Hana: Pantang Menyerah Tuntunan Ibadah Anak 24 Juli 2022

Tahun Gerejawi: Hari Anak Nasional
Tema:
Tokoh Wanita

Judul: Hana: Pantang Menyerah
Bacaan:
1 Samuel 1:1-28
Ayat Hafalan:Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, janganlah lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”  (2 Tawarikh 15:7)

Lagu Tema: Jalan Serta Yesus  

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Memang Hana mandul, tetapi ia pantang menyerah. Setiap kali pergi ke Silo, Hana selalu menaikkan doa agar diberi keturunan.
Dalam budaya patriarkat, seperti Israel, seorang perempuan yang tidak bisa melahirkan seorang anak dianggap aib. Apalagi sikap merendahkan dari madunya, Penina, yang bisa memberikan keturunan bagi Elkana. Inilah yang membuat Hana makin kencang memohon pada Tuhan agar dikarunia seorang anak. Rupanya Hana sudah tidak mampu lagi bertahan karena Penina makin menekan dia karena ketidak-mampuannya melahirkan seorang anak.  

Melihat kegigihan Hana dengan doanya, Tuhan menjawab kerinduan Hana untuk mempunyai seorang anak melalui Imam Eli. Dan Tuhan menepati janji-Nya. Tahun berikutnya, Hana mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Dengan penu kasih sayang, Hana merawat Samuel, karena waktunya bersama-sama denga Samuel sangat terbatas. Hana telah bernazar jika Tuhan mengabulkan doanya, maka anaknya akan dipersembahkan kepada Tuhan sebagai ungkapan syukur karena Tuhan telah menghapus aibnya.

Refleksi Untuk Pamong
Dalam bacaan tidak dijelaskan berapa lama Hana harus berjuang untuk mendapatkan seorang anak. Yang jelas, Hana tidak menyerah setiap kali ia datang ke Silo untuk memohon pada Tuhan. Dengan setia Hana menunggu respon Tuhan atas doa yang dinaikannya. Semangat inilh yang perlu dimiliki oleh setiap orang beriman, termasuk para Pamong.

Tak dapat dipungkiri bahwa selama kita hidup, permasalahan selalu datang menghampiri kehidupan kita. Permasalahan-permasalahan itu, kadang membuat kita makin kuat menghadapi perjalanan hidup, tetapi kadang pula membuat semangat kita menjadi “nglokro” atau kehilangan daya juang. Dengan bacaan hari ini, semoga menguatkan kita jika saat ini semangat juang kita mulai ‘patah’. Kata kuncinya hanya dua : pantang menyerah dan setia. Jika kita memegang teguh kedua hal ini, maka Tuhan pasti akan memperhatikan perjuangan kita.


TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA

Tujuan:  Anak dapat menceritakan kembali cerita ibu Hana yang berjuang untuk mendapatkan seorang anak.

Alat Peraga: Dibutuhkan 3 orang Pamong untuk bermain peran sebagai Wartawan atau Narator, Hana dan Imam Eli. Diharapkan para pemeran bisa memakai properti untuk mendukung peran masing-masing.

Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak yang dikasihi Tuhan,

Hari ini kita akan mendengarkan percakapan yang seru. Wah…percakapan apa yang seru? Okey…sekarang silahkan kalian duduk yang nyaman ya agar dapat mendengarkan firman dengan tenang. Waktu selanjutnya saya serahkan pada pembawa acara. Disilahkan.

Inti Penyampaian

Narator: Hallo…anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus. Apa kabarnya kalian hari ini? Apakah kalian semua sehat-sehat? Wah…puji Tuhan. Kalian semuanya sehat semua. Hari ini saya akan memperkenalkan 2 orang yang luar biasa. Siapakah mereka? Mari kita panggil tokoh pertama kita. Dia adalah seorang perempuan. Suaminya bernama Elkana. Wah…kira-kira siapakah dia? Okey…mari kita panggil. Ibu Hana.

Hana: Hallo….anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus. Tadi nama saya sudah diberikan oleh pembawa Acara. Baiklah. Saya memperkenalkan diri lagi. Namaku Ibu Hana. Hayo…diulangi. Siapakah nama saya? Wah…benar. Nama saya ibu Hana.

Narator: Baiklah ibu Hana. Saya lihat wajah ibu sangat cerah sekali. Itu menandakan saat ini sedang gembira. Kira-kira, apa yang membuat ibu bergembira hari ini?

Hana: Aduh….kok tahu ya kalau saya sedang bergembira (sambil tersipu-sipu). Benar. Hari-hari ini hati saya sangat gembira. Saya gembira karena Tuhan telah menjawab doa saya.

Narator: Lho…memangnya ibu berdoa apa pada Tuhan?

Hana: Begini….saya ini sudah lama menikah dengan bapak Elkana, tetapi tidak mempunyai anak. Itulah yang membuat saya sangat bersedih. Setiap kali saya dan suami pergi ke Silo untuk beribadah, saya selalu meminta pada Tuhan agar saya segera dikaruniai seorang anak. Lama sekali, Tuhan tidak menjawab doa tetapi saya tidak menyerah. Saya yakin, Tuhan pasti akan menjawab doa saya. Dan akhirnya Tuhan menjawab doa saya melalui imam Eli.

Narator: Oh gitu. Baiklah. Sekarang kita akan panggil imam Eli. Kita akan meminta pendapat imam Eli. Ayo…anak-anak kita panggil bersama-sama imam Eli. Satu…dua…tiga. Imam Eli

Imam Eli: Hallo….anak-anak. Apa kabarnya? Wah…senang sekai saya bisa ada ditengah-tengah kalian. Semuanya sehat-sehat ya? Wah…puji Tuhan. Semuannya sehat.

Narator: Selamat pagi imam Eli. Apa kabarnya?

Imam Eli: Kabar baik.

Narator: Imam Eli…bisakah diceritakan bagaimana pertemuan Bapak dan ibu Hana. (Imam Eli terdiam sejenak, sambil memegang kening untuk mengingat-ingat pertemuannya dengan ibu Hana)

Narator: Wah…rupanya imam Eli lupa dengan ibu Hana. Mungkin ibu Hana dapat menjelaskan bagaimana pertemuannya dengan imam Eli.

Hana: Saya paham jika imam Eli lupa dengan saya sebab peristiwa pertemuan saya dengan beliau terjadi setahun yang lalu. Apalagi imam Eli tentu sudah bertemu dengan banyak orang, maka wajar saja jika imam Eli lupa. Tapi….akan saya coba jelaskan bagaimana saya bertemu dengan imam Eli dan semoga beliau ingat.

Jadi….setahun lalu saya dan suami pergi ke Silo. Saya berdoa lama sekali sambil menangis. Saya ngomong pada Tuhan tetapi tidak mengeluarkan suara. Tidak jauh dari tempat saya berdoa, ada imam Eli. Lalu beliau mendekati saya dan bertanya apakah saya sedang mabuk karena anggur, tetapi saya jawab tidak. Lalu saya ceritakan permasalahan saya dan imam Eli bilang jika tahun depan saya akan mengandung dan melahirkan seorang anak. Apa yang diucapkan imam Eli sungguh-sungguh terjadi. Akhirnya saya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, lalu kami beri nama Samuel.

Imam Eli: Wah….ingat saya. Iya betul. Waktu itu ibu Hana menangis dengan sangat. Saya jadi kasihan. Lalu saya mendoakan ibu Hana dan ternyata Tuhan mengabulkan permintaan ibu Hana.

Narator: Akhirnya Imam Eli ingat ya pertemuannya dengan ibu Hana. Sungguh luar biasa. Makanya wajah ibu Hana sangat berbinar-binar. Ternyata ibu Hana sedang berbahagia karena doanya telah didengar oleh Tuhan. 

Penerapan

Narator: Untuk mengakhiri perbincangan hari ini, mungkin ada kata-kata penutup dari ibu Hana

Hana: Anak-anak yang hebat, jika kalian mempunyai keinginan bawalah selalu dalam doa. Jika Tuhan belum menjawab doamu, janganlah kamu berputus asa, jangan menyerah.

Narator: Mungkin ada kata-kata penutup dari imam Eli?

Imam Eli: Anak-anak yang dikasihi Tuhan, jika ibu Hana mengajarkan pada kita untuk tidak mudah menyerah. Agar kalian tetap semangat, maka saya mengajak kalian untuk tekun berdoa. Berdoalah setiap saat agar kalian dekat dengan Tuhan.

Narator: Anak-anak, kita sudah mendapatkan 2 hal dari percakapan hari ini yaitu : jangan menyerah dan tekun berdoa. Yuk….sekarang kita ucapkan terima kasih pada ibu Hana dan imam Eli yang mau hadir dalam ibadah hari ini.

Aktivitas: MEMBUAT KOLASE

Pamong menyiapkan :

  1. Gambar sederhana seperti bunga atau kupu-kupu atau lainnya
  2. Lem
  3. Kertas warna warni

Cara membuat: Pamong meminta pada ank-anak untuk memotong kecil-kecil kertas warna-warni, lalu potongan kecil itu dapt ditempelkan pada gambar yang telah disediakan.

Maksud permainan: Mengajak anak-anak untuk tekun.


TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA

Tujuan:

  1. Anak dapat menceritakan kembali cerita ibu Hana yang berjuang untuk mendapatkan seorang anak.
  2. Anak dapat menyadari bahwa semangat untuk berjuang adalah kunci keberhasilan ibu Hana.
  3. Anak membiasakan diri memperjuangkan keinginannya dengan berdoa kepada Tuhan terus menerus.

Alat Peraga
Pamong dapat menunjuk 3 anak untuk bermain peran. 1 orang menjadi narator. 1 orang sebagai ibu Hana dan 1 orang bertindak sebagai imam Eli. Diharapkan Pamong dapat menyiapkan kostum untuk ibu Hana dan imam Eli. Setelah ditunjuk 3 anak, maka Pamong dapat membagikan naskah perbincangan. Pamong dapat memberi waktu pada ketiga anak untuk mempersiapkan diri.

Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak yang dikasihi Tuhan,

Saya mau bertanya siapakah di antara kalian saat ini sedang mendoakan sesuatu pada Tuhan dan doamu belum terjawab? (Beri waktu pada anak-anak untuk perpikir). Bagaimana reaksimu ketika apa yang kamu doakan ternyata belum dijawab oleh Tuhan? Yuk…kita belajar dari tokoh kita hari ini. Duduklah dengan nyaman agar kalian bisa mengikuti wawancara hari ini dengan baik.

Inti Penyampaian
Anak-anak yang dikasihi oleh Tuhan,

Narator: Hallo…anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus. Apa kabarnya kalian hari ini? Apakah kalian semua sehat-sehat? Wah…puji Tuhan. Kalian semuanya sehat semua. Hari ini saya akan memperkenalkan 2 orang yang luar biasa. Siapakah mereka? Mari kita panggil tokoh pertama kita. Dia adalah seorang perempuan. Suaminya bernama Elkana. Wah…kira-kira siapakah dia? Okey…mari kita panggil. Ibu Hana.

Hana: Hallo….anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus. Tadi nama saya sudah diberikan oleh pembawa Acara. Baiklah. Saya memperkenalkan diri lagi. Namaku Ibu Hana. Hayo…diulangi. Siapakah nama saya? Wah…benar. Nama saya ibu Hana.

Narator: Baiklah ibu Hana. Saya lihat wajah ibu sangat cerah sekali. Itu menandakan saat ini sedang gembira. Kira-kira, apa yang membuat ibu bergembira hari ini?

Hana: Aduh….kok tahu ya kalau saya sedang bergembira (sambil tersipu-sipu). Benar. Hari-hari ini hati saya sangat gembira. Saya gembira karena Tuhan telah menjawab doa saya.

Narator: Lho…memangnya ibu berdoa apa pada Tuhan?

Hana: Begini….saya ini sudah lama menikah dengan bapak Elkana, tetapi tidak mempunyai anak. Itulah yang membuat saya sangat bersedih. Setiap kali saya dan suami pergi ke Silo untuk beribadah, saya selalu meminta pada Tuhan agar saya segera dikaruniai seorang anak. Lama sekali, Tuhan tidak menjawab doa tetapi saya tidak menyerah. Saya yakin, Tuhan pasti akan menjawab doa saya. Dan akhirnya Tuhan menjawab doa saya melalui imam Eli.

Narator: Oh gitu. Baiklah. Sekarang kita akan panggil imam Eli. Kita akan meminta pendapat imam Eli. Ayo…anak-anak kita panggil bersama-sama imam Eli. Satu…dua…tiga. Imam Eli

Imam Eli: Hallo….anak-anak. Apa kabarnya? Wah…senang sekai saya bisa ada ditengah-tengah kalian. Semuanya sehat-sehat ya? Wah…puji Tuhan. Semuannya sehat.

Narator: Selamat pagi imam Eli. Apa kabarnya?

Imam Eli: Kabar baik.

Narator: Imam Eli…bisakah diceritakan bagaimana pertemuan Bapak dan ibu Hana. (Imam Eli terdiam sejenak, sambil memegang kening untuk mengingat-ingat pertemuannya dengan ibu Hana)

Narator: Wah…rupanya imam Eli lupa dengan ibu Hana. Mungkin ibu Hana dapat menjelaskan bagaimana pertemuannya dengan imam Eli.

Hana: Saya paham jika imam Eli lupa dengan saya sebab peristiwa pertemuan saya dengan beliau terjadi setahun yang lalu. Apalagi imam Eli tentu sudah bertemu dengan banyak orang, maka wajar saja jika imam Eli lupa. Tapi….akan saya coba jelaskan bagaimana saya bertemu dengan imam Eli dan semoga beliau ingat.

Jadi….setahun lalu saya dan suami pergi ke Silo. Saya berdoa lama sekali sambil menangis. Saya ngomong pada Tuhan tetapi tidak mengeluarkan suara. Tidak jauh dari tempat saya berdoa, ada imam Eli. Lalu beliau mendekati saya dan bertanya apakah saya sedang mabuk karena anggur, tetapi saya jawab tidak. Lalu saya ceritakan permasalahan saya dan imam Eli bilang jika tahun depan saya akan mengandung dan melahirkan seorang anak. Apa yang diucapkan imam Eli sungguh-sungguh terjadi. Akhirnya saya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, lalu kami beri nama Samuel.

Imam Eli : Wah….ingat saya. Iya betul. Waktu itu ibu Hana menangis dengan sangat. Saya jadi kasihan. Lalu saya mendoakan ibu Hana dan ternyata Tuhan mengabulkan permintaan ibu Hana.

Narator: Akhirnya Imam Eli ingat ya pertemuannya dengan ibu Hana. Sungguh luar biasa. Makanya wajah ibu Hana sangat berbinar-binar. Ternyata ibu Hana sedang berbahagia karena doanya telah didengar oleh Tuhan.

Penerapan

Narator: Untuk mengakhiri perbincangan hari ini, mungkin ada kata-kata penutup dari ibu Hana

Hana: Anak-anak yang hebat, jika kalian mempunyai keinginan teruslah berjuang. Jangan menyerah. Jika Tuhan belum menjawab doamu, janganlah kamu berputus asa.

Narator: Mungkin ada kata-kata penutup dari imam Eli?

Imam Eli: Anak-anak yang dikasihi Tuhan, jika ibu Hana mengajarkan pada kita untuk tidak mudah menyerah. Agar kalian tetap semangat, maka saya mengajak kalian untuk tekun berdoa. Berdoalah setiap saat agar kalian dekat dengan Tuhan.

Narator: Anak-anak, kita sudah mendapatkan 2 hal dari percakapan hari ini yaitu : jangan menyerah dan tekun berdoa. Yuk….sekarang kita ucapkan terima kasih pada ibu Hana dan imam Eli yang mau hadir dalam ibadah hari ini.

Aktivitas: Pamong membagikan selembar kertas. Lalu minta anak-anak untuk menulis apa saja doa yang pernah dijawab oleh Tuhan.


TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA

Tujuan:

  1. Anak dapat menceritakan kembali cerita ibu Hana yang berjuang untuk mendapatkan seorang anak.
  2. Anak dapat menyadari bahwa semangat untuk berjuang adalah kunci keberhasilan ibu Hana.
  3. Anak membiasakan diri memperjuangkan keinginannya dengan berdoa kepada Tuhan terus menerus.

Alat Peraga
Pamong dapat menunjuk 3 anak untuk bermain peran. 1 orang menjadi narator. 1 orang sebagai ibu Hana dan 1 orang bertindak sebagai imam Eli. Diharapkan Pamong dapat menyiapkan kostum untuk ibu Hana dan imam Eli. Setelah ditunjuk 3 anak, maka Pamong dapat membagikan naskah perbincangan. Pamong dapat memberi waktu pada ketiga anak untuk mempersiapkan diri.

Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak yang dikasihi Tuhan,

Saya mau bertanya siapakah di antara kalian saat ini sedang mendoakan sesuatu pada Tuhan dan doamu belum terjawab? (Beri waktu pada anak-anak untuk perpikir). Bagaimana reaksimu ketika apa yang kamu doakan ternyata belum dijawab oleh Tuhan? Yuk…kita belajar dari tokoh kita hari ini. Duduklah dengan nyaman agar kalian bisa mengikuti wawancara hari ini dengan baik.

Inti Penyampaian
Anak-anak yang dikasihi oleh Tuhan,

Narator: Hallo…anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus. Apa kabarnya kalian hari ini? Apakah kalian semua sehat-sehat? Wah…puji Tuhan. Kalian semuanya sehat semua. Hari ini saya akan memperkenalkan 2 orang yang luar biasa. Siapakah mereka? Mari kita panggil tokoh pertama kita. Dia adalah seorang perempuan. Suaminya bernama Elkana. Wah…kira-kira siapakah dia? Okey…mari kita panggil. Ibu Hana.

Hana: Hallo….anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus. Tadi nama saya sudah diberikan oleh pembawa Acara. Baiklah. Saya memperkenalkan diri lagi. Namaku Ibu Hana. Hayo…diulangi. Siapakah nama saya? Wah…benar. Nama saya ibu Hana.

Narator: Baiklah ibu Hana. Saya lihat wajah ibu sangat cerah sekali. Itu menandakan saat ini sedang gembira. Kira-kira, apa yang membuat ibu bergembira hari ini?

Hana: Aduh….kok tahu ya kalau saya sedang bergembira (sambil tersipu-sipu). Benar. Hari-hari ini hati saya sangat gembira. Saya gembira karena Tuhan telah menjawab doa saya.

Narator. Lho…memangnya ibu berdoa apa pada Tuhan?

Hana: Begini….saya ini sudah lama menikah dengan bapak Elkana, tetapi tidak mempunyai anak. Itulah yang membuat saya sangat bersedih. Setiap kali saya dan suami pergi ke Silo untuk beribadah, saya selalu meminta pada Tuhan agar saya segera dikaruniai seorang anak. Lama sekali, Tuhan tidak menjawab doa tetapi saya tidak menyerah. Saya yakin, Tuhan pasti akan menjawab doa saya. Dan akhirnya Tuhan menjawab doa saya melalui imam Eli.

Narator: Oh gitu. Baiklah. Sekarang kita akan panggil imam Eli. Kita akan meminta pendapat imam Eli. Ayo…anak-anak kita panggil bersama-sama imam Eli. Satu…dua…tiga. Imam Eli

Imam Eli: Hallo….anak-anak. Apa kabarnya? Wah…senang sekai saya bisa ada ditengah-tengah kalian. Semuanya sehat-sehat ya? Wah…puji Tuhan. Semuannya sehat.

Narator: Selamat pagi imam Eli. Apa kabarnya?

Imam Eli: Kabar baik.

Narator: Imam Eli…bisakah diceritakan bagaimana pertemuan Bapak dan ibu Hana. (Imam Eli terdiam sejenak, sambil memegang kening untuk mengingat-ingat pertemuannya dengan ibu Hana)

Narator: Wah…rupanya imam Eli lupa dengan ibu Hana. Mungkin ibu Hana dapat menjelaskan bagaimana pertemuannya dengan imam Eli.

Hana: Saya paham jika imam Eli lupa dengan saya sebab peristiwa pertemuan saya dengan beliau terjadi setahun yang lalu. Apalagi imam Eli tentu sudah bertemu dengan banyak orang, maka wajar saja jika imam Eli lupa. Tapi….akan saya coba jelaskan bagaimana saya bertemu dengan imam Eli dan semoga beliau ingat.

Jadi….setahun lalu saya dan suami pergi ke Silo. Saya berdoa lama sekali sambil menangis. Saya ngomong pada Tuhan tetapi tidak mengeluarkan suara. Tidak jauh dari tempat saya berdoa, ada imam Eli. Lalu beliau mendekati saya dan bertanya apakah saya sedang mabuk karena anggur, tetapi saya jawab tidak. Lalu saya ceritakan permasalahan saya dan imam Eli bilang jika tahun depan saya akan mengandung dan melahirkan seorang anak. Apa yang diucapkan imam Eli sungguh-sungguh terjadi. Akhirnya saya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, lalu kami beri nama Samuel.

Imam Eli: Wah….ingat saya. Iya betul. Waktu itu ibu Hana menangis dengan sangat. Saya jadi kasihan. Lalu saya mendoakan ibu Hana dan ternyata Tuhan mengabulkan permintaan ibu Hana.

Narator: Akhirnya Imam Eli ingat ya pertemuannya dengan ibu Hana. Sungguh luar biasa. Makanya wajah ibu Hana sangat berbinar-binar. Ternyata ibu Hana sedang berbahagia karena doanya telah didengar oleh Tuhan.

Penerapan

Narator: Untuk mengakhiri perbincangan hari ini, mungkin ada kata-kata penutup dari ibu Hana

Hana: Anak-anak yang hebat, jika kalian mempunyai keinginan teruslah berjuang. Jangan menyerah. Jika Tuhan belum menjawab doamu, janganlah kamu berputus asa.

Narator: Mungkin ada kata-kata penutup dari imam Eli?

Imam Eli: Anak-anak yang dikasihi Tuhan, jika ibu Hana mengajarkan pada kita untuk tidak mudah menyerah. Agar kalian tetap semangat, maka saya mengajak kalian untuk tekun berdoa. Berdoalah setiap saat agar kalian dekat dengan Tuhan.

Narator: Anak-anak, kita sudah mendapatkan 2 hal dari percakapan hari ini yaitu : jangan menyerah dan tekun berdoa. Yuk….sekarang kita ucapkan terima kasih pada ibu Hana dan imam Eli yang mau hadir dalam ibadah hari ini.

Aktivitas – Pamong membagikan selembar kertas. Lalu minta anak-anak untuk :

  1. Menuliskan keinginan apa saja yang didoakan
  2. Menuliskan keinginannya yang dijawab oleh Tuhan
  3. Menuliskan keinginanya yang tidak dijawab oleh Tuhan
  4. Apakah yang menjadi halangan untuk rajin berdoa
 

Bagikan Entri Ini: