Memulihkan Hubungan Tuntunan Ibadah Remaja 22 April 2018

Bacaan : Yohanes 8 : 2-11
Tahun Gerejawi : Paskah 4

Tema : Tuhan Memulihkan
Tujuan :

  1. Anak dapat menceritakan tentang ki-sah pengampunan Yesus terhadap perempuan yang berdosa.
  2. Anak dapat menyebutkan perilaku yang harus dikem-bangkan untuk bisa memaafkan orang lain.
  3. Anak dapat menyebutkan hambatan-hambatan dalam mengampuni orang lain.

Lagu Tema : Kidung Jemaat 467 “Tuhanku bila hati kawanku”

PENJELASAN TEKS ( Untuk Pamong ):
Satu hal yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana Tuhan Yesus “membungkuk dan menulis dengan jarinya di tanah” seakan tidak memperdulikan atau tidak ingin menanggapi keusilan orang-orang itu (ay. 6). Atau bisa diartikan bahwa Tuhan Yesus malu karena perbuatan-perbuatan mereka seperti yang disaksikan Yeremia 17:13, yang merasa paling benar tetapi malah jauh dari sumber air hidup.
Hukuman bagi orang-orang yang berkedapatan berzinah adalah hukuman mati (Imamat 20 : 10) dan harus dilenyapkan (Ulangan 22 : 22-24). Tentu ini bertentangan dengan tujuan Tuhan Yesus hadir ke dunia. Sebab ia hadir bukan untuk membawa kebinasaan tetapi malah membawa kehidupan ( Yohanes 3:16). Tetapi jika perempuan itu dibela, maka Tuhan Yesus akan berseberangan langsung dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi dan akan dihukum. Akhirnya, setelah didesak, Tuhan malah menyuruh mereka utuk introspeksi diri sebelum menghakimi orang lain (ay. 7).

Nasehat Tuhan Yesus, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (ay. 11) inilah yang menguatkan. Tuhan Yesus ingin supaya hidup manusia semakin membaik tak bercacat tidak mengulangi lagi kesalahan (lih. Ibrani 10 : 20). Karena lebih berbahaya jika sudah tau salah masih ngeyel!

PERSIAPAN CERITA:
Persiapkan kertas-kertas kecil dan alat tulis. Serta sebuah lilin, atau bara. Jika tidak memungkin bisa disediakan gunting.

CONTOH CERITA
Sebelum cerita dimulia, bagikan kertas yang telah dipersiapkan dan ajak anak melakukan kegiatan berikut:

  1. Menuliskan nama orang-orang yang mereka benci, orang-orang yang pernah menyakiti hati mereka, yang telah membuat mereka kecewa.
  2. Tidak perlu disebut nama, tetapi tanyakan apa alasan mereka menuliskan nama-nama tersebut?
  3. Tanyakan kemungkinan mereka untuk memberikan pengampunan pada nama-nama yang tertera?
  4. Lalu kumpulkan apa saja hambatan ketika ingin mengampuni yang lain itu.
  5. Kemudian, beri kesempatan anak-anak untuk melipat dan menyimpan kertas tersebut.
    Anak-anak yang dikasihi Tuhan, apakah kalian pernah melihat peristiwa orang yang dikeroyok karena mencuri atau merampok? (beri kesempatan anak utuk berbagi)

Lalu, ajak anak membaca bacaan kita dengan sedikit mendramatisir. Dengan mata terpejam mereka mendengarkan penuturan pamong. Dengan harapan anak-anak menghayati situasi tersebut.

“Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Awalnya, para ahli Taurat dan orang Farisi itu membawa perempuan itu untuk mengetahui bagaimana reaksi Tuhan Yesus . Seperti biasa mereka ingin mencobai Yesus dan mencari kesalahan-Nya. Tetapi Tuhan Yesus, entah karena malu atau tidak perduli, “membungkuk dan menulis dengan jarinya di tanah” (ay. 6). Tuhan Yesus malu karena mereka yang memahami semua isi janji Tuhan, harus datang kepadanya untuk meminta pendapat. Bahkan tidak perduli, karena Ia tahu bahwa mereak ini hanya ingin menjebak Tuhan Yesus. Ia seakan tidak ingin menaggapi permainan mereka.

Karena, didesak, Tuhan Yesus memberikan jawaban-Nya (ay. 7) dan kembali membungkuk menulis di tanah. Apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus? “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Melalui perkataan ini, Tuhan Yesus ingin supaya mereka mau introspeksi diri sebelum menghakimi orang lain. Ternyata cara ini efektif untuk membungkam orang-orang itu dan meninggalkan perempuan itu yang masih terpaku di tempatnya (ay. 9). Bagi perempuan itu, kedapatan berzinah saja sudah memalukan, belum lagi jika harus diarak dan dilontari cacian. Lebih parah lagi bila hukuman sudah dijatuhkan, yakni hukuman lempar batu. Dengan demikian, orang-orang tersebut merasakan ketidak-sempurnaannya dan perempuan itu mendapatkan pengampunan dan kekuatan untuk memperbaiki kehidupannya. Nasehat Tuhan Yesus menutup bacaan kita dengan sangat bijak dan halus, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (ay. 11)

Tuhan Yesus juga mengajarkan sebuah doa yang mengingatkan betapa pentingnya mengampuni itu. Doa itu adalah bagian dari Doa Bapa Kami yang demikian: “dan ampuni kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” ( Matius 6 : 12 ). Secara tidak langsung, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa ketika ingin kesalahan kita diampuni, maka kita terlebih dahulu mengampuni orang lain.

Dengan demikian, Tuhan Yesus ingin supaya hidup manusia semakin membaik tak bercacat tidak mengulangi lagi kesalahan. Tidak serta merta menjatuhkan tuduhan dan vonis hukuman terhadap orang lain yang melakukan kesalahan. Sehingga hubungan antar manusia menjadi semakin baik. Kita sebagai manusia tidak ada yang sempurna dan masih membutuhkan manusia lainnya. Dengan menerima kekurangan dan berjalan maju bersama akan membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Anak-anak, sehingga tidak perlu ada lagi penghakiman masa yang berujung pada anarki bahkan berujung pada jatuhnya koban jiwa. Hal ini dimulai jika kita mau mengampuni dan berusaha hidup lebih baik serta tidak mengulangi kesalahan. Tuhan akan membantu untuk memulihkan. Amin.

CONTO CARIYOS (Basa Jawi)
Sakderengipun milai cerita, bocah-bocah didumi kertas sing disiapne lan dipun ajak nindakaken kegiatan ingkan mekaten:

  1. Nuliske jeneng-jenenge wong kang disatru, sing nate nglarani ati lan sing gawe kuciwa
  2. Boten perlu kasebut asamnipun, nanging ditakoni apa alasane nulis jeneng-jeneng mau.
  3. Bocah bocah ditakoni, opo mungkin yen wong-wong mau kapura salahe?
  4. Yen angel, kena apa kok bisa angel? Opo wae kang njalari bocah-bocah ora iso ngapura?
  5. Lajeng, bocah-bocah diutus nglempit kertas mau lan nyimpen kanthi gemati..

Bocah-bocah kang ditresnani Gusti, apa sampean kabeh nate ngerti wong sing di keroyok merga nyolong? (bocah-bocah dipun ajak ngaturaken pendapatipun)

Lajeng, Lalu, ajak anak membaca bacaan kita dengan sedikit mendramatisir. Dengan mata terpejam mereka mendengarkan penuturan pamong. Dengan harapan anak-anak menghayati situasi tersebut.

Wiwitane, para ahli Taurat lan wong Farisi ngarak wong wadon kang laku zina sowan ing ngarsanipun Gusti Yesus. Awit kepengin ngerti pripun wangsulanipun Gusti Yesus bab ukuman kang pasa kanggo wong wadon mau. Koyo padhatane, wong-wong mau pengen goleki lepatipun Gusti Yesus. “Nanging Gusti Yésus tumungkul waé, karo nyerat ing lemah ngagem driji.” (ay. 6). Gusti Yesus rumaos isin, amarga wong-wong mau, sing kudune ngerti bab janji prasetyanipun Gusti malah nyuwun pirsa bab kang cetha. Malah, Gusti Yesus mboten preduli, awit mangertos yen wong-wong mau pengen njegal Panjenenganipun. Gusti ora kersa nanggepi wong-wong mau.

Amarga kadeseg, Gusti Yesus tumuli paring wangsulan, lajeng tumungkul malih, nyerat ing siti. (ay. 7) Coba Gusti Yesus paring wangsulan apa? “Sapa ing antaramu sing ora duwé dosa, ndhisikana mbenturi watu marang wong wadon kuwi.”

Kanthi dhawuh ngono kui, Gusti Yesus pengen yen saben wong mau gelem introspeksi diri sakdurunge ngukum liyane. Jebule cara kui mau malah kasil bungkem wong-wong mau lan ninggalne wong wadon mau pancen ing panggonane (ay. 9). Kanggo wong wadon kui mau, konangan laku zina wes ngisin-ngisini, opo maneh yen kudu kaarak lan diece. Luwih nemen maneh yen ukuman mbenturi watu sido kalaksanan. Kamngka iku, wong-wong mau ngrakane yen awake iya ora sampurna lan wong wadon kasil kaapura. Wong wadon mau uga oleh kekiyatan kanggo ndandani uripe. Pangandikane Gusti Yesus nutup wacan kita kanti wicak lan alus, “… Wis lungaa, lan aja gawé dosa menèh” (ay. 11)

Gusti Yesus ugi mulangne pandonga kang ngelingke bab paring pangapura kang wigati. Pandonga mau dadi perangane Pandonga Rama Kawula, sing mangkene unine : Kalepatan kawula mugi Paduka apunten, kados déné kawula inggih ngapunten tiyang-tiyang ingkang sami damel kalepatan dhateng kawula. ( Matheus 6 : 12 ). Yen wes mangkono, Gusti Yesus mulangake yen awakdewe pengen kaluputan kita kaapura, mila, kita kudu luwih disik ngapura wong liya.

Gusti Yesus ngersakne bilih kawontenane manungsa kuwi luwih apik lan ssampurna lan ora nglakoni salah maneh. Kita ugi ora iso kanthi sawiyah wiyah ndakwa ukuman marang liyan kang laku salah. Mila, sesambungan antarane manungsa kudu tansaya rukun. Manungsa pancen ora sampurna lan isih mbutuhne manungsa liyane. Kanthi narima kurange liyan lan mlaku bareng lan bakal gawa urip luwih kepenak.

Bocah-bocah, mulane ora perlu maneh ana pangukuman masa kang pungkasane malah ana korban nyawa. Bab iki kawiwitan yen kita gelem ngapura lan ngupaya urip luwih becik sarta ora mbaleni tindak luput. Gusti bakal paring kekiyatan lan pulihing urip. Amin.

AKTIVITAS
Ajak anak-anak untuk mengambil kerta yang disimpan sebelumnya itu. Lalu dengan tetap menggenggam kertas tersebut, ajak mereka berdoa untuk memohon kekuatan dan hikmat Tuhan supaya bisa mengampuni orang orang itu, demi kebaikan kehidupan bersama. Setelah berdoa, ajak anak-anak untuk membakar kertas tersebut dengan lilin yang disediakan atau di sobek-sobek hingga lembut tidak terbaca.


Gambar: Cristo e a mulher adúltera by Rodolpho Bernardelli
Public Domain Copyright
Foto by Ricardo André Frantz

 

Bagikan Entri Ini: