Bacaan Alkitab: Roma 16: 17-20
Tahun Gerejawi: Bulan Pembangunan GKJW
Tema: Pelayanan Gerejawi
Tujuan:
- Anak dapat menceritakan nasihat Paulus pada jemaat Roma.
- Anak dapat menceritakan sejarah hari pembangunan GKJW.
- Anak dapat membuat tata ibadat Minggu bagi remaja.
- Anak dapat berlatih melayani ibadat Minggu remaja.
Ayat Hafalan: Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; (Roma 12: 7a)
Lagu Tema:
- Kidung Ria 156: 1-3 “Melayani Lebih Sungguh”
- Kidung Jemaat no. 256: 1-3 “Kita Satu dalam Tuhan”
- Kidung Jemaat no 249: 1-3 “ Serikat Persaudaraan”
PENJELASAN TEKS[1]
Dalam teks yang menjadi bagian penutup surat Paulus kepada jemaat di Roma, yang merupakan surat yang berisikan teologi Paulus yang cukup matang, secara tegas diberi judul “Peringatan”. Bagian ini, selain berisi nasehat Paulus yang tajam (ayat 17-18), juga berisi penghargaan terhadap iman jemaat Roma (19-20).
Ayat 17, secara tegas Paulus menegaskan untuk waspada dan menghindari terhadap orang-orang yang menentang pengajaran yang telah mereka terima, yang menimbulkan perpecahan dan godaan. Hal ini disampaikan untuk menghindarkan mereka dari kesusahan dan kekacauan yang harus mereka tanggung bila ada orang yang demikian di antara mereka, terlebih dalam konteks iman mereka yang baru mengenal Kristus. Meskipun demikian, nasehat ini tidak bertentangan dengan nasehat dalam Roma 15:7 yaitu “terimalah satu akan yang lain”, karena nasehat ini didasarkan dalam tujuan “sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (pasal 15:6). Hati dan sikap mereka yang menimbulkan perpecahan dan godaan berlawanan dengan tujuan persatuan jemaat, sehingga Paulus menasehatkan agar jemaat Roma menghindari mereka.
Ayat 18, menjelaskan lebih lanjut alasan mengapa Paulus menasehatkan agar jemaat Roma waspada. Paulus menyatakan bahwa orang-orang ini memiliki tujuan dan cara yang menyesatkan dan memecah-belah persekutuan. Tujuan mereka bukan untuk melayani Tuhan Yesus Kristus, tetapi melayani perut mereka sendiri, mereka mengutamakan kepentingan mereka sendiri. Mereka memakai kata-kata yang muluk-muluk dan manis untuk menipu orang yang tidak waspada. Paulus menasehatkan jemaat Roma untuk waspada terhadap mereka yang hanya mementingkan diri mereka sendiri, yang tidak memiliki ketulusan yaitu yang berjiwa penipu terlebih yang suka memecah-belah jemaat.
Ayat 19, berbeda dengan dua ayat sebelumnya yang berisi peringatan dan nasehat. Dalam ayat ini Paulus menyampaikan sukacita tentang ketaatan iman jemaat Roma yang telah terdengar kabarnya oleh semua orang. Pujian dan penghargaan Paulus kepada jemaat Roma dalam ayat ini menegaskan apa yang tertulis dalam Roma 1: 8 yaitu , “Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku melalui Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia.” Dan surat Roma ini ditulis bukan dalam rangka memberi peringatan akan ketidaktaatan jemaat Roma tetapi memberi pujian dan menguatkan iman mereka terhadap orang-orang yang hendak menipu dan memecah-belah mereka.
Paulus menegaskan agar jemaat Roma memiliki kebijaksanaan terhadap yang baik dan bersih terhadap yang jahat. Apa yang dinyatakan oleh Paulus ini, serupa dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 10: 16 yaitu “…hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”
Ayat 20, memberi ketegasan akan janji Allah mengenai kemenangan Allah dalam Tuhan Yesus yang akan menghancurkan Iblis. Bahwa dalam iman kepada Allah maka jemaat akan meremukkan Iblis di bawah kakinya. Allah akan menang!
Bagian akhir ayat ini, seperti semua akhir dalam surat-suratnya Paulus menuliskan salam kasih karunia yang ia tulis dengan tangannya sendiri. Agar kasih karunia Tuhan Yesus menyertai jemaat.
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
- Tanyakan kepada remaja, apakah mereka sering mendapat nasehat dari orang tua mereka? Minta mereka menyebutan nasehat apa saja yang sering diberikan oleh orang tua mereka. Selain dari orang tua, tanyakan siapa saja orang-orang yang sering memberi nasehat kepada mereka. Minta mereka menyebutkan apa saja nasehat tersebut.
- Tanyakan kepada remaja, apakah mereka sering mendapat pujian? Dari siapa sajakah pujian tersebut? Tanyakan kepada remaja, bagaimana perasaan mereka ketika mendapat nasehat? Dan juga tanyakan bagaimana perasaan mereka ketika mendapat pujian.
- Ajak remaja membaca bersama Roma 16: 17-20!
- Ajak remaja melakukan aktivitas!
- Sampaikan cerita dalam Penjelasan Teks dan Aplikasi!
- Tanyakan kepada remaja, apakah mereka mengetahui tentang Bulan Pembangunan GKJW? Jika ada diantara mereka yang mengetahui, minta untuk menceritakan apa yang mereka tahu.
- Pamong menyampaikan Ilustrasi!
- Secara bersama-sama minta remaja mengucapkan ayat hafalan: Roma 12: 7a : “Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani”.
ILUSTRASI
Pada saat Perang Dunia ke-2 mulai berkecamuk di daratan Eropa sejak tahun 1939, aliran dana sub-sidi dari NZG juga mulai tersendat-sendat. Tanggal 10 Mei 1940 Jerman menyerbu Belanda. Dalam waktu 5 hari seluruh negeri Belanda berhasil dikuasai Jerman. Perang ini merembet ke Asia. Jepang yang sangat berambisi menguasai Asia merasa mendapat kesempatan dengan berkobarnya perang di Eropa. Tanggal 8 Desember 1941 Jepang menggempur pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour — Hawai. Tanggal 8 Maret 1942 seluruh kekuasaan Hindia Belanda jatuh tanpa syarat. Dana subsidi dari NZG macet total. GKJW mulai kelabakan.
Pemerintahan di Indonesia sementara mengalami kekosongan karena masih sedang terjadi transisi kekuasaan dari pihak Belanda ke pihak Jepang. Kekosongan ini dimanfaatkan oleh kelompok-ke-lompok massa tertentu untuk melakukan tindakan anarki, sehingga menimbulkan keresahan. Ke-lompok ini menganggap bahwa orang-orang China dan orang-orang Kristen adalah orang-orang yang kalah perang. Orang China dianggap kalah perang karena bangsa China baru saja dikalahkan Jepang pada tahun 1938. Sedangkan orang Kristen dianggap anteknya Belanda yang juga baru dikalahkan oleh Jerman dan Jepang. Mereka beranggapan bahwa dari orang-orang yang kalah perang itu bisa diperoleh barang-barang jarahan.
Ketika terjadi penjarahan di rumah-rumah orang China di Ngoro — Jombang, segera warga GKJW memberikan pertolongan dan menampung para korban di gedung Sekolah Kristen. Namun tindakan ini malah memicu kemarahan para penjarah sehingga orang-orang Kristenpun dijadikan sasaran penjarahan dan penganiayaan. Kerusuhan ini dipadamkan oleh penguasa militer Jepang dari Jom-bang. Tetapi peristiwa ini terlanjur menyulut rasa was-was di kalangan Kristen, sehingga desa-desa Kristen di sekitar Ngoro melakukan siaga. Mereka memasang barikade dari kayu, bambu dan pohon salak untuk menghalang-halangi orang asing masuk ke desa mereka. Pada malam hari para jompo, perempuan dan anak-anak tidur di kebun yang agak jauh dari rumah. Memang setelah Jepang bisa berkuasa penuh, keadaan berangsur aman dari para penjarah. Namun keadaan ini belum bisa me-mulihkan kemunduran kehidupan berjemaat di GKJW. Penguasa militer Jepang juga melakukan penyitaan senjata-senjata api rakitan yang dighunakan penduduk untuk berburu celeng. Padahal di Rejoagung, Sidorejo dan Sidoreno senjata-senjata ini juga dipakai untuk mengusir hama celeng, maka tidak lama kemudian hama celeng kembali me-wabah dan menghancurkan hasil sawah serta kebun petani. Ditambah lagi fitnahan dari orang-orang yang benci kepada Kekristenan, mereka meniupkan isu bahwa orang-orang Kristen akan melakukan pemberontakan dengan menggunakan tombak yang banyak di simpan oleh penduduk. Tombak ini sebenarnya dipakai sebagai pengganti senjata api untuk mengusir celeng. Para pemilik tombak ditangkap dan diinterogasi. Sebagian aparat yang tidak suka dengan kekristenan bukan hanya menyita tombak, tetapi juga Alkitab. Banyak warga GKJW yang menyembunyikan Alitabnya dengan cara menanam di tanah. Pada hari Minggu, orang kristen tidak berani lagi beribadah ke gereja.
Militer Jepang juga mengadakan antisipasi serangan Sekutu di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa. Penduduk di sekitar pantai dipaksa pindah tempat tinggal, karena wilayah itu dinyatakan sebagai daerah militer. Nelayan dan petambak terpaksa kehilangan mata pencaharian tanpa ganti rugi. Kubu-kubu dan parit-parit pertahanan didirikan. Jalur-jalur transportasi militer dibangun tanpa mem-pedulikan bangunan rumah penduduk atau lahan sawah yang sudah ada. Militer Jepang menerjang dan membongkarnya begitu saja. Desa-desa Kristen yang berada di sepanjang daerah militer segera merasakan dampak langsung yang sangat merugikan itu. Terjadi ledakan jumlah pengangguran, namun itu tidak berlangsung lama karena tenaga mereka segera dimanfaatkan untuk kerja romusha. Mereka dipaksa bekerja keras tetapi dengan upah yang sangat kecil, sehingga para pekerja dan juga penduduk terpaksa menggunakan pakaian yang dibuat dari bekas karung goni. Banyak yang tewas karena kelelahan, kekurangan gizi dan wabah penyakit.
Dalam masa sengsara ini, segala bentuk pertemuan atau rapat sipil dilarang keras, maka selama itu tidak ada koordinasi yang bisa dilakukan oleh jemaat maupun Majelis Agung. Komunikasi antar jemaat maupun dengan Majelis Agung sangat sulit dilakukan. Para pemimpin gereja mencoba mencari jalan keluar dari kemelut agar GKJW tetap bisa terselamatkan, tetapi menemui hambatan yang sangat besar dan berat. Pada saat-saat genting seperti itu, di Surabaya muncul warga GKJW ber-nama Kastiyan yang mempunyai ide pendekatan kepada pemerintah Jepang. Dia adalah mantan pegawai Pdt. S.A.v. Hoogstraten. Pdt. Hoogstraten pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Agung periode 1936 — 1940 dan saat itu sedang ditahan oleh pihak Jepang.
Untuk merealisasikan idenya itu Kastiyan mengusulkan kepada Pdt. Driyo Mestoko selaku Ketua MA di Malang waktu itu agar gereja menyatakan sikap simpati dan loyalitasnya kepada peme-rintahan Jepang dengan dalih untuk memenuhi bunyi surat Roma 13:1-7. Maksudnya adalah supaya gereja mudah memperoleh bantuan dan fasilitas yang diperlukan. Usul ini ditolak oleh pengurus harian MA dengan alasan penguasa Jepang adalah tentara pendudukan dalam masa perang. Namun di balik semua itu sebenarnya di tubuh MA sendiri diam-diam sedang terjadi selisih paham di antara tokoh-tokohnya. Mungkin tujuannya sama baiknya, yaitu menyelamatkan GKJW
Jepang yang menjadi over-protecive sejak kalah dalam pertempuran di Kepulauan Solomon, tidak mau kecolongan. Segera dilakukan rentetan penangkapan terhadap para pendeta yang dicurigai sebagai kaki-tangan Sekutu. Penangkapan ternyata dilakukan tanpa pandang-bulu. Pendeta-pendeta yang menjadi anggota RPK-pun tidak luput dari penangkapan itu. Rangkaian interogasi digelar, bahkan dengan disertai penganiayaan dan penyiksaan fisik. Keadaan mencekam. Keluarga para pendeta dihantui kekuatiran dan ketakutan. Bahkan ada istri pendeta yang sampai mengalami stress berat hingga akhir hayatnya. Karya dogmatik Schuurman berjudul: “Pambiyake Kekeraning Ngaurip” dianggap oleh Jepang seba gai dokumen rahasia yang akan disampaikan kepada Sekutu, sehingga dijadikan fokus penyelidikan. Para pendeta diinterogasi terkait dengan dokumen tersebut. Hasil pengusutan Jepang menemukan bahwa setelah selesai menuliskan karya tersebut, Schuurman menyerahkan naskahnya kepada Pdt. Mardjo Sir supaya diteruskan kepada Pdt. Driyo Mestoko. Selanjutnya, naskah diterima oleh Pdt Nugroho untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa. Sebelum pergi ke rumah Pdt. Nugroho di Probolinggo, terlebih dulu Pdt Drijo Mestoko mampir ke rumah Pdt. Sarodjo. Berdasarkan riwayat perjalanan naskah ini maka ditetapkanlah ke-lima pendeta tadi sebagai tersangka utama dan akhirnya dijatuhi hukuman mati, yang kemudian diperingan menjadi hukuman seumur hidup.
Selama proses penyelidikan, korban terlanjur berjatuhan. Dari lingkungan pendeta setidaknya ter-dapat lima korban tewas akibat penganiayaan, yaitu Pdt. Schuurman, Pdt. Oerip Sihardjo, Pdt. Djaman, Pdt. J. Matheus Jr. dan Pdt. Sudihardjo. Dari keluarga pendeta, Ibu Mulyodihardjo mening-gal akibat stress berat akibat penangkapan suaminya. Kastiyan lari menyelamatkan diri, bersem-bunyi dan menyamar sebagai santri. Pendeta-pendeta pro-RPK yang belum ditangkap menyatakan RPK bubar, bahkan sebagian mengingkari bahwa RPK pernah ada. Suasana semakin mencekam.
Dua orang anggota pengurus harian MA yang masih selamat, yaitu M. Poeger (Sekretaris) dan M. Poertjojo Gadroen (Bendahara) segera melakukan langkah darurat. Mereka menyatakan bahwa MA masih tetap berdiri dan mereka untuk sementara menangani jalannya pengurus harian MA. Artinya, mereka berdua bertanggung-jawab atas keberadaan pengurus harian MA. Setelah Pdt. Driyo Mes-toko dibebaskan seusai perang dunia, kedua orang itu mengembalikan tampuk pimpinan MA ke-padanya. Nyatalah bahwa Tuhan Allah masih menyelamatkan GKJW. Kita patut mensyukurinya.
Pada bulan Oktober 1945 diselenggarakan Sidang MA Darurat di Jemaat Wiyung yang berlangsung hanya satu hari. Suasana sidang sungguh kaku, karena sebagian besar peserta masih trauma de-ngan kasus RPK. Nuansa saling mencurigai satu sama lain masih sangat terasa di kalangan pendeta. Berkat kepiawaian dan keluwesan Pdt. R.I. Iskandar dalam memimpin sidang, suasana kaku agak tercairkan. Pada akhirnya sidang MA waktu itu mengambil keputusan:
- Mengakui dan mendukung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.
- Menyelenggarakan Sidang MA pada tahun 1946 di Mojowarno guna menggariskan langkah-langkah baru GKJW.
Sebelum Sidang MA dilaksanakan pada tahun 1946, terlebih dulu digelar Konferensi Pendeta pada bulan Desember 1945. Pertemuan ini diadakan dengan tujuan mengurangi rasa canggung dan trauma di kalangan pendeta GKJW yang masih diliputi suasana tegang akibat kasus RPK. Dalam pertemuan tersebut dilaksanakan Ibadah Penyesalan dan Pertobatan serta Ungkapan Syukur sambil mengenang para pendeta maupun warga jemaat yang gugur selama penganiayaan oleh Jepang. Sidang MA ke-20 dilaksanakan pada tanggal 6—9 Agustus 1946 di Jemaat Mojowarno. Melalui Akta Sidang no. XV ditetapkan tanggal 6 Agustus 1946 sebagai Hari Pembangunan GKJW. Bagaimana mungkin GKJW sanggup bertahan melewati rintangan yang sedemikian berat apabila Roh Kudus tidak bekerja dari dalamnya? Kita patut mensyukuri karya Tuhan Allah bagi GKJW tercinta ini.
APLIKASI
Kehidupan persekutuan selalu dipenuhi tantangan. Terlebih ketika ambil bagian dalam pelayanan, dibutuhkan ketangguhan dan kesetiaan didalamnya. Rasul Paulus mengingatkan Jemaat di Roma untuk selalu setia, juga waspada terhadap tantangan serta perpecahan yang bisa kapan saja muncul dalam persekutuan dan pelayanan mereka.
Benih perpecahan bukan hanya ada dalam Jemaat Roma, tetapi juga kita hadapi hari ini dalam kehidupan persekutuan kita. Oleh karenanya Rasul Paulus mengingatkan kepada kita untuk bijaksana. Seperti tertulis dalam Matius 10: 16 “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Maksudnya adalah agar dalam kesetiaan dan ketulusan pelayanan kita, kita pun senantiasa waspada terhadap tantangan dan perpecahan.
Dalam bacaan kita hari ini, Rasul Paulus bukan hanya menyampaikan nasehat tetapi juga pujian atas kesetiaan dan iman yang dimiliki oleh Jemaat Roma. Lalu bagaimana dengan kita hari ini, apakah kita layak mendapat pujian karena iman kita?
Apakah hari ini dengan sungguh-sungguh setia dalam pelayanan kita?
AKTIVITAS
Sebutkan nasehat dan pujian yang diberikan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat Roma!
| Nasehat | Pujian |