini mengingatkan kita akan peristiwa ketika Tuhan Yesus dibawa ke Mahkamah Agama. Ketika itu Petrus menyaksikan secara langsung kondisi Tuhan Yesus saat ada dalam situasi terancam nyawa-Nya. Di tengah kondisi seperti itu, Petrus tahu benar, apabila guru-Nya terancam mati, maka ia pun sebagai murid-Nya bisa mengalami nasib yang sama. Itulah sebabnya ketika ada hamba perempuan penjaga pintu yang berkata kepada Petrus “Bukankah engkau juga murid-Nya?” Petrus menyangkalnya sebanyak tiga kali (Yohanes 18:17).

Penerapan
Akan tetapi Simon Petrus berubah. Setelah Tuhan Yesus bangkit dan berjumpa dengan para murid, Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus “Apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun menjawab bahwa ia mengasihi Yesus dengan kasih agape; tetapi lebih dari itu, ia ingin mengasihi Yesus dengan kasih philia.

Kasih agape adalah kasih Tuhan, kasih yang memberikan segalanya tanpa syarat. Kasih philia adalah kasih persahabatan yang membuat seseorang siap mati, mempertaruhkan nyawa, dan rela berkorban untuk sahabat yang ia kasihi. Simon Petrus agaknya ingat akan ungkapan Tuhan Yesus sebelum mati, “Tidak ada kasih yang lebih besar (agape) daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (philia).”

Mengasihi Tuhan Yesus berarti:

  1. Apapun tantangannya, kita tidak akan meninggalkan Dia.
  2. Menjadi sahabat-Nya yang sekaligus berarti menjadi gembala.
  3. Seseorang yang mengasihi-Nya akan rela berkorban bagi pekerjaan Tuhan baik waktu, tenaga dan harta benda kita tanpa rasa takut kehilangan. Mengapa demikian? Karena seorang sahabat Kristus percaya bahwa hidupnya adalah milik Tuhan.

Jika hidup kita milik Tuhan, maka apa pula yang harus kita khawatirkan?

Mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus dan mengasihi Dia, berarti tidak lagi memikirkan self-interest/kepentingan diri, dan tidak bersikap, “Ahh yang penting hidupku senang dan aku tidak peduli dengan orang-orang disekelilingku yang kesusahan dan memerlukan pertolongan.”

Jangan lupa bahwa kita adalah anak-anak terang. Dan sebagai anak terang, kiranya Tuhan memampukan kita untuk menjadi anak yang semakin peka, peduli dan perhatian terhadap lingkungan di sekitar kita.

Aktivitas
Setiap anak diminta untuk mencari padanan kata yang memiliki arti: aku mengasihimu/aku cinta kamu dari berbagai macam bahasa daerah dan bahasa dari berbagai negara (misal dalam bahasa jawa / bahasa Jerman-seperti yang telah dilakukan di awal tadi).

Kemudian mintalah setiap anak untuk satu persatu memperagakan kata dengan gerakan Misalnya: berkata “Aku tresna Yesus” dengan menunjukan jari tangan berbentuk love, dsb.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak