Rendah Hati dan Saling Menghargai Tuntunan Ibadah Remaja 26 Oktober 2025

13 October 2025

Tahun Liturgi: Bulan Ekumene
Tema: “Rendah Hati dan Saling Menghargai” (Belajar untuk tidak merasa lebih baik dari orang lain, tetapi hidup dalam kasih dan penghargaan.)
Judul: Rendah Hati dan Saling Menghargai

Bacaan: Lukas 18 : 9-14
Ayat Hafalan: “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14b)

Lagu Tema: Kidung Siwi 97 Yesus Cinta Semua

Tujuan:

  1. Remaja dapat memahami makna perumpamaan dalam konteks kehidupan saat ini.
  2. Remaja dapat mengidentifikasi sikap rendah hati dalam komunitas dan media sosial.
  3. Remaja dapat menganalisis perbedaan antara percaya diri dan kesombongan.
  4. Remaja dapat mengevaluasi sikapnya sendiri terhadap orang lain.

Penjelasan Teks  (Hanya Untuk Pamong)
Perumpamaan ini disampaikan oleh Tuhan Yesus untuk menegur sikap orang-orang  yang merasa dirinya paling benar dan merendahkan orang lain. Perumpamaan ini menunjukkan dua tokoh dengan latar belakang dan sikap hati yang berbeda. Seorang farisi dan seorang pemungut cukai. Keduanya datang ke Bait Allah untuk berdoa tetapi isi dan sikap doa mereka sangat bertolak belakang.

Orang Farisi dalam perumpamaan ini digambarkan sebagai orang yang merasa sudah melakukan semua kewajiban agamawinya. Di dalam doanya ia berkata bahwa dirinya tidak seperti orang-orang lain yang jahat. Ia juga tidak seperti seorang pemungut cukai. Ia melakukan praktik keagamaan yang teratur seperti berpuasa dua kali seminggu dan memberikan perpuluhan secara teratur. Namun sikap ini justru menunjukkan kesombongan rohani  karena ia mengandalkan perbuatan baiknya sendiri dan merendahkan sesamanya. Ia memandang orang lain rendah karena tidak sebaik dirinya. Sikap yang seperti ini mencerminkan bahwa ia tidak datang kepada Tuhan dengan hati yang membutuhkan belas kasihan melainkan dengan kebanggaan akan dirinya sendiri.

Berbeda dengan orang Farisi, pemungut cukai datang dengan sikap yang rendah hati dan penuh pertobatan. Ia berdiri jauh, tidak berani menengadah ke langit, dan memukul dirinya sendiri sebagai tanda penyesalan. Ia mohon belas kasihan Allah karena merasa berdosa. Inilah doa dari hati yang tahu diri dan menyadari kelemahan dan dosanya. Pemungut cukai tidak membanggakan apapun. Ia tahu bahwa hanya belas kasihan Tuhan yang dapat memberinya pengampunan. Dalam keterbatasannya ia menunjukkan sikap hati yang tulus dan bergantung penuh kepada Tuhan.

Yesus mengakhiri perumpamaan ini dengan sebuah tanggapan bahwa bukan orang Farisi yang dianggap benar di hadapan Allah, melainkan si pemungut cukai. Ini menunjukkan bahwa kerendahan hati lebih berkenan di hadapan Allah daripada kesombongan agamawi.

Dalam kehidupan saat ini seringkali terjadi pencitraan diri, terutama di era media sosial ini. Banyak orang yang mungkin secara tidak sadar menjadi seperti orang Farisi, suka membandingkan, menyombongkan pencapaian, dan meremehkan yang berbeda. Namun Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kerendahan hati dan tidak merasa lebih baik dari orang lain. Kita dipanggil untuk menghargai sesama sekalipun mereka berbeda atau tampak “tidak sebaik” kita. Kita diajak untuk menyadari bahwa keselamatan dan kasih Tuhan adalah karena anugerah, bukan hasil usaha kita.

Pendahuluan:
Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali tergoda untuk menilai orang lain berdsarkan penampilan, status, atau pencapaian mereka. Baik di sekolah, di gereja, maupun di media sosial, ada kecenderungan kita membandingkan diri dengan orang lain. Kita merasa lebih baik karena nilai kita lebih tinggi, karena kita lebih aktif dalam pelayanan, atau karena gaya hidup kita terlihat lebih baik.

Namun Tuhan Yesus mengingatkan bahwa ukuran Tuhan berbeda dari ukuran manusia. Dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai, kita diajak untuk melihat apa yang ada di dalam hati. Bukan soal seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi bagaimana sikap hati kita di hadapan Tuhan dan sesama.

Cerita:
Dari bacaan yang kita baca, kita dapat melihat perumpamaan yang disampaikan oelh Tuhan Yesus. Ada dua tokoh dalam perumpamaan itu, yaitu Orang Farisi dan Pemungut Cukai. Orang Farisi ini tampak saleh dan disiplin secara agama. Ia rutin berpuasa, memberi perpuluhan, dan menjalankan aturan-aturan agama. Tetapi semua itu ia lakukan untuk membanggakan diri. Bahkan di dalam doanya, ia membandingkan dirinya dengan orang lain dan merendahkan Pemungut Cukai. Sikap seperti ini adalah contoh kesombongan rohani. Merasa benar dan layak, sehingga lupa bahwa semua manusia butuh anugerah Tuhan.

Sementara Pemungut Cukai tahu bahwa ia berdosa. Tetapi ia datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur, penuh dengan kesadaran bahwa ia berdosa. Ia tidak membela diri, tidak menyombongkan apapun. Yang ia lakukan hanya memohon belas kasihan Tuhan. Sikap yang seperti inilah yang diterima oleh Tuhan. Kerendahan hati dan kejujuran di hadapan Allah jauh lebih bernilai daripada pencitraan rohani.

Melalui perumpamaan ini Yesus berkata bahwa Pemungut Cukai itulah yang dibenarkan, bukan Orang Farisi. Tuhan Yesus menyampaikan bahwa bukan mereka yang paling kelihatan baik yang diterima Tuhan tetapi mereka yang rendah hati dan jujur dalam kelemahan mereka.

Melalui bacaan ini kita diajak untuk jangan cepat menilai atau meremehkan orang lain karena kita tidak tahu apa isi hati mereka. Hindari sikap pamer rohani atau moral. Tuhan tidak melihat kesombongan tetapi ketulusan.

Saat-saat ini mungkin kita tidak dapat menghindar dari media sosial. Karena itu mari kita gunakan media sosial dengan bijak. Gunakan media sosial bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk membagikan kasih dan menghargai sesama. Mari kita melatih hati kita untuk datang kepada Tuhan dengan sikap terbuka, mengakui kelemahan dan bersandar kepada kasih karuniaNya, bukan mengandalkan kekuatan kita sendiri.

Perumpamaan ini mengajak kita untuk berhenti merasa lebih baik daripada orang lain. Dalam kasih Kristus kita semua setara, sama-sama membutuhkan anugerahNya. Mari belajar rendah hati bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga dalam memperlakukan sesama dengan kasih dan penghargaan.

Aktivitas:
Ajak remaja untuk bermain mini drama “Doa Dua Orang”

Langkah:

  1. Bagi kelompok menjadi tim kecil.
  2. Minta masing-masing tim menampilkan drama pendek berdasarkan Lukas 18:9–14 dengan gaya mereka sendiri. Bisa dibuat serius, lucu, atau modern (misalnya berlatar sekolah, media sosial, dll).
  3. Setelah penampilan, diskusikan:
    1. Apa pesan yang kamu tangkap dari drama itu?
    2. Karakter mana yang paling kamu refleksikan dalam hidup sehari-hari?

BASA JAWA

Pambuka:
Ing urip sedina-dina, kita asring kagoda kanggo ngadili wong liya adhedhasar penampilan, status, utawa prestasine. Ing sekolah, ing pasamuwan, utawa ing media sosial, awake dhewe cenderung mbandhingake awake dhewe karo wong liya. Aweake dhewe rumangsa luwih apik amarga bijine luwih dhuwur, amarga luwih aktif ing pelayanan, utawa amarga gaya urip kita katon luwih apik.

Nanging Gusti Yesus ngelingake yen ukurane Gusti Allah iku beda karo ukurane manungsa. Ing pasemon bab wong Farisi lan Juru Pajeg, Awake dhewe diundang kanggo ndelok  apa sing ana ing njero ati. Dudu prakara sepira akehe tumindak sing wis dilakoni, nanging kepriye sikap ati ing ngarsane Gusti lan ing antarane sesami.

Crita:
Saka wacan sing kita waca, kita bisa ndeleng pasemon sing dicritakke dening Gusti Yesus. Paraga ing pasemon kasebut ana loro, yaiku wong Farisi lan Pemungut Pajak. Wong  Farisi iki katon taat lan disiplin agama. Dheweke ajeg pasa, perpuluhan, lan netepi aturan agama. Nanging dheweke nindakake kabeh iki kanggo nggawe bangga. Malah ing pandonga, dheweke mbandhingake awake dhewe karo wong liya lan ngremehake Pemungut Pajak. Sikap kaya iki minangka conto kesombongan rohani. Rumangsa bener lan pantes, saengga kita lali yen kabeh manungsa butuh rahmate Gusti.

Sawetara iku, Pemungut Pajak ngerti yen dheweke nindakake dosa. Nanging dheweke sowan marang Gusti Allah kanthi ati sing remuk, kebak kesadaran yen dheweke wis nglakoni dosa. Dheweke ora mbela awake dhewe, ora gumunggung apa-apa. Kabeh sing ditindakake mung nyuwun sih-rahmat marang Gusti Allah. Sikap kang kaya mangkono iku ditampa dening Gusti Allah. Andhap Asor lan kajujuran ana ​​ing ngarsane Gusti Allah luwih aji tinimbang pencitraan rohani.

Liwat pasemon iki Gusti Yesus ngendika yen Pemungut Pajek sing dibenerke, dudu wong Farisi. Gusti Yesus ngendika, dudu wong sing katon apik banget sing ditampa dening Gusti, nanging wong sing andhap asor lan jujur ​​ing kekiurangane.

Lumantar wacan iki kita diajak supaya ora cepet-cepet ngadili utawa nyepelekake wong liya amarga kita ora ngerti apa kang ana ing njero atine. Aja pamer kanthi rohani utawa moral. Gusti Allah ora mandeng marang wong kang gumedhe, ananging nyawang marang keikhlasan.

Ing jaman saiki kita mungkin ora bisa nyingkiri media sosial. Mula, ayo nggunakake media sosial kanthi wicaksana. Gunakake media sosial ora kanggo ngunggulake awake dhewe, nanging kanggo nduduhake katresnan lan ngajeni marang sesami. Ayo padha nglatih manah kita sowan dhateng Gusti kanthi sikap ingkang terbuka, ngakoni kekurangan lan gumantung marang sih-rahmate, dudu ngandel marang kakuwatan kita dhewe.

Pasemon  iki ngajak kita mandheg ngrasa luwih apik tinimbang wong liya. Ing katresnane Sang Kristus kita kabeh padha, padha-padha butuh sih-rahmate. Ayo padha sinau kanggo andhap asor ora mung ing ngarsane Gusti Allah, nanging uga kanggo nresnani lan ngajeni wong liya.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak