Dari Kebencian Menjadi Kasih Tuntunan Ibadah Remaja 27 Juli 2025

14 July 2025

Tahun Gerejawi: Hari Persahabatan
Tema: Mengasihi sampai kepada mereka yang membenci kita
Judul: Dari Kebencian menjadi Kasih

Bacaan: Matius 5: 43-48
Ayat hafalan: “Sebaliknya, hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:32)

Lagu tema: Kidung Siwi 122  Kasih

Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Matius 5:43-48 adalah puncak dari ajaran Yesus dalam Khotbah di Bukit, yang berfokus pada prinsip kasih yang melampaui batasan dan menantang norma-norma yang berlaku di masyarakat Yahudi pada waktu itu. Pengajaran yang dipaparkan Yesus tentu menjadi sebuah ajaran yang sangat relevan dalam konteks sosial dan historis pada masa itu. Pada masa Yesus, banyak orang Yahudi memahami perintah dari Imamat 19:18 – “Kasihilah sesamamu manusia” dengan cara yang terbatas yakni hanya untuk sesama bangsa Israel. Masyarakat Yahudi yang hidup di bawah penjajahan Romawi melihat musuh-musuh mereka – terutama orang Romawi yang menindas mereka – sebagai pihak yang tidak layak mendapat kasih. Oleh karena itu, narasi “bencilah musuhmu” menjadi pandangan yang berkembang secara budaya dan agama, meskipun tidak ditemukan dalam Kitab Suci! Namun, Yesus menggugat pemahaman ini dengan mengajarkan bahwa kasih harus melampaui batasan etnis dan nasional. Pada masa itu, dalam konteks kehidupan yang sangat terpisah antara bangsa Yahudi dan bangsa Romawi serta kelompok-kelompok agama lain, perintah untuk mengasihi musuh adalah suatu hal yang sangat kontroversial – mengingat bahwa bangsa Romawi adalah penjajah yang menindas, ajaran Yesus ini akan terasa sangat menantang, bahkan mungkin tidak bisa diterima oleh sebagian besar orang Yahudi pada zaman itu.

Dalam Matius 5:44, Yesus memerintahkan untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya. Hal ini bukan sekadar pengajaran moral, melainkan sebuah tindakan yang radikal dalam konteks sosial saat itu! Banyak orang Yahudi di bawah penindasan Roma merasa bahwa musuh-musuh mereka, khususnya penjajah Romawi, tidak layak untuk dikasihi atau didoakan dengan penuh belas kasih. Pada zaman itu, musuh-musuh dianggap sebagai ancaman yang harus dilawan, dan orang Yahudi sering kali dipengaruhi oleh hasrat untuk memberontak melawan penjajahan Romawi. Namun, Yesus menentang perspektif ini dengan mengajarkan bahwa kasih sejati tidak membedakan antara sesama atau musuh. Dalam konteks sejarah, hal ini adalah sebuah tantangan besar, karena doa dan permohonan untuk pertobatan musuh adalah sikap yang sangat berbeda dari pandangan banyak orang Yahudi yang menginginkan pembalasan atau kebebasan melalui kekerasan atau revolusi. Jika melihat apa yang menjadi teladan Yesus – peristiwa salib (bdk. Luk.23:34) dalam kacamata historis, bagian ini adalah perbuatan yang sangat bertentangan dengan norma-norma sosial pada waktu itu, di mana orang yang disakiti oleh musuh biasanya akan membalas dengan kebencian, bukan berdoa untuk pertobatan mereka.

Pada Mat.5:45 Yesus memberikan alasan teologis yang kuat berkaitan dengan mengapa harus mengasihi musuh? Yesus menghubungkan ajaran ini dengan sifat Allah yang memberikan kebaikan kepada semua orang, tanpa memandang baik atau jahat. Hal ini adalah dasar dari ajaran moral yang diberikan-Nya – sebagai anak Allah, kita dipanggil untuk “meniru” sifat Bapa yang penuh kasih dan kemurahan. Dalam konteks historis, bagian ini lebih dari sekadar pernyataan moral! Suatu pernyataan yang menantang status-quo dalam masyarakat Yahudi. Orang Yahudi memahami Allah yang memiliki perbedaan antara orang yang benar dan orang yang berdosa. Akan tetapi, Yesus menegaskan bahwa Allah mencintai semua orang, baik yang baik maupun yang jahat, dan sebagai anak-anak Allah, kita diharapkan untuk meniru kasih yang tidak membedakan ini. Hal ini tentu saja menantang pemahaman banyak orang pada waktu itu, di mana masyarakat Yahudi cenderung melihat orang-orang non-Yahudi atau musuh-musuh mereka sebagai orang-orang yang terkutuk atau tidak layak.

Selanjutnya, Yesus memberikan tantangan moral yang lebih besar lagi (lih. Matius 5:46-47).  Ia mengutip praktik pemungut cukai dan orang kafir yang juga mengasihi sesama mereka, yang mencerminkan standar kasih yang tidak lebih tinggi dari sekadar interaksi sosial biasa! Yesus menggugah pengikut-Nya untuk menunjukkan kasih yang lebih tinggi, yang melampaui standar moral yang ada di masyarakat. Masyarakat pada waktu itu sudah biasa melihat orang yang saling mengasihi dalam kelompok mereka sendiri. Orang-orang seperti pemungut cukai – dipandang sebagai pengkhianat – juga berinteraksi dengan baik kepada sesama mereka yang menguntungkan mereka. Namun, Yesus menuntut pengikut-Nya untuk menunjukkan kasih yang lebih radikal, yang tidak didorong oleh keuntungan pribadi atau relasi sosial yang menguntungkan. Sebuah tantangan yang mengajak umat untuk mengasihi tidak hanya mereka yang mengasihi mereka, tetapi juga mereka yang bisa jadi menyakiti atau membenci mereka.

Yesus menutup ajaran ini dengan pernyataan yang sangat menantang (bdk. Mat.5:48). Sebuah pengingat yang dalam bagi umat Yahudi yang merasa kesalehan mereka sudah cukup, hanya dengan mengikuti hukum Taurat secara eksternal. Namun, Yesus menggugat konsep kesalehan ini dengan mengajarkan bahwa kesempurnaan yang dimaksud adalah kesempurnaan dalam kasih yang tidak membedakan – seperti kasih Allah yang sempurna, yang tidak terbatas pada sesama, tetapi juga mencakup musuh. Dengan demikian, pengajaran Yesus tentang kesempurnaan bukan berarti tanpa cacat, melainkan tentang menjadi seperti Allah dalam mencintai semua orang, termasuk musuh kita. Kesempurnaan ini merujuk pada sebuah kesalehan yang lebih tinggi, yang menuntut para pengikut-Nya untuk mencerminkan kasih tanpa syarat, yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang dipenuhi dengan kasih Allah itu sendiri.

Refleksi Pamong
Sebagai seorang pamong, perintah untuk mengasihi musuh adalah tantangan besar dalam kehidupan pelayanan. Dunia sering kali mengajarkan untuk membalas kebencian dengan kebencian atau menghindari mereka yang dianggap musuh. Namun, Yesus dengan jelas menuntut kasih yang melampaui hal itu! Mengasihi musuh bukan sekadar mengabaikan atau membiarkan mereka melakukan kesalahan, melainkan berdoa agar mereka bertobat dan dipulihkan. Sebuah panggilan untuk melampaui perasaan pribadi dan mengarahkan perhatian pada keselamatan dan kebaikan orang lain. Hal ini tentunya menuntut pengampunan yang aktif – bukan sekadar memaafkan, tetapi mendoakan agar mereka yang bersalah mengalami pertobatan dan pemulihan. Mengasihi musuh juga bukanlah sekadar perasaan (toleransi pasif), tetapi tindakan perilaku yang nyata. Yesus mengajarkan untuk berdoa bagi mereka yang menganiaya dan untuk berbuat baik kepada mereka yang mungkin tidak layak atau tidak menginginkan kebaikan. Dalam konteks pelayanan, hal ini bukan hanya tantangan emosional, namun juga ujian dalam hal integritas. Kasih yang dimaksudkan oleh Yesus adalah kasih yang tak terbatas pada hubungan yang saling menguntungkan, tetapi kasih yang tidak peduli pada balasan atau respon, dan kasih yang menembus batasan norma sosial dan harapan pribadi.

Yesus juga “menantang” para pamong untuk hidup dengan standar kasih yang jauh lebih tinggi daripada sekadar mengasihi mereka yang mudah dikasihi. Hal ini bermuara pada melakukan kebaikan dan melibatkan panggilan untuk mengasihi bahkan kepada mereka yang menentang atau menyakiti. Dalam konteks pelayanan, bagian ini menngandung maksud bahwa tidak hanya melayani orang yang datang dengan sikap baik dan hormat, tetapi juga orang yang (mungkin) tidak menghargai atau bahkan meremehkan pelayanan yang diberikan. Pertanyaannya: Apakah seorang pamong mampu melayani mereka dengan kasih yang sama tanpa mengharap balasan atau pengakuan?

Pada akhirnya, Yesus menutup ajaran ini dengan panggilan untuk menjadi sempurna seperti Bapa-Nya yang di sorga sempurna. Bagi seorang pamong, ini adalah tantangan tertinggi dalam pelayanan. Kesempurnaan yang dimaksud bukan berarti hidup tanpa cacat, tetapi hidup yang mencerminkan karakter Allah dalam segala aspek kehidupan, terutama dalam kasih yang tidak terbatas. Kasih yang sempurna adalah kasih yang tidak membeda-bedakan, yang memberi tanpa harapan balasan, yang mengasihi tanpa syarat, dan yang mengampuni bahkan ketika tidak ada keadilan yang tampak. Panggilan untuk menjadi sempurna adalah panggilan untuk meneladan Allah yang tidak pernah “membedakan” dalam kasih-Nya. Namun, menjadi sempurna seperti Bapa adalah suatu perjalanan yang penuh tantangan. Kasih yang sempurna itu tidak datang secara otomatis, tetapi membutuhkan keputusan untuk terus mengasihi meskipun terkadang hati terasa berat! Kesempurnaan ini adalah sebuah perjalanan hidup yang terus mengarah pada pertumbuhan pribadi dalam kasih yang lebih besar, yang lebih berbelas kasih, yang lebih sabar. Hal ini mengingatkan bahwa pamong tidak dipanggil untuk menciptakan jarak antara dirinya dengan umat, tetapi justru untuk semakin mendekatkan diri pada mereka dalam kasih yang tidak pernah surut.

Tujuan

  1. Remaja dapat memahami bahwa mengasihi musuh adalah tanda kedewasaan Rohani dan meneladani Yesus.
  2. Remaja dapat menerapkan prinsip kasih dalam kehidupan sehari-hari, seperti berbuat baik dan mendoakan orang yang menyakiti mereka.
  3. Remaja dapat menganalisis dampak positif dari kasih dalam menyelesaikan konflik dan memperbaiki hubungan.
  4. Remaja dapat mengevaluasi apakah mereka sudah benar-benar mengasihi dengan tulus atau masih menyimpan dendam.

Pendahuluan
Permainan mobile legends, tentu bukanlah permainan atau game yang asing di kalayak teman-teman saat ini – banyak remaja baik itu laki-laki maupun Perempuan yang sangat menggemari permainan ini! Ketika sedang bermain mobile legend, dalam prosesnya mungkin ada salah satu anggota tim yang sering melakukan kesalahan – sehingga ia menjadi beban tim. Terlebih Ketika salah satu teman ada yang ‘afk’ – Tentu saja hal ini membuat jengkel! Apalagi pada saat-saat seperti itu tim lawan malah mengejek dengan mengatakan kata-kata yang negatif “pasti kalah” atau “dasar noob”. Ketika mengalami hal seperti itu kira-kira apa yang kita rasakan? Jengkel! Selanjutnya apa yang akan kita lakukan? sering kali yang terjadi adalah membalas dengan kata-kata yang semakin negatif.

Melalui gambaran dan cerita yang sering dilihat bahkan dialami sungguh memberikan petunjuk dan pembelajaran, bahwa ketika saling ‘membalas’ yang dalam hal ini adalah hal negatif, lantas apa bedanya orang yang kenal Tuhan dengan orang yang belum mengenal Tuhan – jika berlaku yang sama. Para pengikut Tuhan sudah seharusnya bisa mengendalikan diri dan tidak membalas yang buruk meskipun itu berat dan menyakitkan!

Cerita dan Penerapan
Dalam injil Matius 5:43-48, Tuhan Yesus berkata dengan jelas, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Tentu bagian ini sudah sering kita dengar – Tetapi, ketika diperhatikan dengan sungguh-sungguh, “apa artinya bagi hidup kita?” Mengasihi kepada orang yang menganiaya (yang dalam hal ini disebut sebagai musuh) berarti kita diutus dan belajar supaya bagian kemarahan itu tidak menjadikan hal yang menguasai diri – meskipun kita merasa kecewa dan sakit hati. Hal ini sebagai wujud dan tanda kedewasaan secara Rohani (batin) di depan Tuhan. Pertanyaannya, Kenapa mengasihi musuh disebut sebagai kedewasaan secara Rohani? Karena mengasihi musuh bukanlah perkara yang gampang! Siapa sih, yang tidak jengkel ketika direndahkan? Tetapi, Tuhan memberi petunjuk dan pengajaran kepada kita, supaya kita membalas semua dengan kasih! Sering kali ketika ada orang yang membuat kita kecewa dan sakit hati, kita tergesa-gesa memiliki keinginan untuk membalas yang lebih! Tetapi Tuhan memberi pengajaran, supaya kita berdoa bagi orang tersebut! – berdoa supaya orang itu mau bertobat. Kasih itu tidak hanya tebatas pada perkataan yang manis, tetapi kasih itu perkara tindakan yang nyata!

Selanjutnya, Tuhan Yesus mengingatkan tentang Kasih – yaitu ketika kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita – hal itu sudah menjadi hal yang wajar, karena semua orang juga melakukan hal yang demikian. Orang-orang yang belum mengenal Tuhan pun juga melakukakn hal yang demikian! Sehingga yang menjadi panggilan dan tanda kedewasaan batin-rohani, yaitu supaya kita bisa belajar mengasihi sesama – termasuk orang yang membuat kita kecewa dan menjengkelkan hati.

Mengasihi semua orang, khususnya orang yang menyakiti itu tidak hanya mengupayakan bagian relasi dengan mereka, namun juga relasi bersama dengan Tuhan! Upaya menyatakan relasi itu menjadi salah satu wujud bahwa kita itu sungguh meneladan Tuhan yang menjadi teladan sejati. Mengasihi orang yang sering disebut sebagai musuh itu tidak hanya sekadar menyelesaikan masalah, namun juga menjadi wujud kita belajar sebagai milik Tuhan yang semakin dewasa dan mengarah padaNya dalam setiap langkah hidup.

Oleh karena itu, ketika menerima hal yang merendahkan kita, melawan dan menjadikan kita sebagai musuh mereka, selalu ingatlah untuk melihat semua itu dengan “lensa kasih” – jangan sampai memberikan balasan yang sama dengan yang mereka lakukan, jangan sampai jatuh pada rasa dendam, namun belajar berdoalah dan lakukan yang baik bagi sesama, termasuk orang yang merendahkan kita. Hal ini memberikan kedamaian, bukan hanya untuk orang lain, namun juga untuk diri kita sendiri.

Tuhan menolong kita, amin.

Aktivitas
“Kartu Damai”

Tujuan: Mengajarkan remaja untuk mengatasi rasa kecewa dan marah yang disebabkan oleh orang yang menyakiti mereka, serta mempraktikkan pengampunan dan kasih yang tulus.

Langkah-Langkah Aktivitas:

  1. Refleksi Awal: Mengingat Orang yang Menyakiti
    • Ajak remaja untuk merenung sejenak dan membayangkan orang-orang dalam kehidupan mereka yang telah menyakiti atau mengecewakan mereka. Bisa teman, saudara, atau bahkan seseorang di dunia maya yang membuat mereka merasa terluka.
    • Berikan mereka waktu untuk membayangkan wajah orang tersebut dan bagaimana perasaan mereka ketika orang itu menyakiti mereka.
    • Tanyakan pada mereka: “Bagaimana perasaan kalian ketika mengingat orang ini?” Remaja dapat menulis nama orang tersebut di sebuah kertas kosong sebagai permulaan.
  2. Menulis Rasa Marah dan Kecewa
    • Ajak remaja untuk menulis semua perasaan negatif yang mereka rasakan terhadap orang tersebut—seperti marah, kecewa, frustrasi, atau perasaan terluka lainnya. Ini adalah kesempatan bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan mereka tanpa penilaian, seperti sebuah pelampiasan yang sehat.
    • Berikan beberapa pertanyaan pemandu untuk membantu mereka menulis: “Apa yang orang ini lakukan yang membuatmu merasa sakit hati?”, “Bagaimana perlakuan mereka mempengaruhi perasaanmu?”, “Apa yang kamu inginkan dari orang tersebut? Apa yang kamu harap mereka lakukan?”
    • Ingatkan mereka bahwa ini bukan untuk memperburuk perasaan mereka, tetapi untuk mengakui rasa sakit dan memberi mereka ruang untuk melepaskan.
  3. Menulis Kata Pengampunan
    • Setelah menulis perasaan negatif mereka, sekarang ajak remaja untuk berpindah fokus. Minta mereka untuk menulis kata-kata pengampunan untuk orang tersebut. Ini bukan berarti mereka harus melupakan apa yang terjadi, tetapi ini adalah upaya untuk melepaskan beban yang ada di hati mereka.
    • Kalimat Pengampunan yang Dapat Digunakan: “Aku mengasihimu meski kau telah menyakitiku.”, “Aku memilih untuk memaafkanmu, meskipun perasaan ini tidak mudah untuk dilepaskan.”, “Aku berjanji untuk tidak lagi membiarkan rasa sakit ini menguasai hatiku.”
    • Pertanyaan pemandu: “Apa yang bisa kamu maafkan dari orang ini?”, “Apa yang kamu butuhkan untuk bisa memaafkan mereka?”, “Apa yang kamu ingin katakan untuk melepaskan rasa sakitmu?”
    • Jelaskan bahwa pengampunan adalah keputusan untuk tidak lagi menyimpan rasa dendam atau kepahitan, dan ini adalah langkah awal untuk mencari kedamaian dalam diri mereka.
  4. Doa Pengampunan dan Pelepasan
    • Setelah menulis kata pengampunan, ajak remaja untuk berdoa secara pribadi. Doa ini bertujuan untuk memohon kekuatan Tuhan untuk memaafkan dan untuk meminta Tuhan memberikan damai sejahtera kepada hati mereka.
    • Remaja dapat menyesuaikan doa ini sesuai dengan perasaan mereka, tetapi poin utamanya adalah untuk melepaskan perasaan negatif dan memilih untuk mengampuni.
  5. Diskusi dan Refleksi
    • Setelah doa, ajak remaja untuk berbagi pengalaman mereka dalam kelompok kecil (jika nyaman). Mereka bisa berbicara tentang bagaimana mereka merasa setelah melakukan proses ini dan apakah mereka merasa lebih ringan atau lebih damai.
    • Pertanyaan pemandu diskusi: “Bagaimana perasaanmu setelah menulis kata pengampunan?”, “Apakah kamu merasa lebih damai setelah berdoa dan melepaskan perasaan negatif?”, “Apa yang kamu harapkan setelah melakukan proses ini?”

Dengan aktivitas ini, remaja diharapkan dapat mengalami pengampunan sejati dan melihat bahwa mengasihi musuh atau mereka yang telah menyakiti kita tidak selalu mudah. Namun, dengan melepaskan rasa sakit dan memilih untuk mengampuni, mereka akan mengalami perubahan dalam diri mereka sendiri – baik dalam hubungan dengan orang tersebut maupun dengan Tuhan. Ini adalah langkah kecil namun kuat untuk meneladani Yesus dalam mengasihi mereka yang menyakiti kita.


Bahasa Jawa

Pendahuluan
Mobile Legends, tamtu sanes game utawa dolanan ingkang asing – kathah remaja sae lanang ugi wadon nggandrungi game punika! Nalika, dolanan mobile legends, ing satengahing pertandingan ana salah sijining anggota tim kang asring salah, lan ndadosaken tim punika kawaratan! Luwih-luwih malah salah sijining kanca kalawau ‘afk’ – tamtu punika ndadosaken mangkel! Ing wekdal kang mekaten kalawau tim lawan (mungsuh) malah maringi tembung-tembung kang negatif “ora bakal menang” utawa “noob kabeh”. Nalika ngalami kang mangkono iku apa kang dirasakne? Mangkel! Lan salajengipun apa kang bakal dilakoni – asring ingkang kalampahan punika dipunbales kanthi tembung-tembung kang san saya negatif.

Lumantar gegambaran kang asring dilampahi estu paring pitedah, bilih menawa kita sami paring piwelas kanthi negatif, apa bedane para tiyang kang wanuh karo Gusti lan tiyang kang durung wanuh kaliyan Gusti. Para pandherekipun Gusti kedahe bisa ngendhaleni dhiri, lan ora mujudake piwales negatif sanadyan punika awrat!

Cerita dan Penerapan
Ing Injil Matius 5:43-48, Gusti Yesus dhawuh kanthi cetha, “Tresnana marang musuhmu lan ndedongaa marang kang nganiaya kowe”. Tamtu, babagan punika sampun dados bab kang asring kita tampeni – nanging, nalika dipungatosaken kanthi temen, “apa artine kanggo uripe awakedhewe?”. Nresnani marang wong kang nganiaya (mungsuh) ateges kita diutus lan sinau supaya babagan mangkeling-dhiri iku ora dadi bab kang nguwasani – sanadyan kita ngraosaken kuciwa lan lara ati. Bab iku wujud lan tanda kadewasan sacara rohani (batin) ing ngarsanipun Gusti. Pitakonanipun, kenging punapa bab nresnani mungsuh punika kasebut kadewasan sacara rohani? Awit nresnani marang mungsuh punikah sanes perkawis ingkang gampang! Sinten ta, kang ora mangkel nalika diasorake? Nanging, Gusti paring pitedah saha piwucal marang kita, supaya mangsuli kabeh mau kanthi katresnan! Asring nalika tiyang punika damel kuciwa lan mangkeling ati, asring kita kemrungsung nduweni pepengenan paringg piwales kang linuwih! Nanging, Gusti Yesus paring pitedah, supados ndedonga kagem para tiyang kalawau! – ndedonga supaya tiyang kalawau ngalami pamratobat. Tresna kui ora mung winates bab tutug kang manis, nanging tresna kui babagan tumindak nyata!

Salajengipun, Gusti Yesus paring pangemut bab katresnan – yaiku menawa mung tresna marang tiyang kang nresnani kita – kui mung dadi bab kang lumrah, awit sedaya tiyang uga nglampahi bab punika. Ugi tiyang kang dereng wanuh kaliyan Gusti ugi nglampahi ingkang mekaten! Pramila kang dados timbalan lan tandha kadewasan batin-rohani, yaiku supaya kita saged sinau nresnani marang sesami – lumebet tiyang kang damel kuciwa lan mangkeling ati.

Nresnani saben tiyang, mligi tiyang kang nglarani punika mboten namung ngupaya bab sesambetan kaliyan sesami, nanging ugi sesambetan kaliyan Gusti! Sesambetan punika saged dados salah satunggaling wujud bilih kita punika estu nulad marang Gusti kang dado etuking tuladha kang sejati. Nresnani tiyang kang asring kasebat mungsuh punika mboten namung babagan ngrampungi perkawis, nanging wujud kita sinau dados kagunganipun Gusti kang tan saya dewasa lang ngener marang Gusti ing sauruting lampah!

Mula, yen nampi bab kang ngasorake kita, mungsuhi kita, tansah elinga supaya ningali kabeh mau kanthi “lensa katresnan” – aja nganti paring piwelas, aja nganti dhawah ing rasa dendam, ning sinau ndedonga lan nglakoni kang becik kanggo saben tiyang, ugi kalebet tiyang kang mungsuhi kita. Bab punika kang maringi katentreman, mboten namung kagem tiyang sanes, nanging ugi kagem diri kita pribadi.

Gusti mitulungi, Amin.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak