Membebaskan Tuntunan Ibadah Remaja 28 Oktober 2018

Bacaan Alkitab : Imamat 25 : 1-8
Tahun Gerajawi : Bulan Ekumene
Tema : Semua Ciptaan
Tujuan :

  1. Anak dapat menceritakan bahwa Tuhan mengajarkan manusia untuk berbagi dengan semua ciptaan.
  2. Anak dapat menjelaskan cara menghargai tumbuhan dan hewan.
  3. Anak dapat menjelaskan mengapa manusia harus menghargai hewan dan tumbuhan.

Ayat Hafalan : “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam” (Kejadian 1 : 31)

Lagu Tema : Kidung Jemaat no. 60 : “Hai Makhluk Alam Semesta”

PENJELASAN TEKS

  1. Istilah Sabat (perhentian) dimaknai diadakan oleh dan untuk Tuhan. Sabat tidak hanya memiliki dimensi rohani manusia namun mencakup seluruh ciptaan. Termasuk juga tanah, haruslah diistirahatkan, karena tanah juga harus dikuduskan untuk Allah. Manusia bukan satu-satunya pemilik tanah dan bukan pemilik selama-lamanya. Manusia memiliki tanah dalam kepercayaan dibawah Tuhan. Ini memberikan gambaran dan ingatan kepada orang Israel yang pernah tidak memiliki apa-apa saat menjadi budak di Gosyen, Mesir.
  2. Tahun sabat (tahun perhentian). Sesudah masa tanam selama 6 tahun, tanah dibiarkan tidak ditanami selama 1 tahun. Tanah juga perlu istirahat. Tanaman yang tumbuh dengan sendirinya, menjadi hak bagi orang miskin. Untuk menenangkan orang Israel yang kuatir kebutuhan pangan selama tahun sabat, maka pada tahun yang ke 6 tersebut, Tuhan menjanjikan hasil panen  yang cukup untuk 3 tahun.
  3. Tahun yobel (tahun dari Nafiri kambing). Adalah puncak Tahun Sabat, jatuh pada tahun yang ke 50. Yobel, berasal dari kata “Yovel” artinya domba jantan, menggambarkan terompet/nafiri dari tanduk domba jantan. Pada Hari pendamaian dan tahun kebebasan segala hal (Yer 34:8), maka nafiri dibunyikan untuk memanggil umat ke pertemuan kudus. Bangsa Israel diingatkan bahwa manusia tidak memiliki apa saja secara mutlak. Pemilik yang mutlak adalah Allah. Tidak ada orang yang memiliki orang sebagai budak. Kemerdekaan harus dirasakan semua orang.
  4. Remaja diajak untuk memahami dalam setiap hal yang tampaknya biasa saja, juga memiliki hal yang bersifat religius. Seperti kisah tanah dalam Alkitab. Selanjutnya, hal yang terjadi disekitar kita contohnya peringatan Hari Sumpah Pemuda juga memiliki dimensi religius yaitu semangat pembebasan. Peristiwa Sumpah Pemuda tahun 1928 diawali dengan kesadaran adanya sebuah keadaan yang salah dalam kehidupan sebagai sebuah bangsa, yang seharusnya merdeka namun malah dijajah. Semangat yang ditumbuhkan adalah pembebasan dan menghargai kehidupan yang harusnya merdeka dan tidak diperbudak. Dalam hal ini remaja belajar tentang konsep rekonsiliasi, tidak melakukan konsep homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya, yang saling memangsa) namun menumbuhkan pemahaman tentang JPIC (Justice, Peace and Integrity of Creation) yaitu semangat menumbuhkan kesejahteraan untuk semua pihak.
  5. Dalam suasana oikumene dimana semua ciptaan Allah berada di bumi/dunia yang sama, maka antar ciptaan haruslah saling berbaik dan bersinergi. Pada buku berjudul Dunia Di Ambang Kepunahan, tulisan Antony Milne dituliskan “sejarah menunjukkan bahwa awal menurunnya peradaban adalah gangguan iklim. Bangsa-bangsa seluruhnya terjepit oleh gerakan penekan udara dingin dari utara dan perluasan gurun pasir ke selatan, atau jika mereka tinggal di pantai mereka harus melarikan diri dari gelombang pasang yang terus bergerak cepat”. Generasi sekarang menghadapi ancaman yang sama. Oleh karena itu perlu ditumbuhkan rasa rumangsa handarbeni atas bumi ciptaan Allah. Menjaga bumi dan segala isinya bersama-sama. Jika perlu, dengan cara menyerukan moratorium, yaitu mengajak jeda, berhenti dan mengistirahatkan alam dari segala macam bentuk eksploitasi.

 

PERSIAPAN CERITA :

Silahkan pamong untuk mempersiapkan :

  • Gambar kerusakan alam.
  • Gambar perbudakan manusia, trafficking
  • Tulisan Sumpah Pemuda

 

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN

Pembukaan/Pengantar/Ilustrasi

  • Dampak kerusakan alam kepada manusia
    Remaja diajak untuk menyebutkan penyebab dan akibat kerusakan alam. Misalnya dari peristiwa penggundulan hutan dan atau pembuangan sampah yang sembarangan.

Inti Penyampaian/Fokus Cerita

  • Ajakan pembebasan terhadap situasi alam yang menderita
    Remaja diajak untuk memberikan solusi terhadap situasi alam yang mulai banyak mengalami kerusakan. Diberikan istilah moratorium (jeda, istirahat, berhenti, sabat) dalam pengolahan alam supaya alam bisa tetap terpelihara.
  • Upaya sejak jaman Israel, inisiatif dan perintah Allah tentang Tahun Sabat dan Yobel.
    Remaja diajak untuk mengenal istilah Sabat, Tahun Sabat dan Tahun Yobel. Dengan menekankan sikap memberikan pembebasan kepada alam, hewan dan tumbuhan khususnya tanah yang di eksploitasi besar-besaran hingga mengalami kerusakan.

Penerapan

  • Menghargai ciptaan, khususnya tanah adalah bentuk menghargai Pencipta
    Remaja diajak merancang sebuah kegiatan dalam hal memelihara dan mengolah tanah dengan baik. Misalnya membuat kompos supaya tanah menjadi subur, dan  menata tanah yang rawan longsor dibuat menjadi terasering.

 

AKTIVITAS

  • Remaja menuliskan kalimat dari Sumpah Pemuda dengan menebalkan kata “tanah air” sebagai kesadaran bahwa remaja berada di tanah yang sama di negara Indonesia.
  • Berkaitan dengan tema oikumene (berada di bumi yang sama), remaja diajak untuk membuat data keadaan dan kerusakan tanah serta rawan bencana di lingkungan gereja yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

 

BAHASA JAWA
TATA CARA PARING PIWUCAL DHATENG PARA LARE.

KAIMAMAN  25 : 1-8
Kanggo katrangan, sageda mirsani wonten ing bahan Basa Indonesia.

Pambuka

Ayo para kanca,

Saiki sampeyan crita ing bab alam dalah sakisine. Upamane ing papan kang cedhak karo omahe sampeyan. Apa isih ketok apik, resik, edi peni ?

Coba sampeyan tulis kahanan wit-witan kang tuwuh, apa tansah subur ? Lan iku isa subur amarga pupuk kimia apa amarga pupuk alami ?

Saiki sampeyan rasakake apa akibate upama alam dalah sak isine rusak, amarga larahan kang dibuwang sak enggon-enggon, utawa amarga wit ing alas kang ditebang kanthi sembarangan. Mesthi kabeh isa dadi rusak.

 

Jejer Carita

Upama ing sak kiwa tengen sampeyan ana kahanan alam kang rusak, banjur apa yang arep sampeyan lakoni ?

Mung meneng utawa banjur melu tumandang supaya alam kang rusak isa cepet pulih. ? apa sampeyan gelem ngelikake kanca sampeyan upama ana kang buwang sampah sakenggpn-enggon ?

Ana istilah anyar, yaiku MORATORIUM. Kang ateges “leren” (jeda, istirahat, berhenti, sabat). Iki istilah kanggo naliti apa para manungsa kala tetandur, tetanen, ngolah bumi dalah sakisine uga ana wektu supaya lemah kang diupakara tansaha apik.

Ing kitab suci, ana carita bab Sabat, Tahun Sabat lan Tahun Yobel. Kabeh iki nyritakake timbalanipun Gusti kanggo para manungsa supaya isaa ngreksa bumi kanggo diolah kanthi becik. Gusti Allah ngersakake para manungsa kajaba nampa asil saka bumi, manungsa uga kudu gelem ngrumat alam dalah sakisine.

 

Cak-Cakaning Carita

Para kanca,

Saiki ayo padha cancut tumandang supaya ketok manawa kita gelem ngreksa bumi. Upama sampeyan diajak gawe pupuk kompos gelem apa ora ? kanthi pupuk kompos, tanduran isa luwih subur lan tanah uga ora kacampuran bahan kimia.

 

Kegiatan :

Para remaja kaajak nulis ukara ing Sumpah Pemuda. Dene ing ukara “tanah air” ditulis kanthi warna kang beda. Iki nedya nuwuhake kasadaran minangka manungsa isih urip ing lemah lan bumi kang padha. Mulane padha duwe tanggung jawab ngreksa kanthi tumemen.

Sesambungan karo pepenget oikumene, para remaja kaajak nulis data kahanan lemah kang rawan bencana.

 

Bagikan Entri Ini: