Paulus Tosari Tuntunan Ibadah Remaja 9 Desember 2018

Bahan Bacaan: Yohanes 1 : 19 – 28
Tahun Gerejawi : HUT GKJW (Advent 2)
Tema : “Tokoh GKJW (Paulus Tosari)”
Tujuan :

  1. Anak dapat mencirikan karakter Yohanes Pembaptis.
  2. Anak dapat mencirikan karakter seorang tokoh GKJW yang bernama Paulus Tosari.
  3. Anak dapat meniru karakter positif dari Yohanes Pembaptis dan Paulus Tosari.

Ayat Hafalan :  “… namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku…” (Galatia 2 : 20a)

Lagu Tema : Spesial Song no. 189. “Hidupku Bukannya Aku Lagi”

Penjelasan Teks:

  1. Injil Yohanes merupakan kitab kesaksian perjalanan Yesus Kristus di dunia. Tetapi tidak seperti ketiga kitab Injil sebelumnya, Injil Yohanes terkesan penuh dengan ungkapan-ungkapan filosofis. Sedangkan penulis Yohanes agaknya tidak memperhatikan urutan peristiwa yang serupa dengan ketiga Injil lainnya dan ada beberapa perbedaan pengkisahan di sana-sini.
  2. Tetapi bacaan kita ini unik, karena kisah dan karya Yohanes Pembaptis beserta pengakuan atas dirinya ini, ternyata dimuat oleh keempat Injil. Semua penulis Injil sepakat bahwa kehadiran sang Mesia harus diawali oleh sosok yang pemberani namun sekaligus rendah hati yakni Yohanes Pembaptis. Sebab dengan berani ia menyerukan berita pertobatan dan mengharuskan mereka untuk dibaptis sebagai tanda penyucian diri (Mat. 3: 2, 6 ; Mrk. 1: 4; Luk. 3: 3, Yoh. 1: 23-26).
  3. Yohanes Pembaptis dengan berani menampilkan diri membawa berita pertobatan seperti nubuatan Nabi Yesaya (Yes. 40: 3), untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Tetapi sekaligus menyadari bahwa dirinya tidak lebih dari seorang pewarta berita kedatangan Tuhan untuk dunia. Karena itu ia tidak mau disebut: ‘Mesias’, ‘Elia’ atau ‘Nabi yang akan datang’ dan mengatakan: “Aku membaptis kamu dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia … yang datang kemudian … Membuka tali kasut-Nya pun aku tak layak” (ay. 26-27).

Langkah-Langkah Penyampaian:

  1. Ajak para remaja membawa perikop hari ini: Yoh. 1 :19-28
  2. Sampaikan perjalanan hidup TOKOH GKJW: PAULUS TOSARI (1812–1882), atau bagikan teks/booklet tentang Paulus Tosari pada remaja.
  3. Ajaklah anak menemukan dan memetakan karakter Yohanes dan Paulus Tosari! Arahkan anak untuk menemukan karakter positif yang dimiliki keduanya. Contoh tabel:

    No Yohenes Pembabtis Paulus Tosari
    1.
    2.
    3.
    dst
  4. Sampaikan Aplikasi pada remaja
  5. Ajaklah Remaja untuk membahan AKTIVITAS
  6. Akhiri dengan doa bersama. Salah satunya pokok doa yang penting adalah ‘keberanian dan kerendahan hati’ para remaja.

Tokoh GKJW: Paulus Tosari

Berasal dari keturunan keluarga suku Madura yang bernama Pak Liyah dari Kedung Turi Surabaya. Nama kecilnya Kasan, setelah dewasa berganti nama Satipah. Jalan hidupnya tak mulus:  berdagang kapuk berkali-kali bangkrut. Suka berjudi sehingga rumah-tangganya berantakan. Seiring dengan bertambahnya usia, Kasan alias Satipah ingin menambah ngelmu ke Coolen, karena mendapat petunjuk dari para murid yang telah berguru kepada Coolen.

“Berbahagialah orang yang miskin, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5: 3) merupakan sabda yang menarik perhatian Pak Satipah, ketika diwejangkan Coolen diantara ajaran Pengakuan Iman Rasuli, Bapa – Anak dan Roh Kudus. Melalui Sabda ini secara berangsur Pak Satipah memulai hidup baru, didukung isterinya yang baru bernama Gadung. Hidupnya berubah 180 derajat. Dengan membuka persawahan baru di Kertorejo (Tragal). Setiap Minggu datang ke Coolen di Ngoro untuk mendengarkan wejangannya, bahkan karena ketekunannya oleh Coolen dihadiahi Perjanjian Baru untuk dibaca sendiri. Oleh Coolen dipercaya untuk melayani pertemuan hari Minggu dan hari Kamis. Bahkan juga berhasil mengatasi pembebasan Wiryosentiko yang ditahan di Madiun, dengan kebijakannya bersaksi kepada Bupati Madiun dan juga bersaksi kepada Wiryosentiko saat dalam penjara, untuk bersedia setia menjadi Kristen. Setelah berkenalan dengan para sahabatnya dari Surabaya dan Wiyung, Pak Satipah baptis tahun 1844 dengan nama baru Paulus Tosari dan isterinya bernama Lidiyah. Selanjutnya menetap di desa kelahirannya Sidokare Sidoarjo sambil tetap mengabarkan Injil ke wilayah Madura, namun kurang mendapat sambutan, bahkan oleh anggota keluarganya sendiri ditolak. Bersama Abisai (Ditotaruno), Paulus Tosari membuka hutan Kracil di timur wilayah hutan Tunggorono, yang selanjutnya diberi nama Mojowarno. Sambil membuka hutan Paulus Tosari bersama Abisai tetap mengajarkan Kekristenan, sampai terhimpun menjadi 56 orang. Kegiatan tersebut banyak mendapat bantuan dari seorang pedagang di Sidokare, Gunsch namanya. Kelahiran perkumpulan Kristen baru di Mojowarno menjadi perhatian NZG, sehingga J.E. Jellesma diutus ke Jawa Timur, pada tahun 1844 tiba di Surabaya, selanjutnya melakukan kunjungan pertama ke Mojowarno pada tahun 1848.

Ternyata persahabatan dan kerjasama antara Abisai Ditotruno dengan Paulus Tosari mengalami hambatan, seiring dengan semakin luasnya hubungan sosial dengan penduduk desa-desa sekitarnya. Kala itu kesenian tradisional “tayuban“ merupakan sarana hiburan yang sedang “naik daun” dan diadakan pada saat perayaan panen, hajatan nikah atau sunatan di daerah Mojowarno dan sekitarnya. Abisai sebagai pemimpin desa mengalami kesulitan untuk menjauhi tradisi tayub tersebut. Sementara itu di sisi lain Paulus Tosari merasakan Tayub merupakan kesenian yang sarat dengan dosa, karena yang melakukan sering lupa diri. Tayuban adalah tari pergaulan yang berupa tarian berpasangan antara laki–laki dan perempuan. Mereka bisa berganti–ganti pasangan. Bahkan diselingi minum–minuman keras, atau adu taruhan untuk menentukan lagu atau gending. Paulus Tosari akhirnya meminta bantuan Pendeta J.E. Jellesma untuk memberikan sanksi hukuman kepada warga Kristen yang ikut Tayuban atau menonton kegiatan tayuban tersebut, agar mereka mau bertobat. Sayangnya upaya ini tidak efektif, banyak yang menjauhi kegiatan Gereja setelah terkena sanksi.

Sampai dengan akhir hayatnya, pada tanggal 21 Mei 1882, Paulus Tosari tetap dengan setia membaktikan dirinya dalam pelayanan di Jemaat Mojowarno. Tahun 1869 ia sempat mendapat tawaran untuk pindah ke Jemaat Surabaya sebagai pemuka, tetapi tawaran itu ditolaknya, karena ia merasa panggilannya adalah melayani di desa Mojowarno. Meskipun secara formal pada tanggal 25 Maret 1851 ia hanya diangkat sebagai pemuka, bukan pendeta, di Jemaat Mojowarno, namun sesungguhnya ia sudah menjalankan tugas-tugas dan fungsi sebagai pendeta bumiputera yang pertama di Jawa Timur. Hal itu bisa dibuktikan dengan hasil pelayanannya, yaitu bahwa sepeninggal Jellesma, sejak April 1859 sampai dengan 30 Agustus 1874 ia sudah memberkati perkawinan 62 pasang mempelai. Sejak 10 Desember 1859 sampai dengan 15 November 1863 ia telah membaptis 33 orang. Dalam usia 70 tahun Paulus Tosari meninggal dunia dalam pelukan kasih Pdt. Kruyt. (dikutip dari buku “Sayalah GKJW”)

Aplikasi

Temuan demi temuan karakter kedua tokoh ini membawa kita masuk lebih dalam menyelami dunia pelayanan dan pengkabaran Injil. Kedua tokoh kita ini berkarya pada masanya masing-masing.

Pertama, Yohanes Pembaptis dikenal sebagai pembawa berita pertobatan karena Tuhan akan segera datang. Karena itu, ia meneriakan, “Bertobatlah! Berikan dirimu dibaptis!” Ia melakukannya sebagai utusan Allah untuk dunia dan dalam melakukannya, ia membutuhkan keberanian dan kerendahan hati. Keberaniaan untuk menyampaikan maksud Allah pada dunia, sepedih apapun itu. Bahkan ada kemungkinan untuk ditolak dunia. Namun sekaligus tetap rendah hati dalam mengemban tugas dari Allah. Ini dibuktikan ketika Yohanes Pembaptis yang tidak dengan sombong mengakui diri sebagai Mesias, Elia atau Nabi terakhir.

Kedua, Paulus Tosari yang adalah salah satu tokoh penting GKJW. Keberaniannya dalam memberitakan Injil dan merintis persekutuan orang Kristen Jawa patut kita teladani. Bahkan ia menjadi salah satu tokoh yang membidani lahirnya GKJW yang telah berusia 87 tahun ini.

Kedua tokoh ini menjadi dasar penting pelayanan di gereja, salah satu yang menonjol adalah keberanian. Keberanian menjadi penting bagi setiap warga jemaat yang turut ambil bagian dalam pelayanan di Gereja, termasuk juga remaja. Keberanian berpelayanan bukanlah hal yang instan, ada proses panjang di dalamnya. Maka remaja perlu mengasah diri memilik keberanian dalam pelayanan. Tak perlu ragu, Tuhan berserta kita, Imanuel! Amin.

Aktivitas

Ajak Remaja terlibat dalam mengisi acara perayaan Natal di jemaat masing-masing. Ajaklah mereka menentukan apa yang akan mereka lakukan, atau pamong bisa menentukan terlebih dahulu. Bentuknya bisa bebas, seperti vokal grup, pementasan drama atau pembacaan puisi. Hal ini ditindaklanjuti dengan latihan dan didampingi oleh para pamong.

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •