Jangan Lelah Tuntunan Ibadah Anak 13 Desember 2020

2 December 2020

Bacaan Alkitab : Yakobus 5:7-10
Tahun Gerajawi : HUT GKJW/Advent 3
Tema : Tokoh GKJW: Drijo Mestoko
Ayat Hafalan :
“Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat.” (Yakobus 5:8)
Lagu Tema : Jangan lelah bekerja di ladangnya Tuhan

Penjelasan Teks
Istilah yang kerap kali muncul dalam perikop ini adalah μακροθυμέω (makrothumeo) artinya kesabaran. Kemunculan kesabaran hingga 6 kali dalam 5 ayat ini menunjukkan bahwa Yakobus sangat menekankan tema kesabaran untuk dipraktekkan oleh pembacanya. Perikop ini tidak bisa dipisahkan dengan perikop sebelumnya (5:1-6) dan harus dipahami sebagai bagian yang utuh. Paulus berharap pembaca harus terus bertekun dalam kesabaran menghadapi semua penderitaan tersebut. Sebab kesabaran, pada awal surat ini, diindikasikan sebagai kebajikan yang dihasilkan dari berbagai-bagai pencobaan (1:2-4, 12). Sehingga hanya dengan tetap bertahan dalam penderitaanlah mereka bisa menghasilkan kebajikan.

Sampai kapan mereka harus bersabar menghadapi penderitaan dan pencobaan? Sampai hari kedatangan Tuhan (atau sampai mereka dipanggil Tuhan). Kedatangan Tuhan mengandung pengharapan. Pengharapan di mana seluruh pergumulan dan penderitaan akan selesai dan mereka akan merima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah bagi mereka yang tahan uji (Yak.1:12). Masalahnya menunggu hari kedatangan Tuhan adalah sebuah proses yang panjang, bahkan waktu tersebut tidak terprediksi karena hari Tuhan datang seperti pencuri pada waktu malam (1 Tes.5:2, 2 Pet.3:10). Oleh karena itu Yakobus perlu memberikan pembacanya teladan kesabaran dari kehidupan sehari-hari. Di sini Yakobus mengajak jemaat untuk memperhatikan kehidupan petani dan belajar dari kesabaran yang mereka miliki ketika mereka menanam dan menantikan hasilnya. Petani selalu mengharapkan suatu masa depan yang sesuai harapan. Ia adalah orang yang sangat mengerti betapa berharganya hasil panen tersebut sehingga ia perlu melatih kesabarannya apapun yang terjadi. Ia sabar menunggu dengan pengharapan bahwa suatu waktu akan datang masa panen. Penantian tersebut akan terus berlangsung hingga hujan awal dan hujan akhir.

Analogi kesabaran tentang petani sudah selesai. Yakobus kemudian mengulang kalimat imperatif pada ayat sebelumnya “kamu juga harus bersabar,” sebab para petani telah memberikan teladan kesabaran dalam pengharapan akan datangnya hujan bagi tanamannya sehingga para pembaca Yakobus juga harus bersabar sampai kedatangan Tuhan.
Pernyataan “kedatangan Tuhan” memberikan nuansa bahwa generasi mereka mungkin saja adalah generasi yang terakhir karena kedatangan Tuhan memang sudah sangat dekat. Namun “waktu yang singkat” itu bukanlah penekanan Yakobus dalam suratnya, sebab tidak seorang pun yang tahu kapan Tuhan akan datang. Sehingga yang terpenting adalah bagaimana sikap mereka dalam menantikan kedatangan Tuhan yang semakin mendekat tersebut. Sehingga inti dari pernyataan ini adalah Yakobus mengajak jemaat untuk hidup dalam pengharapan akan Tuhan dan menantikannya dengan setia dan sabar meskipun harus menghadapi penderitaan.

 Ay. 10, Yakobus memberikan suatu teladan yang kerapkali muncul dalam kitab suci mengenai ketekunan dalam penderitaan. Hampir seluruh nabi Tuhan yang melayani Tuhan dan memberitakan firmanNya menghadapi pergumulan dan penderitaan yang hebat. Mereka semua berjuang, bertahan dan bersabar dalam penderitaan selama mereka melakukan panggilan Allah dalam hidup mereka. Yakobus menuliskan “nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan,” untuk menegaskan bahwa penderitaan yang mereka alami bukanlah akibat kesalahan mereka sendiri. Penderitaan tersebut bisa saja muncul dalam tugas pelayanan yang berasal dari Tuhan seperti yang terjadi pada para nabi di masa Perjanjian Lama. Keteladanan tersebut mendorong mereka untuk mengingatkan bahwa Tuhan peduli ketika mereka menghadapi penderitaan karena Allah.

 GKJW juga memiliki banyak tokoh yang patu diteladani kesabaran dan kesetiaannya. Salah satunya ialah Driyo Mestoko. Beliau adalah seorang yang setia kepada pelayanan meskipun pernah dipenjara dan disiksa oleh Jepang. Penderitaan tidak menyurutkannya untuk terus setia kepada GKJW dan Tuhan. Di bawah ini kami sertakan biografi Driyo Mestoko. Sebagai pamong tentunya kita juga menghadapi banyak tantangan dan kesulitan baik di keluarga, pekerjaan dan gereja. Kita dipanggil untuk tetap setia dan semakin tekun dalam pelayanan kita. Ada kalanya kita ingin menyerah dan putus asa (mutung) dalam pelayanan karena kerasnya penderitaan yang kita alami. Kita bisa belajar dari Driyo Mestoko yang setia pada panggilan pelayanan sampai wafat. Demikian juga Tuhan Yesus yang rela menderita demi kita semua.

 (Sumber: Artikel, Ridwanta Manogu)

Sejarah Driyo Mestoko (1884 – 1950)

Driyo Mestoko dilahirkan di Kertorejo dari pasangan: GI R.Simsim Mestoko (putera Karolus Wiryoguno) dan R.Ngt. Djasminah pada 30 Januari 1884. Putera sulung GI Ngoro ini, dipersiapkan dan dididik ayahnya untuk masuk dalam pendidikan guru di Mojowarno. Sejak muda Driyo Mestoko adalah aktivis pemuda, terbukti pada th. 1901, di saat belajar di Sekolah Pendidikan Guru di Mojowarno dia menerbitkan sebuah majalah berbahasa Jawa yang namanya “Udyono Among Siswo”, yang dipimpin oleh Driyo Mestoko, J. Matheus Jr. dan Arban. Setelah lulus dari Sekolah Pendidikan Guru Driyo Mestoko menjadi Guru di jemaat Bongsorejo. Selanjutnya Jemaat Segaran (Mojokerto) membutuhkan seorang guru untuk mengajar di sana dan dia bersedia untuk pindah ke Mojokerto.

Driyo Mestoko memiliki kepribadian yang bagus: disiplin, ulet, berani dan seorang pembelajar. Maka pada tahun 1912, ia dibutuhkan (dipinjam) oleh Zending Salatiga untuk menjadi Guru di Sekolah Pendidikan Guru di Tingkir, Salatiga milik Zending Salatiga (Jawa Tengah). Driyo Mestoko juga sering pergi ke Yogyakarta dalam kaitannya dengan Zending Gereja Gereformeerd. Di sana ia bekenalan dengan Ds. H. Bakker, Pendeta Utusan dan dosen di Sekolah Theologia di Yogyakarta. Dari Ds. H. Bakker inilah Driyo Mestoko memperoleh banyak pengetahuan tentang Gereja. Ds. H. Bakker meminjamkan buku-buku dan memberi brosur-brosur tentang Gereja. Ia juga menjelaskan hal-hal yang tidak dimengerti oleh Driyo Mestoko. Sehingga pengetahuannya tentang cara-cara Gereja Kristen Jawa berorganisasi dan cara mengembangkannya, semakin bertambah.

Pada tahun 1900 awal, kondisi masyarakat Jawa dan Nusantara mulai terasa berbeda dibandingkan sebelumnya. Sebelumnya nuansa kekuasaan kolonial terlihat dominan, namun pada waktu itu mulai bermunculan gerakan Kebangkitan Nasional yang dipelopori para muda, seperti :

  1. Budi Utomo (1908) oleh Dr. Sutomo,
  2. Serikat Dagang Islam (1911) oleh HOS Cokroaminoto,
  3. Organisasi Kristen Jawa pertama : Rencono Budoyo ( 1911) oleh J. Matheus Jr dkk,
  4. Organisasi Kristen : Mardi Pratjojo (1912) oleh Purcoyo Gadrun. (Tahun 1918 menjadi Partai Politik dengan nama Persekutuan Kaum Christen, yang disingkat menjadi PKC)

 Ternyata pengaruh gerakan para muda ini mempengaruhi semangat dan pola pikir para pemuda Kristen di Mojowarno. Pada tahun 1913 ada 4 orang pemuda yang mempunyai gagasan membuat study club, orang-orang ini adalah : Nutriyo Darmowiryo, Mulyodiharjo Dermorejo, Driyo Mestoko, Soponyono Dermorejo. Menurut Ds. Mulyodiharjo empat orang ini disebut Papat Guno (karena 2 org keturunan Joyoguno dan 2 orang keturunan Wiryoguno)

Gagasan ini sebelumnya dimulai dari pembicaraan santai oleh empat orang tadi di tepi sumur rumah Nutriyo Darmowiryo. Mereka mempunyai keinginan menyusun majelis jemaat menurut pilihan Jemaat secara demokratis dan bisa menciptakan Kedewasaan Jemaat dimana menurut seorang ahli Missiologi, Warneck, mengatakan bahwa ada 3 syarat Kedewasaan Jemaat (“TRIAS WARNECK”), yaitu :

  1. Dapat mengatur dirinya sendiri
  2. Dapat membiayai dirinya sendiri
  3. Dapat mengembangkan dirinya sendiri

Dengan keyakinan kuat dan pemikiran yang matang maka pada tahun 1914, empat orang ini menghadap Pendeta Pasamuan Mojowarno saat itu : J.M.S. BALJON.

Pendeta J.M.S. BALJON setelah mempertimbangkan dengan cermat, serta adanya informasi bahwa di belakang orang-orang tersebut, terdapat dukungan yang kuat dari warga Jemaat (saat itu ada 30 para tokoh dan sesepuh warga). Akhirnya Pdt. J.M.S. Baljon mendukung usulan mereka tersebut. Dengan semangat beberapa tokoh Mojowarno telah mengadakan persiapan–persiapan menuju kedewasaan. Selanjutnya pada tahun 1922 dilakukan pemilihan pendeta (Jawa) melalui rapat – rapat warga Jemaat. Dari 3 orang calon: Arban, Wiryodarmo dan Driyo Mestoko. Maka terpilihlah Driyo Mestoko sebagai Pendeta Jawa Pertama di Jemaat Mojowarno dan pertama di Jawa. Driyo Mestoko terpilih menjadi Pemimpin Gereja IV ( 1940 – 1946 ).

Masa penjajahan Jepang sangat berat dialami GKJW selain tekanan dari pemerintah Jepang ada perpecahan di dalam GKJW sendiri. Di tengah perpecahan gereja (GKJW vs RPK), meskipun diancam oleh RPK (Raad Pasamuan Kristen) yang merasa didukung pemerintah Jepang, dia tetap berani mengambil resiko. Dia memutuskan mentahbiskan pendeta pertama Bali: Made Rungu pada 24 November 1943, di gedung Gereja Mojowarno atas nama penanggung jawab penuh Greja Kristen Jawi Wetan. Pentahbisan ini menjadi tonggak bersejarah bagi terbentuknya Sinode GKPB (Gereja Kristen Protestan Bali) yang sebelumnya menjadi ladang penginjilan dan pelayanan serta anak asuh GKJW. Resikonya setelah pentahbisan Ds. Driyo Mestoko difitnah bersekutu oleh sekutu dan berakibat dia disiksa sampai gegar otak, dipenjara sampai kemerdekaan RI.

Teman-teman yang mempertahankan GKJW dan mendapatkan fitnah dari sekelompok orang RPK mengalami nasib yang sama, bahkan beberapa pendeta meninggal dunia dalam penjara dan beberapa ada yang hilang. Hal yang menarik dari kepemimpinan Ds. Driyo Mestoko bahwa dalam mengemban sebagai Pimpinan Gereja, dia punya prinsip kuat (tegas dan berani). Dia tidak terpengaruh untuk menggeser prinsip bergereja dan berimannya. Dia tetap mempertahankan GKJW tidak goyah dalam pimpinan Sang pemimpin Imannya yaitu Yesus Kristus Sang pemilik Sejarah. Meskipun goncangan dari luar dan dalam gerejanya. Sosok pejuang yang cerdas, setia, perhatian kepada Jemaat, tanggap dalam melayani, pekerja keras dan punya prinsip kuat dalam memimpin. Pada 5 September 1950 GKJW berduka karena sang tokoh akhirnya dipanggil menghadap Khaliknya. Dia dimakamkan di tanah kelahirannya Desa Kertorejo, Kecamatan Ngoro, Jombang. (Sumber : Tulisan Wiryo Widianto)


TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA

Tujuan : Anak dapat menceritakan kisah singkat tokoh GKJW yang bernama Drijo Mestoko menghadapi pergumulan di jamannya dengan meneladani Yesus Kristus.

Alat Peraga: Cerita bergambar kisah hidup Driyo Mestoko ( Ada di CD peraga)

Pendahuluan
Adik-adik selamat pagi. Gereja kita apa namanya ya?

GKJW benar sekali. Sekali lagi katakan G.K.J.W.

Nah sekarang siapa yang sedang berulang tahun? Umur berapa? Nah gereja kita juga sedang berulang tahun loo.. Sekarang umurnya 89.

Kita bisa memberi hadiah apa ya?  Taukah kalian, ada tokoh GKJW yang luar biasa. Ia mempersembahkan hidupnya sebagai kado untuk GKJW. Ia bernama Driyo Mestoko. Wah bagaimana caranya? Yuk, kita dengar ceritanya.

Inti Penyampaian
Pamong bercerita menggunakan gambar kisah hidup Driyo Mestoko (Ada di CD peraga)

Gambar 1 : Driyo Mestoko lahir.
Driyo Mestoko dilahirkan di Kertorejo dari pasangan: Guru Injil R.Simsim Mestoko (putera Karolus Wiryoguno) dan R.Ngt. Djasminah pada 30 Januari 1884. Putera sulung Guru Injil Ngoro ini, dipersiapkan dan dididik ayahnya untuk masuk dalam pendidikan guru di Mojowarno.

Gambar 2 : Driyo Mestoko sekolah. – Driyo Mestoko dimasukkan orang tuanya dalam sekolah pendidikan guru di Mojowarno.

Gambar 3 : Driyo Mestoko jadi pendeta Jawa pertama di Mojowarno.
Karena kepribadian yang bagus: disiplin, ulet, berani dan seorang pembelajar. Maka pada tahun 1912, ia dibutuhkan (dipinjam) oleh Zending Salatiga untuk menjadi Guru di Sekolah Pendidikan Guru di Tingkir, Salatiga milik Zending Salatiga (Jawa Tengah). Selain itu, Driyo Mestoko juga sering pergi ke Yogyakarta dalam kaitannya dengan Zending Gereja Gereformeerd. Di sana ia berkenalan dengan Ds. H. Bakker, Pendeta Utusan dan dosen di Sekolah Theologia di Yogyakarta. Dari Ds. H. Bakker inilah Driyo Mestoko memperoleh banyak pengetahuan tentang Gereja. Driyo Mestoko juga aktif di banyak kegiatan. Kemudian, Driyo Mestoko dan kawan-kawannya mengusulkan agar Mojowarno menjadi jemat mandiri. Lalu dipilihlah Driyo Mestoko sebagai Pendeta Jawa Pertama di Jemaat Mojowarno dan pertama di Jawa. Driyo Mestoko terpilih menjadi Pemimpin Gereja IV (1940–1946).

Gambar 4 : Driyo Mestoko dipenjara.
Lalu pada masa penjajahan Jepang, GKJW mengalami tekanan sangat berat dari pemerintah Jepang. Hal itu menyebabkan terjadinya perpecahan dalam tubuh GKJW yaitu menjadi GKJW dan RPK (Raad Pasamuwan Kristen). Pada saat itu RPK merasa didukung oleh pemerintah Jepang. Dalam kondisi demikian, Driyo Mestoko berani ambil resiko memutuskan untuk menahbiskan pendeta pertama Bali, yaitu Made Rungu pada 24 Nopember 1943, di gedung Gereja Mojowarno dengan penanggung jawab penuh dari Greja Kristen Jawi Wetan. Setelah itu, Driyo Mestoko difitnah bersekutu oleh sekutu dan berakibat dia disiksa sampai gegar otak, dipenjara sampai kemerdekaan RI.

Gambar 5 : Driyo Mestoko wafat.
Pada 5 September 1950 GKJW berduka karena sang tokoh dipanggil menghadap Khaliknya. Dia dimakamkan di tanah kelahirannya Desa Kertorejo, Kecamatan Ngoro, Jombang.

Penerapan
Pendeta Driyo Mestoko adalah orang yang rajin belajar, giat melayani dan sayang kepada Tuhan Yesus dan GKJW. Driyo Mestoko melakukan yang terbaik dalam pelayanannya di GKJW. Itulah kado yang ia berikan kepada GKJW. Nah kita juga bisa memberi kado untuk GKJW loo? Bagaimana caranya? Mari kita rajin belajar, rajin ke gereja dan sayang kepada Tuhan Yesus. Seperti pendeta Jawa pertama tadi. Siapa ya namanya? Driyo Mestoko. Betuuul… Kita ulangi lagi namanya adalah DRIYO MESTOKO.

Aktivitas: Menghias donat sebagai kue ulang tahun untuk GKJW :

  • Menyiapkan donat polosan
  • Menyiapkan hiasan untuk kue donat, seperti: meses warna-warni, margarin, butter cream aneka warna dll. Bahan hiasan ini disesuaikan dengan yang ada di jemaat masing-masing.

Lagu Tema: Jangan lelah bekerja di ladangnya Tuhan.


TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA

Tujuan:

  1. Anak dapat menceritakan kisah singkat tokoh GKJW yang bernama Drijo Mestoko menghadapi pergumulan di jamannya dengan meneladani Yesus Kristus.
  2. Anak dapat mencirikan sikap bertahan terhadap pencobaan sebagai respon iman.

Alat Peraga : Cerita bergambar tentang Driyo Mestoko (ada di CD Peraga)

Pendahuluan
Adik-adik selamat pagi. Gereja kita apa namanya ya? GKJW benar sekali. Sekali lagi katakan G.K.J.W.

Nah sekarang siapa yang sedang berulang tahun? Umur berapa? Nah gereja kita juga sedang berulang tahun loo.. Sekarang umurnya 89.

Kita bisa memberi hadiah apa ya?

Taukah kalian, ada tokoh GKJW yang luar biasa. Ia mempersembahkan hidupnya sebagai kado untuk GKJW. Ia bernama Driyo Mestoko. Wah bagaimana caranya? Yuk, kita dengar ceritanya.

Inti Penyampaian
Pamong bercerita menggunakan gambar kisah hidup Driyo Mestoko (Ada di CD peraga)

Gambar 1: Driyo Mestoko lahir.
Driyo Mestoko dilahirkan di Kertorejo dari pasangan: Guru Injil R.Simsim Mestoko (putera Karolus Wiryoguno) dan R.Ngt. Djasminah pada 30 Januari 1884. Putera sulung Guru Injil Ngoro ini, dipersiapkan dan dididik ayahnya untuk masuk dalam pendidikan guru di Mojowarno.

Gambar 2 : Driyo Mestoko sekolah. – Driyo Mestoko dimasukkan orang tuanya dalam sekolah pendidikan guru di Mojowarno.

Gambar 3 : Driyo Mestoko jadi pendeta Jawa pertama di Mojowarno.
Karena kepribadian yang bagus: disiplin, ulet, berani dan seorang pembelajar. Maka pada tahun 1912, ia dibutuhkan (dipinjam) oleh Zending Salatiga untuk menjadi Guru di Sekolah Pendidikan Guru di Tingkir, Salatiga milik Zending Salatiga (Jawa Tengah). Selain itu, Driyo Mestoko juga sering pergi ke Yogyakarta dalam kaitannya dengan Zending Gereja Gereformeerd. Di sana ia berkenalan dengan Ds. H. Bakker, Pendeta Utusan dan dosen di Sekolah Theologia di Yogyakarta. Dari Ds. H. Bakker inilah Driyo Mestoko memperoleh banyak pengetahuan tentang Gereja. Driyo Mestoko juga aktif di banyak kegiatan. Kemudian, Driyo Mestoko dan kawan-kawannya mengusulkan agar Mojowarno menjadi jemat mandiri. Lalu dipilihlah Driyo Mestoko sebagai Pendeta Jawa Pertama di Jemaat Mojowarno dan pertama di Jawa. Driyo Mestoko terpilih menjadi Pemimpin Gereja IV (1940–1946).

Gambar 4 : Driyo Mestoko dipenjara.
Lalu pada masa penjajahan Jepang, GKJW mengalami tekanan sangat berat dari pemerintah Jepang. Hal itu menyebabkan terjadinya perpecahan dalam tubuh GKJW yaitu menjadi GKJW dan RPK (Raad Pasamuwan Kristen). Pada saat itu RPK merasa didukung oleh pemerintah Jepang. Dalam kondisi demikian, Driyo Mestoko berani ambil resiko memutuskan untuk menahbiskan pendeta pertama Bali, yaitu Made Rungu pada 24 Nopember 1943, di gedung Gereja Mojowarno dengan penanggung jawab penuh dari Greja Kristen Jawi Wetan. Setelah itu, Driyo Mestoko difitnah bersekutu oleh sekutu dan berakibat dia disiksa sampai gegar otak, dipenjara sampai kemerdekaan RI.

Gambar 5 : Driyo Mestoko wafat.
Pada 5 September 1950 GKJW berduka karena sang tokoh dipanggil menghadap Khaliknya. Dia dimakamkan di tanah kelahirannya Desa Kertorejo, Kecamatan Ngoro, Jombang.

Penerapan
Driyo Mestoko orangnya ulet, tegas, disiplin, rajin belajar datn senang berpelayanan di gereja. Ia juga sabar meskipun di penjara dan disiksa. Kalian bisa mencontoh sikap hidupnya. Orang yang tekun akan berhasil hidupnya. Mari kita rajin belajar, rajin membantu orang tua di rumah, rajin berdoa: mendoakan gereja, teman-teman, pamong, majelis dan semua warga serta rajin beribadah di Gereja. Itu adalah bagian yang bisa kita lakukan sebagai kado untuk GKJW yang sedang berulang tahun ini.

AKTIVITAS: Menusuk gambar dan menghiasnya.

  • Gambar Driyo mestoko digandakan sejumlah anak
  • Stik es, lem, karton, sedotan pop es

Caranya: Menusuk gambar Driyo Mestoko sampai lepas dari kertasnya. Lalu gambar tersebut dihias dan dibingkai dengan stik es atau sedotan.


TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA

Tujuan :

  1. Anak dapat menceritakan kisah singkat tokoh GKJW yang bernama Drijo Mestoko menghadapi pergumulan di jamannya dengan meneladani Yesus Kristus.
  2. Anak dapat mencirikan sikap bertahan terhadap pencobaan sebagai respon iman.
  3. Anak dapat mencontohkan sikap bertahan dalam iman menghadapi pergumulan.

Alat Peraga: Cerita bergambar kisah Driyo Mestoko ( Ada di CD peraga)

Pendahuluan
Adik-adik selamat pagi. Gereja kita apa namanya ya? GKJW benar sekali. Sekali lagi katakan G.K.J.W.

Nah sekarang siapa yang sedang berulang tahun? Umur berapa? Nah gereja kita juga sedang berulang tahun loo.. Sekarang umurnya 89.

Kita bisa memberi hadiah apa ya?

Taukah kalian, ada tokoh GKJW yang luar biasa. Ia mempersembahkan hidupnya sebagai kado untuk GKJW. Ia bernama Driyo Mestoko. Wah bagaimana caranya? Yuk, kita dengar ceritanya.

Inti Penyampaian
Pamong bercerita menggunakan gambar kisah hidup Driyo Mestoko (Ada di CD peraga)

Gambar 1 : Driyo Mestoko lahir.
Driyo Mestoko dilahirkan di Kertorejo dari pasangan: Guru Injil R.Simsim Mestoko (putera Karolus Wiryoguno) dan R.Ngt. Djasminah pada 30 Januari 1884. Putera sulung Guru Injil Ngoro ini, dipersiapkan dan dididik ayahnya untuk masuk dalam pendidikan guru di Mojowarno.

Gambar 2 : Driyo Mestoko sekolah.
Driyo Mestoko dimasukkan orang tuanya dalam sekolah pendidikan guru di Mojowarno.

Gambar 3 : Driyo Mestoko jadi pendeta Jawa pertama di Mojowarno.
Karena kepribadian yang bagus: disiplin, ulet, berani dan seorang pembelajar. Maka pada tahun 1912, ia dibutuhkan (dipinjam) oleh Zending Salatiga untuk menjadi Guru di Sekolah Pendidikan Guru di Tingkir, Salatiga milik Zending Salatiga (Jawa Tengah). Selain itu, Driyo Mestoko juga sering pergi ke Yogyakarta dalam kaitannya dengan Zending Gereja Gereformeerd. Di sana ia berkenalan dengan Ds. H. Bakker, Pendeta Utusan dan dosen di Sekolah Theologia di Yogyakarta. Dari Ds. H. Bakker inilah Driyo Mestoko memperoleh banyak pengetahuan tentang Gereja. Driyo Mestoko juga aktif di banyak kegiatan. Kemudian, Driyo Mestoko dan kawan-kawannya mengusulkan agar Mojowarno menjadi jemat mandiri. Lalu dipilihlah Driyo Mestoko sebagai Pendeta Jawa Pertama di Jemaat Mojowarno dan pertama di Jawa. Driyo Mestoko terpilih menjadi Pemimpin Gereja IV (1940–1946).

Gambar 4 : Driyo Mestoko dipenjara.
Lalu pada masa penjajahan Jepang, GKJW mengalami tekanan sangat berat dari pemerintah Jepang. Hal itu menyebabkan terjadinya perpecahan dalam tubuh GKJW yaitu menjadi GKJW dan RPK (Raad Pasamuwan Kristen). Pada saat itu RPK merasa didukung oleh pemerintah Jepang. Dalam kondisi demikian, Driyo Mestoko berani ambil resiko memutuskan untuk menahbiskan pendeta pertama Bali, yaitu Made Rungu pada 24 Nopember 1943, di gedung Gereja Mojowarno dengan penanggung jawab penuh dari Greja Kristen Jawi Wetan. Setelah itu, Driyo Mestoko difitnah bersekutu oleh sekutu dan berakibat dia disiksa sampai gegar otak, dipenjara sampai kemerdekaan RI.

Gambar 5 : Driyo Mestoko wafat.
Pada 5 September 1950 GKJW berduka karena sang tokoh dipanggil menghadap Khaliknya. Dia dimakamkan di tanah kelahirannya Desa Kertorejo, Kecamatan Ngoro, Jombang.

Penerapan
Apakah anak-anak pernah punya masalah dengan teman di Gereja? Bagaimana cara kalian menghadapinya? Apakah akan membuat kalian menjadi malas ke gereja atau tidak?

Driyo Mestoko tadi meskipun mengalami kesusahan tetapi tetap tabah dalam pelayanan. Ia tidak malas ke gereja tetapi kita tetap semangat. Nah coba ceritakan bagaimana cara kalian menghadapi masalah?

  • Aktivitas
    Bahan: Foto Driyo Mestoko dicetak seukuran setengah halaman HVS, digandakan sejumlah anak.
  • Stik es krim, sedotan, beberapa hiasan dan pita.
  • Lem kayu dan lem serbaguna (aibon)

Tulislah cerita tentang cara kalian menyelesaikan persoalan di balik foto Driyo Mestoko. Kalau sudah selesai silahkan membuat bingkai dari stik es krim atau dari sedotan.

Lagu Tema : Jangan lelah bekerja di ladangnya Tuhan.

Yang harus disiapkan anak madya untuk minggu depan: Anak bertanya kepada orang tuanya tentang siapakah nama kakek dan neneknya, nama ayah dan ibunya, nama saudaranya kandung. Form seperti ini dibagikan ke anak-anak madya untuk dibawa Minggu depan.

  • Nama Nenek: ___
  • Nama Kakek: ___
  • Nama Ayah: ___
  • Nama Ibu: ___
  • Nama Saudara Kandung: ___
  • Nama Bude & Pakde: ___
  • Nama Paklik/ Om & Bulik/ Tante: ___

Renungan Harian

Renungan Harian Anak