Bersama Siapa? Tuntunan Ibadah Remaja 21 Oktober 2018

Bacaan Alkitab: Yohanes 4:1-23
Tahun Gerajawi : Bulan Ekumene
Tema : Antar Agama
Tujuan :

  1. Anak dapat menceritakan bahwa Tuhan Yesus mencintai perbedaan.
  2. Anak dapat memahami bahwa semua agama membawa misi kebaikan untuk kehidupan bersama.
  3. Anak dapat menceritakan kisah persahabatan dengan salah satu teman beda agama.

Ayat Hafalan : “Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang” (Kisah Rasul 10 : 34)

Lagu Tema : KPJ 357 :”Endahing Saduluran”/KPK 319:”Endahe Saduluran”

PENJELASAN TEKS

  1. Dalam sejarah kerajaan Israel, terjadi perpisahan antara Kerajaan Utara dan Kerajaan Selatan. Bagian Samaria berada di bagian dari Kerajaan Utara, berada di antara bagian utara Galilea. Dikisahkan pada tahun 722 SM, pasukan Asyur menyerbu Israel Utara, dan membawa penduduknya ke pembuangan. Sementara itu di Israel Utara ditempatkan orang asing. Yang kemudian dipandang secara bermusuhan oleh orang Yahudi sebagai pendatang semi kafir. Antara utara dan selatan ini dibumbui dengan semangat menjaga kemurnian bangsa dan perasaan keagungan sebagai sebuah bangsa. Dalam hal ini Orang Yahudi menganggap Samaria sebagai sempalan. Meskipun dianggap bukan golongan kafir dan mempunyai kepercayaan yang sama misalnya tentang ketidaksucian yang timbul dari kuburan. Namun karena keberadaan Kuil Gerizim, sebagai tempat yang ditetapkan Tuhan untuk mempersembahkan korban yang berbeda dengan pemahaman Yahudi yang harusnya berada di Yerusalem.
  2. Yohanes membangun setting dialog, yaitu Yesus yang tidak bersama para murid. Melalui perjumpaan ini, ada aspek pembaharuan sikap yang diajarkan oleh Yesus. Perempuan ini mendapatkan prioritas karena memiliki minoritas ganda yaitu perempuan dan orang Samaria. Yesus menjangkau yang “najis” dan yang terbuang. Perlu dicatat bahwa dalam perjumpaan ini berlangsung sebuah proses dialog. Dialog khusus, Yesus yang orang Yahudi dan perempuan yang Samaria. Disini kita menemukan adanya kekuatan kata yang disampaikan Yesus bisa mengubah pola pikir, baik perempuan Samaria maupun para murid Yesus sendiri. Yohanes mencatat, Yesus juga tinggal di wilayah Sikhem daerah Samaria. Meskipun semula pengajaran Yesus tertuju kepada orang Israel, namun sesudah kebangkitan Yesus, para murid diperintahkan memberitakan Injil ke orang samaria.
  3. Hal menarik yang mengemuka adalah gambaran manusiawi dari Yesus yang haus dan membutuhkan air. Kisah tentang air memang berlanjut pada topik Air hidup, ayat 14. Bahwa air dari sumur Yakub dikalahkan oleh air yang diberikan oleh Yesus, sumber air yang akan memancar sampai kepada hidup kekal. Namun ini juga menjadi inspirasi pentingnya sebuah media, alat, sarana untuk mengawali sebuah perjumpaan lintas iman. Sesungguhnya banyak cara yang bisa dipakai oleh Allah untuk menghubungi dan menolong manusia. Yesus memahami ada yang beda dalam pemahaman hidup dan iman yang dimiliki oleh perempuan samaria, dan pasti ada jembatan sarana penghubung. Air sebagai media perjumpaan menyambung persaudaraan. Perbedaan pandangan harus berproses untuk menemukan keselarasan. Dengan saling berbicara dan dialog, antara “dia” dengan “lo” dan “gue”
  4. Dalam sejarah GKJW, ada juga istilah “Ngulati Toya Wening“, pencarian air suci yang menjadi pralambang dalam memahami proses pencarian inti kehidupan. Demikian juga kisah Bima dan Dewa Ruci dalam tradisi Jawa. Bahwa remaja perlu dilatih untuk belajar menemukan jati dirinya sebagai manusia ciptaan Allah.
  5. Situasi kemajemukan agama di Indonesia saat ini sering dibenturkan dengan pemahaman sifat inklusif dan eksklusif. Dimunculkan garis pemisah. Antara lain dengan istilah SARA, (suku, agama, ras, antar golongan) dan RAISA, (ras, intoleransi, suku, antar agama). Situasi ini harus disadari remaja dan disikapi dengan bijak. Tahap remaja dan pemuda (usia 12-25 tahun) merupakan masa puncak sikap kritis dan pembentukan sikap. Bentuk sikap yang menonjol adalah saling membandingkan. Apakah perbedaan agama A dari agama B ? oleh karena itu remaja perlu dilatih bisa memiliki cara untuk menghargai kemajemukan antara lain kerja bakti bersama dan aksi sosial lintas agama.

 

PERSIAPAN CERITA :  Silahkan pamong menyiapkan :

  1. Air bening.
  2. Tulisan Bhineka Tunggal Ika.

 

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN

Pembukaan/Pengantar/Ilustrasi

  • Perbedaan di Indonesia, memahami Bhineka Tunggal Ika
    Remaja diajak untuk mengenal dan memahami arti dari Bhineka Tunggal Ika dan bagaimana penilaian mereka atas kalimat tersebut dalam situasi di lingkungannya masing-masing.
  • Mengenal istilah RAISA
    Remaja diajak untuk mengetahui ada bermacam-macam cara agar ada perpecahan dan kerukunan menjadi rusak. Istilah RAISA diperkenalkan dan remaja diajak menilai apakah ada potensi perpecahan karena Ras, Agama, Intoleransi, Suku dan Antar golongan di lingkungannya masing-masing.

Inti Penyampaian/Fokus Cerita

  • Menceritakan Yesus yang mengasihi Perempuan Samaria, meskipun berbeda tetap didekati
    Remaja diajak untuk membaca Kisah Perempuan Samaria. Meskipun berbeda dengan bangsa Yahudi namun tetap dihormati. Terlebih sebagai sesama manusia juga memiliki kerinduan untuk memperbaiki kehidupannya. Tidak pandang berlatar belakang seperti apa, namun pasti senantiasa ingin memiliki kehidupan yang semakin baik.
    Disimbolkan dengan kisah Mencari Air Bening (Toya Wening)

 Penerapan

  • Situasi remaja dalam konteks perbedaan di Indonesia
    Remaja diajak menilai relasi dengan rekan sebaya yang berbeda RAISA, apakah sudah sesuai sikap Yesus ? apakah sudah saling menghormati ?

 

AKTIVITAS

  • Merancang media perjumpaan antar iman, antar agama diantara sesama remaja. Misalnya menjadwal acara perkunjungan ke komunitas agama lainnya yang berada di sekitar tempat tinggal masing-masing.
    Untuk acara ini hendaknya dirancang dengan matang dan hendaknya dilandasi semangat menjaga kebersamaan sebagai sesama remaja yang hidup dan tinggal di Indonesia.
 

Bagikan Entri Ini: